
...Jangan lupa ramaikan part ini ya....
...Happy reading...
****
Setelah berpamitan kepada sang istri sebentar, Akbar menemui Aurel dengan wajah yang sangat tegang karena menahan amarah.
Sedangkan Aurel yang menunggu kedatangan mantan suami sekaligus sahabatnya sudah berdandan cantik sesuai dengan fashion-nya agar menarik perhatian Akbar. Aurel tak peduli jika Akbar sudah menikah, ia akan menarik perhatian Akbar kembali agar menyukainya lagi.
"Aurel keluar kamu!" teriak Akbar dengan dingin.
Aurel yang memang sudah menunggu kedatangan Akbar di rumahnya sejak tadi langsung membukakan pintu ketika ia mendengar suara Akbar. Pasti Akbar akan menghabiskan waktu bersamanya karena istri kecil Akbar itu tidak bisa mengurus Akbar, pikiran Aurel terlalu pede padahal kedatangan Akbar ke rumahnya untuk memarahi wanita itu karena membohonginya dengan waktu yang sangat lama perihal surat medis palsu yang ia terima.
"Hai, Mas. Apa kabar? Aku merindukanmu!" ucap Aurel dengan tersenyum manis dan langsung memeluk lengan Akbar tak tahu malu.
Akbar yang risih langsung melepaskan tangan Aurel dari lengannya dengan kasar. Ia menatap Aurel dengan tajam.
"Kamu kenapa sih Mas? Sejak nikah sama Fiona kamu sensian banget sama aku," ujar Aurel dengan cemberut tetapi membuat Akbar muak.
"Saya gak akan lama-lama di sini. Coba jelaskan maksud surat medis palsu yang kamu berikan kepada saya!" ucap Akbar melempar surat tersebut di depan wajah Aurel. Akbar muak! Sangat muak dengan wajah Aurel yang sama sekali tidak terlihat bersalah sejak tadi malah asyik ingin menggodanya dengan baju kekurangan bahan yang ia pakai.
__ADS_1
Aurel baru terlihat tegang saat Akbar menatapnya dengan sangat dingin dan kertas yang di lempar ke wajahnya.
"A-apa maksudmu, Mas?" tanya Aurel berpura-pura tetap terlihat biasa saja tetapi wajah gugupnya sangat kentara di mata Akbar.
"Jangan berpura-pura tidak tahu apapun, Aurel! 15 tahun pernikahan kita kamu sudah membohongi saya begitu apiknya! Apa maksud kamu memberikan surat palsu itu ke saya, hah? JELASKAN!" teriak Akbar dengan murka.
Aurel ketakutan saat tangan besar Akbar menekan dagunya dengan kuat. "Katakan Aurel atau saya akan membuatmu menyesal!" desis Akbar dengan tajam
"A-aku tidak tahu apapun, Mas! S-surat palsu? A-aku tidak tahu tentang surat medis yang ternyata palsu itu," ucap Aurel dengan terbata.
Aurel meringis saat jari Akbar semakin menekan dagunya, tatapan pria itu begitu dingin dan tajam.
"Aakhhh.." Aurel merengis kesakitan saat kuku Akbar semakin menekan kulitnya. Tatapan Akbar juga sangat mengintimidasi Aurel.
"Saya tidak akan melepaskan kamu sebelum kamu mengatakan apa maksud dan tujuan kamu memalsukan surat medis itu! Kamu tahu saya terluka! Kamu tahu saya terpuruk karena saya pikir saya tidak bisa mempunyai anak! Tetapi hari ini sejak saya memeriksakan diri kepada kakak ipar saya, saya dinyatakan baik-baik saja bahkan istri saya hamil anak saya," ucap Akbar dengan tajam.
Mata Aurel berkaca-kaca dan air mata Aurel jatuh sampai mengenai tangan Akbar.
"JANGAN PURA-PURA MENANGIS DI DEPAN MATA SAYA! SAYA MUAK MELIHATNYA!" teriak Akbar dengan murka bahkan mendorong tubuh Aurel hingga menabrak pintu.
