Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 120 (Ngidam Kulkas?)


__ADS_3

...Jangan lupa ramaikan part ini ya....


...Happy reading...


****


Zayyen sedang berada di rumah sakit, ia sedang melakukan tugas akhirnya sebagai calon dokter. Zayyen memilih menjadi dokter seperti kedua orang tuanya, kesibukannya membuat Zayyen terkadang lupa jika dirinya mempunyai kekasih yang sangat polos dan begitu manja, tetapi Zayyen menerima Delisha hanya terpaksa dan untuk melupakan Cika di hatinya tetapi 2 minggu sudah ia berpacaran dengan Delisha tetap saja Zayyen tak bisa melupakan Cika di hatinya bahkan setiap melihat senyuman Cika jantung Zayyen selalu berdebar dengan kuat.


Zayyen tahu perasaannya terhadap Cika adalah sebuah kesalahan karena Cika adalah kekasih dari kembarannya sendiri. Tetapi Cika mampu membuatnya jatuh cinta karena kelembutan dan kepintaran gadis itu. Bukan Delisha yang ia harapkan, Delisha memang cantik bahkan lebih cantik dari Cika tapi Delisha tak mampu membuat hatinya bergetar.


Tepukan tangan seseorang di pundaknya membuat Zayyen sedikit terkejut. Ia menatap seseorang yang telah mengejutkannya dengan tajam sedangkan orang tersebut hanya terkekeh pelan dengan tampang yang tak berdosa sama sekali.


"Melamun mulu! Bukan mikirin suster Zaskia, kan?" goda Haidar kepada sahabatnya.


Zayyen mendengkus. Zayyen tak mudah dekat dengan seseorang, trauma yang mengakibatkan mamanya kecelakaan membuat Zayyen menutup diri dan bahkan karena masalah itu juga Zayden masih memusuhinya sekarang.


"Gue bukan buaya!" sahut Zayyen dengan ketus.


"Ngomong buaya-nya kenapa natap gue coba? Gini-gini gue cuma punya mantan 5 ya!" ujar Haidar bersungut sebal.


"Cuma lo bilang? Gila!" ujar Zayyen dengan datar.


Haidar menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Memang memiliki 5 mantan dibilang banyak ya? Haidar merasa itu sangat sedikit tetapi kenapa reaksi sahabatnya sangat berbeda? Oo iya Haidar lupa jika Zayyen sudah jomblo sejak lahir sekalinya jatuh cinta malah mencintai kekasih kembarannya sendiri. Seharusnya yang gila itu Zayyen bukan dirinya, kan?


"Gue udah jadian sama Delisha," ungkap Zayyen dengan jujur.


Haidar terbatuk-batuk mendengar perkataan Zayyen yang sangat menohok hatinya. "Lo gak bercanda? Lo pacaran sama bocil ingusan?" tanya Haidar dengan terkejut. Berbeda dengan ekspresi wajahnya, hati Haidar mendadak merasakan sakit yang luar biasa, seperti terkena ribuan jarum yang menancap di hatinya. Sakit sekali!


"Dua minggu!" ucap Zayyen tanpa mempedulikan pertanyaan sahabatnya.


"B-benaran? L-lo lagi gak ngeprank gue, kan?" tanya Haidar dengan menegakkan tubuhnya menatap Zayyen tak percaya.


"Sejak kapan gue bercanda?" tanya Zayyen balik dengan suara yang amat dingin.


Haidar menghela napasnya dengan berat. Belum juga berjuang kenapa ia sudah kalah? Beginikah yang Zayyen rasakan saat melihat Cika bersama dengan Zayden?


"Tunggu-tunggu. Lo pacaran sama Delisha bukan karena..."


"Gue berharap Delisha bisa buat gue melupakan Cika!" ucap Zayyen dengan datar.


"Gila lo! Cinta bukan sebuah permainan! Apalagi ini Delisha, Zayyen! Bisa mati lo kalau buat Delisha sakit hati!"

__ADS_1


"Gue tahu!" jawab Zayyen dengan singkat.


"Lo tahu tapi lo masih mempermainkan Delisha?!" ucap Haidar dengan sengit.


Zayyen tersenyum miring. "Bukan urusan lo!" ucap Zayyen dengan singkat.


Setelah mengatakan itu Zayyen pergi meninggalkan Haidar yang menatap Zayyen dengan tajam, tangannya terkepal dengan erat menahan emosinya yang hendak meledak.


"Sekali pun lo sahabat gue jika lo buat Delisha menangis, gue hajar lo saat itu juga!" gumam Haidar dengan tangan yang masih terkepal dengan erat. Bagi Haidar, Delisha adalah gadis yang unik walau ketika keduanya bertemu selalu adu mulut tetapi di balik semua itu Haidar menyimpan rasa untuk Delisha.


"Argghh...Brengsek!" umpat Haidar menendang kursi dengan keras hingga menimbulkan bunyi yang amat nyaring.


****


"Kak Zayyen!" teriak Delisha dengan senang saat ia bisa bertemu dengan Zayyen di rumah mertuanya ini.


Zayyen hanya bisa menghela napasnya saat Delisha mendekatinya.


"Kak Zayyen pasti baru pulang dari rumah sakit ya?" tanya Delisha dengan senyum yang amat manis. Namun, sayang tak membuat hati Zayyen tertarik sama sekali.


"Hmmm..." Zayyen hanya berdehem dengan singkat. Terlalu lelah untuk meladeni kecerewetan Delisha kepadanya.


