Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 264 (Berubah)


__ADS_3

...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...📌Dukung terus cerita baru author 'Suami Bayaran Nona Rania'...



...*...


...*...


...Happy reading...


****


"Ma buatkan sarapan dong!" perintah anak sulung Iwan yang bernama Kanaya.


"Kan ada bibi kenapa harus Mama?" tanya Jesica dengan bingung.


"Bibi sudah keluar dari sini karena papa gak sanggup bayar pembantu dan pekerja lainnya. Mama kan bisa masak apa salahnya masakin kami bertiga! Mama itu istri Papa!" ujar Kinanti, anak kedua Iwan dengan sinis.


"Benar! Seharusnya seorang istri bisa melayani suaminya ini asyik mengeluarkan uang!" ujar Kayana dengan sinis.


"Kalian kok jadi sinis gitu sama Mama?" tanya Jesica dengan tidak suka.


"Alah jangan banyak tanya deh, Ma! Ayo masak sekarang! Mulai sekarang karena tidak ada bibi di rumah ini Mama yang masak maupun beres-beres di rumah ini," ujar Kirana dengan ketus.


"Mas, lihat anak kamu gak sopan sama aku! Bilangin mereka dong Mas jangan diam saja," ujar Jesica dengan kesal.


"Saya setuju dengan Kanaya dan Kinanti! Selama ini kamu hanya bisa menghamburkan uang saya sampai tagihan kartu kredit membengkak. Jadi, sebagai gantinya kamu harus bisa memasak dan membereskan rumah karena bibi sudah tidak bekerja lagi di sini," ujar Iwan dengan tenang.


"Gak bisa gitu dong! Aku ini istri kamu bukan pembantu kamu!" protes Jesica tak suka saat suami dan anak tirinya memperlakukan dirinya bak seperti pembantu.


"Gak bisa gimana? Dulu kamu sama mantan-mantan suami kamu juga bisa masak, kan? Banyak di luar sana ibu rumah tangga tetap membereskan rumah! Jangan banyak alasan kamu Jesica atau kamu pergi saja dari rumah ini," ujar Iwan dengan dingin.


"Mas..."


"Pa, kami lapar!" ujar Kayana dengan memelas.


"Dengar, kan? Kanaya dan Kinanti lapar! Cepat buat makanan setelah itu jangan lupa bersihkan rumah, saya tidak suka rumah terlihat kotor!" ujar Iwan dengan dingin.


"T-tapi..."


"CEPAT JESICA!" teriak Iwan dengan marah.


Mata Jesica berkaca-kaca, ingin protes tetapi tidak bisa karena Iwan sudah marah. Jesica melangkah ke dapur dengan perasaan yang sangat kesal dan sakit.


Jesica menghapus air matanya dengan kasar. "Kenapa mas Iwan berubah? Dia sudah berjanji akan menjadikan aku ratu di rumah ini tapi apa? Dia malah menjadikan aku pembantu sekarang," ujar Jesica dengan lirih, situasi yang seperti ini membuat Jesica mengingat Naura, bagaimana perlakuannya kepada Naura sangatlah buruk.

__ADS_1


"MA CEPAT JANGAN MELAMUN PERUT KAMI SUDAH BERBUNYI!" teriak Kinanti yang membuat Jesica tersadar dari lamunannya dan langsung memasak apa yang ada di kulkas.


"Kenapa mas Iwan bisa bangkrut?" tanya Jesica di dalam hati.


****


Naura tampak terdiam saat Daniel benar-benar menjaga makanannya, lihatlah pagi ini Daniel sudah datang ke rumah kedua orang tua angkatnya untuk memastikan jika sarapan Naura benar-benar baik dan tidak membahayakan Naura.


"Sudah Kak, Naura mau makan!" ujar Naura dengan cemberut.


"Bentar, Sayang. Ini ada irisan cabainya satu," ujar Daniel yang membuat Claudia menggelengkan kepalanya.


"Itu sengaja di kasih satu biji Daniel biar ada rasanya, Naura yang memintanya yang terpenting tidak pedas sekali," ujar Claudia dengan pelan.


"Kenapa kak Naura gak boleh makan pedas? Aldo saja suka pedas!" ujar Aldo dengan melahap nasi dengan paha ayam goreng miliknya serta sayur kangkung yang membuat selera makannya semakin bertambah.


"Kak Naura lagi sakit Aldo! Jadi, gak boleh makan pedas, mie instan, dan segala makanan yang tidak sehat! Selama Kakak gak ada ke sini kamu yang akan mengawasi makanan yang masuk ke dalam mulut kak Naura ya!" ujar Daniel dengan tersenyum.


"Siap Kak Daniel!" ujar Aldo dengan hormat yang membuat Tomi tertawa dan mengacak rambut anaknya dengan gemas.


"Iya gak apa-apa asal Naura bisa makan!" ujar Naura dengan tersenyum. Ia bersyukur ketika Daniel dan yang lainnya masih peduli kepada dirinya padahal Naura sudah menyakiti hati mereka.


