
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini biar aku semangat buat update....
...Happy reading...
****
Delisha sudah berada di rumah, gadis itu sudah tampak lebih segar dari sebelumnya. Kimmy dan Jimmy tampak senang dengan kehadiran Delisha kembali bahkan kedua kucing itu tak pernah pergi dari sisi Delisha saat ini, begitu sangat menyayangi Delisha dua kucing yang di beli Ikbal dengan harga fantastis tersebut.
"Gembulnya kesayangan Mommy! Nanti obesitas loh kan bahaya!" ujar Delisha menggendong keduannya.
Meong...
Meong...
"Apa? Kalian sayang Mommy? Mommy juga sayang kalian banyak-banyak apalagi sama papi kalian!" ujar Delisha dengan terkekeh.
"Duh Mommy sudah mulai bucin nih sama Papi kalian. Gimana ya? Soalnya Papi kalian itu ganteng banget. Usianya sih belum matang banget tapi ekhem badannya maco buat candu," bisik Delisha yang merasa malu dengan ucapannya sendiri.
Meong...
Meong...
"Iya benar! Gak ketemu Papi kamu sehari saja ngangenin banget," ujar Delisha yang seakan mengerti apa yang kedua kucingnya ucapkan.
Mikaela yang melihat Delisha sedang bermain dengan kedua kucing kesayangan gadis itu mulai mendekati. Mikaela tak berani memegang kucing mahal milik Delisha walaupun gadis itu ingin.
"Hai..." sapa Mikaela dengan canggung.
"Hai Kakak ipar. Wah tambah cabi aja ya hihihi... Kak Dareel pintar nih buat Kakak jadi gemoy," ujar Delisha yang membuat Mikaela salah tingkah.
"Mami juga banyak kasih makan Mika," ujar Mikaela yang membuat Delisha tersenyum.
"Kakak ipar emang harus banyak makan biar kak Dareel kalau tidur meluknya enak," ujar Delisha dengan terkikik geli.
Mikaela tersenyum hangat, entah mengapa ia merasa ketika melihat Delisha kehadiran ibunya sangat dekat.
"Delisha!" panggil Mikaela dengan pelan.
"Iya Kakak ipar," sahut Delisha dengan lambut.
"M-mika boleh pegang dada kiri kamu. M-mika cuma dengarkan detak jantung ibu," gumam Mikaela yang membuat Delisha tersenyum hangat.
"Iya boleh, Kak. Kakak mau peluk Delisha juga boleh," ujar Delisha dengan tulus yang membuat mata Mikaela berkaca-kaca.
Dengan tangan gemetar Mikaela meletakkan tangannya di dada Delisha setelah merasakan detak jantung ibunya ada pada Delisha membuat air maya Mikaela mengalir begitu saja. Entah mengapa Mikaela menjadi sangat merindukan ibunya.
"Hiks..Boleh peluk?" tanya Mikaela dengan menangis.
Tanpa kata Delisha memeluk Mikaela yang membuat Mikaela merasa nyaman dan hangat di pelukan Delisha. Ia seperti memeluk ibunya sekarang.
"Jangan nangis Kakak ipar! Delisha jadi merasa bersalah," gumam Delisha dengan sendu.
Mikaela menyeka air matanya dengan cepat, ia tersenyum ke arah Delisha dan tak ingin Delisha berpikir macam-macam yang mengakibatkan Delisha sakit.
"Mika terharu karena masih bisa merasakan jantung ibu di kamu. Jaga jantung ibu dan paru-paru ibu dengan baik ya! Biar Mika tetap bisa merasakan kehadiran ibu di kamu," ujar Mikaela yang membuat Delisha terharu.
"Itu pasti! Tapi Delisha boleh minta satu permintaan gak?" tanya Delisha dengan tak sabaran.
Mikaela menatap Delisha dengan serius. "Apa? Kalau uang aku gak punya. Mas Dareel kasih aku kartu warna hitam tapi aku gak bisa pakainya kata mas Dareel di dalam kartu itu banyak uangnya. Tapi aku kurang percaya kalau pun ada aku gak berani pakai," ujar Mikaela dengan polosnya yang membuat Delisha terkikik geli.
__ADS_1
"Kakak bisa beli apapun dengan kartu itu. Percaya sama Delisha karena Delisha pun punya," ujar Delisha yang membuat Mikaela bingung.
