
...Jangan lupa ramaikan part ini ya...
...Bom like dan komentanya guys. ...
...Happy reading...
****
Fathan terkejut saat melihat anaknya di gendong oleh sang mama ke rumah sakit. Fathan panik saat melihat Cika menangis, apa yang terjadi dengan sang anak?
"Ada apa ini, Ma? Cika kenapa?" tanya Fathan dengan cemas.
"Hiks..hiks... Papa sakit!" adu Cika dengan menangis terisak.
"Ya Allah... Kaki kamu berdarah, Sayang!" ujar Fathan dengan panik.
"Ini itu semua gara-gara Tri. Coba aja kalau dia bisa menjaga Cika dengan baik, Cika gak bakal jatuh dari tangga! Kamu harus bisa tegas dengan baby sitter Cika," ucap Mama Yesha dengan menahan amarahnya.
"Kamu harus pecat Tri sekarang juga!" ujar Mama Yesha.
Fathan menenangkan anaknya yang masih menangis, ia tidak begitu mendengarkan ucapan mamanya saat ini.
"Fathan kamu dengar ucapan Mama enggak sih?" tanya Mama Yesha dengan tajam.
"Sudahlah Ma. Jangan terlalu membenci Tri, Mama tunggu di sini aku mau obati luka Cika dulu," ucap Fathan dengan tegas membuat mama Yesha mendengkus kesal. Kenapa Fathan terlihat sangat membela baby sitter itu? Ada apa sebenarnya? pikir mama Yesha di dalam hati, entah mengapa mama Yesha berpikir yang tidak-tidak tentang mereka.
Mama Yesha menunggu dengan perasaan dongkol sekarang. Entah mengapa ia sangat tidak suka dengan Tri, baby sitter itu terlihat begitu menjengkelkan di matanya.
"Awas saja cepat atau lambat Fathan pasti akan memecat wanita kampungan itu," gerak Mama Yesha.
Sedangkan Fathan membawa Cika ke dalam ruangannya, ia mendudukkan Cika di ranjang pasien dengan perlahan. "Cup..cup...Jangan nangis lagi, Sayang!" ujar Fathan dengan lembut.
"Sus, ambilkan kotak P3K!" perintah Fathan dengan tegas kepada suster yang bekerja dengannya.
"Baik, Dok!" ujar Suster tersebut dengan sopan.
"Ini, Dok!"
"Terima kasih!"
"Sama-sama, Dok!" Suster tersebut dengan tersenyum lembut, ia menjadi membayangkan jika Fathan menjadi suaminya dan sekarang mereka sedang mengobati Cika berdua, duh bahagianya. Tetapi itu hanyalah sebuah khayalan yang tidak mungkin menjadi nyata karena Fathan tidak akan menjadi milik siapa pun selain Tri saat ini, wanita yang sudah mencuri hatinya hingga Fathan berani mengambil resiko dengan menikahi Tri secara diam-diam dari keluarganya.
__ADS_1
"Kenapa Cika bisa jatuh?" tanya Fathan dengan lembut.
"Hiks...Cika lari-lari, Pa. Cika menyuruh mama untuk mengejar Cika sampai meja makan tapi Cik jatuh di anak tangga terakhir," ucap Cika dengan tersedu.
"Papa jangan marah sama Cika atau mama. Cika takut hiks!" ucap Cika dengan lirih.
"Papa gak akan marah sama Cika atau mama. Cuma Papa mau menasehati Cika sebentar boleh, kan?" tanya Fathan sambil mengobati kaki Cika dengan obat merah.
"Boleh, Pa!" ucap Cika dengan tangis yang mulai mereda.
Fathan memberikan plaster di lutut anaknya setelah selesai mengobati kaki Cika. Fathan memangku Cika dengan perlahan. "Cika boleh main apa saja di rumah asal tidak berlari ke arah tangga. Kalau Cika jatuh dari lantai atas bagaimana? Mama pasti akan panik dan papa juga. Ini waktunya Cika sekolah jangan ajak mama main dulu, Sayang!" ujar Fathan dengan lembut.
Cika mengangguk dengan patuh. "Maaf, Pa. Ini salah Cika jangan marahi mama ya, Pa. Tadi mama sudah dibentak sama nenek, Cika gak tega lihat mama nangis," ucap Cika dengan lirih.
"Papa maafkan. Tapi jangan diulangi lagi ya!" ujar Fathan dengan lembut.
"Iya, Pa!"
"Ya sudah hari ini Cika libur sekolah dulu. Papa yang akan bicara dengan guru Cika. Cika mau pulang sama nenek atau tunggu papa? Papa masih ada meeting selesai meeting baru bisa antar Cika pulang," ujar Fathan.
"Tunggu Papa aja. Cika gak mau pulang sama nenek, sekarang nenek jahat," gumam Cika dengan jujur yang membuat Fathan tersenyum tipis.
"Iya, Pa."
"Sus, tolong jaga anak saya sebentar. Meeting sebentar lagi akan di mulai. Jangan sampai terjadi sesuatu dengan anak saya ya, Sus!" ujar Fathan dengan tegas.