"MULAI SEKARANG KITA BUKAN LAGI SAHABAT! TERNYATA KAMU SAMA SAJA DENGAN PEREMPUAN MUNAFIK DI LUAR SANA. KENAPA KAMU MEMBOHONGI SAYA, HAH? APA KAMU TIDAK MAU HAMIL ANAK SAYA WAKTU ITU?" teriak Akbar dengan murka.
__ADS_1
"M-mas..."
"JAWAB! JANGAN MENGELUARKAN AIR MATA BUAYA DI DEPAN SAYA! SAYA TIDAK AKAN TERSENTUH SAMA SEKALI," ucap Akbar dengan tajam.
Brak....
Akbar menendang pintu dengan keras, ia marah karena sudah dibohongi begitu lama oleh Aurel. Akbar sudah sangat lama menantikan seorang anak bahkan Akbar sudah mengatakan kepada Aurel untuk mengadopsi anak tetapi Aurel menolaknya mentah-mentah hingga mereka bercerai.
Aurel memegang kaki Akbar. Wanita itu terisak dan meminta maaf kepada Akbar. "M-maafkan aku, Mas! A-aku sengaja melakukan itu karena aku tidak mau hamil! Aku tidak ingin badanku melar seperti temanku, mempunyai anak sangat merepotkan menurutku!" ucap Aurel dengan terisak memegang kaki Akbar.
Akbar menyeringai, sudah Akbar tebak jawaban yang akan dikatakan Aurel kepadanya. Sakit memang tetapi rasa sakitnya sudah digantikan dengan kehadiran Fiona dan ketiga calon anaknya. Mengingat mereka membuat Akbar diserang rasa rindu dan ingin cepat pulang ke rumah, toh ia sudah mengetahui jawaban yang sebenarnya dari mulut Aurel dan tidak ada alasan lagi untuknya tetap di sini. Mulai detik ini Aurel bukan lagi sahabatnya atau teman wanita yang sudah ia anggap sebagai saudara. Akbar ternyata salah menyayangi dan mencintai wanita yang ia anggap baik selama ini.
Akbar melepaskan kakinya saat dipegang Aurel dengan kasar hingga wanita itu kembali tersungkur.
"Mulai detik ini kita bukan siapa-siapa. Kamu hanya orang asing yang pernah mematahkan hati saya! Jangan pernah menampakkan wajah kamu lagi di depan saya kalau tidak mau hidupmu menderita!" desis Akbar dengan tajam.
"APA ISTIMEWA WANITA CACAT ITU? BAHKAN SIKAPNYA SEPERTI ANAK KECIL!" teriak Aurel yang tak ingin Akbar pergi dari rumahnya.
Tetapi ucapan Aurel kembali membangkitkan kemurkaan Akbar. Akbar tidak rela jika istrinya di hina oleh wanita munafik seperti Aurel. Dari mana wanita itu tahu jika istrinya mempunyai kekurangan? Tapi walaupun begitu di mata Akbar itu adalah kelebihan Fiona.
"Istri saya emang cacat tapi istri saya sangat istimewa. Bahkan sikapnya yang masih seperti anak kecil tak takut badannya menjadi rusak gara-gara melahirkan anak saya. Dari pada wanita munafik seperti kamu lebih istimewa istri saya kalian seperti langit dan bumi!"
__ADS_1
Setelah mengucapkan seperti itu Akbar meninggalkan Aurel begitu saja.
Wanita itu dengan cepat menghapus air matanya dan menyeringai dengan sinis. "Lihat saja, Mas! Aku akan membalas semuanya karena kamu lebih membela istri idiotmu itu! Bahkan kamu merendahkan aku hanya karena membela wanita itu! Lihat siapa yang menyesal nanti!" ucap Aurel dengan penuh kebencian kepada Fiona karena telah merebut Akbar darinya. Aurel menyesal telah merendahkan dirinya di depan Akbar.