
...Jangan lupa ramaikan part ini ya....
...Happy reading...
***
Aku memang mencintainya, tapi aku tak ingin kehilangan kembarannya.
~Cika~
****
Cika menatap kosong ke arah televisi yang masih menyala. Hari ini setelah dirinya pulang kuliah, Zayden mengurungnya di apartemen pria itu. Sedangkan Zayden sibuk dengan laptopnya yang sejak kedatangan mereka di sini Zayden langsung menyalakan laptopnya.
Hampir 2 jam Cika di sini dan rasa bosan sudah menderanya karena Zayden sejak tadi bungkam dan hanya serius dengan laptopnya saja tanpa melihat ke arah Cika.
"Ay!" panggil Cika dengan kesal.
"Hmmm..."
"Aku pulang aja kalau kamu masih sibuk!" ucap Cika dengan ketus dan ingin beranjak pergi. Namun, tangan Zayden langsung mencegah Cika.
Zayden merasa bersalah, ia sibuk sejak tadi karena ingin menyelesaikan pekerjaannya di kantor agar ia bisa berduaan dengan Cika.
"Maaf, Ay!" gumam Zayden meminta maaf.
Zayden memeluk Cika dari belakang, ia mengirup wangi tubuh Cika dengan dalam.
"A-ay!" panggil Cika dengan lirih saat Zayden menghis*p kulit lehernya dengan kuat. Cika yakin ciuman Zayden akan berbekas di sana.
Zayden menarik Cika agar kembali duduk dan sekarang Cika sudah berada di atas pangkuannya.
"Cantik!" gumam Zayden mengelus pipi Cika dengan lembut.
"Aiden!" gumam Cika dengan lirih.
__ADS_1
"Iya, Sayang. Ini aku!" ucap Aiden dengan serak.
"Biarin Zayden dulu yang bersamaku bisa?" pinta Cika dengan lembut mengelus rahang Zayden dengan pelan.
Aiden memejamkan matanya menikmati elusan tangan Cika di pipinya. "Kamu gak suka kalau aku di sini hmm?" tanya Aiden dengan tajam.
"B-bukan gitu, tapi kan aku baru sebentar bersama dengan Zayden!" sahut Cika dengan lembut agar Aiden tidak marah kepadanya yang menyebabkan dirinya diperlakukan kasar lagi oleh pria di depannya ini.
"Sepertinya kamu lebih mencintai Zayden dari pada aku!" ujar Aiden dengan cemburu.
"Kalau aku mengambil ahli seluruh tubuh ini kamu marah? Aku gak suka kaku lebih mentingin Zayden dari pada aku! Aku juga mencintai kamu!" ujar Aiden dengan cemberut.
Cika terkekeh, baru kali ini ia melihat Aiden merengek seperti ini kepadanya.
Aiden merebahkan dirinya di sofa sehingga Cika ikut terbaring di atas tubuh Zayden yang sekarang dikuasai oleh Aiden.
"Kenapa tertawa?" tanya Aiden dengan ketus.
"Jangan jahat! Jangan serakah! Kalian itu sama!" gumam Cika mengelus kepala Zayden dengan lembut.
"Kenapa kamu kasar sama aku? Katanya kamu mencintai aku? Lelaki yang mencintai kekasihnya tidak akan memperlakukan kekasihnya dengan kasar," tanya Cika dengan pelan.
"Aku gak akan kasar sama kamu kalau kamu gak genit sama lelaki lain! Kamu milikku, Cika! Paham sampai sini kenapa aku seperti itu?" tanya Aiden dengan tegas.
"Aku gak genit sama mereka. Aku kan sudah menjadi milik kamu, Aiden! Bahkan sejak kita masih TK!" sahut Cika.
"Gak genit? Tapi kenapa setiap bertemu dengan Zayyen tatapan kamu berbeda? Alasan aku melarang kamu ke rumah mama ketika ada Zayyen di rumah karena aku tak ingin kalian saling menyapa. Jika kamu ingin melihat aku berdamai dengannya maka jangan buat aku murka, aku tidak segan-segan menghancurkan Zayyen jika kamu berani bermain di belakang aku!" ujar Aiden dengan tajam.
Cika menelan ludahnya dengan kasar. Ia hanya mencintai Zayden tetapi ia juga nyaman dengan Zayyen karena lelaki dingin itu lebih mengerti dirinya dari pada Zayden. Zayyen mampu mendengarkan keluh kesahnya dengan baik, pria itu menjadi teman curhat yang sangat baik untuknya hingga rasa nyaman dan tidak ingin kehilangan sosok Zayyen menguasai dirinya. Apakah Cika salah? Karena selama ini Zayden maupun Aiden sangat mengekangnya yang membuat Cika tersiksa batin.
