Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 119 (Waktu cepat Berlalu)


__ADS_3

...Jangan lupa ramaikan part ini ya....


...Happy reading...


****


"Kak bangun!" teriak gadis remaja berusia 17 tahun itu dengan suara cemprengnya yang membuat gadis yang masih tertidur itu merasa terganggu.


"Kak Cika bangun! Kak Zayden ada di bawah udah nungguin dari tadi," teriak Nayla, anak bungsu dari Fathan dan Tri yang hanya berbeda 1,5 tahun dari Nevan dan Nessa, kedua kakak kembarnya itu.


Cika mengerjapkan matanya, gadis itu langsung terbangun ketika mendengar nama kekasihnya disebut. "Dimana Zayden?" tanya Cika dengan mata yang masih amat mengantuk, sebab semalam ia begadang untuk mengerjakan tugas akhir kuliahnya. Cika lebih memilih kuliah management dari pada mengikuti jejak papanya yang menjadi dokter, ia bisa saja kuliah kedokteran tetapi Cika tak ada minat sama sekali. Adik kembarnya lah yang berminat menjadi dokter apalagi Nevan yang memang sudah di bebankan untuk mengambil alih rumah sakit milik Fathan.


"Di bawah lagi sarapan! Lagian Kakak sih kesiangan mulu sayang banget kak Zayden harus nungguin Kakak terus," ujar Nayla dengan kesal.


"Iya-iya, Maaf. Keluar dari kamar Kakak, Nay! Kakak mau mandi!" ujar Cika melewati adik bungsunya begitu saja.


"Dih ngusir lagi!" cibir Nayla dengan kesal.


Nayla keluar dari kamar kakaknya dengan bibir yang mengerucut sebal. "Kak Zayden, Nayla minta uang jajan!" teriak Nayla saat menghampiri Zayden yang berada di meja makan bersama keluarganya.


"Nay, gak sopan teriak-teriak begitu!" tegur Tri kepada anak bungsunya yang memang sangat berani dengan Zayden.


"Nih!" ucap Zayden yang memang sudah paham dengan kelakuan Nayla.


"Kak Zayden aja langsung ngasih, Ma. Tadi kan Nayla sudah bangunin Kak Cika jadi ini imbalannya. Lumayanlah dua ratus ribu untuk jajan sehari," ucap Nayla dengan tersenyum.


"Tukang palak!"" cibir Nevan yang memang menjadi korban adik bungsunya setiap hari bahkan uang jajannya selalu berkurang akibat Nayla yang selalu memintanya.


Nevan tahu jika adiknya sama sekali tidak boros, uang yang ia berikan selalu ditabung oleh Nayla. Tapi terkadang Nevan kesal kepada adik bungsunya karena mereka sama-sama mendapatkan jatah uang bulanan dari papa mereka sama rata. Menjadi satu-satunya anak lelaki di rumah ini membuat Nevan hampir putus asa apalagi ketiga saudaranya mengajaknya untuk berbelanja, bukannya berbelanja Nevan hanya membawa barang ketiga saudarinya yang sangat banyak. Mengenaskan sekali, tapi untung Nevan sayang keluarga.


"Papa sudah kasih kamu uang jajan. Masih kurang harus minta sama Zayden?" ujar Fathan dengan tajam.


"Hehehe...Gak kurang sih, Pa. Tapi Nayla kan anak yang baik jadi bantu Papa dong. Nayla cari uang sendiri," ujar Nayla tanpa wajah berdosanya.


"Bukan cari tapi itu minta-minta!" kesal Nessa kepada adiknya. Mereka tidak kembar tapi wajah mereka sama yang membedakan hanya rambut mereka saja, jika Nessa berambut panjang lain halnya dengan Nayla yang lebih suka rambut pendek.


Fathan hanya bisa memijat pelipisnya. Nayla sangat berbeda dari ketiga saudaranya mungkin ini akibat Tri yang selalu kesal kepadanya sejak hamil Nayla.


"Gak apa-apa, Om. Uang itu memang untuk Nayla," ujar Zayden membuka suara.

__ADS_1


"Calon kakak ipar terbaik!" ujar Nayla dengan mengulum senyumnya.


Zayden hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Nayla. Ya memang dirinya adalah calon yang terbaik untuk Cika dan akan tetap menjadi yang terbaik.


Derap langkah kaki membuat Zayden menoleh, ia tersenyum melihat Cika yang datang tetapi senyuman itu langsung pudar ketika melihat pakaian yang dikenakan Cika. Tangan Zayden terkepal dengan erat tetapi ia berusaha menahannya agar tidak terlihat oleh keluarga Cika.


Cika duduk di samping Zayden, ia tersenyum ke arah kekasihnya tetapi senyuman Cika langsung hilang melihat tatapan tajam Zayden. Cika menelan ludahnya dengan kasar saat tangan Zayden mencengkram pahanya dengan kuat. Apakah ada yang salah? Cika merasa dirinya tidak bersalah. Cika menahan ringisannya saat cengkraman Zayden semakin kuat.


"Sarapan kita harus berangkat cepat!" ujar Zayden dengan datar.


Cika paham dirinya membuat suatu kesalahan yang membuat Zayden marah.


"Iya!" jawab Cika berusaha tersenyum agar keluarganya tidak curiga.


Akhirnya Cika makan dalam diam. Sedangkan keluarganya asyik mengobrol dan tidak menyadari dengan perubahan Zayden yang sangat menakutkan bagi Cika.


***


"Mau jadi gadis penggoda dengan pakaian seperti ini hmm?" tanya Zayden dengan tajam saat keduanya sudah memasuki mobil.


