
...Jangan lupa ramaikan part ini ya....
...Happy reading...
****
Sudah seminggu Tiara demam dan dirawat di rumah ayah Felix oleh Zidan. Kini, kondisinya sudah sangat membaik karena berkat perhatian Zidan dan kedua orang tua Zidan semua membaik bahkan Zayden semakin manja dengan mamanya.
Ceklek...
Zidan membuka pintu kamarnya dengan perlahan, ia sengaja menyuruh Tiara tidur di kamarnya dan dirinya yang tidur bersama dengan Zayden.
"Loh, siapa yang nyuruh kamu kerja Ay?" tanya Zidan dengan tajam karena dirinya beluk memperbolehkan Tiara untuk masuk bekerja, ia sudah meminta cuti kerja Tiara dengan Fathan sampai Tiara benar-benar sembuh dan untung saja Fathan mengizinkan.
Tiara menatap Zidan sekilas lalu ia sibuk pada jas dokternya kembali. "Aku sudah sehat, Mas!" ujar Tiara dengan pelan.
Zidan mendekat ke arah Tiara dan memeluknya dari belakang, ia meletakkan dagunya di atas bahu Tiara. "Jangan kerja dulu ya. Kamu bisa di rumah sama ibu menunggu Zayden pulang sekolah. Kamu masih punya banyak waktu untuk bermain dengan Zayden, Ay!" gumam Zidan dengan memeluk perut Tiara semakin erat.
Tiara mendongakkan wajahnya ke atas untuk menghalau air matanya yang hendak turun. Selalu saja ia menjadi cengeng saat membicarakan tentang anaknya.
"Mas sengaja meminta izin ke Fathan agar kamu bisa cuti dan bermain dengan Zayden, Ay. Katanya kamu ingin punya kenangan dengan Zayden," gumam Zidan yang membuat hati Tiara tersentil. Dia ibunya tetapi kenangannya dengan Zayden bisa di hitung dengan jari.
Tiara membalikkan tubuhnya menjadi menghadap ke arah Zidan. "Aku masih punya cuti berapa hari?" tanya Tiara dengan pelan.
"Tiga hari, Ay! Waktu tiga hari bisa kamu manfaatkan untuk semakin dekat dengan Zayden," ucap Zidan dengan tegas.
Tiara tersenyum. "Hari ini Mas bisa libur? Sehari saja Mas libur untuk aku ya?! Aku ingin Mas cerita semuanya tentang Zayden waktu dia masih bayi, umur berapa dia bisa mengoceh, umur berapa dia bisa merangkak, berjalan, berbicara, manggil kamu papa," ucap Tiara dengan tersenyum tetapi matanya berkaca-kaca karena ia tidak bisa merasakan itu semua.
Zidan menangkup wajah Tiara dengan hangat. "Dari kemarin Mas menunggu kamu untuk meminta ini dari Mas, Ay. Akhirnya kalimat itu keluar dari bibir kamu. Sekarang Mas akan ceritakan semuanya ke kamu tanpa ada yang terlewatkan sedikit pun," ujar Zidan dengan bahagia.
"Tapi apakah kehidupan Zayyen sama seperti Zayden?" gumam Tiara dengan lirih.
__ADS_1
Zidan menghela napasnya, ia kembali memeluk Tiara karena semenjak sakit Tiara mulai bersikap seperti dulu kepadanya walau terkadang ia masih melihat wajah kosong dan penuh dendam di mata Tiara.
"Mas akan berbicara secepatnya dengan dokter Barra tentang hak asuh Zayyen yang akan kita ambil ahli. Kamu paling berhak atas Zayyen. Kita paling berhak, Ay! Jadi, kamu gak usah memikirkan jika dokter Barra berbuat ulah. Apapun akan Mas lakukan walau harus melewati proses hukum untuk membuat Zayyen kembali kepada kita," ucap Zidan dengan tegas.
"Aku gak takut walau harus melewati proses hukum sedikit pun, Mas. Yang aku takutkan Zayyen gak akan bisa menerima kita sebagai orang tuanya. A-aku takut, Mas!" gumam Tiara dengan lirih.
"Jika kita melewati semuanya berdua itu akan terasa mudah, Ay. Jadi, jangan pernah melakukan apapun sendiri ya! Ada Mas yang akan selalu ada buat kamu! Bergantunglah pada Mas kembali Ay, seperti dulu lagi," gumam Zidan dengan tersenyum menatap penuh cinta ke arah Tiara.
Tiara terdiam tak lama ia mengangguk dengan mantap karena memang ia sangat membutuhkan Zidan walau hatinya belum sepenuhnya bisa percaya kembali dengan Zidan setidaknya semua balas dendamnya akan jauh lebih mudah setelah. Kedua orang tuanya dan Sabrina harus membayar kesakitannya! Harus! Karena Tiara tidak akan melepaskan mereka begitu saja walau kedua anaknya sudah kembali kepelukannya nanti.
Akhirnya keduanya menghabiskan waktu bersama dengan Zidan yang bercerita tentang Zayden waktu kecil kepada Tiara yang sangat antusias mendengarkan ceritanya.
