Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 59 (Melepas Rindu)


__ADS_3

...Jangan lupa ramaikan part ini ya....


...Happy reading...


****


Grepp.....


"I miss you!"


Rasa rindu yang menggebu membuat keduanya berpelukan dengan sangat erat bahkan keduanya menangis bersama.


"M-mas Fathan!" gumam Tri dengan suara yang amat serak. Tri terisak karena rindu yang sangat menggebu kepada Fathan akhirnya terbayarkan.


"Sayang, Mas sangat merindukanmu! Hiks..Jangan pernah pergi lagi ya, Hanum! Kepergianmu sama saja membunuh Mas dengan perlahan," ucap Fathan dengan lirih, ia menangis di hadapan Tri dan juga Alan dan Ulan. Tak ada rasa malu di dalam dirinya karena menangis di hadapan mereka. Sungguh rasa rindunya lebih besar untuk Tri dari pada rasa malunya saat ini. Biarlah Alan dan Ulan berpikir jika dirinya cengeng atau sama sekali tidak gantle karena menangis.


"Hiks... aku juga merindukanmu, Mas! Dimana Cika? Aku juga merindukan anak kita, Mas!" ucap Tri dengan lirih.


Fathan terdiam. "Cika ada di rumah sakit, Sayang! Dia terkena demam berdarah karena sangat merindukanmu, Sayang. A-aku juga mengabaikannya, a-aku tahu itu salah tapi pikiranku saat itu masih kalut. Sekarang kita ke rumah sakit ya! Cika pasti bahagia kamu kembali," ucap Fathan dengan binar mata bahagia.


Ada rasa bahagia saat Fathan mengajaknya untuk kembali tetapi ia masih ragu dengan kedua orang tua Fathan yang mungkin akan memisahkannya kembali dengan Fathan dan Cika. Dan mungkin saja akan lebih menyakitkan dari pada perpisahan yang ini.


Fathan yang melihat keraguan dalam diri Tri langsung panik. "S-sayang kenapa diam? K-kamu gak mau pulang sama Mas? K-kamu..."


"Tri pulanglah! Saya yakin mertuamu tidak akan berani macam-macam!" ujar Alan memotong ucapan Fathan yang terdengar sangat takut jika Tri tidak mau kembali bersama dengannya.


Fathan menatap Tri. "Benarkan jika kepergianmu karena ulah kedua orang tuaku? Mas gak akan pernah memaafkan mereka!" ujar Fathan dengan tatapan dinginnya.


"M-mas..." Tri tidak bisa berkata-kata saat Fathan menatapnya dengan dingin. Ia tahu Fathan saat ini sedang marah karena mengetahui jika kepergiannya karena ulah kedua orang tuanya.


"Iya kedua orang tuamu yang menyuruh Tri untuk pergi dari kehidupanmu. Saya tidak akan meminta maaf kepadamu dokter Fathan, di sini saya hanya ingin memberitahukan kepadamu jika kalian berani menyakiti Tri maka kehidupan kalian akan hancur seperti apa yang kedua orang tuamu lakukan hingga mereka hancur karena kesalahan yang mereka perbuat. Saat ini polisi sedang datang ke rumah mereka dan menyita semua aset yang dimiliki Handoko," ujar Alan dengan dingin.


Fathan sama sekali tidak terkejut. Ia tahu kekuasaan keluarga Mahendra terlebih Brawijaya yang terkenal dengan kekejaman di dunia bisnis.


"Jika kamu menyakiti Tri maka bersiaplah menjadi gelandangam di luar sana karena kami juga bisa menghancurkan rumah sakit yang kamu bangun selama ini," lanjut Alan dengan nada tegasnya.


"Saya tidak akan takut kehilangan harta yang saya punya. Dan saya juga tidak akan peduli dengan harta yang dimiliki papa saya menghilang karena mereka sudah menyakiti istri saya biarkan mereka belajar dari kesalahan yang mereka perbuat dan tidak berani lagi menyakiti istri sayasaya," ucap Fathan dengan tegas.


"Terima kasih telah menjaga istri saya selama ini. Saya akan membawa Hanum pulang ke rumah saya," ucap Fathan menggandeng tangan istrinya dengan erat karena ia tidak ingin kehilangan kembali. Sudah cukup rasa yang sangat menyesakkan selama ia kehilangan Tri.

__ADS_1


"Jaga Tri baik-baik!" ujar Ulan dengan tegas.


"Pasti saya akan menjaganya!" jawab Fathan dengan mantap.


"Kita pulang ya, Sayang. Kita mulai semuanya dari awal! Kali ini tidak ada yang bisa memisahkan kita termasuk mama dan papa!" ucap Fathan dengan tersenyum mengecup punggung tangan Tri dengan mesra.


Tri malu mendapatkan perlakuan romantis dari suaminya hanya bisa mengangguk dengan pelan. Apakah ini akhir dari kesakitannya? Semoga saja iya karena Tri tidak akan sanggup lagi jika harus berjauhan dari Fathan dan Cika.


****


Tri menatap kondisi anaknya dengan sangat iba. Ia berkaca-kaca saat melihat tangan anaknya di infus.


"Hiks...maafkan Mama, Cika! Mama gak bisa jadi ibu yang baik buat kamu," gumam Tri dengan menangis karena sama sekali tidak tega dengan kondisi anaknya yang seperti ini.


Fathan juga terlihat sedih dan menyalahkan dirinya sendiri karena akibat kelalaiannya Cika juga menjadi sakit seperti ini. "Maafkan Papa juga ya, Sayang!" gumam Fathan dengan lirih.