"Zayden, pakaian aku gak terbuka banget kok. Ini masih sopan," ujar Cika berusaha membalas ucapan Zayden.


Cika merasa hatinya sakit saat Zayden menuduhnya yang tidak-tidak tetapi Cika mampu memendamnya seorang diri.


Zayden menjambak rambut Cika dengan kuat. "Lo milik gue, Cika! Tubuh lo juga milik gue! LO PAHAM GAK?" teriak Zayden dengan keras emosinya tidak bisa terkontrol karena membayangkan banyak pasang mata yang menatap kekasihnya dengan kagum.


"Ayden sakit," lirih Cika saat mengetahui jika yang berada di tubuh Zayden bukan Zayden yang asli melainkan Aiden kepribadian ganda Zayden yang sangat pencemburu.


Perlahan Zayden melunak saat melihat mata Cika berkaca-kaca, ia memeluk Cika dengan erat. "Aku gak suka tubuh kamu banyak dilihat orang apalagi cowok," ujar Zayden dengan sendu seperti tidak terjadi apapun.


"A-aku ganti baju dulu," ujar Cika dengan pelan tak mau membangkitkan emosi Zayden lagi.


"Gak usah. Kita beli aja yang baru," putus Zayden dengan tersenyum.


Zayden menggenggam tangan Cika dengan erat. Cika hanya bisa pasrah saat Zayden selalu seperti ini kepadanya. Posesif, kasar, arogan, dan sangat cemburuan. Cika seperti terkekang saat bersama dengan Zayden. Cika merasa lebih nyaman saat bersama dengan Zayyen, lelaki dingin dan pendiam itu lebih mengerti dirinya. Cika apa yang kamu pikirkan! batin Cika menjerit.


****


"Mamiii!" teriak Delisha dengan kuat yang membuat Fiona sedikit terkejut dengan teriakan anak bungsunya. Semenjak kelahiran Delisha, semuanya membaik, Fiona yang dulunya memiliki keterbelakangan mental kini sudah menjadi wanita dewasa yang sangat sayang keluarga. Akbar sangat bahagia bahkan sangat memanjakan Delisha karena anak gadisnya mampu membawa perubahan baik untuk Fiona.

__ADS_1


Menjadi anak bungsu dan adik bungsu dari ketiga kakak kembarnya membuat Delisha sangat di manja bahkan keposesifan ketiga kakaknya sering kali membuat Delisha kesal.


"He bocil jangan teriak-teriak! Ini rumah bukan hutan!" ucap Daniel kepada adiknya.


"Kak Daniel aneh. Sejak kapan rumah mewah papi mami jadi hutan?" cibir Delisha kepada kakaknya.


"Sejak lo dilahirkan!" kesal Daniel.


"Kak Danish, kak Daniel nakal!" adu Delisha dengan manja saat kakak tertuanya datang.


"Ngadu terus!" cibir Daniel.


"Kalian ini kenapa selalu ribut sih? Gak asyik kalau gak ribut?" tanya Fiona dengan menggelengkan kepalanya.


"Adek manggil Mami?" tanya Fiona menghampiri Anak-anaknya.


"He-em, Mi. Mi, Adek boleh ya pakai vespa Mami!"


"No!" teriak semua orang yang mendengar permintaan Delisha.


"Ih kok kompak banget sih?!" ujar Delisha dengan kesal.


"Masih bocil mau bawa motor sendiri. Gak ada ya, Dek!" ujar Danish dengan tajam.


"T-tapi..."


"Gak ada tapi-tapian Delisha Ivana Mahendra! Mau Papi hukum kamu?" ucap Akbar dengan tegas.


Akbar tidak akan membiarkan anak kesayangannya kenapa-napa. Lecet saja tak akan Akbar biarkan, apalagi ini membahayakan nyawa anaknya.


"Pelit!" rengek Delisha. "Mobil banyak, motor juga banyak. Kenapa Adek selalu gak boleh bawa motor sendiri? Papi gak adil ih! Kak Danish, kak Daniel, kak Dareel punya mobil masing-masing bahkan mobil mereka 3, motor juga mereka punya bahkan ada 4. Adek punya apa? Sepeda pendek punya anak TK? Adek bukan anak TK lagi," rengek Delisha kepada orang tua dan kakaknya.


"Kamu itu bocil ya tetap bocil! Mana boleh bocil bawa motor nanti di tilang polisi nangis. Emang mau kemana bawa motor sendiri? Ayo Kakak antar!" ucap Dareel menawarkan diri.


Delisha menarik napasnya dengan kesal. "Padahal mau nyamperin Ayang sendirian. Tapi kenapa gagal terus?" gumam Delisha dengan sendu.


"Adek untuk mager! Mau ke kamar!" ujar Delisha dengan ketus. Delisha berjalan ke kamarnya dengan hati yang sangat dongkol. Ia ingin menemui Zayyen yang tadi tidak bisa menjemputnya saat pulang sekolah. Biasanya lelaki itu akan datang tetapi kenapa hari ini tidak bisa? Delisha jadi galau setengah mati, padahal mereka baru jadian 2 minggu yang lalu saat Delisha menembak Zayyen untuk ke 50 kalinya. Delisha pantang menyerah sebelum apa yang dia inginkan ia dapatkan segera. Mungkin karena Zayyen sudah lelah dengan pernyataan cintanya sehingga membuat lelaki itu menerimanya atau Zayyen juga memiliki rasa tetapi lelaki itu gengsi untuk mengatakannya? Entahlah Delisha tidak mau berpikir karena yang jelas sekarang Zayyen sudah menjadi miliknya.


"Lemes gak ada Ayang!" gumam Delisha menjatuhkan tubuhnya di kasur.

__ADS_1


__ADS_2