
...Jangan lupa ramaikan part ini ya....
...Happy reading...
****
Zidan dan Fathan menuju ke gedung kosong dekat sungai X yang dikatakan lelaki suruhan Tiara melalui telepon, tentu saja Zidan sudah menyuruh ibunya untuk menjaga Tiara di rumah sakit, ia takut ketika Tiara sadar tidak ada orang yang menemani Tiara. Boleh kan Zidan berharap agar Tiara cepat sadar walau kemungkinan itu hanya 5 persen saja?
"Ini tempatnya?" tanya Zidan melihat sekelilingnya.
"Ini satu-satunya gedung kosong di sini," ucap Fathan.
Zidan mengangguk, tempat ini terlalu gelap dan pengap membuat Zidan tidak betah di sini tetapi ia harus memastikan sesuatu tentang keberadaan kedua orang tua Tiara dan Sabrina. Apa benar Tiara menyekap dan menyiksa mereka? Jika iya pun pasti bukan Tiara yang melakukannya tetapi alter ego Tiara yang bisa melakukan apa saja untuk membalaskan dendamnya.
"Dimana orang itu?" tanya Zidan mencari keberadaan orang yang meneleponnya tadi.
Hingga suara derap langkah kaki membuat Zidan dan Fathan waspada. Keduanya memfokuskan pandangan mereka hingga satu orang berbadan kekar dengan wajah yang sangat seram menghampiri mereka.
"Siapa suami nona Tiara?" tanya orang tersebut menatap keduanya.
"Saya!" sahut Zidan dengan lantang.
Orang tersebut menilai Zidan. Wajahnya menyeringai seram. "Dimana nona Tiara? Saya dan teman saya sudah melakukan tugas yang dia minta dan kami meminta bayaran lebih karena ini sudah satu minggu lamanya nona Tiara tidak datang ke sini," ucap orang suruhan Tiara dengan tajam.
__ADS_1
Zidan menatap Fathan. "Tiara sedang ada urusan dan saya disuruh istri saya untuk melihat keadaan mereka. Dimana istri saya menyekap mertua saya dan Sabrina?" tanya Zidan pada akhirnya agar orang suruhan Tiara tidak banyak bertanya kepadanya.
Orang suruhan Tiara terdiam, ia takut jika kedua orang di depannya ini bukan orang yang Tiara kenal dan membahayakan mereka nantinya.
"Anda tenang saja, saya benar suami Tiara!" ucap Zidan dengan tegas.
Orang tersebut mengangguk. Sepertinya memang benar jika kedua pria di depannya ini tidak berbohong.
"Ikut saya!" ucap orang suruhan Tiara dengan tegas.
Zidan dan Fathan mengangguk, keduanya mengikuti langkah orang suruhan Tiara hingga masuk ke ruangan yang amat gelap. Fathan menghidupkan senter ponselnya dan betapa terkejutnya ia dan Zidan melihat keadaan kedua orang Tiara dan Sabrina yang sangat mengenaskan.
"M-mas Z-zidan t-tolong a-aku," ucap Sabrina dengan lirih bahkan suaranya hampir hilang. Ia seakan mendapatkan secerca harapan ketika Zidan datang ke sini.
"F-fathan t-tolong p-papa, m-mama! I-ini s-sangat s-sakit s-sekali," ucap Papa Ezra dengan lirih.
"Sebenarnya ini belum seberapa dibandingkan dengan sakit hati dan luka yang sudah kalian torehkan di hati Tiara," ucap Zidan dengan mengepalkan tangannya.
Zidan rasanya ingin menyiksa ketiganya juga tetapi akal sehatnya masih bekerja dengan baik. Zidan menatap kedua orang suruhan Tiara dengan pandangan tegasnya.
"Berapa uang yang kalian butuhkan?" tanya Zidan dengan tegas.
"30 juta bos!" ucap orang suruhan Tiara yang sejak tadi berada di dalam menunggu ketiganya.
