
...📌Jangan lupa ramaikan part ini ya....
...Happy reading...
****
Zayden tampak bekerja dengan gelisah karena biasanya Cika sudah masuk ke ruangannya dan menganggu dirinya tetapi untuk hari ini gadis itu tidak ada. Apakah Cika sangat sibuk di luar atau gadis itu tidak datang ke kantor? Zayden sama sekali tidak menanggapi serius ucapan Cika jika gadis itu tidak akan bekerja lagi di perusahaannya. Zayden berpikir Cika akan seperti biasanya yang cepat kembali membaik setelah marah kepadanya dan Zayden tidak tahu jika ini adalah titik menyerah seorang Cika yang sangat tulus mencintai Zayden.
Zayden mencoba fokus pada layar laptopnya, hingga ia bisa larut dalam pekerjaannya hingga makan siang pun tiba. Zayden menatap pintu ruangannya, ia menghitung mundur berharap pintu itu terbuka karena kedatangan Cika.
"Tiga!"
"Dua!"
"Sa...Satu..."
"Shitt...Dia benar-benar marah!" ujar Zayden dengan gelisah.
Zayden berdiri dari duduknya dan keluar dari ruangannya dengan langkah tegap dan cepatnya. Semua menunduk hormat kala Zayden keluar.
"Ada yang melihat Cika?" tanya Zayden dengan dingin.
"I-ibu Cika tidak ada datang ke kantor, Tuan!" ujar karyawan perempuannya dengan menunduk takut.
"Tadi adiknya ada menitipkan surat ini Tuan!" ujar karyawan Zayden memberikan surat yang diberikan Nevan untuk Zayden.
"Surat apa?" tanya Zayden dengan dingin.
"Tidak tahu, Tuan! S-saya permisi," ujar karyawan Zayden dengan cepat karena tak ingin berlama-lama bersama dengan Zayden yang membuat dirinya takut. Karyawan tersebut takut terkena amarah Zayden.
"Surat pengunduran diri," gumam Zayden dengan dingin.
Zayden menggenggam surat tersebut hingga tidak berbentuk lagi. "Jika ada yang datang mencari saya katakan saya berada di luar dan tidak bisa di ganggu," ujar Zayden pada resepsionis.
"Iya, Tuan!"
Zayden keluar dari kantornya dengan tergesa-gesa. Ia tidak mau Cika keluar dari kantornya, entah mengapa ia seperti ini yang jelas Zayden tak mau Cika keluar dari pekerjaannya.
Zayden masuk ke dalam mobil miliknya dan melajukan mobilnya dengan cepat untuk bisa sampai ke rumah Cika dengan segera, ia harus membujuk gadis itu agar tidak marah lagi dengannya. Tapi bagaimana caranya ya? Karena hidup Zayden terlalu kaku dan datar setelah kehilangan ingatannya.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 25 menit akhirnya Zayden sampai juga di rumah Cika. Dengan langkah tegas Zayden keluar dari mobil dan berjalan ke arah pintu utama rumah milik Fathan.
Tok...tok....
"Iya sebentar!" ujar pembantu di rumah Fathan dengan cepat.
Bibi tersebut langsung membukakan pintu dengan cepat dan betapa terkejutnya ia ketika melihat Zayden lah yang ada di hadapannya. Bukannya apa dirinya sudah di amanahkan agar tidak memberitahu di mana Cika.
"Ada Cika, Bi?" tanya Zayden dengan tak sabaran.
"Non Cika...anu Tuan..Non Cika..."
"Siapa Bi?" tanya Nevan yang berada di rumah.
"I-itu Tuan...Tuan Zayden," jawab Bibi dengan terbata.
Nevan langsung berjalan dengan tegas setelah mengetahui siapa yang bertamu ke rumah kedua orang tuanya.
"Ada urusan apa lo ke sini?" tanya Nevan dengan dingin.
"Di mana Cika? Saya ingin bertemu dengannya!" ujar Zayden dengan tenang.
"Kak Cika gak ada di rumah! Sebaiknya lo pulang aja kalaupun kak Cika di rumah dia gak bakal mau ketemu lo lagi," ujar Nevan dengan datar.
"Saya mau menjelaskan sesuatu! Katakan di mana Cika berada?!" ucap Zayden dengan dingin.
"Kalau lo mau ketemu Kakak gue nanti malam saja karena dia juga mau ke rumah lo!" ujar Nevan dengan dingin.
"Jangan coba-coba membohongi saya!"
Nevan terkekeh sinis. "Gue gak bohong! Tunggu saja kedatangan kakak gue dengan kedua orang tua kami," ujar Nevan dengan dingin.
"Satu lagi kalau memang lo gak mengingat kakak gue dan lo gak mau berusaha untuk mengingat kak Cika sebaiknya lo lepas saja kak Cika. Gue gak mau dia hidup dengan orang yang selalu membuat dirinya sakit!" ujar Nevan dengan dingin.
__ADS_1
"Saya gak akan melepaskan Cika apapun yang terjadi!" ujar Zayden dengan dingin.
