Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 268 (Calon Papa)


__ADS_3

...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...📌 Dukung terus cerita baru author. "Suami Bayaran Nona Rania"...



...*...


...*...


...Happy reading...


***


Wajah Zayden tampak kasihan sekali karena semenjak hamil Cika tak mau dekat dengannya. Seakan Cika sangat membencinya.


"Mama, aku benci banget lihat muka mas Zayden," adu Cika pada Tiara.


"Mukanya ngeselin banget! Aku gak suka," ujar dengan sinis yang membuat Zayden sangat memelas menatap istri dan mamanya.


"Sayang, Mas salah apa coba?" tanya Zayden dengan sendu.


"Ma, usir Mas Zayden sebentar. Perut aku mual banget," ujar Cika dengan mata beekaca-kaca.


Tiara menghela napasnya. Kenapa mengidam menantunya sangat membuat anaknya tertekan? Lucu juga sih melihat wajah Zayden yang sangat tersiksa tetapi Tiara juga tak tega.


"Zayden, kamu ke kantor sana! Biar Cika Mama yang jaga," ujar Tiara dengan pelan.


"Ma, sampai kapan Cika gak mau dekat-dekat Zayden? Ini sungguh menyiksa batin Zayden, Ma!" ujar Zayden dengan sendu.


"Iihhh... Mas sana kerja! Perut Cika mual banget lihat muka Mas!" ujar Cika mengusir suaminya.


Zayden berjalan dengan perlahan mendekat ke arah istrinya tetapi Cika langsung menghindar yang membuat dada Zayden sesak.


"Huwaaa Mama... Tolong Zayden," ujar Zayden dengan berteriak dengan dada yang amat sesak.


"Zayden, kali ini tolong mengalah sama Cika. Ini cuma sementara, Nak!" ujar Tiara pada akhirnya.


"Tapi, Ma! Zayden gak bisa kalau harus jauh-jauh dari Cika, Ma!" ujar Zayden dengan memelas.


"Sayang, Mas peluk kamu sebentar ya baru Mas berangkat kerja," pinta Zayden dengan pelan.


"Gak bisa, Mas! Perut aku mual banget," ujar Cika dengan mata berkaca-kaca.


"Sedetik saja, Sayang. Biar Mas semangat bekerja!" pinta Zayden dengan memelas.

__ADS_1


Mau tak mau Cika mengangguk karena kasihan terhadap suaminya. Padahal sebelum testpack Cika masih terlihat biasa-biasa saja tapi setelah testpack dan hasilnya garis dua membuat Cika langsung lemas dan mual-mual bahkan yang paling parah sekarang yaitu ia benci melihat wajah suaminya sendiri, Cika kesal sekali melihat wajah suaminya.


Zayden tampak lega saat sang istri mau di peluk dirinya, dengan cepat Zayden memeluk Cika dan mencium istrinya tetapi Cika yang benar-benar tidak tahan, ia mendorong tubuh Zayden dengan kuat dan langsung berlari ke arah kamar mandi.


"Sayang, kamu kenapa?"


"Cika! Ya Allah, Nak!"


Zayden dan Tiara berlari mengejar Cika. Mereka mendengar suara Cika muntah-mutah yang membuat Zayden merasa bersalah.


Zayden tak berani mendekati istrinya, ia takut Cika semakin mual karena dirinya. "Ma, bantu Cika ya!" ujar Zayden dengan memelas.


"Iya, Nak!" sahut Tiara dengan kasihan.


Tiara mengurut tengkuk Cika dengan pelan. "Ma, Cika benar-benar gak bisa dekat mas Zayden. Bukannya Cika gak mau tapi karena Cika mual dekat mas Zayden, Ma!" ujar Cika dengan lemas yang membuat Zayden sesak sekaligus merasa bersalah.


"Mas gak akan dekat lagi, Sayang. Ya sudah kamu sama mama di rumah ya. Nanti juga Zevana datang untuk menemani kamu di sini, kalian kan sedang hamil mungkin kalian bisa bertukar pikiran. Mas berangkat kerja ya, Sayang. Kalau ada apa-apa langsung telepon, Mas!" ujar Zayden pada akhirnya mengalah walaupun ia tidak semangat bekerja tetapi lebih baik bekerja daripada tersiksa karena tidak bisa dekat dengan istrinya.


"Iya, Mas!" jawab Cika dengan lemas yang membuat Zayden menatap istrinya dengan sendu.


"Jaga istri Zayden ya, Ma!" pinta Zayden dengan pelan.


"Iya, Nak. Mama akan jaga Cika kamu tenang saja," ujar Tiara dengan lembut.


Zayden mengangguk dengan pelan. "Aku berangkat, Ma, Sayang!"


"Wa'alaikumussalam!"


Zayden berjalan ke luar rumah. Satelah Zayden tidak tampak lagi barulah Cika keluar dari kamar mandi di bantu oleh Tiara.


