
...Jangan lupa ramaikan part ini ya! ...
...Happy reading...
***
Pagi harinya Akbar dan Fiona sama-sama terbangun dari tidurnya. Keduanya bahagia saat melihat Delisha ternyata sudah sadar dan sekarang sedang disuapi oleh Danish.
"Pagi Papi, Mami! Maaf ya Delisha bangun gak bilang-bilang soalnya Delisha senang banget lihat Papi sama Mami pelukan," ucap Delisha dengan ceria seperti tidak terjadi apa-apa kepada dirinya padahal bisa saja kondisinya drop tetapi Delisha harus terlihat baik-baik saja di depan keluarganya.
"Pagi, Sayang! Alhamdulillah anak Papi sama Mami udah sehat," ujar Akbar dan Fiona berbarengan.
Keduanya menghampiri Delisha dan mencium pipi kanan dan kiri secara bersamaan. Delisha tersenyum bahagia saat dirinya begitu diharapkan kesehatannya oleh keluarganya. Haruskah sekali lagi ia bertahan? Delisha merasa dirinya harus bertahan sekali lagi demi keluarganya. Tekad Delisha cukup kuat kali ini untuk membuat keluarganya bahagia apalagi dirinya belum bisa membahagiakan orang tuanya seperti memberikan cucu mungkin.
"Ih Papi sama Mami bau iler!" ujar Delisha dengan bercanda uang yang membuat kedua orang tua serta ketiga kakaknya tertawa.
"Biarin! Bau iler gini kamu selalu minta peluk, kan?" ucap Fiona dengan terkekeh.
Drrttt...
Drrttt...
Sering ponsel Akbar membuat semua orang terdiam. Papi dari Delisha itu segera mengambil ponselnya di atas meja, layar ponselnya tertera nama kakak keduanya yang sedang menelepon dirinya.
Perasaan Akbar menjadi tidak enak. Akbar segera mengangkat telepon Adrian.
"Halo, Mas!" Akbar bersuara terlebih dahulu. Jantung Akbar semakin berdetak dengan keras saat mendengar isak tangis dari seberang telepon.
"Mas siapa yang menangis? Kenapa ramai sekali?" tanya Akbar dengan perasaan yang sudah tidak karuan.
Sedangkan Fiona dan yang lainnya was-was, mereka diam menunggu Adrian berbicara.
"Gimana keadaan Delisha? Maaf Mas belum bisa jenguk," ujar Adrian dengan pelan.
"Alhamdulillah keadaannya sudah membaik. Delisha juga sudah sadar, Mas. Gimana keadaan Mas Alan? Sudah membaik, kan?" tanya Akbar dengan pelan.
"Bar!" suara Adrian tercekat.
"Kenapa Mas?" tanya Akbar dengan was-was.
"Mas Alan sudah meninggal 5 menit yang lalu," ucap Adrian memberitahu adiknya dengan suara yang tercekat. Isak tangis yang terdengar seperti menyayat hati seorang Akbar kali ini.
"M-mas, g-gak mungkin!" ujar Akbar menggelengkan kepalanya.
"Kalau keadaan Delisha sudah membaik. Kamu bisa ke sini? Semua keluarga butuh kekuatan. Kak Ulan saat terpukul bahkan kondisinya sampai drop!" ujar Adrian dengan pelan.
"Innalillahi wa'inna ilaihi rojiun!" ucap Akbar dengan tubuh yang hampir terhuyung kebelakang jika tidak dengan sigap Daniel memegang pundak papinya.
"Pi, siapa yang meninggal? Bukan Pakde Alan kan, Pi?" tanya Delisha dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
"Mas siapa yang meninggal?" tanya Fiona dengan cemas.
"Mas Alan meninggal," ujar Akbar yang membuat semua orang syok terutama Delisha karena gadis itu bertemu dengan Alan di dalam mimpi.
