Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
100 (Surat Palsu)


__ADS_3

...Jangan lupa ramaikan part ini ya...


...Happy reading...


****


"T-tiga bayi kecebong itu ada di rahim Fio sekarang!"


"A-APA?"


Akbar terkejut hingga berteriak dengan keras. "M-mana mungkin! S-saya sudahdi vonis 35% tidak bisa mempunyai anak," ucap Akbar dengan terbata.


Fathan mengeryitkan kedua alisnya. "Ini buktinya sudah jelas kalau bukan benih dari kamu dari siapa hah?" ucap Fathan dengan ketus.


Akbar mematung menatap 3 titik yang ditunjukkan oleh Fathan. Benar itu benih-benihnya sudah tumbuh di rahim Fiona walau masih sebesar kacang hijau.


"Sepertinya ada kesalahan pemeriksaan oleh dokter yang sebelumnya. Jadi, ayo kita periksa," ucap Fathan.


Akbar tampak bingung sedangkan Fiona juga masih mengerjap lucu menatap tiga titik yang ada di rahimnya. Dia hamil? Hamil? Fio akan menjadi ibu? Wah, apa ketiga anaknya tidak akan berantem di dalam perutnya?


Akbar memeluk Fiona dengan erat setelah keterpakuannya menatap calon anaknya dari balik layar monitor yang Fathan perlihatkan.


Cup...


Cup...


Cup...


"Mas adalah lelaki yang paling bahagia di hari ini. Makasih Sayang akhirnya setelah sekian lama Mas mempunyai anak dari kamu, Allah sangat baik sekali!" ucap Akbar dengan berkaca-kaca. Sungguh Akbar sangat bahagia dan setelah ini ia akan menghubungi kakak-kakaknya jika ia berhasil menghamili istrinya hingga tiga bayi hadir sekaligus di rahim istrinya.


Tak mempedulikan Fathan dan suster Pipit. Akbar terus menciumi wajah Fiona dengan bertubi-tubi menyampaikan rasa bahagia dan berterima kasih kepada Fiona hingga matanya berkaca-kaca tak menyangka jika ia akan mempunyai anak 3 sekaligus. Sungguh ini adalah berkah dari Sang Maha Pencipta yang tak pernah Akbar duga sama sekali, niat hati ingin melakukan program bayi tabung namun ketiga anaknya sudah berkembang di rahim Fiona walau masih sebesar biji kacang hijau.


"Mas suami udah Fio gak bisa napas. Anak-anak kita juga gak bisa napas gara-gara Mas suami cium bibir Fio terus," protes Fiona yang membuat Akbar menghentikan kegiatannya.

__ADS_1


Akbar menatap perut Fiona dengan dalam. "Maafkan Papi ya, Nak! Papi sangat bahagia hari ini!" ucap Akbar dengan lembut mengelus perut datar Fiona bahkan mencium perut Fiona.


Sedangkan Fathan hanya bisa menghela napasnya dengan pelan saat ia merasa tidak dianggap oleh calon ayah dan ibu itu. Sedangkan suster Pipit juga merasakan hal yang sama dengan apa yang dirasakan oleh Fathan.


"Mau diperiksa tidak? Atau gak saya pulang saja bertemu dengan istri dan anak-anak saya," ujar Fathan dengan sewot karena meresa iri dengan keromantisan kedua adiknya tersebut.


"Sabar, Kak! Mas Suami sedang bertelepati dengan ketiga anak kami supaya tidak berebut tempat di dalam perut Fio," ucap Fiona dengan polosnya yang membuat Fathan menganga dan setelah itu mendengus kesal kepada adiknya.


Akbar tersadar tidak seharusnya ia seperti ini di depan Fathan dan suster Pipit. Dengan berdehem Akbar mengambil kertas pemeriksaannya dulu.


"Coba kamu lihat. Ini tadi saya bawa untuk kamu teliti ulang," ucap Akbar memberikan kertas yang memang sejak dulu ia simpan rapih. Hasil pemeriksaan dirinya yang di vonis tidak bisa memiliki anak.


Fathan mengambilnya dan membacanya dengan serius. "Ada yang tidak beres! Surat ini palsu!" ucap Fathan yang membuat Akbar melotot.


"P-palsu? Bagaimana bisa? Ini adalah hasil pemeriksaan dari dokter kandungan keluarga mantan istri saya! Tidak mungkin mereka membohongi saya!" ucap Akbar dengan terkejut.


Fathan menghela napasnya. Ternyata Akbar tidak sepintar yang ia kira. "Kalau tidak percaya ayo ikut saya ke ruang pemeriksaan," ucap Fathan dengan tegas.