" Baik, Dok!"
"Papa meeting dulu ya. Kalau mau apa-apa bilang sama suster Pipit!" ujar Fathan mengelus rambut Cika dengan perlahan. Cika mengangguk dan menatap kepergian papanya dengan rasa bersalah karena keteledorannya sendiri hari ini ia tidak bisa sekolah dan tidak bisa bertemu dengan Zayden. Cika menyesal sekarang tidak mendengar ucapan mamanya.
Sedangkan mama Yesha sudah menunggu Cika dan Fathan mulai merasa bosan, mama Yesha ingin masuk ke ruangan Fathan tetapi mendengar suara pintu terbuka membuat mama Yesha mengurungkan niatnya dan mulai menghampiri Fathan.
"Mana Cika? Bagaimana keadaannya? Tidak ada yang serius kan dengan lukanya?" tanya Mama Yesha beruntun karena merasa cemas dengan cucu semata wayangnya saat ini.
"Cika ada di dalam. Cika gak apa-apa, Ma. Hanya luka kecil dan itu sudah terbiasa terjadi pada anak-anak. Sebaiknya Mama pulang saja biar Cika pulang bersama dengan Fathan setelah selesai meeting dengan dokter-dokter yang lainnya," ujar Fathan dengan tegas.
Mama Yesha menghela napasnya dengan kasar. "Untung saja Mama datang cepat waktu kalau tidak mungkin keadaan Cika jauh lebih parah dari ini. Tri benar-benar tidak becus menjaga Cika," ujar Mama Yesha yang tetap menyalahkan Tri atas kejadian Cika jatuh dari tangga.
"Ma, sudahlah jangan mencari kesalahan Tri terus. Dia sudah menjaga Cika dengan baik, cobalah sesekali Mama melihat sisi baik dari Tri jangan sisi buruk yang terus Mama cari untuk membuat Fathan memecat Tri karena sampai kapan pun Fathan tidak akan memecat Tri!" ucap Fathan dengan tegas.
"Kenapa sih kamu selalu membela wanita kampung itu dari pada Mama, hah?" tanya Mama Yesha dengan kesal.
__ADS_1
"Fathan tidak membela siapa pun, Ma! Sudahlah bicara sama Mama tidak akan ada habisnya. Fathan ke ruang meeting dulu, sebaiknya Mama pulang saja," ujar Fathan dengan kesal.
"Ya ya Mama pulang!" ucap Mama Yesha dengan ketus karena tak berhasil membuat Fathan marah kepada Tri padahal ia sudah merasa senang tadi.
***
Tri menunggu kepulangan Cika dengan gelisah. Ini sudah sangat lama Cika berada di rumah sakit dan sampai sekarang Cika belum pulang juga. Apa terjadi sesuatu dengan Cika? Jika iya maka Tri tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri.
"Apa aku susul saja Cika ke rumah sakit?" monolog Tri dengan rasa cemas yang membuat dirinya sama sekali tidak tenang.
"Tidak! Aku takut mas Fathan akan marah," gumam Tri dengan cemas.
Tak lama setelah itu Tri mendengar suara mobil Fathan yang memasuki perkarangan rumah. Dengan langkah cepat Tri menuju ke arah pintu utama dan membukakan pintu itu dengan cepat.
"Mas gimana keadaan Cika? Cika baik-baik saja, kan?" tanya Tri dengan cemas.
Sedangkan Fathan hanya diam menggendong Cika yang sudah terlelap, sejak ia tinggalkan meeting tadi tubuh Cika sedikit panas yang membuat Fathan khawatir dan untung saja panasnya cepat reda saat Fathan memberikan Cika obat penurunan panas. Melihat keterdiaman suaminya membuat Tri benar-benar takut jika Fathan akan marah kepadanya.
Tri mengikuti Fathan dengan langkah pelan dan wajah yang menunduk takut. Tangannya sudah begerak dengan gelisah.
"Mas!" cicit Tri dengan takut.
"Hmmm..."
"M-maafkan atas keteledoranku! Seharusnya aku bi..."
"Duduk!" ujar Fathan dengan tegas sebelum Tri menyelesaikan ucapannya.
Dengan bimbang Tri duduk di samping Fathan. "Kamu capek mengurus Cika?" tanya Fathan.
Tri menggeleng dengan cepat, ia tidak mau Fathan salah paham kepadanya. "E-enggak, Mas!" ucap Tri dengan cepat.
"Kalau bicara itu tatap mata Mas!" ujar Fathan dengan tegas.
Tri memberanikan diri untuk menatap Fathan. Tri pikir Fathan akan membentaknya seperti apa yang di lakukan mama Yesha tadi kepadanya. Tetapi Fathan malah meletakkan punggung tangannya di dahi Tri.
"Hangat! Bibir kamu pucat!"
"Mas marah sama aku?" tanya Tri dengan takut-takut.
Fathan menaikan sebelah alisnya lalu ia tersenyum tipis kepada Tri yang terlihat tegang. "Mana mungkin Mas bisa marah sama kamu jika jatuhnya Cika saja bukan kesalahan kamu!"
__ADS_1