"Emang iya kartu sekecil itu bisa menyimpan banyak uang? Gimana cara keluarin uangnya?" tanya Mikaela dengan bingung.
Nanti kita ke bawah ya, Kak. Di sana ada alat untuk ambil uangnya. Kakak mau berapa?" tanya Delisha dengan tersenyum.
Mikaela menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Gak deh itu uang mas Dareel. Kamu tadi mau minta apa dari Mika?" tanya Mikaela mengalihkan pembicaraan karena ia merasa belum berhak memakai pemberian Dareel.
Delisha melihat ke kanan dan ke kiri memastikan jika tidak ada yang mendengar permintaannya pada sang kakak ipar.
"Mau minta keponakan boleh?" bisik Delisha yang membuat Mikaela langsung terbatuk.
"Uhukk..uhukk... Ih Delisha!" ujar Mikaela dengan malu dan langsung berlari ke kamarnya tepatnya kamar Dareel yang sudah menjadi kamarnya juga.
"Loh apa salah permintaan Delisha tadi?" monolog Delisha setelah melihat kakak iparnya berlari begitu cepat.
"Gak salah kan Kimmy? Mommy cuma minta keponakan kok kakak ipar pergi sih?! Aneh!" gumam Delisha yang kembali bermain dengan kucingnya.
***
Malam harinya di keluarga Mahendra. Tampak mereka semua menikmati acara kumpul keluarga setelah kepulangan Delisha dari rumah sakit bahkan Delisha sudah menempel pada Akbar kembali seperti tak ingin di pisahkan dari cinta pertamanya tersebut.
Delisha yang sejak tadi merebahkan kepalanya di paha papinya sambil menikmati acara televisi.
Semua tampak fokus ke televisi tak seperti biasanya hingga siaran televisi pun berganti menjadi berita.
Breaking News...
(Selamat malam permirsa breaking news malam ini adalah kebakaran panti asuhan kasih ibu yang berada di Bali. Penyebabnya belum diketahui pasti tetapi banyak dari anak yang menjadi korban dari kebakaran tersebut. Kebakaran tersebut menghilangkan tempat tinggal mereka. Ada 2 korban jiwa dalam kejadian ini dan 2 jenazah tersebut akan di otopsi di rumah sakit terdekat. Korban terbakar lainnya juga sudah di larikan ke rumah sakit. Sekian breaking news malam ini)
"Keisya!" teriak Danish yang membuat semua orang menatap Danish.
"Kak Danish kenapa? Kakak kenal sama salah satu di antara mereka?" tanya Delisha dengan pelan.
"Mi, gadis yang Danish suka ada di sana! Dia gak mungkin meninggal kan, Mi?" tanya Danish dengan gusar.
"Danish tenang!" ujar Fiona memeluk anaknya.
"Mi, Danish mau ke Bali sekarang, Mi! Danish mau memastikan Keisya baik-baik saja, Mi!" ujar Danish dengan cemas.
Sungguh malam ini adalah berita yang sangat mengejutkan sekaligus mengguncang hati Danish. Danish sudah sering mencari informasi Keisya dan ia berhasil menemukan panti asuhan di mana Keisya tinggal. Danish berharap mereka di pertemukan kembali tapi berita malam ini membuat pikiran Danish tidak tenang.
"Kak ini sudah malam. Besok saja kita ke Bali," ujar Daniel yang tahu kecemasan Danish.
"Pi, Izinkan Danish ke Bali malam ini! Danish gak tenang, Pi!" ujar Danish dengan gusar.
"Telepon Pakde Adrian. Kita akan bawa jet pribadinya dan Dareel yang mengemudi," ujar Akbar dengan tegas.
"D-dareel, Pi?" tanya Dareel dengan menelan ludahnya dengan kasar.
"Ya! Papi mau tahu seberapa sudah ilmu kamu! Tapi tetap di awasi dengan yang profesional," ujar Akbar yang membuat Dareel tersenyum.
"Oke. Siapa takut! Dareel juga sudah mendapatkan izin terbang!" ujar Dareel yang membuat Akbar mengangguk.
"Papi ingin merasakan naik pesawat tapi anak Papi yang jadi kapten pilotnya selama Papi masih hidup. Usia tidak ada yang tahu jadi Papi ingin merasakannya dengan cepat," ujar Akbar yang membuat semua terdiam.
"Papi!" rengek Delisha menangis.
