Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 230 (Cemburunya Seorang Duda)


__ADS_3

...📌Hai... Aku sengaja memunculkan mereka satu persatu setelah 5 tahun ini agar kalian tahu kabar mereka. Dan setelah itu baru fokus ke satu pasangan dulu ya gengs....


...Happy reading...


****


Nadine Quenby Samudra, gadis kecil berusia 5 tahun itu tampak sangat manja dengan kakak lelaki satu-satunya di keluarga Fathan. Ya, anak bungsu dari Fathan dan Tri kembali berjenis kelamin perempuan, sepertinya anak dari Fathan itu yang berjenis kelamin lelaki sangat langka berbeda dengan adiknya anak yang berjenis perempuan sangat langka buktinya hanya Delisha saja anak perempuan mereka, entah nanti cucu adiknya.


"Kakak, Nad ikut!" rengek Nadine kepada Nevan dan juga Nessa saat mereka ingin berangkat kuliah.


"Anak pungut gak boleh ikut!" ujar Nayla yang suka menjahili adiknya, gara-gara Nadine lahir ia tidak menjadi anak bungsu lagi.


"Mama, kak Nayla nakal! Hiks.. Nadine bukan anak pungut!" ujar Nadine dengan menangis.


"Cie anak pungut nangis!" ejek Nayla yang sangat senang sekali menjahili sang adik apalagi ketika Nadine sudah menangis seperti ini.


"Nayla, jangan jahili adiknya terus!" ujar Nevan menggendong Nadine.


"Hiks...Kak Nayla jahat, Kak! Kak Nayla gak sayang Nadine," adu Nadine dengan manja.


"Ya ampun bocah. Jangan nangis lagi ya, nanti air matanya kering terus nangis gak punya air mata lagi deh," ujar Nayla yang membuat Nadine terdiam.


"Nadine gak nangis! Tadi cuma keluar sedikit!" ujar Nadine yang membuat semuanya terkekeh gemas dengan tingkah Nadine.


Saat Nadine lahir semua tempat gemas dengan Nadine yang terlihat sangat lucu dan menggemaskan apalagi tubuhnya yang berisi dan sangat putih seperti susu.


"Nad, gendong sama Mama yuk! Kakak mau kuliah nanti di marahi dosen kalau telat," ujar Tri membujuk anaknya agar mau di gendong olehnya sebab Nadine paling dekat dengan Fathan dan juga Nevan.


"Nad juga mau kuliah," ujar Nadine dengan polosnya.


"Baca aja masih salah-salah mau kuliah kedokteran yang ada kamu botak terus kurus gak cantik lagi deh," ujar Nayla yang semakin menjahili adiknya.


"Nad gak botak, gak kurus juga. Kata kak Nevan, Nad itu gemoy! Kak Nayla jangan suka bohong!" ujar Nadine dengan kesal.


"Sudah-sudah! Nad, sama Papa. Biar Kakak kamu kuliah dulu," ujar Fathan menggendong anaknya yang langsung Nadine terima dengan senang hati. Tahta Nayla sebagai anak bungsu kesayangan kini sudah tergantikan yang membuat Nayla ngenes sendiri tetapi walaupun begitu Nayla sangat menyayangi adiknya apalagi sang adik sangat menggemaskan dan paling cantik di antar mereka.


"Uhh Papa encok gendong Nad!" ujar Fathan dengan terkekeh.


"Nad gak berat cuma banyak lemak aja!" ujar Nadine dengan polosnya yang membuat semua tertawa.


"Itu sama aja, Nad!" ujar Cika dengan terkekeh.


"Beda, Kak! Kakak jangan kayak kak Nayla! Gak boleh ya, Kak. Nanti Kakak jadi jelek kayak kak Nayla," ujar Nadine yang membuat Nayla tidak terima.


"Nih bocah mau Kakak jemur biar hitam?"


"Gak mau!"


"Sudah berdebatnya kalian kuliah sana," ujar Tri dengan tegas.


"Iya, Ma!" jawab Nevan, Nessa, dan Nayla serempak.