"Cih... Kalau kakak saya berjuang sendiri untuk apa di pertahankan lelaki seperti lo ini. Gue tantang lo untuk ingat sebagian kecil dari kenangan kalian sekarang!" ujar Nevan dengan dingin.
Nevan tidak tahu saja setiap malam Zayden selalu berusaha untuk mengingat semua yang ada di kehidupannya sebelum dirinya amnesia tetapi semua itu berujung dengan kesakitan yang Zayden tidak bisa tahan. Dan tanpa kata Zayden mulai berpikir keras sekarang, Zayden meringis saat kilasan-kilasan memorinya mulai menyerang ingatannya seperti yang sudah-sudah tetapi kilasan-kilasan tersebut abu-abu, Zayden tidak bisa mengingat dengan jelas.
"Argghhh..." Zayden mengerang dengan kuat saat sakit kepalanya mulai menyerang dirinya yang membuat Zayden tidak bisa bernapas dengan benar bahkan keringatnya seperti biji jagung sekarang.
"Argghhh...s-sakit!" ujar Zayden dengan keras yang membuat Nevan tidak tega pada akhirnya karena bagaimanapun Zayden sangat dekat dengan kakaknya dulu.
"Stop! Gak usah dipaksa! Lo balik aja kak Cika gak ada di rumah!" ujar Nevan dengan dingin.
Zayden meringis pelan memegangi kepalanya. "Beri tahu saya di mana Cika!" ujar Zayden dengan lirih.
"Gue gak tahu!" jawab Nevan dengan datar.
"Oke...saya gak akan paksa kamu untuk mengatakan di mana Cika! Jika memang benar diabakan datang ke rumah orang tua saya maka saya akan menunggunya!" ujar Zayden dengan tegas.
"Tetapi jika kamu berbohong maka saya akan terus mendatangi rumah ini untuk mencari Cika!" ujar Zayden dengan tegas.
"Terserah!" ujar Nevan dengan datar.
Dengan meringis dan langkah kaki yang sempoyongan Zayden berjalan memasuki mobilnya. Ia harus mengambil obat untuk meredakan rasa sakit pada kepalanya, sungguh Zayden sebenarnya sangat tersiksa dengan semua ini. Tapi dirinya tidak bisa berbuat apa-apa ketika sakit itu menyerang kepalanya.
"Kapan ini berakhir?" gumam Zayden dengan menahan sakit kepalanya yang berangsur-angsur membaik karena obat yang sudah ia minum.
****
Malam harinya...
Tri menenangkan anaknya yang terlihat menangis dalam diam sejak tadi. Untung saja Nadine berada di rumah Delisha setelah membujuk anaknya dengan banyak mainan dan es krim kalau tidak pasti akan banyak pertanyaan yang keluar dari mulut kecil Nadine kenapa kakaknya terus menangis.
"Ma, sakit!" gumam Cika memeluk mamanya dengan erat sedangkan Fathan hanya bisa diam saat anaknya terus mengungkapkan isi hatinya kepada sang istri yang memang sangat dengan dengan Cika.
"Iya Mama tahu, Sayang. Ini sudah keputusan kamu dan setelah itu Mama yakin kamu bisa move on dari Zayden!" ujar Tri dengan lembut.
"Masih banyak anak rekan kerja papa yang mau sama kamu, di dunia ini tidak hanya Zayden, Sayang. Ada banyak lelaki baik hati yang siap untuk membahagiakan kamu," ujar Tri yang membuat Cika terdiam.
"Cika gak mau turun!" ujar Cika dengan lirih.
Fathan menghela napasnya dengan perlahan. "Biar Papa dan mama yang turun kamu tunggu di mobil jangan kemana-mana," ujar Fathan dengan tegas.
"Iya, Pa!"
"Sebentar ya, Sayang!" ujar Tri mengelus kepala anaknya dengan sayang.
Cika mengangguk, lebih baik ia menunggu di sini karena Cika tak akan sanggup bertemu dengan Zayden. Hatinya masih terlalu sakit mengingat Zayden yang terlalu cuek dan seakan tak peduli dengan hubungan mereka yang sudah sangat lama terjalin.
Fathan dan Tri ternyata sudah di sambut dengan kedua sahabatnya. Bagaimanapun Tiara adalah mantan adik ipar dari Fathan sendiri dan menikah dengan sahabatnya. Jadi, semua harus dibicarakan dengan baik-baik.
"Silahkan masuk Mbak, Mas!" ujar Tiara dengan ramah.
"Terima kasih," ujar Tri dengan tak kalah ramah.
"Ada apa kalian datang malam-malam seperti ini?" tanya Zidan yang belum mengetahui duduk permasalahan yang terjadi.
"Ada sesuatu yang akan kami sampaikan dan itu menyangkut dengan hubungan anak kita," ujar Fathan dengan tenang.
Zidan tampak mengeryitkan dahinya. "Ada apa?" tanya Zidan dengan bingung.
