
...Jangan lupa ramaikan part ini ya! ...
...Happy reading...
***
Saat ini Delisha sedang di ruang perawatannya seorang diri karena Ikbal sedang menemui mamanya sebentar. Delisha baru saja selesai video call dengan kakaknya agar ia diperlihatkan proses pemakaman pakde Alan, air matanya juga ikut menetes kalau semua keluarganya ada di sana. Hanya dirinya saja yang tidak datang, mata Delisha masih terlihat sembab karena terus-terusan menangis.
"Seharusnya Delisha temani pakde, kan?" gumam Delisha dengan tersenyum pedih saat melihat potret pakdenya yang sangat tampan. Papinya, pakde Alan, dan pakde Adrian benar-benar sangat mirip. Ketiganya seperti anak kembar walau berbeda beberapa tahun saja.
Delisha menyeka air matanya saat mendengar pintu ruangannya terbuka. Wajah Delisha langsung berseri saat melihat Zayyen lah yang menjenguknya kali ini.
"Kakak pacar!" panggil Delisha dengan panggilan yang berbeda.
Zayyen tersenyum tipis saat melihat Delisha memanggilnya dengan sangat ceria. Zayyen mendekat ke arah Delisha hingga sangat dekat dengan Delisha hanya terhalang oleh brankar tidur Delisha. Zayyen memanfaatkan kesempatan ini untuk bertemu dengan Delisha selagi orang tua dan kakak-kakak Delisha tidak ada bahkan Ikbal juga keluar dari ruangan Delisha.
"Gimana kabarnya? Sudah baik?" tanya Zayyen basa-basi.
Delisha mengangguk dengan semangat. "Iya Delisha sudah sangat-sangat baik apalagi kalau kak pacar jenguk Delisha. Delisha pikir kakak pacar udah lupa sama Delisha," ujar Delisha dengan tersenyum manis.
Delisha melihat wajah Zayyen seperti ada yang berbeda. Delisha mengangkat tangannya dan menyentuh wajah Zayyen dengan perlahan.
"Muka Kakak lebam! Kakak kenapa?" tanya Delisha dengan panik bahkan matanya juga berkaca-kaca karena sangat khawatir dengan keadaan Zayyen sekarang padahal keadaan dirinya lah yang harus dikhawatirkan.
Zayyen sedikit meringis saat Delisha menyentuh sudut bibirnya. "Kakak gak apa-apa," ucap Zayyen dengan lembut.
Gadis itu mematung mendengar suara Zayyen yang amat lembut kepadanya biasanya Zayyen tidak seperti ini. Zayyen tak pernah menyematkan panggilan kakak untuk dirinya sendiri jika bersama dengan dirinya. Lelaki itu menggunakan gue dan lo yang membuat hubungan mereka seperti asing bagi Delisha.
Dan selama beberapa bulan ini baru kali ini Zayyen bersikap lembut kepada dirinya? Apakah karena dirinya sakit Zayyen menjadi perhatian kepada dirinya? Jika begitu Delisha mau sakit saja jika bisa mendapatkan perhatian sang pacar yang sangat cuek saat bersamanya.
"Biasa ini laki-laki," ucap Zayyen dengan tersenyum.
"Kakak berantem ya? Sama siapa, Kak? Mana orangnya biar Delisha jewer telinganya, berani-beraninya dia buat pacar Delisha jadi babak belur seperti ini," ucap Delisha dengan menggebu, ia seperti tak terima ketika ada yang menyakiti pacarnya.
__ADS_1
"Udah gak usah dipikirkan! Ini biasa aja gak sakit juga," ucap Zayyen dengan datar.
Ceklek...
Keduanya melihat ke arah pintu saat mendengar suara pintu terbuka ternyata suster yang datang membawakan makan siang serta obat untuk Delisha.
"Selamat siang Delisha! Ini makan siangnya ya dan jangan lupa minum obat selesai makan," ujar suster dengan ramah.
"Terima kasih, Sus! Delisha boleh minta telur gulung 5 tusuk aja boleh gak? Delisha kangen makan telur gulung, Sus! Makanan rumah sakit gak cocok di lidah Delisha yang pecinta telur gulung," ujar Delisha dengan mata yang berkedip-kedip lucu.
Suster tersebut terkekeh lucu melihat tingkah Delisha yang sangat menggemaskan sekali. Pantas saja semua orang sangat menjaga Delisha. Suster menatap wajah Zayyen dengan sangat aneh karena lelaki yang berada di ruangan Delisha bukannya dilarang bertemu dengan Delisha? Tetapi melihat wajah ceria Delisha, suster tersebut diam saja toh bukan termasuk pekerjaannya untuk mengurusi kehidupan orang lain.
