Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 147 (Cinta Yang Terhalang)


__ADS_3

...Jangan lupa ramaikan partai ini ya! ...


...Happy reading...


***


Zayyen menghembuskan napasnya dengan perlahan. "Aku suka sama kamu dari dulu. Tapi aku sadar memiliki kamu adalah sesuatu yang tak mungkin. Kamu tak perlu menjawab rasa sukaku, aku hanya ingin mengungkapkan isi hatiku sebelum kamu menjadi istri dari adik kembarku sendiri," gumam Zayyen dengan pelan.


"A-APA?"


Cika sangat syok sekarang, gadis itu masih tak percaya dengan apa yang dikatakan Zayyen kepadanya. Zayyen suka dengan dirinya?


"K-kamu suka sama aku?" tanya Cika menunjuk dirinya sendiri, gadis itu masih tak percaya dengan apa yang Zayyen ucapkan barusan kepadanya.


Zayyen menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Terkejut ya? Kamu tak perlu menjawabnya, Cika. Karena kita tak mungkin bersama. Ibarat cinta aku terhalang karena kamu punya kembaranku sendiri. Tapi, aku rela melepaskan kamu, melepaskan cinta ini demi kebahagiaan kamu. Melepaskan kamu yang memang bukan milikku," ucap Zayyen dengan tegas.


Cika menatap Zayyen dengan sendu. "Jujur aja aku nyaman sama kamu. Kamu bisa mengerti aku, gak kasar, gak arogan, tapi aku cinta sama Zayden. A-aku juga suka sama kamu sebenarnya, tapi aku gak mau Zayden dan Delisha kecewa. Aku milik Zayden dan kamu milik Delisha," ungkap Cika.


Zayyen tersenyum maklum. Lelaki itu mengelus rambut Cika dengan lembut. "Kita memang tidak bisa bersama tapi jika kamu membutuhkan aku, aku akan selalu ada untukmu!" ujar Zayyen dengan tegas tersirat keseriusan di sana tanpa memikirkan perasaan Delisha nantinya.


Cika tersenyum canggung. "A-aku harus kembali ke kampus," gumam Cika dengan gugup.


"S-sekali lagi terima kasih bunganya," ujar Cika dengan cepat.


Gadis itu membuka pintu mobil Zayyen. Cika langsung keluar dari mobil Zayyen dengan membawa buket bunga yang pria itu berikan kepadanya. Hati Cika tak karuan sekarang, fakta Zayyen menyukainya membuat pikirannya tiba-tiba pusing. Bagaimana jika Zayden tahu soal ini? Pasti lelaki itu akan marah dan kembali kasar kepadanya!


Zayyen menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. Ia menghela napasnya dengan perlahan dan memejamkan matanya. Apakah yang ia ungkapkan kepada Cika tadi sebuah kesalahan? Tapi Zayyen hanya ingin mengungkapkan isi hatinya sebelum Cika menjadi istri dari kembarannya. Hatinya sakit bahkan sangat sakit tapi ia harus rela melepaskan Cika untuk Zayden. Toh selama ini mereka sudah berpacaran dengan sangat lama bahkan di saat mereka masih kecil Zayden sudah ingin memiliki Cika.


Seketika saat memejamkan matanya wajah Delisha terlintas di benaknya, senyum manis gadis itu, sikap cerianya. Apakah pantas Delisha tersakiti olehnya bahkan gadis itu tak pernah melukai hatinya sedikitpun.


"Argghh... Kenapa gue selalu ingat dengan Delisha? Seakan gue sangat merasa bersalah dengan gadis menyebalkan seperti Delisha!" gumam Zayyen dengan frustasi.


Daripada dirinya terus kepikiran dengan Delisha lebih baik Zayyen ke rumah sakit untuk menyibukkan dirinya seperti biasa.


***


Siang harinya Delisha sedang duduk di halte bus dekat sekolahnya, sahabatnya sudah pulang duluan dan kini tinggal dirinya menanti jemputan dari Zayyen karena kedua orang tuanya sedang menjenguk pakde Alan sedangkan kakaknya masih berada di kampus.