"Jadi begini. Cika ingin memutuskan pertunangannya dengan Zayden. Cika menyerah dengan sikap Zayden yang sangat cuek dan dingin kepadanya tapi hangat dengan perempuan lain," ujar Fathan menatap sang sahabat dengan perasaan yang campur aduk. Akhirnya Fathan menceritakan apa yang Cika lihat di kantor waktu itu kepada Zidan yang membuat Zidan dan Tri tidak bisa berkata-kata karena mereka pun bingung harus bagaimana lagi membuat Zayden mengingat semuanya.
"Saya tidak mau pertunangan ini batal!" ujar Zayden dengan dingin.
"Di mana Cika? Saya harus menemui Cika!" ujar Zayden dengan datar.
"Hubungan kalian sudah tidak sehat lagi, Zayden! Lebih baik memang kalian berpisah dari pada anak om yang terus kamu sakiti," ujar Fathan dengan tegas.
"Saya tidak mau Om!" ujar Zayden dengan tegas.
Zayden tahu jika Cika juga datang ke sini dengan langkah tegas Zayden keluar dari rumahnya dan ingin mengecek mobil milik Fathan.
Fathan dan Tri terlihat menghela napasnya dengan pelan. "Pertunangan ini tetap dibatalkan saja!" ujar Fathan.
__ADS_1
"Kita bisa bicarakan ini saat Zayden dan Cika ada di sini saja! Aku tidak bisa memutuskan masalah ini begitu saja karena yang menjalani adalah Zayden dan Cika," ujar Zidan yang membuat Fathan terdiam.
Sedangkan Zayden berusaha membuka pintu mobil Fathan di mana Cika berada. "Buka Cika! Kita butuh bicara!" ujar Zayden dengan tegas.
"Pergi! Aku gak mau lagi berbicara dengan kamu ataupun melihat kamu lagi," ujar Cika dengan dingin.
"Cika buka! Jangan buat saya membuka pintu ini dengan paksa."
Cika tetap diam di dalam mobil. Ia sama sekali tak mau bertemu dengan Zayden.
"Oke saya akan buka pintu ini dengan paksa!" ujar Zayden dengan dingin.
Cika tampak panik saat Zayden ingin merusak pintu mobil papanya yang memang ia kunci dari dalam saat kedatangan Zayden.
"Keluar!" ujar Zayden yang sudah bisa membuka pintu mobil tersebut dengan caranya.
"Lepas!" ujar Cika dengan tajam.
"Aku gak mau lihat kamu lagi! Aku menyerah Zayden! Aku capek! Aku capek berjuang sendiri," teriak Cika memukul dada Zayden.
"Lepas!"
"Saya gak mau pertunangan ini batal!" ujar Zayden dengan dingin.
"Aku gak peduli!" ujar Cika yang berusaha lepas dari Zayden.
Cika berusaha menggigit tangan Zayden dan akhirnya membuat pria itu kesakitan akhirnya melepaskan genggaman tangannya pada Cika.
Cika berlari menjauh dari Zayden yang membuat Zayden mengejar Cika dan itu membuat kedua orang tua mereka gelisah.
"Biarkan Zayden dan Cika menyelesaikan masalah mereka dulu!" ujar Zidan yang di angguki oleh Fathan dan yang lainnya.
"Cika berhenti!" teriak Zayden dengan keras.
"Aku gak mau ketemu kamu lagi! Kamu jahat!" teriak Cika yang terus menghindar dari Zayden.
"Kita butuh bicara! Maafkan saya yang sudah buat kamu marah!" ujar Zayden pada akhirnya.
"Kali ini aku sudah gak percaya lagi sama kamu!" ujar Cika dengan tajam.
"Berhenti saya bilang!" ujar Zayden dengan tegas.
Cika terus berlari menjauh. Ia akan menyebrang jalan agar Zayden tidak bisa mengejarnya.
"CIKA AWAS!!!"
Zayden berlari sekuat tenaga untuk menyelamatkan Cika. Di depan sana ada motor yang melaju dengan kencang.
Brakk....
Tubuh Zayden dan Cika berguling-guling di jalanan yang membuat Zayden mengerang sakit pada kepalanya sedangkan Cika terbatuk-batuk.
"Argghh...." Zayden mengerang kesakitan tetapi ia berusaha melihat keadaan Cika yang ia peluk.
"Cika!"
"S-sakit! Uhuk..uhuk.."
"Bertahan please!" gumam Zayden dengan serak walaupun kepalanya sangat sakit akibat benturan keras yang terjadi.
"Kepala kamu berdarah!" ujar Zayden dengan panik saat tangannya berlumuran darah dari kepala Cika.
"CIKA!"
"Tolong!!"
"Gak! Kamu gak boleh ninggalin saya! Buka mata kamu!" ujar Zayden dengan panik.
"CIKAA!!!" teriak Zayden dengan keras saat Cika akhirnya menutup mata.
Zayden memeluk Cika dengan erat. "Saya cinta sama kamu!" gumam Zayden sebelum akhirnya ia juga menutup matanya karena sakit kepala yang menyerangnya cukup hebat. Bak sebuah film kilasan memori Zayden mulai terlihat dengan jelas di ingatannya.
"Ay!" gumam Zayden yang pada akhirnya benar-benar menutup mata.
__ADS_1