"Malam ini Kak Zayyen nginap di rumah mama Tiara, kan? Jangan di rumah mama Rose terus dong kasihan mama Tiara!" ujar Delisha yang membuat Zayyen menghentikan langkahnya.


"Bisa sih! Tapi mulut Delisha selalu gak ada rem-nya kalau dekat sama Kak Zayyen. Gimana dong?" ucap Delisha dengan polosnya yang membuat Zayyen kesal.


"Terserah!" ujar Zayyen dengan dingin.


"Apanya yang terserah, Kak? Jangan buat Delisha bingung ih! Kata terserah itu sangat membingungkan tahu!" sungut Delisha.


Zayyen tak mau menanggapi ucapan Delisha. Hari ini ia sangat lelah, beban hidupnya, kisah cintanya tak ada yang berjalan dengan mulus. Seakan kepalanya ingin meledak sekarang juga.


"Zayyen, gak boleh gitu sama Delisha! Delisha datang ke sini untuk melihat keadaan kamu. Bukannya kalian pacaran? Kenapa sikap kamu sangat dingin dengan Delisha?" ucap Tiara kepada anaknya.


"Ma!" Zayyen menyalami tangan mamanya, ini jadwal Zayyen menginap di rumah papa dan mamanya. Tetapi Zayyen lebih sering menginap di rumah papa dan mama angkatnya. Bukan tak sayang kepada mama dan papa kandungannya tetapi Zayyen lebih memilih menghindari Zayden agar lelaki itu tak terus-terusan membencinya. Zayyen mengalah bukan karena kalah tetapi Zayyen masih menghargai Zayden sebagai kembarannya.


"Kamu nginap kan di sini?" tanya Tiara dengan sendu.


"Iya, Ma. Mama kurusan," ucap Zayyen dengan pelan.


"Mama kurus karena Kak Zayyen tahu! Mama sakit juga Kakak gak tahu, kan?" ucap Delisha yang membuat Zayyen terkejut.

__ADS_1


"Mama sakit? Kenapa gak bilang Zayyen, Ma? Papa juga gak bilang apa-apa," ujar Zayyen dengan khawatir.


"Mama gak apa-apa! Mama gak sakit!" sahut Tiara dengan tersenyum.


"Ih Mama mertua Delisha yang cantik setelah mami Fio jangan suka bohong loh, gak baik tahu!" ujar Delisha yang membuat Tiara tertawa. Entahlah sejak kehadiran Delisha rumah ini semakin berwarna. Di rumah ini tak ada yang bisa bercanda seperti Delisha apalagi Zayyen yang sangat kaku.


"Ma, Delisha gak pernah bohong!" ucap Zayyen dengan pelan.


"Mama cuma demam. Mama udah dirawat sama papa kamu! Gak usah khawatir," ucap Tiara dengan lembut.


Cup...


"Jangan sakit-sakit, Ma! Zayyen masuk dulu Zayyen capek!" ucap Zayyen setelah mencium kening mamanya.


"Zayyen, Delisha ada di sini kenapa kamu malah mau ke kamar?" tanya Tiara dengan menghela napasnya kasar. Anaknya ini terlalu dingin sekali.


"Siapa suruh dia datang sewaktu Zayyen mau istirahat? Ini udah malam kenapa juga dia keluyuran?!" ucap Zayyen dengan datar menatap Delisha dengan tajam.


"Kakak gimana sih? Dimana-mana kalau cowok di samperin pacarnya senang ini malah gak suka! Delisha bukan keluyuran! Delisha ke sini mau meminta pertanggungjawaban!"


"P-pertanggungjawaban? Zayyen kamu apain Delisha, hah? Mama gak pernah ajarin kamu untuk kurang ajar sama perempuan!" ucap Tiara dengan tajam.


"Z-zayyen gak apa-apain Delisha, Ma! Serius!"


"Delisha gak pernah bohong Zayyen!" ucap Tiara mengulangi perkataan anaknya dengan kesal. Jangan sampai masa lalunya terulang lagi oleh Zayyen.


"Serius, Ma!"


"Delisha jelaskan sama Mama sekarang apa maksud lo?! Jangan buat mama gue jantungan!" ucap Zayyen dengan tajam.


Delisha menampilkan deretan gigi putih dan rapihnya seperti tak berdosa. "Kemarin Kak Zayyen gak jemput Delisha di sekolah, Ma! Delisha udah nunggu satu jam. Jadi, Delisha minta pertanggungjawaban sama kak Zayyen soal itu," ucap Delisha yang membuat Tiara lega, pikirannya sudah terbang entah kemana tetapi ternyata semua tak seperti apa yang ia pikirkan.


"Lo pulang sekarang!" ucap Zayyen dengan tegas. Ia tak mau kehadiran Delisha semakin membuat Zayyen dan anggota keluarganya pusing.


Delisha mengerucutkan bibirnya. "Ma, Mama waktu hamil kak Zayyen ngidam kulkas ya?" bisik Delisha di telinga Tiara.


"Hah?"


"Soalnya anak Mama kayak kulkas 10 pintu!" ucap Delisha sebelum tangannya ditarik oleh Zayyen menuju mobil pria itu.


Tiara cengo, ia seperti tampak bodoh jika berhadapan dengan Delisha. Jiplakan Fiona sekali!

__ADS_1


"KAK ZAYYEN, DELISHA GAK MAU PULANG! DELISHA MASIH KANGEN IH!"


"Gue gak peduli!"


__ADS_2