
...Jangan lupa follow instagram aku ya : author_syafitri...
...Di sana banyak postingan tentang novel aku ya....
...Ramaikan part ini ya....
...Happy reading...
****
Bagaimana rasanya kamu tetap merasa kesepian, padahal kamu berada di keramaian?
Bagaimana rasanya ketika kamu ingin bercerita kepada orang lain mengenai keadaan hatimu, tetapi seakan kamu tidak bisa mengatakan itu semua?
Itu adalah aku yang sejak lima tahun terakhir tidak pernah merasakan kebahagiaan. Jiwaku sudah enggan untuk hidup tapi ragaku dipaksa untuk terus kuat.
~Tiara~
***
Zayden menatap mamanya dengan pandangan yang sangat serius. Saat ini Tiara sedang melamun di meja makan, selera makannya hilang sejak pembicaraannya dengan Barra waktu itu.
"Ma!" panggil Zayden dengan pelan.
"Mama!" panggil Zayden sedikit keras yang membuat Tiara tersentak.
Zidan menggenggam tangan Tiara dengan lembut. "Zayden panggil kamu, Ay!" ujar Zidan dengan lembut.
Ibu Mala dan ayah Felix saling berpandangan, mereka tahu Tiara sedang memikirkan tentang Zayyen.
"Kenapa, Sayang?" tanya Tiara dengan lembut kepada anaknya.
"Kak Zayyen, Zayden melihatnya kemarin!" ungkap
Tiara langsung menatap anaknya dengan serius. "Dimana?" tanya Tiara dengan berbinar.
"Di sekolah, Ma! Sekolah kak Zayyen ada di sebelah sekolah Zayden. Tapi, Zayden gak suka tatapan kak Zayyen kepada Cika! Cika itu milik Zayden, Ma! Nanti kalau Mama ketemu kak Zayyen bilang sama dia jangan bicara dengan Cika lagi Zayden gak suka!" ujar Zayden mengadu kepada mamanya.
Tiara tersenyum. "Cika itu kakak sepupu kamu, Sayang. Kalian saudara," ujar Tiara dengan lembut.
"Saudara? Tapi Cika pacar Zayden, Ma! Cika itu istri Zayden di masa depan," ujar Zayden dengan mata berkaca-kaca.
"Pa, Zayden gak mau saudaraan sama Cika! Cika itu pacar Zayden!" ucap Zayden yang membuat Zidan menghela napasnya.
__ADS_1
"Sudah jangan nangis. Kalian bisa nikah, tapi kamu masih kecil Zayden! Nenek heran kamu bisa ngomong seperti ini siapa yang ngajarin? Nenek gak pernah ngajarin kamu ngomong seperti itu," ucap Ibu Mala dengan heran.
"Papa!" tunjuk Zayden ke arah papanya.
"Loh kok Papa?" ucap Zidan yang menunjuk dirinya sendiri dengan menatap Zayden kesal.
"Emang Papa yang ngajarin Zayden kok. Emang siapa lagi? Papa kan yang setiap malam mengadu ke Zayden kalau kangen mama Tiara sambil nangis peluk Zayden. Papa bilang kalau mama Tiara itu cinta sejati Papa," ujar Zayden dengan jujur.
Zidan melotot ke arah anaknya lalu ia menatap ke arah Tiara yang sedang menatap ke arahnya juga.
"Ay, yang dikatakan Zayden..."
"Benar, bukan?" ucap Tiara dengan tegas yang membuat Zayden mengangguk pasrah.
"Selama kamu gak ada. Zayden itu seperti anak ayam yang kehilangan induknya princess. Kaku tenang aja dia gak bakal nyakitin kamu lagi, kalau dia berani menyakiti anak kesayangan Ayah sudah Ayah gorok lehernya biar mampus," ucap Ayah Felix dengan tegas.
Tiara tersenyum tipis. Bahagia? Tentu saja hatinya bahagia tetapi Tiara tidak bisa mengungkapkan kebahagiaannya ketika hatinya juga masih dilanda rasa rindu yang amat besar kepada Zayyen.
"Ayah dan Ibu yang terbaik!" ucap Tiara memeluk lengan ayah Felix. Hal tersebut membangkitkan jiwa cemburu seorang Zidan. Zidan langsung menarik Tiara agar mendekat ke arahnya.
"Gak boleh peluk pria lain!" gumam Zidan dengan posesif.
"Itu Ayahku!" protes Tiara.
"Terserah deh!" ucap Tiara mengalah.
"Mas, ayo kita ketemu Zayyen!" ujar Tiara yang membuat Zidan terdiam.
"Seminggu lagi persidangan kita dengan Barra, Ay! Kamu yakin ingin bertemu dengan Zayyen sekarang?" tanya Zidan memastikan.
Tiara menganggukkan kepalanya dengan mantap. "Aku ingin bertemu dengan Zayyen sebagai mamanya," gumam Tiara dengan penuh tekad.
Zidan menatap ayahnya untuk meminta persetujuan, ayah Felix langsung mengerti dan menganggukkan kepalanya yang membuat Zidan menghela napasnya perlahan mungkin pertemuan mereka dengan Zayyen tidak akan selancar yang Tiara harapkan tetapi Zidan akan tetap mencobanya untuk kebahagiaan Tiara.