"Kalau udah sehat baru boleh makan telur gulung lagi. Makan ini dulu aja ya, ini enak kok karena ada koki khusus yang dokter Fathan pekerjakan untuk membuat makanan yang cocok di lidah kamu dan rasanya sangat enak sekali," bujuk suster yang membuat Delisha mengerucutkan bibirnya.
"Jadi, harus puasa dari telur gulung dulu ya, Sus?" tanya Delisha dengan lesu.
"Nanti kalau udah sehat kita beli telur gulung!" ujar Zayyen yang membuat Delisha kembali tersenyum.
"Beneran ya, Kak!" ucap Delisha dengan senang.
"Kalau begitu saya permisi dulu! Jangan lupa makan dan minum obatnya ya!" ucap suster tersebut dengan ramah.
"Terima kasih, Sus!" ucap Delisha tak kala ramah dan cerianya.
Setelah kepergian suster Zayyen duduk di pinggir brankar Delisha. Ia mengambil alih piring yang berisi makan siang untuk Delisha.
"Mau makan sama apa?" tanya Zayyen dengan lembut.
Delisha tampak berpikir sejenak menatap lauk pauk yang suster bawakan untuknya. "Ikan gabus sama sayur kuah itu aja, Kak!" sahut Delisha.
"Oke!"
Zayyen mengambil makanan yang Delisha mau dan meletakkannya di piring Delisha. "Buka mulutnya!" ucap Zayyen menyodorkan sendok ke mulut Delisha.
__ADS_1
Dengan senang hati Delisha menerima suapan dari Zayyen. Melihat dan menyaksikan perubahan Zayyen untuk dirinya secara nyata membuat Delisha bahagia.
Zayyen menatap wajah Delisha. "Aku harus bisa bertahan agar Zeva tidak marah. Perlahan tapi pasti rasa cinta untuk Cika akan hilang sendirinya dengan kehadiran Delisha," gumam Zayyen di dalam hati.
"Kenapa Kakak tatap Delisha seperti itu? Delisha cantik ya?" ujar Delisha dengan malu-malu.
Zayyen sedikit terkejut dan tersenyum ke arah Delisha. "Iya baru sadar kalau kamu itu cantik!" sahut Zayyen dengan santai yang membuat pipi Delisha merona merah bahkan terasa panas.
"Kakak jangan buat Delisha meleleh! Delisha takut semakin jatuh ke dalam pesona Kakak!" ujar Delisha dengan malu-malu.
Zayyen terkekeh. "Kamu emang sudah jatuh ke dalam pesona Kakak sejak lama, kan?" tanya Zayyen dengan iseng.
Delisha mengangguk. "Iya, Delisha jadi malu deh! Tapi Delisha bahagia akhirnya Kakak perhatian sama Delisha!" ucap Delisha dengan tersenyum dan masih menerima suapan dari Zayyen.
Zayyen melihat ke arah jendela, ia seperti melihat seseorang yang mengintip dari balik jendela ruangan Delisha. Pria itu menyeringai saat mengetahui siapa yang mengintip mereka.
Zayyen kembali menatap Delisha. "Belepotan!" ucap Zayyen dengan pelan dan mengambil nasi yang berada di sudut bibir Delisha.
Tubuh Delisha mematung saat Zayyen sangat romantis baginya kali ini. Delisha menahan napasnya saat wajah Zayyen semakin mendekat ke arah bibirnya.
Jantung Delisha berdetak kencang saat napas Zayyen terasa menerpa wajahnya. Detak jantung karena gugup bukan karena penyakitnya kambuh kembali tapi karena Zayyen kali ini.
Cup...
Delisha memejamkan matanya dengan syok saat baru pertama kalinya Zayyen mencium bibirnya. Walau bibir keduanya hanya menempel saja tapi Delisha sangat deg-degan dan bahagia saat akhirnya Zayyen mau menciumnya terlebih dahulu.
Delisha tidak tahu jika ada tangan yang terkepal dengan sangat erat di luar ruangannya bahkan ingin sekali menghajar Zayyen saat ini tapi ia tidak mau tindakannya membuat Delisha membencinya.
Ikbal, lelaki yang mengintip Delisha dengan Zayyen hanya bisa menahan amarahnya saat dengan lancang Zayyen mencium bibir Delisha. Ikbal tahu Zayyen pasti sengaja melakukannya, pria itu menyadari kehadirannya.
"Zayyen, gue tahu perubahan lo ini hanya pura-pura. Kalau gue gak memikirkan perasaan Delisha sudah gue hajar lo sekarang! Brengsek!" umpat Ikbal dengan sangat kesal.
Ikbal tak bisa mengendalikan rasa cemburunya hingga ia menendang tong sampah sampai berbunyi yang membuat Delisha terkejut dan langsung melepaskan ciuman Zayyen di bibirnya.
__ADS_1
"Sial! Ikbal!" umpat Zayyen di dalam hati.