Cika membuka matanya dengan perlahan saat ia mendengar suara kedua orang tuanya. "M-mama, P-papa," gumam Cika dengan suara yang amat pelan.


Tri dan Fathan tersenyum mereka bersama-sama mencium pipi Cika. "Iya Sayang ini mama dan papa," ucap Tri dan Fathan bersamaan.


Seperti mendapatkan kekuatan Cika memeluk kedua orang tuanya dengan sangat erat. "Hiks... Jangan pergi lagi Ma. Cika sendirian, kakek sama nenek jahat hiks..." ucap Cika dengan menangis yang membuat Fathan dan Tri merasa bersalah, mereka tidak memikirkan mental Cika yang akan down akibat perpisahan mereka.


"Kalau ada Mama dan Papa, Cika pasti cepat sembuh!" gumam Cika dengan tersenyum.


Fathan dan Tri teekekeh keduanya memeluk Cika dengan erat. "Cepat sembuh anak papa dan mama!" gumam Fathan dengan lembut.


****


"Zayyen!" gumam Tiara dengan lirih.


"Zayyen!"


"Zayyen!"


Suhu tubuh Tiara sangat panas yang membuat Zidan khawatir. Sudah sejam lamanya Zidan mengompres Tiara dengan air dingin tetapi keadaan Tiara tak kunjung membaik, badannya semakin panas dengan tubuh yang menggigil hebat dan terus memanggil nama anak pertama mereka.


"Ay!" panggil zidan dengan khawatir.


Gemelutuk gigi Tiara pertanda wanita itu menggigil dengan hebat membuat Zidan di serang rasa panik yang luar biasa.

__ADS_1


Zidan turun dari kasur. "Ibu!" panggil Zidan dengan panik.


"Ibu!" teriak Zidan sekali lagi.


"Kenapa Zidan? Tiara baik-baik saja, kan?" tanya Ibu Mala dengan cemas.


"Tolong jaga Tiara sebentar, Bu. Aku mau mengambil infus di bawah. Badan Tiara semakin panas, Bu!" ujar Zidan dengan khawatir.


"Ya Allah... Iya Ibu akan menjaga Tiara. Kamu cepat ambil infus!" ucap Ibu Mala dengan panik.


Zidan berlari ke bawah. ia mengambil semua peralatan medis yang ia perlukan untuk menyembuhkan Tiara yang berada di ruangan khusus obat di rumah kedua kedua orang tuanya. Setelah yang ia perlukan sudah Zidan ambil, ia kembali berlari ke arah kamarnya.


"Gimana Bu? Tiara sudah sudah mau membuka mata?" tanya Zidan dengan cemas.


Ibu Mala menggeleng. "Tiara terus menggumamkan nama Zayyen. Apa tidak sebaiknya kamu ambil Zayyen sekarang?" tanya Ibu Mala dengan panik.


"Tidak semudah itu, Bu. Karena Zayyen diasuh oleh orang lain dan juga Zayyen pasti tidak mengenal kami sebagai orang tuanya berbeda dengan Zayden yang langsung bisa menerima Tiara sebagai mamanya. Zayyen pasti butuh waktu. Besok setelah keadaan Tiara membaik Zidan akan menyuruh Tiara mengajak Zidan bertemu orang yang telah mengasuh Zayyen selama ini," ucap Zidan dengan pelan.


Ibu Mala menghela napasnya dengan perlahan. "Jangan lama-lama kasihan Tiara!" ucap Ibu Mala dengan lirih.


Zidan mengangguk dengan mantap. Ia mulai memeriksa keadaan Tiara. "40 derajat," gumam Zidan.


"Bu, tolong ambilkan tiang infus di sudut lemari," ucap Zidan saat ia mulai memasukkan jarum ke tangan Tiara dengan perlahan setelah itu ia mulai melepasnya dan memasukan selang infus.


"Sebentar," ucap Ibu Mala beranjak mengambil tiang infus yang Zidan perlukan. beginilah enaknya mempunyai anak seorang dokter yang langsung sigap mengobati jika salah satu di antara mereka sakit.


Zidan memeriksa infus Tiara agar berjalan dengan lancar masuk ke tubuh orang yang ia cintai , setelah dirasa sudah baik Zidan menggantungkan infus ke tiang infus yang sudah ibunya ambilkan.


"Ibu bisa kembali ke kamar sekarang. Tolong jaga Zayden ya, Bu!" ucap Zidan.


"Zayden sudah tidur. Ya sudah Ibu kembali ke kamar, mungkin ayah akan sampai subuh nanti, kamu jangan macam-sama sama Tiara! Jangan memaafkan keadaan Tiara yang sedang tidak berdaya!" ucap Ibu Mala dengan tegas.


"Zidan tidak akan mengulang kesalahan yang sama, Bu! Ibu bisa pegang kata-kata Zidan. Karena Zidan akan menyentuh Tiara saat dia sudah menjadi istri Zidan," ujar Zidan dengan tegas.


"Ibu percaya sama kamu. Istirahatlah! Ibu ke kamar dulu," ucap Ibu mala.


Zidan mengangguk, setelah ibunya keluar, Zidan menatap wajah pucat Tiara dengan sendu. Dengan perlahan Zidan meletakkan kepala Tiara di lengannya dan memeluk wanita yang sangat ia cintai dengan erat.


"Cepat sembuh, Ay. Kita akan jemput Zayyen sama-sama dan kita pasti akan hidup bahagia setelah ini!" gumam Zidan mengecup kening Tiara dengan lembut.

__ADS_1


__ADS_2