"Pakde gak mungkin meninggal, Pi! Pasti pakde Adrian salah!" ujar Delisha dengan menangis.
"Dek, tenang ya! Keadaan kamu baru saja membaik!" ucap Danish pelan walau ia juga merasa kehilangan pakde mereka.
Akbar menatap anak bungsunya. "Kamu di sini dulu ya sama Kakak! Papi sama Mami mau mengantarkan peristirahatan terakhir pakde Alan," ujar Akbar dengan lembut walau dirinya juga merasa terpukul atas kepergian kakak sulungnya.
"Adek ikut!" ucap Delisha dengan cepat.
"Jangan, Sayang! Kalau kondisi kamu sudah memungkinkan kamu boleh ke makam pakde kamu," ujar Akbar dengan tegas.
"T-tapi..."
"Biar saya saja yang menjaga Delisha, Pi!" ujar Ikbal yang baru saja datang mendengar ucapan keluarga Delisha.
Akbar, Fiona, Danish, Daniel, dan Dareel melihat ke arah Ikbal.
"Kalian pergi saja! Biar saya yang menjaga Delisha," ucap Ikbal dengan tegas.
"Gak apa-apa nih? Mama lo kan juga sakit?" tanya Daniel kepada Ikbal.
Ikbal menggelengkan kepalanya pertanda jika lelaki itu tak keberatan sama sekali. Malah Ikbal tampak senang bisa menjaga Delisha, gadis yang ia cintai sangat dalam setelah Erina.
"Ya udah papi, mami, dan kakak boleh pergi!" ujar Delisha dengan sendu karena ia berharap bisa melihat pakde Alan untuk terakhir kalinya sebelum dimakamkan. Delisha ingin menguatkan budenya juga karena Delisha tahu budenya sangat mencintai pakdenya.
"Dia siapa, Pi?" tanya Delisha dengan penasaran.
"Tidak penting, Sayang! Papi, Mami dan ketiga kakak kamu pergi dulu ya!" ucap Akbar dengan lembut.
Delisha tak banyak bertanya lagi karena melihat wajah gelisah papinya yang mungkin ingin segera bertemu dengan jasad Alan untuk terakhir kalinya. Setelah berpamitan kedua orang tua serta ketiga kakaknya benar-benar meninggalkan Delisha bersama dengan Ikbal.
Ikbal mendekat ke arah Delisha. "Udah sehat!" ucap Ikbal dengan mengelus kepala Delisha dengan sayang.
Delisha tersenyum menatap ke arah Ikbal. "Karena suara Kakak yang menahan Delisha. Kakak bilang Delisha gak boleh pergi sebelum Kakak buat Delisha bahagia," ujar Delisha dengan polosnya yang membuat Ikbal mematung.
"Terus Delisha juga ketemu sama cewek cantik banget. Dia mirip dengan Delisha kata cewek itu titip salam buat kak Ikbal," ujar Delisha serius.
"Kak apa itu kak Erina?" tanya Delisha menatap wajah Ikbal yang masih mematung di tempat.
"Apa kakak baik sama Delisha karena Delisha mirip kak Erina?" tanya Delisha pelan.
"Delisha, terima kasih mau bertahan sekali lagi! Kakak gak tahu jika kamu bermimpi seperti itu. Kamu memang mirip dengan Erina tetapi kalian berbeda! Kakak sayang sama kamu makanya kakak baik sama kamu," ujar Ikbal dengan tulus.
"Delisha juga dengar ada yang bilang I love you ke Delisha tapi bukan suara kak Zayyen. Suaranya seperti suara kak Ikbal loh!" uhar Delisha yang membuat Ikbal langsung terdiam kaku.
"M-mana mungkin ada yang bicara seperti itu di alam mimpi Delisha!" ucap Ikbal dengan gugup.
__ADS_1
"Ih suaranya jelas banget tahu, Kak! Apa itu pangeran surga yang bilang cinta sama Delisha ya?" tanya Delisha dengan berpikir keras.