*****
Setelah mengantarkan Zayden masuk ke kelasnya. Tiara dan Zidan langsung menuju ke sekolah Zayyen yang dimaksud oleh Zayden tadi.
Tiara tersenyum saat Zayyen baru saja turun dari mobil, Tiara dan Zidan bersembunyi di mobil agar Barra tidak merasa curiga, sejak kejadian itu Barra lah yang selalu mengantarkan Zayyen sekolah, ia selalu merasa waspada takut Zayyen akan di ambil oleh Tiara dan Zidan.
Tiara mengawasi mobil Barra yang melaju pergi. Dengan tak sabaran Tiara keluar dari mobil tanpa menunggu Zidan. Lelaki itu hanya pasrah dan mengikuti langkah Tiara dari belakang.
"Zayyen!" panggil Tiara dengan keras.
__ADS_1
Zayyen yang hendak masuk ke sekolahnya langsung menghentikan langkahnya dan menatap Tiara dengan pandangan dinginnya seperti biasa.
"Tante!" ucap Zayyen dengan datar.
Tiara langsung memeluk Zayyen dengan erat. "Ini Mama, Nak! Bukan Tante!" ucap Tiara dengan lirih.
Zayyen yang tadinya diam langsung memberontak dan menatap tajam ke arah Tiara. "Tante bukan mamaku! Mamaku adalah mama Rose!" ujar Zayyen dengan dingin.
"Ini Mama! Rose dan Barra bukan kedua orang tua kandungmu! Ini Mama yang sudah melahirkan kamu, Sayang! Kamu pernah ketemu kan dengan anak lelaki yang sangat mirip dengan kamu? Dia adalah saudara kembar kamu. Kalian terpisah sewaktu masih bayi, ada alasan yang membuat Mama harus menyerahkan kaku kepada Barra dan Rose! Tolong percaya ini Mama dan papa kaku, Zayyen!" ucap Tiara dengan menatap wajah Zayyen.
"Benar ini Mama dan Papa kamu, Zayyen! Kami berdua adalah kedua orang tua kandung kamu," ujar Zidan dengan lembut.
"Gak! Kalian bukan orang tuaku! Bukan!" ucap Zayyen dengan dingin.
"Tante dan Om pergi dari sini. Zayyen gak mau ketemu dengan kalian lagi! Kalian pasti ada niat jahat dengan Zayyen dan kedua orang tua Zayyen!" tuduh Zayyen dengan datar.
"Zayyen, ini Mama!" ucap Tiara dengan tajam.
"Bukan!" teriak Zayyen dengan marah.
"PERGI! ZAYYEN GAK MAU KETEMU KALIAN! KALIAN PENJAHAT!" teriak Zayyen berlari menjauh dari Tiara dan Zidan, tangannya terkepal dengan erat dan pandangan yang sangat tajam.
Papanya sudah memperingatkan agar tidak mudah percaya dengan orang lain. Zayyen yakin kedua orang itu pasti berbohong karena tak mungkin Barra dan Rose bukan kedua orang tua kandungnya sebab Barra dan Rose selalu memperlakukan dirinya seperti anak kandung.
Zayyen benci pembohong seperti tante dan om yang berada di hadapannya. Kedua orang itu pasti akan berniat buruk kepadanya, Zayyen berlari memasuki sekolahnya dengan cepat.
Tiara ingin mengejar Zayyen tetapi ditahan oleh Zidan. "Lepas, aku ingin mengambil Zayyen! Dian anakku!" ujar Tiara dengan tajam.
Zidan memeluk Tiara dengan erat. "Tenangkan hatimu, Ay. Jangan biarkan dia menguasaimu. Tenanglah, seminggu lagi Mas pastikan Zayyen akan tinggal bersama dengan kita," ucap Zidan lembut.
"Hiks...hiks...Zayyen anakku! Kenapa dia membenciku?" tanya Tiara dengan menangis.
"Zayyen butuh waktu untuk menerima semuanya, Ay! Kamu harus paham, Ay!" ujar Zidan dengan mengelus punggung Tiara dengan lembut.
"Zayyen harus kembali kepada kita, Mas! Kalau gak aku akan mati saja!" ujar Tiara dengan tajam.
"Ay, tarik ucapanmu! Mas gak ingin kehilangan siapapun. Kamu, Zayyen dan Zayden sangat berharga bagi Mas," ucap Zidan dengan bibir gemetar.
"Aku akan mati jika Zayyen tidak kembali kepadaku! Lebih baik mati dari pada harus merasakan sakit terus menerus Mas!" gumam Tiara dengan lirih.
"Pegang kata-kata Mas! Zayyen akan tinggal bersama dengan kita seminggu lagi! Percaya dengan Mas, Ay!" ucap Zidan dengan tegas.
"Seminggu lagi? Kalau begitu ayo kita buatkan kamar untuk Zayyen, Mas!"
__ADS_1
Zidan mengelus pipi Tiara dengan lembut. "Apapun yang membuatmu senang Mas akan turuti, Ay!"