"Dadah gemoy. Muaaachhh.."


"Huwaa.. Pipi Nad kempes!"

__ADS_1


"Hahaha..."


Fathan menciumi pipi anaknya dengan gemas setelah kepergian ke-empat anaknya untuk bekerja dan kuliah. Setelah kelahiran Nadine, Tri akhirnya melakukan setril agar dirinya tidak bisa hamil lagi apalagi usianya yang sudah tidak muda lagi. Tri takut akan hamil lagi cukup Nadine yang terakhir.


"Cantik banget anak Papa. Mau ikut ke rumah sakit gak?" tanya Fathan yang tidak rela meninggalkan anaknya.


"Mauu! Nad bawa peralatan dokter Nad. Nad mau periksa pasien," ujar Nadine dengan ceria yang membuat Fathan terkekeh.


"Sayang ikut juga ya. Hari ini Mas gak banyak Pasien," ujar Fathan yang diangguki oleh Tri.


"Sebentar Mama ambilkan tas Nad dulu," ujar Tri yang di angguki oleh Fathan dan Nadine.


"Nad sayang Papa Mama... Muachh..muach..."


"Papa juga sayang, Nad! Gemas Papa!" ujar Fathan memeluk anaknya.


***


Siang harinya di saat Nessa sedang istirahat dengan teman-temannya di kantin, kebanyakan teman Nessa adalah lelaki yang membuat Andra sering sekali merasa cemburu, tiba-tiba saja saat Nessa sedang mengobrol dengan para teman-temannya tangan Nessa ditarik oleh Andra yang membuat Nessa terkejut.


"Eh Pak mau bawa saya kemana?" tanya Nessa dengan terkejut.


Para teman Nessa hanya bisa bengong melihat Nessa ditarik oleh Andra. Mereka tak heran lagi dengan kedekatan keduanya yang seperti kucing dan anjing jika bertemu tetapi mereka tahu Nessa mulai ada rasa dengan Andra selama 5 tahun Andra mengejar cinta Nessa. Cinta Andra tidak pudar selama 5 tahun mengejar Nessa dan sampai sekarang belum ada kepastian hubungan mereka akan seperti apa yang jelas Andra semakin mencintai Nessa karena Nessa semakin cantik dan Andra tidak rela ada yang menyukai Nessa selain dirinya.


"Istirahat kamu sampai jam berapa?" tanya Andra tanpa ekspresi yang membuat Nessa menelan ludahnya dengan kasar.


"Seharusnya sih 15 menit lagi," ujar Nessa yang membuat Andra langsung menatap Nessa dengan tajam.


"Jangan bohong Nessa!"


"Iya-iya saya gak bohong. Emang benar seharusnya 15 menit lagi tapi dosen untuk jam pelajaran nanti berhalangan hadir ya jadi sudah tidak ada mata kuliah hari ini," ujar Nessa dengan jujur.


"Ya bagus dong, Pak! Akhirnya saya bisa main sama teman-teman saya di jam kosong," ujar Nessa dengan polosnya yang ternyata memantik api cemburu pada Andra.


"Main? Main dengan banyaknya teman cowok seperti tadi? Kamu tidak menghargai perasaan saya sebagai kekasih kamu?" ujar Andra dengan tajam.


"Pak..."


"Masuk!" ujar Andra dengan tajam.


Nessa dengan pasrah masuk ke dalam mobil Andra sudah sering kali Andra cemburu buta seperti ini dan Nessa seperti di kekang oleh Andra.


Andra menjalankan mobilnya menjauh dari kampus tempat di mana Andra mengajar dan Nessa meraih cinta-cintanya sebagai dokter. Setelah berjalan lumayan jauh dari kampus dan sedikit hilang dari keramaian Andra menghentikan mobilnya yang membuat Nessa mendadak bingung.


"Kok berhenti?" tanya Nessa dengan bingung.


"Duduk!" perintah Andra dengan tegas.


"Ini sudah duduk," jawab Nessa dengan entengnya.