Delisha mendengar suara motor yang mendekat ke arahnya. Awalnya Delisha takut karena ia pikir yang naik motor itu adalah penjahat tetapi ketakutannya sirna saat melihat wajah Haidar saat lelaki itu melepaskan helmnya.


"Eh ada bocil penunggu halte bus," ujar Haidar dengan terkekeh.


"Eh ada tiang listrik naik motor," sahut Delisha tak mau kalah.

__ADS_1


Haidar menyugar rambutnya seakan menebar pesona kepada Delisha tetapi bukannya terpesona Delisha malah menampakkan wajah mualnya yang membuat Haidar mendengkus kesal.


"Eh Cil bisa gak sih kalau ketemu itu buat hati gue adem. Ini kesel mulu gue kalau ketemu lo! Bisa-bisa gue punya penyakit darah tinggi di usia muda," Protes Haidar dengan kesal.


"Ya Kak Haidar yang ngejek Delisha duluan! Seharusnya Delisha yang bilang seperti itu sama Kakak!" ujar Delisha dengan kesal.


"Iya deh gue ngalah sama bocil. Ngomong-ngomong lo kenapa belum pulang, Cil? Ini sekolah udah sepi kayak kuburan loh!" ujar Haidar menakuti-nakuti Delisha.


"Ih Kak Haidar jangan menakuti-nakuti Delisha! Delisha lagi tunggu Kak Zayyen jemput," ujar Delisha dengan takut.


Haidar mengerutkan kedua alisnya. "Nunggu Zayyen jemput? Zayyen udah pulang dari sejam yang lalu dari rumah sakit. Apa mungkin Zayyen balik lagi ke rumah sakit? Tapi hari ini tugas dia sama gue udah selesai," ujar Haidar yang membuat Delisha tersediam.


"Eh Cil jangan sedih. Mungkin Zayyen balik ke rumah sakit," ujar Haidar tak enak hati melihat keterdiaman Delisha.


"Siapa yang sedih? Delisha cuma kesal sama kak Zayyen ih! Bisa-bisanya dia buat pacar yang cantik seperti Delisha nunggu di sini," ujar Delisha pura-pura kesal.


Haidar menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Yaudah pulang sama gue aja!" ujar Haidar dengan tegas.


Delisha memicingkan matanya. "Delisha curiga nih!" ujar Delisha dengan ketus.


"Eh bocil yang pura-pura jadi anak SMA. Tampang gue yang ganteng gini juga lo curigain? Gue juga gak mau culik lo kali, gue kasihan sama lo jadi penunggu halte bus. Daripada lo diculik om-om di sini dan dijadiin wanita simpanan mending pulang sama gue itu pun kalau lo mau kalau lo gak mau ya gue pulang sendiri," ucap Haidar dengan kesal.


"Gak mau!" tolak Delisha pura-pura jual mahal.


Haidar memainkan gas motornya di depan Delisha, ia menjalankan motornya dengan perlahan.


Haidar yang mendengar suara teriakan Delisha menyeringai puas akhirnya ia bisa bersama dengan gadis yang diam-diam ia cintai ini.


"Kenapa? Mau numpang? Males banget gue ah!" ujar Haidar berpura-pura tidak mau menumpangi Delisha.


"Kak Haidar gak boleh jahat ih! Kakak harus tanggungjawab karena buat Delisha takut! Sekarang antarkan Delisha pulang," ucap Delisha dengan cemberut.


Haidar menghela napasnya dengan kasar. "Ayo naik sebelum gue berubah pikiran!" ucap Haidar dengan datar padahal di dalam hati ia tersenyum senang.


"Iya-iya sabar dong!" sahut Delisha dengan cemberut.


Delisha berusaha naik ke atas motor Haidar tetapi gadis itu tetap tidak bisa. "Ih susah! Kenapa motornya harus tinggi kayak kak Haidar," ujar Delisha menghentakkan kakinya kesal.


