
...Jangan lupa ramaikan part ini ya....
...Happy reading...
****
Tri mengerjapkan matanya dengan perlahan, pandangan yang tadinya buram berangsur-angsur membaik. Ia menatap sekelilingnya. Dimana dirinya sekarang? Kenapa tempat ini bagaikan tidak asing baginya?
"Tri!" panggil seseorang dengan suara lembutnya.
Tri menatap ke arah pintu yang dibuka oleh seseorang yang memanggilnya dengan lembut.
"B-bu Ulan!" gumam Tri dengan terbata.
Kenapa dirinya bisa bersama dengan mantan majikannya? Bukankah semalam ia berada di emperan toko dengan keadaan yang tak sadarkan diri?
Ulan tersenyum, wanita paruh baya itu menatap Tri dengan lembut. Ulan mendekati Tri dengan membawa nampan berisi sarapan untuk wanita itu, Ulan tahu Tri sedang merasa kebingungan sekarang. Tetapi Ulan lah yang lebih bingung dengan keadaan Tri, rasa penasarannya ia urungkan ketika melihat wajah pucat Tri. Biarlah Ulan bertanya nanti ketika keadaan Tri sudah mulai membaik.
"K-kenapa aku bisa berada di sini?" tanya Tri dengan bingung.
"Akbar yang membawa kamu ke sini, Tri. Dia menemukan kamu pingsan di emperan toko. Banyak yang mau ibu tanyakan sama kamu nanti, sekarang kamu sarapan dulu," ucap Ulan dengan lembut dan terkesan tegas.
"A-aku gak lapar, Bu!" ucap Tri dengan lirih. Ia menolak suapan yang diberikan Ulan untuknya.
"Kalau kamu gak mau makan tetap paksakan. anak kamu juga lapar, mereka perlu asupan makanan!" ujar Ulan dengan tegas.
Deg..
"B-bu..."
"Kenapa? Kamu terkejut kalau ibu mengetahui kamu sedang hamil anak kembar?" tanya Ulan dengan menaikkan satu alisnya menatap ke arah Tri. Banyak pertanyaan untuk Tri sekarang.
"Ibu sudah menghubungi dokter Fathan tetapi sama sekali tidak diangkat. Apa ini ada sangkut pautnya dengan dokter Fathan?" tebak Ulan.
Glukk....
Tri menelan ludahnya dengan kasar, matanya kembali berkaca-kaca mengingat Fathan. Sedang apa suaminya? Apakah Fathan mencari dirinya?
__ADS_1
Ulan menghela napasnya dengan perlahan, ia kembali menyodorkan sendok berisi bubur ke mulut Tri. "Makan demi anak-anak kamu," ujar Ulan dengan tegas.
Tri sama sekali tidak berselera untuk makan, hatinya masih diliputi rasa sakit yang luar biasa yang membuat Tri sama sekali enggan untuk makan tetapi melihat tatapan tegas dari Ulan akhirnya Tri membuka mulutnya sedikit.
"Bu!" panggil Tri dengan suara yang amat pelan. Rasanya sangat susah menelan bubur yang berada di mulutnya tetapi Tri tetap memaksakannya karena benar kata Ulan jika kedua anaknya juga butuh asupan makanan.
"Makan dulu baru kamu boleh bercerita apa saja. Ibu juga butuh penjelasan dari kamu!" ujar Ulan dengan tegas.
Tri mengangguk patuh, ia kembali membuka mulutnya dengan pelan.
"Sudah, Bu! Aku sudah kenyang!" ucap Tri menolak suapan Ulan kembali.
Ulan menghela napasnya. Ia kembali meletakkan mangkuk bubur di atas nakas. Ulan menatap Tri dengan lekat.
"Semalam Akbar pulang dari luar kota meninjau proyeknya. Tapi ia menemukan kamu di emperan toko dengan keadaan pingsan dan basah kuyup. Akbar ingin membawa kamu ke rumahnya tetapi dia takut terjadi salahpaham karena Akbar adalah seorang duda makanya dia membawa kamu ke rumah ibu," ujar Ulan menceritakan bagaimana Tri bisa berada di rumahnya.
"Dia mau membawa kamu ke rumah sakit tetapi niatnya diurungkan karena kasihan melihat pakaian kamu yang basah. Ibu mau bertanya sama kamu tolong jawab yang jujur," ujar Ulan dengan tegas.
"Kamu hamil anak siapa? Anak dokter Fathan atau pria lain?" tanya Ulan dengan dingin karena Ulan sama sekali tidak tahu menahu tentang pernikahan Tri. Dari sorot mata Ulan tampak kekecewaan di sana untuk Tri.
"Hiks...hiks... A-aku sudah menikah dengan dokter Fathan, Bu. T-tapi pernikahan kami disembunyikan karena kedua orang tua dokter Fathan tahu pernikahan kami dan sama sekali tidak merestui hubungan kamu, Bu. Mereka memaksa aku agar meninggalkan dokter Fathan atau menggugurkan kandunganku. Aku memilih pergi dari pada harus menggugurkan kandunganku, Bu!" ujar Tri dengan menangis di hadapan Ulan. Ia berbicara jujur kepada Ulan karena Tri butuh teman untuk bercerita saat ini, ia yakin Ulan adalah teman cerita yang tepat.
"Kapan kalian menikah?" tanya Ulan dengan syok.
"Tiga bulan lalu, Bu!" jawab Tri dengan lirih.