"Fiona bagaimana? Saya gak mau meninggalkan Fio sendirian!" ucap Akbar dengan tegas dan takut jika terjadi sesuatu dengan istri dan ketiga anaknya, sepertinya keposesifan pria itu itu semakin mencuat.


"Sus, tolong jaga adik saya ya! Awas jangan sampai kenapa-napa, suaminya galak kamu bisa mati nanti," ucap Fathan.


"B-baik, Dok!" ucap suster Pipit dengan terbata.


"Fio mau melihat kak Tiara boleh? Fio mau suruh dia bangun," ucap Fiona yang membuat Akbar dan Fathan saling memandang. Ya, sampai saat ini Tiara masih belum sadarkan diri, entah kapan wanita itu akan bangun yang jelas mereka hanya bisa berdoa jika Tiara akan membuka matanya dalam waktu dekat ini seperti harapan mereka sebelumnya.


"Boleh, tapi jangan terlalu lama di dalam ruangan Tiara ya!" ucap Fathan kepada adiknya.


"Kenapa?" tanya Fiona dengan bingung.


"Sekarang pikirkan juga kesehatan ketiga anak kamu di dalam sana!" ujar Fathan dengan tegas karena ia tidak mau Fiona bersikap ceroboh yang akan membahayakan adik dan calon ketiga keponakannya.


Fiona mengerjapkan matanya lalu mengangguk patuh yang membuat Akbar gemas dan kembali mencium bibir Fiona.

__ADS_1


"Mas suami nanti bibir Fio habis!" rengek Fiona yang membuat Akbar terkekeh.


"Gak bakala..."


"Ya udah ayo! Jangan bermesraan mulu!" ucap Fathan mencela ucapan Akbar. Fathan kesal tentu saja, ia juga ingin bermesraan dengan Tri dan bertemu dengan kedua anak kembarnya yang baru sehari lahir namun harus ia tinggal demi memeriksa adiknya.


"Dahhh Mas suami! Fio tunggu di sini ya!" ucap Fiona dengan melambaikan tangannya padahal Akbar hanya melakukan serangkaian pemeriksaan dari Fathan.


****


"Gimana?" tanya Akbar tak sabaran saat hasil pemeriksaan sudah keluar.


Fathan masih diam membaca hasil pemeriksaan Akbar yang baru. "Seperti yang saya katakan tadi. Surat tadi palsu! Ini kamu bisa lihat sendiri! Semuanya baik, sp*rma yang kamu hasilkan juga baik tidak ada ciri-ciri kemandulan di sini," ucap Fathan dengan tegas.


Akbar membaca surat tersebut. Tangannya terkepal dengan sangat erat setelah mengetahui yang sebenarnya.


"Aurelll!" geram Akbar yang merasa dibodohi oleh mantan istri sekaligus sahabatnya sampai sekarang.


"Yaps...Bisa saja surat hasil pemeriksaan itu di palsukan oleh mantan istri kamu!" ucap Fathan dengan datar.


"Saya tidak menyangka. Apa motif Aurel memalsukan hasil pemeriksaan saya? Benar-benar tidak bisa dibiarkan!" geram Akbar dengan mata berkilat marah.


Fathan mengedikkan kedua bahunya pertanda ia juga tidak tahu permasalahan antara Akbar dengan mantan istrinya sampai Aurel bisa memalsukan hasil pemeriksaan Akbar.


"Kurang aj*r! Kali ini saya tidak akan memaafkan kamu Aurel!" umpat Akbar dengan dingin.


"Permasalahan kamu dengan Aurel jangan sampai melibatkan Fiona! Sangat bahaya untuk Fiona saat dia sedang hamil muda sekarang," ucap Fathan.


"Kamu tenang saja ini urusan saya dengan Aurel. Saya akan menjaga Fiona semampu yang saya bisa apalagi saat ini ketiga anak saya berada di rahim Fiona!" ucap Akbar dengan tegas.


"Saya hanya akan memberikan pelajaran kepada Aurel karena selama ini saya sudah dibohongi mentah-mentah hingga saya tampak sangat bodoh dalam hal ini. Bisa-bisanya saya percaya dengan hasil pemeriksaan itu!" ucap Akbar dengan dingin setelah itu tatapan penuh amarah sangat terlihat jelas di wajah Akbar.


Apa maksud Aurel memalsukan data hasil pemeriksaannya? Wanita itu tidak tahukah jika selama ini ia tersiksa dengan surat palsu itu?

__ADS_1


__ADS_2