"Makan yang banyak biar cepat sehat!" ujar Tomi kepada Naura.


"Iya, Pa! Naura juga mau kerja lagi!" ujar Naura dengan semangat.


"No! Siapa yang mengizinkan kamu bekerja?! Kamu sudah Kakak pecat!" ujar Daniel dengan tegas.


"Karena sebentar lagi kita menikah Kakak maunya kamu di rumah saja kalau mau produktif di rumah buka usaha saja di rumah seperti kak Mikaela dan Delisha, tidak perlu bekerja di kantor. Urusan kantor biar Kakak saja!" ujar Daniel dengan tegas tetapi mampu membuat Naura tersenyum kembali.


"N-naura pikir karena Naura sakit jadi dipecat," ujar Naura yang membuat Daniel terkekeh.


"Daniel itu gak mau kamu capek-capek bekerja. Turuti saja kemauannya, Nak. Toh uangnya banyak ya kan, Niel?!" ujar Tomi.


"Haha iya, Om!" ujar Daniel dengan tertawa.


"Sepertinya Daniel harus ke kantor, Om. Ada meeting penting soalnya," ujar Daniel berdiri dari duduknya.


"Gak sarapan dulu, Niel?" tanya Claudia.


"Gak usah Tante. Daniel tadi sudah sarapan," ujar Daniel menolaknya dengan halus.


"Om, Tante, Daniel berangkat kantor dulu ya! Aldo ingat perkataan Kakak tadi ya!"


"Iya, Kak!"


"Sayang sarapan yang banyak ya! Kakak kerja dulu," pamit Daniel dengan tersenyum.

__ADS_1


Cup...


Kedua pipi Naura memerah karena Daniel mencium keningnya di depan kedua orang tuanya serta Aldo.


"Cie kak Naura pipinya merah karena di cium kak Daniel," ujar Aldo dengan terkekeh.


"Hush... anak kecil gak boleh gitu!" ujar Claudia.


"Hehe...maaf, Ma!"


"Hati-hati, Kak. Semangat kerjanya!" ujar Naura dengan tersenyum.


"Iya, Sayang!"


"Assalamu'alaikum!"


"Wa'alaikumussalam!"


"Kapan rencana Daniel melamar ke rumah, Nak?" tanya Tomi saat Daniel sudah pergi yang membuat Naura tersedak.


"Minum dulu," ujar Claudia dengan perhatian.


"G-gak tahu, Pa. Naura gak ada tanya," ujar Naura dengan malu saat menerima gelas dari Claudia.


"Ya sudah biar Papa yang bertanya nanti," ujar Tomi yang semakin membuat jantung Naura berdetak sangat cepat.


Kenapa papanya harus bertanya? Naura jadi malu!


***


Jesica mengepel lantai setelah selesai menyapu tetapi apa yang terjadi kedua anak Iwan sangat kurang ajar. Keduanya tertawa menonton televisi dengan memakan kacang kulit dan kulitnya di buang sembarangan.


"Kanaya, Kinanti, Mama sudah capek menyapu kenapa kalian kotori lagi lantainya! Kalian sapu sendiri sampah kalian," ujar Jesica dengan tegas.


"Mama kan ada kenapa menyuruh kami? Kami tidak biasa nyapu dan ngepel. Mama saja lah! Nanti kuku kami rusak!" ujar Kinanti dengan memainkan kukunya.


"Kak ke kamar yuk! Malas di sini!" ujar Kinanti yang diangguki oleh Kanaya.


"Yuk, Dek! Jangan lupa diberesin ya, Ma! Jangan sampai papa pulang marah sama Mama!" ujar Kayana menggandeng tangan adiknya menuju kamar mereka.


"KANAYA, KINANTI, MAMA ADUKAN KE PAPA KALAU KALIAN KURANG AJAR KE MAMA YA!" teriak Jesica dengan keras.


"Adukan saja, Ma! Kali ini Papa tidak akan percaya sama Mama lagi! Mama itu wanita gak berguna yang hanya bisa menghabiskan uang Papa! Coba Papa tidak menikah dengan wanita seperti Mama pasti papa tidak akan bangkrut dan membuat kami berdua juga harus berhemat. Seharusnya Mama sadar diri di sini, Mama hanya membawa pakaian Mama ke sini selebihnya itu punya papa! Mama harus membayar apa yang sudah mama habiskan," ujar Kanaya dengan dingin.


"Ooo iya, Ma. Sepatu dan tas mewah milik Mama akan kami jual! Papa sudah mengizinkan karena Mama membelinya dengan uang Papa!" ujar Kinanti dengan tersenyum sinis.


"Kalian jangan mengambil barang Mama!" ujar Jesica dengan tajam.

__ADS_1


Kanaya tersenyum sinis. "Papa sudah mengizinkannya itu berarti kami boleh menjualnya! Fokus saja dengan pekerjaan baru Mama sekarang! Asal Mama tahu papa menyesal menikah dengan Mama!"


"KANAYA, KINANTI! ARGGHHH..."


__ADS_2