"Kenapa kamu tidak memberitahu ibu, Tri? Astaga... Ibu sudah berprasangka buruk ke kamu! Ibu pikir kamu hamil di luar nikah," ujar Ulan merasa bersalah.
"Maafkan, Ibu! Fathan harus tahu kamu berada di sini!" ujar Ulan dengan tegas hendak mengambil ponselnya tetapi tangannya dicegah oleh Tri.
"J-jangan hubungi mas Fathan, Bu! Aku mohon! Hikss... aku memang merindukannya tetapi anak kami taruhannya, Bu. Aku gak mau kehilangan mereka, aku sudah menunggu waktu yang lama untuk merasakan hamil dan menjadi seorang ibu," pinta Tri dengan memohon kepada Ulan.
"Aku mohon, Bu!" ucap Tri dengan lirih menangkupkan tangannya di hadapan Ulan.
"Ahhh.... benar! Kita beri pelajaran dulu untuk Fathan dan kedua orang tuanya. Kamu tenang saja, suami ibu yang akan mengurus dua orang sombong itu. Ibu mengenalnya, ibu Fathan memang terkenal sangat sombong jika kami sedang berkumpul bersama dia terus membanggakan harta kekayaannya. Cih... Kita lihat saja akan bertahan berapa lama kekayaan mereka," ujar Ulan dengan menggebu.
"Kamu tenang saja, tinggal di sini dulu, kamu sedang hamil, Tri. Tidak baik kamu berada di luar tanpa tujuan dan ibu yakin Fathan akan ke rumah kedua orang tuamu juga," ucap Ulan dengan sinis.
__ADS_1
Tri tersenyum tipis Setidaknya masih ada orang baik yang mau menolongnya saat dirinya dalam kesusahan, setelah ini Tri harus berterima kasih kepada Akbar, adik ipar dari Ulan yang telah menolongnya.
"Terima kasih, Bu!" ujar Tri memeluk Ulan dengan erat.
"Mas, maafkan aku ya! Aku harus menjaga anak kita dari kejahatan kakek dan neneknya sendiri. Aku yakin kita akan berkumpul kembali," ujar Tri di dalam hati.
****
Prank.....
Pyaarr....
Sejak semalam dan sampai pagi ini Fathan terus mengamuk di kamarnya melempar apa saja yang ia temukan di kamarnya hingga pecah dan terlihat berantakan sekali kamar yang tadinya terlihat rapi.
Pikiran Fathan berkecamuk. Isinya hanya tentang Tri. Apakah Tri sudah makan? Apakah Tri baik-baik saja? Apakah kandungan Tri baik-baik saja? Dimana istrinya berada? Tidur dimana? Semua pertanyaan itu mengangguk pikirannya hingga Fathan tidak bisa berpikir dengan jernih dan terus mengamuk karena bagi Fathan Tri adalah pusat hidupnya, belahan jiwanya karena Tri dirinya kembali merasakan cinta.
Lingkaran hitam sangat terlihat dengan jelas di bawah mata Fathan. Ya, lelaki itu sama sekali tidak tertidur, ia terus mengamuk dan memanggil nama Hanum dengan histeris. Fathan bagaikan mayat hidup sekarang padahal baru ditinggalkan oleh Tri semalaman tetapi keadaannya sudah sangat kacau sekali bahkan ponselnya juga pecah berhamburan di lantai karena emosinya yang terus membludak. Cemas adalah kata yang tepat untuk menggambarkan hati Fathan saat ini. Sebagai seorang suami Fathan merasa gagal menemukan keberadaan sang istri yang entah berada di mana.
Di luar kamar Fathan ada mama Yesha dan papa Handoko yang terlihat terus mengetuk pintu kamar Fathan tetapi Fathan tidak membukakannya karena Fathan terus mengamuk di kamarnya.
Sedangkan Cika terlihat ketakutan saat mendengar suara benda pecah di dalam kamar papanya.
"Fathan, buka pintunya! Kita bisa bicara baik-baik," ujar papa Handoko dengan panik karena selama ini mereka tidak pernah melihat Fathan seperti ini, bahkan ketika meninggalnya Tika pikiran Fathan masih waras walau lelaki itu juga menangis dan terpukul atas kepergian istri tercintanya.
"Argghhh..."
Pyar.....
Kembali suara kaca yang pecah membuat Cika yang berada di gendongan mama Yesha ketakutan.
"HANUM KEMBALI! MAS GAK BISA HIDUP TANPA KAMU, HANUM. HIKS...KEMBALILAH, SAYANG!" teriak Fathan dengan keras membuat kedua orang tua Fathan saling menatap satu sama lain.
"Pa, kita tidak bisa seperti ini. Pernikahan Fathan dengan Tiara harus dipercepat! Mama yakin Fathan bisa melupakan Tri dengan cepat!" ujar Mama Yesha tanpa dosa.
"Mama Cika cuma mama Tri, Nek! Bukan tante Tiara! Cika benci nenek sama kakek! Nenek sama kakek jahat! Hiks... Cika mau mama Tri!" ujar Cika memberontak di gendongan mama Yesha.
Cika memukul-mukul dada mama Yesha dengan tangan kecilnya. "Hiks...Cika mau mama Tri!"
__ADS_1
"CIKA! DENGARKAN NENEK! TRI BUKAN MAMA KAMU YANG AKAN MENJADI MAMA KAMU ADALAH TANTE TIARA! DAN KAMU HARUS MENERIMA ITU!" bentak mama Yesha kepada Cika untuk pertama kalinya.
"NENEK JAHAT!"