Keterdiaman Cika membuat Zayden mengepalkan tangannya. Tak ingin membuat Cika terluka karena sikap kasarnya kali ini Zayden melampiaskan amarahnya dengan sebuah ciuman di bibir Cika dengan gerakan kasar.
Awalnya Cika sedikit memberontak tetapi lama-kelamaan ia menikmati ciuman Aiden dengan memegang kuat baju Zayden.
Aiden membalikkan keadaan hingga tubuh Cika yang berada di bawahnya. sekasar-kasarnya Aiden tidak pernah bertindak lebih selain berciuman dan menyentuh tubuh Cika yang menjadi tempat favoritnya.
__ADS_1
Aiden menaikan baju Cika ke atas, seperti bayi yang kehausan Aiden menghil*sap put*ng Cika dengan rakus. Cika hanya bisa melenguh menikmati sensasi nikmat yang diberikan Aiden kepadanya. Cika meremas rambut Zayden dengan kuat saat Zayden terus mengusai dadanya.
Cika melenguh panjang tubuhnya bergetar dengan hebat, matanya begitu sayu menatap Zayden yang masih asyik mengusai tubuhnya.
Zayden membenamkan wajahnya di leher Cika. Napasnya terasa memanas saat terkena kulit leher Cika.
"Ay, berat!" rengek Cika dengan manja.
Keadaan Cika sudah berantakan. Zayden yang tahu jika kekasihnya keberatan menggeser tubuhnya ke samping sofa.
"M*sum!" gumam Cika menatap Zayden.
Zayden terkekeh. Kesamaan dirinya dengan Aiden adalah m*sum kepada Cika, dan ketika Aiden ingin mengusai Cika, Zayden berusaha mengambil alih tubuhnya. Cika juga sudah candu dengan sentuhan Zayden, ia tidak bisa menolak jika Zayden menyentuh dirinya asal jangan sampai melampaui batas hingga membuat keduanya menyesal nantinya. Jika saling memuaskan hasrat saja mereka sudah pernah melakukannya dengan tangan saja.
Cika melebarkan kedua pahanya saat tangan Zayden masuk ke dalam celananya. Ia memejamkan matanya saat menikmati sentuhan tangan Zayden di area sensitifnya.
Mulut Cika terbuka dengan tubuh yang membungsung ke depan, Cika merasakan org*sme kembali yang membuat Cika kembali lemas.
"Udah, Ay!" ucap Cika dengan sayu.
Zayden merapikan pakaian Cika, ia memeluk Cika dengan erat. "Lama-lama aku gak tahan, Sayang! Aku mau menikah dengan kamu secepatnya!" ujar Zayden dengan serak.
Cika terdiam. Entah mengapa ia terbayang wajah Zayyen sekarang, hatinya merasa bersalah dengan pria itu yang tidak bisa membalas perasaan Zayyen. Cika sangat menyayangi Delisha, ia tak mungkin menyakiti perasaan adik sepupunya dan juga ia tidak mungkin menyakiti Zayden walau Zayden sering kali menyakiti fisiknya.
Zayden sangat mencintai Cika bahkan teman-temannya mengatakan jika Zayden sangat bucin kepada Cika. Zayden tak marah dengan sebutan 'bucin' untuknya, ia akan marah ketika ada pria yang mendekati Cika. Tak peduli jika mereka saudara Zayden akan menghajar pria itu termasuk kembarannya sendiri.
"I love you so much!" ucap Zayden dengan tulus mengecup kening Cika dengan lembut.
"I love you too!" sahut Cika dengan pelan..
"Kamu mau kan menikah sama aku, Ay?" tanya Zayden dengan serius.
"Iya aku mau, Ay!" jawab Cika yang membuat Zayden merasa senang.
"Ay, aku mencintaimu tapi aku juga tak ingin kehilangan sosok Zayyen yang bisa memperlakukan aku dengan lembut. Aku egois ya, Ay?! Jika kamu mengetahui semua ini nanti tolong jangan marah dan melukai diri kamu atau pun Zayyen! Aku hanya merasa nyaman dengan Zayyen karena Zayyen bisa mendengarkan semua keluh kesahku tentang kamu. Kamu terlalu dominan dan posesif yang membuatku merasa tertekan!"
__ADS_1