
...Jangan lupa ramaikan part ini ya....
...Happy reading...
****
Fiona merentangkan tangannya saat baru saja ia terbangun dari tidurnya. Ahh...rasanya sangat nyenyak tidur di kamar senyaman ini, ingin rasanya Fiona tetap tinggal di sini. Tetapi tidak mungkin terjadi karena ini adalah rumah pria tampan yang tak sengaja menolongnya atau karena merasa tertekan saat harus menolongnya.
Fiona turun dari kasur dengan senyum yang sangat mengembang, ia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tidak mungkin ia telat bangun di rumah orang bisa di cap cewek kebo sama om Akbar nantinya.
Fiona bersenandung riang di dalam kamar mandi. Setelah selesai membersihkan diri Fiona keluar dari kamarnya, ia menatap sekeliling rumah Akbar yang tampak sepi. Gak mungkinkan ia telat bangun? Fiona menggigit kuku jarinya dengan melangkah turun ke lantai dasar, ia tersenyum lega saat melihat Akbar yang sedang duduk di ruang tamu dengan di temani secangkir kopi.
"Ini sudah jam berapa?" tanya Akbar dengan datar tanpa melihat ke arah Fiona.
Fiona nyengir kuda. "Jam 9 pagi, Om. Hehehe Fio gak kesiangan kan, Om?" ujar Fiona dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena menurut Fiona jam 9 masih sangat pagi untuk bangun tidur.
Akbar mendengus. Gadis ini benar-benar membuat darahnya mendidih, bisa-bisa ia meninggal dengan cepat jika terus berhadapan dengan Fiona.
"Om Akbarrr!" panggil Fiona dengan suara yang amat manja.
"Hmmm..."
"Om Akbar lihat Fio sebentar!" rengek Fiona.
"Apa Fio?" tanya Akbar dengan kesal menatap Fiona. Akbar melebarkan matanya dengan menelan ludahnya dengan kasar saat melihat penampilan Fiona yang membuat tubuhnya panas dingin.
Akbar membuka kancing kemeja teratasnya dengan cepat, ia berdehem untuk menetralkan tubuhnya. "Sial... Gadis ini benar-benar tidak bagus untuk kesehatan tubuhku!" gumam Akbar dengan suara yang serak.
"Lapar!!" rengek Fiona yang membuat Akbar menghembuskan napasnya dengan kasar.
"Makanan ada di meja!" ucap Akbar tanpa mau melihat ke arah Fiona.
Fiona mengangguk, ia berjalan ke arah dapur di rumah Akbar. Semalam ia sudah melihat dapur hingga ia mengetahui letak dapur di rumah Akbar.
Akbar mendes*h lega saat Fiona sudah pergi dari hadapannya. Fiona benar-benar tidak aman untuk kesehatan jantung dan tubuhnya. Akbar yang selalu menjaga kebugaran tubuhnya di usianya 50 tahun bisa luntur karena Fiona yang terus berada di hadapannya. Tapi kalian jangan salah walau usia Akbar sudah menginjak berkepala lima tetapi wajahnya masih sangat tanpa seperti Fathan karena Akbar selalu merawat tubuhnya, bahkan tubuhnya sangat bagus sekali.
__ADS_1
"Astaga!" ucap Akbar saat ia terkejut ketika Fiona duduk di sampingnya dengan membawa sepiring nasi goreng serta lauk di atasnya.
"Hehehe...mau sarapan di temani Om Akbar!" ungkap Fiona dengan jujur.
"Terserah!" ucap Akbar yang menyerah dengan sikap polos Fio yang menjengkelkan.
Fiona memakan nasi gorengnya dengan lahap, lalu ia melihat ke arah Akbar yang fokus ke ponselnya. Dengan iseng Fio menyodorkan sendok berisi nasi goreng ke depan mulut Akbar.
"Makan, Om!" ujar Fio dengan tersenyum.
"Saya sudah kenyang!" ucap Akbar dengan datar.
"Bantuin Fio habiskan nasi gorengnya, Om. Suapan Fio di jamin enak! Percaya deh!" ujar Fiona dengan tersenyum manis.
"Saya..."
Hap...