"Di sini!" ujar Andra dengan kesal.


"Enggak!"


"Nessa ayo!"

__ADS_1


"Ck... Iya-iya!"


Mau tak mau dan suka tidak suka akhinya Nessa duduk di pangkuan Andra.


"Saya sudah lama menunggu kamu dan sebentar lagi kamu akan lulus kuliah. Jadi, saya butuh jawaban dengan cepat," ujar Andra yang membuat Nessa terdiam.


"Sekarang?" tanya Nessa yang membuat Andra kesal.


"Enggak! Tunggu saya tua dan gak bisa apa-apa," jawab Andra dengan kesal yang membuat Nessa terkekeh.


"Bukannya sudah tua ya?" tanya Nessa yang membuat Andra gemas.


Tanpa aba-aba Andra mencium bibir Nessa dengan gemas. Ciuman yang tadinya lembut kini berubah menjadi ciuman penuh tuntutan dan Nessa juga mulai membalas ciuman Andra dengan mengalungkan tangannya di leher Andra. Untung saja tempat ini sepi dan Andra bisa leluasa mencium Nessa saat ini.


"Ahhh...."


Akhirnya Nessa tak lagi bisa menahan suaranya saat Andra mencium Lehernya dan meninggalkan jejak kepemilikan di sana.


"Apa jawaban kamu Nessa?" tanya Andra dengan serak.


"I-iya, Pak!!" jawab Nessa dengan terbata yang membuat Andra tersenyum bahagia.


"Ucapkan sekali lagi!" ujar Andra yang belum puas mendengar jawaban Nessa.


"Ahhh... Tangannya jangan jahil dulu bisa?!" ujar Nessa dengan lirih.


"Katakan dengan cepat, Sayang!" ujar Andra tidak sabaran.


"Iya saya mau!" gumam Nessa yang membuat Andra bahagia dan langsung memeluk Nessa dengan erat. Akhirnya penantian panjangnya membuahkan hasil.


Andra kembali menarik tengkuk Nessa dan mencium bibir gadis itu kembali. "Kamu gak terpaksa kan menerima saya?" tanya Andra yang membuat Nessa cemberut.


"Kalau saya tidak maupun Bapak selalu memaksa, kan?" tanya Nessa yang di angguki oleh Andra.


Tangan Andra meraba paha Nessa dengan perlahan yang membuat gadis itu meremang.


"Uhhhh.."


"M-mau ngapain?" tanya Nessa dengan lirih.


"Sebentar saja, Sayang! Janji!" ujar Andra dengan serak. Andra sudah tidak bisa menahan gairahnya untuk sekarang.


Andra meraba milik Nessa dengan perlahan yang membuat gadis itu melenguh tanpa sadar. Sungguh sentuhan Andra kali ini membuat Nessa melayang.


"P-pak..."


"Mas, Sayang! Mas Andra!" ujar Andra dengan tegas.


"M-mas.."


Nessa hanya pasrah saat jari Andra bermain di area sensitifnya, jujur ia suka dengan sentuhan Andra kali ini. Entah mengapa ia tidak menolak saat Andra menyentuhnya.


Andra menatap Nessa dengan penuh cinta apalagi melihat wajah Nessa yang memerah karena ulahnya. Andra hanya ingin menyentuh Nessa sedikit saja karena gadis itu sudah membuat dirinya cemburu tetapi mengapa gairahnya malah datang saat mendengar suara Nessa yang seperti ini.


"Mass Andraa!" Nessa memeluk Andra saat tubuh gadis itu bergetar dengan hebat. Napas Nessa tersengal-sengal dan baru kali ini Nessa merasa lemas. Apa tadi? Mengapa rasanya enak sekali?

__ADS_1


"Ouhh ****...Ayo kita ke rumahmu aku ingin melamarmu sekarang juga," ujar Andra dengan tak sabaran.


Nessa duduk di tempatnya dengan lemas. Duda anak satu itu benar-benar membuat otaknya blank. Ternyata cemburunya duda sangat menyeramkan sekali.


__ADS_2