__ADS_1
"Kirimkan nomor rekening kalian dan saya akan transfer sekarang juga," ucap Zidan dengan tegas.
Kedua orang suruhan Tiara tertawa bahagia akhirnya mereka bisa bersenang-senang dengan uang tambahan yang diberikan Zidan kepada mereka.
"Sudah bos!" ucap orang suruhan Tiara dengan bahagia.
Zidan melihat ponselnya dan langsung mentransfer uang sejumlah 30 juta ke rekening orang suruhan Tiara.
"Sudah saya kirim. Kalian bisa mengeceknya! Kalian boleh pergi karena tugas kalian sudah selesai! Tiara meminta saya untuk membawa mereka pulang dan ingat kalian harus tutup mulut kalau kalian masih sayang nyawa kalian, tentu kalian tidak lupa bagaimana istri saya menyiksa ketiganya, kan?" ucap Zidan menakut-nakuti.
Keduanya bergidik ngeri kala mengingat Tiara menyiksa ketiga orang yang sudah tak berdaya di sini. "Tentu kami tidak lupa bos. Nona Tiara sangat kejam, dia tidak segan-segan menyayat tubuh mereka dengan sadis. Kami permisi dulu katakan terima kasih kepada nona Tiara atas bayarannya dan kami tentu saja tidak akan membocorkan rahasia ini, kami juga masih sayang nyawa bos!" ucap orang suruhan Tiara dengan menyeringai.
"Sebelum pergi tolong kalian bawa ketiga orang ini ke mobil, kami tidak ingin kedua tangan kami kotor!" ucap Fathan yang sejak tadi diam.
"Baik Bos!" ucap keduanya.
"Saya melepaskan kalian bertiga bukan karena saya kasihan kepada kalian tapi saya masih mempunyai hati nurani walau saya sebenarnya ingin menyiksa kalian seperti Tiara yang menyiksa kalian," ucap Zidan dengan dingin.
Ketiganya sudah tidak berdaya untuk menjawab, luka yang mereka dapatkan akibat siksaan tersebut membuat berbicara saja mereka tak sanggup.
"Pastikan media tidak meliput tentang mereka!" ucap Fathan yang telah menelepon orang suruhannya di rumah sakit. Karena Fathan tahu bagaimana mantan mertuanya sangat berpengaruh dalam dunia bisnis, hilangnya papa Ezra dengan banyaknya luka di tubuh mereka pasti mengundang kecurigaan media yang sering meliput papa Ezra.
Setelah mendapatkan jawaban dari orang tersebut Fathan langsung mematikan ponselnya.
__ADS_1
Zidan dan Fathan hanya melihat bagaimana kedua orang suruhan Tiara membawa ketiganya secara bergantian masuk ke dalam mobil. Setelah semuanya sudah di dalam mobil barulah Zidan dan Fathan keluar dan membawa papa Ezra, mama erlin, dan Sabrina menuju rumah sakit untuk mendapatkan pengobatan. Jika membunuh di perbolehkan mungkin sudah sejak tadi Zidan membunuh ketiganya tak peduli jika papa Ezra dan mama Erlin adalah calon mertuanya sedangkan Sabrina adalah mantan istrinya tetapi ia masih punya hati nurani, dendam Tiara harus sudah berakhir karena sangat tidak baik untuk Tiara ke depannya.
"Ay, maafkan Mas yang melepaskan mereka begitu saja. Tapi Mas janji Mas tidak akan membiarkan ketiganya hidup dengan bebas. Sayang, dendammu telah usai, kan? Jika sudah Mas mohon kembalilah ke ragamu, buka mata indahmu mari kita hidup bahagia dengan damai tanpa ada kesakitan dan air mata," gumam Zidan di dalam hati yang sangat berharap jika setelah Zidan kembali ke rumah sakit ia mendapatkan kabar baik jika Tiara telah sadar. Semoga saja harapan dan do'anya segera terkabul dan ia bisa berkumpul dengan Tiara kembali.