"Ck.. Pangeran surga ada-ada aja kamu!" elak Ikbal yang tak mau semakin gugup karena Delisha.
"Iya ya.. Ahh gak usah di pikirkanlah! Delisha pusing jadinya," ucap Delisha dengan cemberut.
Ikbal terkekeh dengan gemas melihat tingkah Delisha yang seperti ini. Melihat Delisha sudah ceria kembali walau Ikbal tahu pagi ini Delisha ditimpa musibah karena pakdenya meninggal dunia tetapi Delisha tetap memancarkan kebahagiaannya di depan Ikbal.
Keduanya tidak menyadari jika sejak tadi Zayyen melihat keakraban keduanya dengan tangan mengepal.
"Gue gak akan membiarkan Delisha semakin dekat dengan lo, Ikbal!" ucap Zayyen dengan tajam.
***
Zayden terkekeh sinis menatap ke arah cermin miliknya. "Aku suka saat semua orang membenci Zayyen apalagi memukul Zayyen seperti kemarin hahaha..." ucap Zayden dengan tertawa bahagia seakan penderitaan Zayyen adalah bahagianya.
"Kamu kenapa jahat seperti ini Zayden!" ucap Cika saat membuka kamar apartemen Zayden.
Zayden menatap Cika dengan tajam. "Karena dia sudah membuat mama sampai kehilangan tangan kanannya!" ujar Zayden dengan tajam.
Zayden menghampiri Cika dengan langkah tegas. "Kamu masih membela Zayyen ternyata! Kamu itu tunangan aku! Kalau kamu seperti ini terus aku gak akan segan-segan membunuh Zayyen di hadapan kamu," desis Zayden dengan tajam.
Zayyen mengelus pipi Cika dengan perlahan, lalu ia dengan cepat dan tanpa disadari oleh Cika, ia menjambak rambut Cika dengan kuat hingga Cika berteriak kesakitan.
"Akhh.. Sakit, Ay!"
"Akan lebih sakit daripada ini kalau kamu masih membela Zayyen!" ujar Zayden dengan tajam.
"A-aku gak membela Zayyen, Ay!" ujar Cika dengan terbata.
"TERUS ITU TADI APA BANGS*T? KALAU KAMU MASIH MEMBELA ZAYYEN AKU GAK AKAN SEGAN-SEGAN MENGHAJAR KAMU DAN JUGA ZAYYEN!" teriak Zayden dengan tajam.
Tiba-tiba saja Zayden mengerang kesakitan dan melepas tangannya yang ada di rambut Cika. Zayden memegang kepalanya yang membuat Cika panik.
"Ay, kamu kenapa?" tanya Cika dengan panik.
"O-obat!" ujar Zayden.
Cika mencari obat Zayden dengan cepat, gadis itu tampak panik saat Zayden seperti ini. Cika sama sekali tidak tega melihat Zayden terus menjambak rambutnya sendiri walau lelaki itu sering menyakiti dirinya.
"Ini, Ay!" ucap Cika dengan menangis.
Dengan tangan gemetar Zayden menerimanya dan memasukkan beberapa obat ke dalam mulutnya, ia menelannya tanpa air.
"Hiks.. Ay!" Cika memeluk tubuh Zayden yang tampak lemas.
Zayden memegang pipi Delisha dengan lembut. "Jangan nangis aku gak apa-apa!" ucap Zayden dengan tersenyum.
Keduanya duduk di lantai. Zayden merebahkan kepalanya di paha Cika dengan pelan, ia memeluk perut Cika dengan erat.
__ADS_1
"Please gimana pun keadaannya tolong jangan tinggalkan aku, Ay!" pintar Zayden dengan nada yang ketakutan luar biasa.
Cika hanya bisa menahan tangisnya dengan mengelus rambut Zayden. Permintaan Zayden sangat berbeda kali ini dan itu membuat hatinya tersentuh.