"Aku memang tidak bisa mengembalikan waktu agar kamu bisa merasakan tumbuh kembang anak kita, Ay. Tapi aku bisa menceritakannya di hadapan kamu bagaimana anak kita tumbuh dengan baik di tanganku walau ia harus hidup dengan mama penjahat seperti Sabrina. Ay, jika ada kesempatan kedua nanti aku akan membuat kamu tidak kehilangan moment tumbuh kembang anak kita. Aku akan membuat kamu bahagia dengan adanya Zidan dan tiara kecil kembali di hidup kita agar kamu tak lagi merasa gagal dan bersedih karena kehilangan moment untuk anak tertua kita. Tunggu saja moment itu akan datang di kehidupan bahagia kita nantinya. Ay, you're mine! Always love you!"
****
Sudah seminggu ini Tri kembali ke rumah suaminya. Sikap Fathan semakin manja kepadanya bahkan ketika membuka mata tidak mendapati dirinya di ranjang Fathan akan mencarinya bak orang kesetanan.
Seperti pagi ini Tri bangun kesiangan karena harus melayani hasr*t suaminya yang tidak ada habisnya setelah kembalinya ia di rumah ini. Tri membuka matanya dengan perlahan, ia sudah tidak mendapatkan Fathan di kasurnya, kasur tersebut sudah dingin yang artinya Fathan sudah lama terbangun.
Tri tersenyum saat melihat buket bunga mawar dan selembar kertas di atas kasur tepat di mana Fathan tidur. Tri menarik selimutnya untuk menutupi tubuh polosnya, ia bersandar di kepala ranjang dan mengambil buket bunga beserta surat,yang diletakkan di sana.
Selamat pagi, Istriku!
Maaf ya Mas harus ke rumah sakit pagi-pagi sekali karena ada pasien yang akan melahirkan. Mas tidak tega membangunkan kamu yang terlihat sangat lelah.
Hehehe makasih servis semalam yang sangat memuaskan sekali, Sayang. Kamu semakin hebat membuat Mas puas. Tunggu Mas pulang ya! Ingat jangan beraktivitas terlalu berat, sebaiknya senam saja di ruangan yang Mas sudah buat untuk kamu.
Cika juga sudah mas suruh berangkat sama bi Sumi dan tidak menganggu tidur kamu, Sayang.
See you my heart!
__ADS_1
I love you!❤️
Tri terkekeh membaca surat cinta dari suaminya. Sungguh semakin hari, Fathan semakin romantis saja dan membuat Tri semakin mencintai Fathan. Sebisa mungkin ia harus melayani Fathan dengan maksimal agar sang suami tidak merasa bosan dengannya, bahkan Tri tidak segan-segan meminta itu ke suaminya duluan tentunya semakin membuat Fathan bahagia. Istrinya sangat baik melayani dirinya dalam urusan ranjang atau yang lainnya.
Ting....
Ponsel Tri berbunyi, wanita itu mengambil ponselnya. Senyum Tri semakin mengembangkan saat mendapatkan pesan dari suaminya. Ini adalah ponsel terbaru yang dibelikan Fathan lagi untuknya setelah ia menceritakan semuanya kepada Fathan bahkan tanggapan tentang ponsel yang Tri berikan kepada preman membuat Tri tersipu malu.
'Gak apa-apa ponsel itu diambil, Sayang. Yang terpenting kamu dan anak kita baik-baik selamat. Mau hilang sepuluh pun Mas tidak masalah asal kamu tidak dilukai oleh mereka'
Itulah kata yang diucapkan Fathan dengan begitu santainya karena bagi Fathan harta bisa dicari tetapi istrinya tidak bisa terganti oleh apapun.
^^^Sudah bangun Nyonya Fathan? Hari ini mau dibelikan apa?^^^
Tri tersenyum membaca pesan dari suaminya yang membuat hati Tri berbunga-bunga walau itu hanya pesan biasa.
Saya sudah bangun tuan Fathan, Sayang.
Ehmmmm mau apa ya? Boleh gak aku pegang pipi Fio lagi? Soalnya adik kamu lucu banget.
Tri membalas pesan suaminya dengan senyum geli. Entah mengapa ia sangat gemas dan suka sekali dengan pipi Fio.
^^^Fio lagi, Fio lagi. Hufff...menang banyak Fio di sentuh kamu mulu, Sayang. Iya nanti mas akan bawa Fio ke rumah ya, sekarang Fio sedang di ruangan papa. Aku terus mengawasi Fio dari sini. Sudah dulu ya Sayang, Mas harus periksa pasien lagi. Miss you😘^^^
Miss you too!🥰
Tri memeluk ponselnya dengan senyuman yang terus mengembang. Ia geli dengan sikap Fathan yang berubah seperti ini tetapi Tri bahagia.
"Papamu semakin romantis, Sayang. Mama semakin cinta," gumam Tri mengusap perutnya.
Bahagianya pagi ini!
__ADS_1