"Hei. Anak sayangan Papi. Sudah jangan nangis. Kamu sama Mami dan kak Mikaela di rumah. Papi mau berangkat ke Bali malam ini," ujar Akbar dengan mengecup kening anaknya.
__ADS_1
"Danish tenanglah. Keisya tidak akan kenapa-napa. Persiapkan diri kamu karena sebentar lagi jet Pakde Adrian akan segera datang," ujar Akbar yang membuat Danish mengangguk dengan semangat.
"Pi, terima kasih karena terus mendukung semua keinginan kita," ujar Danish dengan memeluk papinya erat.
"Kalian anak kebanggaan Papi. Jangan kecewakan Papi dan mami. Dengar pendamping kalian harus seperti Mami yang sayang keluarga. Jangan kalian mengikuti jejak Papi yang pernah gagal menikah, pernikahan harus terjadi sekali di dalam hidup kalian," ujar Akbar yang membuat ketiganya mengangguk dengan tegas.
"Ya, Pi!"
"Mas pergi dulu ya. Peluk Delisha kalau kamu tidak bisa tidur," ujar Akbar mengecup kening istrinya yang membuat Mikaela merasa terharu. Kehidupan keluarga Mahendra sangat berbeda dengan kehidupan keluarganya.
"Apa nanti pernikahanku dengan Mas Dareel akan seperti ini? Aku sangat berharap akan hangat seperti mami dan papi.
****
Tri bersandar di kepala ranjang. Entah mengapa akhir-akhir ini tubuhnya sangat merasa lelah sekali. Tri sedang menunggu kepulangan suaminya dari rumah sakit, dan ia tersenyum saat melihat suaminya masuk ke dalam kamar.
"Kok aku gak dengar suara mobil kamu, Mas?" tanya Tri dengan pelan.
Fathan tersenyum. "Mungkin kamu kelelahan, Sayang!" ujar Fathan menghampiri istrinya.
"Iya nih. Badan aku lelah banget Mas. Mau ngapain aja gak enak," ujar Tri dengan pelan.
"Aku pijatin ya!" ujar Fathan dengan naik ke atas ranjang.
"Gak usah Mas! Mas juga capek!" ucap Tri menolak halus.
"Gak apa-apa, Sayang!" ujar Fathan dengan lembut.
Fathan mulai memijat Tri dengan lembut yang membuat Tri kembali rileks.
"Mas!" panggil Tri dengan pelan.
"Iya, Sayang!" sahut Fathan dengan pelan.
"Aku gak mungkin hamil, kan? Aku udah tua gak mungkin hamil, kan?" tanya Tri dengan cemas.
"Uhuk...uhuk..."
"Kamu sudah coba testpack, Sayang?" tanya Fathan setelah terbatuk karena terkejut.
Tri menggelengkan kepalanya. "Enggak berani, Mas. Takutnya aku hamil! Umurku sudah mau menginjak 49 tahun, Mas. Masa hamil lagi?" gumam Tri dengan cemas.
"Kalau memang hamil ya gak apa-apa, Sayang. Itu rezeki," ujar Fathan.
"Tapi resikonya berbahaya, kan? Gimana nanti aku gak bisa melahirkan anak kita terus aku meninggal," ujar Tri dengan gusar.
"Hei, ngomongnya. Mas ini dokter kandungannya. Jadi, jika memang kamu hamil Mas akan berusaha untuk membuat kamu dan anak kita tetap sehat," ujar Fathan dengan tersenyum.
"Terus kalau Cika, Nevan, Nessa, dan Nayya gak mau punya adik gimana?" tanya Tri dengan cemas.
Pikiran wanita itu sudah berkelana entah kemana. Sebab, dirinya juga pernah kebobolan yaitu kelahiran Nayla.
"Ya harus mau. Mereka sudah dewasa seharusnya lebih mengerti," ujar Fathan dengan lembut.
"Masa aku hamil sih? Gak mungkin ah! Mungkin hanya kecapean aja!" ujar Tri menepis dugaannya yang membuat Fathan menggelengkan kepalanya.
"Iya kan, Mas?" tanya Tripada Fathan.
"Mas gak tahu kalau kita belum memastikan, Sayang!"
__ADS_1
"Aahh mas nyebelin. Punya suami dokter tapi istrinya selalu kebobolan. Ini semua salah kamu Mas! Kalau berhubungan gak ingat waktu," ujar Tri dengan ketus.
Salah lagi! Fathan hanya pasrah saat istrinya mengomel kepadanya.