"Lemas banget, Mas. Mulut Cika jadi gak enak," ujar Cika dengan lirih setelah duduk di sofa bersama dengan Tiara.


"Mau makan permen gak? Mungkin makan permen bisa buat rasa mual kamu sedikit menghilang, Nak!" ucap Tiara menawarkan permen ke menantunya karena ia juga merasa kasihan melihat wajah Cika yang begitu lemas dan sedikit pucat.


"Ada di rumah Ma?" tanya Cika dengan pelan.


"Ada, Sayang. Sebentar ya Mama ambilkan," ujar Tiara bangkit dari duduknya dan menuju dapur untuk mengambil permen kiss yang kemarin ia beli.


"Iya, Ma. Makasih ya, Ma!"


"Sama-sama, Sayang."


Cika menyandarkan tubuhnya di sofa. Cika sudah meminta obat penghilang rasa mual kepada papanya tetapi rasanya itu tidak mempan ketika ia berhadapan dengan suaminya sendiri karena setiap melihat wajah Zayden rasa kesal, benci, dan mual datang dengan bersamaan.


Cika mengelus perutnya dengan lembut. "Kamu kenapa, Nak? Kasihan papa kalau mau dekat sama kita tidak bisa. Kamu balas dendam ya sama papa karena dulu papa sempat melupakan Mama?" gumam Cika mengajak anaknya berbicara.

__ADS_1


"Ini Sayang permennya. Kamu istirahat saja ya atau mau minum teh hangat?" tanya Tiara dengan perhatian.


"Permen aja, Ma. Makasih ya, Ma!" ucap Cika dengan tersenyum.


"Iya, Sayang. Kamu nginap di sini, kan?" tanya Tiara dengan lembut.


"Iya, Ma. Dua hari boleh ya, Ma? Baru setelah itu ke rumah papa dan mama," ujar Cika.


"Boleh dong, Sayang. Oo iya Nessa juga lagi hamil ya?" tanya Tiara.


"Iya, Ma. Mungkin beda satu bulan sama Cika makanya mama sama papa bahagia banget mereka yang paling repot ngurus kami berdua," jawab Cika dengan pelan.


"Mama juga bahagia, kamu sama Zevana sudah hamil. Mama harap Anggun juga cepat hamil menyusul kalian. Mereka baru bisa bulan madu kemarin jadi itu sebabnya kemarin mereka tidak datang ke pernikahan Danish dan juga Daniel," ujar Tiara yang di angguki oleh Cika.


"Aamiin, Ma. Semoga kak Anggun segera nyusul ya, Ma."


"Aamiin.."


Cika merebahkan kepalanya di paha Tiara. Tiara mengelus kepala Cika dengan sayang, ia tersenyum menatap menantunya sekaligus anak dari mendiang kakaknya.


"Kamu sama sekali gak mirip mama kandung kamu, Cika. Kamu lebih mirip mbak Tri hanya mata kamu yang mirip mama kamu," ujar Tiara dengan tersenyum.


"Karena mama Tri yang sudah mengurus Cika sejak kecil, Ma. Tapi walaupun begitu Cika menyayangi keduanya walaupun Cika belum pernah bertemu dengan mama kandung Cika," ucap Cika dengan sendu.


"Mama kamu sangat pintar dan juga baik bahkan kakek dan nenek lebih menyayangi mama kamu daripada mama. Mereka tidak pernah melihat perjuangan mama waktu itu," gumam Tiara dengan sendu yang membuat Cika menangis.


"Mama jangan nangis," gumam Cika mengeluarkan air matanya.


Tiara menghapus air matanya dengan kasar. "Enggak, Sayang. Tapi kalau mengingat itu Mama suka sedih saja," ujar Tiara dengan sendu.


"Maafin mama Cika ya, Ma!"


"Mama kamu gak salah. Ya sudah kamu istirahat saja ya," ujar Tiara dengan tersenyum.


"Temani ya, Ma!"


"Iya, Sayang!"


***


Menjadi calon papa seharusnya membuat Zayden bahagia tanpa harus merasa sedih tetapi pagi ini ia benar-benar tidak berselera untuk bekerja mengingat kejadian tadi di mana Cika mual karena ia memeluk istrinya tersebut.


"Seharusnya aku adalah calon papa yang sangat bahagia. Tetapi mengapa anakku sendiri tidak mau dekat denganku?" monolog Zayden dengan lirih.


Zayden mengacak rambutnya dengan kesal. Sungguh ia adalah calon papa yang sangat menderita, bahkan Haidar saja tidak separah dirinya. Mungkinkah ini karma karena dulu ia melupakan Cika? Tapi Zayden sudah meminta maaf dengan istrinya itu.

__ADS_1


"Argghhh... Nakk jangan buat Papa menjadi calon Papa yang sangat menyedihkan!" teriak Zayden tertahan.


__ADS_2