Haidar menggelengkan kepalanya. "Lo aja yang bantet, Cil! Kok motor gue yang disalahin!" ujat Haidar tidak terima.


Haidar turun dari motornya dan tanpa aba-aba ia menggendong Delisha agar naik ke motornya. Delisha yang awalnya hendak protes jadi terdiam dengan perlakuan Haidar kepadanya.


"Duduk yang tenang. Awas jatuh!" ujar Haidar dengan datar.

__ADS_1


Lelaki itu menaiki motornya kembali tetapi ia menghela napasnya dengan kasar saat melihat Delisha berpegang di jok belakang motornya.


"Pegangan itu yang benar! Kalau lo jatuh gue gak tanggungjawab ya Cil!" ujar Haidar dengan kesal.


"Terus Delisha harus pegangan apa?" tanya Delisha dengan polosnya.


Haidar gregetan. "Pegang helm gue! Ya pegang pinggang gue tau kalau lo malu bisa pegang jaket gue tapi gue gak yakin lo aman!" ujar Haidar menyeringai.


Delisha dengan ragu-ragu memegang jaket Haidar. Haidar tidak memaksa gadis itu, ia kembali melajukan motornya. Awalnya Haidar membawa motornya dengan perlahan, tapi senyuman licik untuk mengerjai Delisha seakan muncul di otaknya.


Haidar menaikan gas motornya hingga motor yang ia kendarai melaju dengan kencang. Delisha refleks memeluk perut Haidar, wajah gadis itu mendadak pucat pasih.


"Kak pelankan motornya!" ujar Delisha dengan takut.


"Apa Cil? Gue gak dengar!" ujar Haidar dengan sengaja.


"KAK PELANKAN MOTORNYA!" teriak Delisha dengan tangan yang sudah berkeringat dingin.


"APA?" teriak Haidar dalam hati ia puas saat Delisha akhirnya memeluknya juga.


Delisha merasakan jantungnya kembali berdenyut sakit. Ia meremas jaket Haidar dengan kuat.


"K-kak please! D-delisha takut!" ujar Delisha dengan terbata bahkan air matanya sudah mengalir di pipinya karena sangking takutnya


Haidar menatap wajah Delisha dari balik spion motornya. Haidar langsung mengerem motornya dengan mendadak saat melihat wajah pucat Delisha.


"Cil, lo kenapa?" tanya Haidar dengan cemas.


"S-sakit, Kak!" gumam Delisha dengan memegangi dadanya.


"Arghh.. K-kalau kak Haidar mau buat Delisha mati gak gini caranya, Kak!" ujar Delisha dengan menangis.


"Cil, G-gue bercanda tadi. G-gue gak tahu kalau akhirnya kayak gini, maafin gue ya!" ujar Haidar merasa bersalah.


Haidar melihat Delisha yang terus memegangi dadanya. "J-jantung lo kenapa, Delisha?" tanya Haidar dengan khawatir.


Delisha tak lagi mampu menjawab. Rasa sakit pada jantungnya membuat sekujur tubuhnya lemas.


Haidar yang sudah turun dari motor cepat-cepat membantu Delisha turun. Wajah Delisha sudah sangat pucat pasih, ia menatap Haidar dengan sendu dan setelah itu Delisha menutup matanya dengan perlahan.


"DELISHA!"


"DELISHA JANGAN BERCANDA! INI GAK LUCU CIL! BANGUN!" teriak Haidar menepuk pipi Delisha dengan pelan.

__ADS_1


"Lo ngeprank gue kan, Cil? Bangun sekarang Cil!" ujar Haidar dengan cemas tetapi Delisha sama sekali tak membuka matanya.


Haidar sangat cemas dengan keadaan Delisha. Jika cara bercandanya tadi membuat Delisha seperti ini maka Haidar tak akan pernah melakukannya.


__ADS_2