Fiona langsung memasukkan nasi goreng ke dalam mulut Akbar. Tidak sopan memang tetapi entah mengapa Fio sangat suka melihat wajah kesal Akbar kepadanya.
Fiona tersenyum. "Makanya ayo makan sama-sama. Gak enak dong Fio makan sendiri di rumah, Om!" ujar Fiona beralasan.
"Lagi!" ucap Fiona memberikan suapan kedua untuk Akbar dan kali ini Akbar menerimanya walaupun di hatinya menyimpan kekesalan yang sangat mendalam untuk gadis yang berada di sampingnya ini.
Drrt....drrtt...
Fiona meletakkan piring yang berada di tangannya dan mengambil ponsel yang berada di saku celananya.
"Akhirnya mama telepon Fio juga," gumam Fiona dengan tersenyum lega.
"Halo Ma!"
"Kamu dimana Fio? Kenapa belum datang juga? Papa kamu masuk rumah sakit, perusahaan papa bangkrut! Tolong mama Fio!"
Fiona terdiam. "P-papa sakit?" tanya Fiona dengan terbata.
__ADS_1
Akbar mengamati wajah Fiona. Ada rasa sesak di hatinya melihat saat melihat Fiona menangis, dengan refleks Akbar mengusap air mata Fiona dengan ibu jarinya.
"Jangan nangis! Saya gak suka gadis cengeng!" gumam Akbar yang masih bisa di dengar oleh Fiona.
Fiona tersenyum tipis walau matanya masih tidak bisa berbohong atas kesedihannya mendengar kabar jika papanya jatuh sakit dan jatuh miskin.
"Papa stroke, Fio. Kamu ke rumah sakit kak Fathan sekarang! Mama butuh kamu! Bahkan rumah sakit ini juga sudah bukan milik kakak kamu. Hikss...pulang Fio!" mohon mama Yesha lewat telepon.
"F-fio segera ke sana, Ma!" ucap Fiona dengan cemas.
Fiona menutup teleponnya. Ia menatap Akbar dengan sedih.
"Kenapa?" tanya Akbar yang mulai melunak.
"P-papa Fio jatuh sakit, Om. T-tolong a-antar Fio ke rumah sakit hiks..." ucap Fiona dengan menangis.
"Rumah sakit mana?" tanya Akbar dengan cepat.
"Cinta Kasih, Om!"
"Cinta kasih? Rumah sakit milik Fathan Samudra?" tanya Akbar.
Fiona mengangguk. "Ayo, Om! Fio mau melihat keadaan papa. Sudah lama Fio gak pulang ke rumah, Fio merasa bersalah sama papa dan mama hiks..."
"Ya sudah ayo!" ucap Akbar menggenggam tangan Fiona tanpa ia sadari.
Pipi Fiona memanas saat genggaman tangan Akbar terasa sangat nyaman untuknya. Bahkan Fio sengaja tak bersuara agar genggaman tangan Akbar tidak terlepas dari tangannya.
"Ya Tuhan...jika om Akbar adalah jodohku maka segerakan om Akbar melamarku. Jika om Akbar bukan jodohku aku mohon jadikan dia jodohku karena aku hanya ingin dia yang jadi suamiku, aku tidak ingin pria lain Ya Tuhan... Kapan lagi ada pria tampan yang baik seperti om Akbar. Maafkan aku yang sangat pemaksa Ya Tuhan karena aku sudah jatuh cinta pada pandangan pertama kepadanya. Singkirkan saja wanita yang dekat dengannya Ya Tuhan!"
Fiona berdoa di dalam hati dengan menatap genggaman tangan Akbar yang belum terlepas, Fiona ikut menautkan jemarinya di sela tangan Akbar yang besar. Akbar yang tersadar langsung melepaskan genggaman tangannya yang berhasil membuat Fiona cemberut.
"Baru juga bahagia udah di sedih lagi," gumam Fiona yang membuat Akbar tersenyum geli.
Dasar bocah! Tadi nangis, terus senyum gak jelas, lalu cemberut lagi! Benar-benar Akbar menemukan anak kecil yang terjebak di tubuh gadis berusia 24 tahun. Tapi tanpa Akbar sadari sikap Fiona yang seperti itulah yang membuatnya jatuh hati.
__ADS_1