Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 113 (Kesibukan di Pagi Hari)


__ADS_3

...Jangan lupa ramaikan part ini ya...


...Happy reading...


****


Tri meletakkan kedua anaknya di troli setelah keduanya diberikan asi. Nevan tampak tenang tanpa ekspresi sedangkan Nessa mulai mengoceh dan menarik mainannya yang ada di depannya.


Sedangkan Cika dan Fathan menunggu sarapannya siap di meja makan. Fathan sengaja tak menggendong anaknya karena di saat ia menggendong keduanya maka ketika diletakkan kembali keduanya akan menangis dan meminta Fathan untuk menggendongnya lagi.


Nessa tampak merengek setelah melihat wajah papanya yang sedang memangku Cika. Setelahnya bayi 6 bulan itu menangis karena merasa cemburu kepada kakaknya yang telah digendong papa mereka.


Cika tampak cekikikan saat melihat adiknya menangis karena ia tahu adiknya ingin papanya segera mengambil Nessa di dalam troli.


"Turun dulu, Kak! Adek mau digendong Papa sebentar," ujar Fathan dengan lembut kepada anaknya.


Cika menurut, ia turun dari pangkuan Fathan dan langsung duduk sendiri di kursinya. Fathan langsung menggendong Nessa yang menangis, anaknya itu langsung diam ketika Fathan sudah menggendongnya sedangkan Nevan hanya diam melihat adiknya di gendong oleh papanya.


"Papa mau sarapan dulu Nessa!" ujar Tri yang baru saja datang dari dapur dan mendengar anaknya menangis. Tri sudah paham bagaimana Nessa sangat dekat dengan Fathan bahkan Nessa selalu ingin di gendong Fathan dari pada dirinya, padahal setiap hari Nessa selalu bersama dirinya ketika Fathan bekerja.


"Ta...tata..." teriak Nessa merasa tidak terima jika mamanya ingin menggendongnya bahkan tangan kecilnya sudah berpegangan kemeja Fathan.


Fathan terkekeh dan mencium pipi gembul anaknya. "Gak apa-apa, Sayang. Kamu bisa suapi Mas," ujar Fathan yang memang selalu memanjakan anaknya.


Tri hanya bisa menghela napasnya dengan pelan. "Untung Nevan anteng-anteng aja kalau minta gendong Mas semua bisa repot," ujar Tri.


Fathan tertawa dan mendorong troli Nevan agar dekat dengannya. "Sebagai kakak, Nevan tahu mengalah, Ma!" sahut Fathan dengan lembut.


"Usia mereka udah memasuki 6 bulan kamu bisa kasih makanan yang sehat untuk kedua anak kita. Mas sudah suruh bi Sumi beli sayuran," ujar Fathan yang mulai duduk di kursinya kembali.


"Iya, Mas. Tadi aku udah lihat sayurannya segar-segar. Nanti aku buatkan untuk mereka," sahut Tri dengan tersenyum.


tangan Nessa mulai aktif mengambil sesuatu termasuk piring kakaknya.

__ADS_1


"Mama, piring kakak mau diambil adek!" adu Cika dengan cepat mengamankan piringnya agar tidak di tarik dan berakhir jatuh di lantai.


Fathan dengan cepat menarik tangan Nessa dengan perlahan dan memberikan buah apel yang sudah ia hancurkan menggunakan sendok ke dalam mulut Nessa.


"Adek jangan ambil piring kakak ya. Kakak mau makan setelah itu berangkat sekolah," ucap Tri.


"Gak apa-apa Nessa di kasih buah, Mas?" tanya Tri dengan khawatir.


"Gak apa-apa. Ini sehat untuk Nessa dan Nevan, biar keduanya mencoba rasa," sahut Fathan.


"Lihat ekspresi Nessa saat makan buah apel untuk pertama kalinya. Lucu, kan?" ucap Fathan dengan terkekeh.


Fathan juga memberikan buah apel yang sudah ia hancurkan kepada Nevan. Keduanya tampak ketagihan, apalagi Nessa yang tak sabar dengan menarik tangan papanya.


"aaaaa..." teriak Nessa tak sabaran yang membuat Fathan, Tri, dan Cika tertawa.


"Sabar, Sayang. Ini lagi Papa haluskan buat kamu bisa makan," ucap Fathan dengan lembut.


"Makan dulu, Mas. Hari ini jadwal Fiona operasi, kan? Jangan sampai kamu telat ya, Mas. Adek kita mau melahirkan," ujar Tri dengan tegas.


"Jam 10 Fiona di operasi. masih ada waktu Mas di rumah untuk sarapan dan mengantarkan Cika ke sekolah," ujar Fathan.


"Duduk, Ma!" ucap Fathan yang merasa kasihan dengan istrinya.


Tri duduk di sebelahnya dengan memberikan asi untuk Nevan. Sedangkan Nessa masih asyik dengan buah apelnya.


Akhirnya Fathan menyuapi Tri dan Nessa secara bergantian serta sarapan dirinya sendiri. "Cari baby sitter, ya? Mas gak tega kamu mengasuh keriga anak kita sendirian," ujar Fathan dengan serius.


Tri terdiam. Memang tubuhnya sudah mulai lelah karena keaktifan anak kembarnya yang mulai bisa merangkak, saat ini aja Tri sudah merasa kurang enak badan tetapi sama sekali tidak ia bawa rasa agar Fathan semakin tidak mengkhawatirkan dirinya.


"Nanti bisa bahasnya, Mas? Makan dulu. Cika juga nanti terlambat," ujar Tri dengan pelan.


"Nanti malam kita bahas ini dengan serius. Mas harap gak ada penolakan lagi dari kamu," ujar Fathan dengan tegas.

__ADS_1


Tri hanya diam tak menyahut perkataan suaminya karena ia masih kurang yakin untuk mempekerjakan baby sitter.


Ketiganya sudah selesai makan. kini, tinggal drama Nessa yang tak mau di turunkan dari gendongan Fathan.


"uwaaa.....uwaaa!" Nessa merengek dan menangis dengan kencang yang membuat Fathan tidak tega.


Cup...


"Papa kerja dulu, Sayang. Nanti main sama Papa lagi ya," ucap Fathan mengecup kening anaknya dengan lembut.


Nessa memberontak di gendongan Tri yang membuat Tri sedikit kewalahan karena memang keadaannya yang kurang fit pagi ini.


"Nessa ayo kita lihat ikan di kolam. Ikannya kita kasih makan yuk," bujuk Tri agar anaknya berhenti menangis karena tak mau di tinggalkan papanya.


Cup...


Cup...


"Mas berangkat ya! Jaga kesehatan kamu, Sayang. Mas lihat pagi ini kamu pucat," ujar Fathan dengan lembut.


Tri mengangguk dengan pelan. posisinya sedikit membelakangi Fathan agar Nessa tidak mengetahui kepergian papanya. Sedangkan Nevan sudah tertidur kembali, anak lelaki itu memang terlihat lebih tenang dari adiknya.


"Kak, ayo berangkat!" ujar Fathan kepada Cika.


"Iya, Pa!" ujar Cika dengan cepat.


"Ma, Cika berangkat ya!" ujar Cika dengan lembut.


"Iya, Sayang. Bekalnya udah Mama taruh di tas ya jangan lupa di makan," ujar Tri yang masih menenangkan Nessa.


"Iya, Ma!"


"Pa, tasnya ada di sofa ya," ucap Tri dengan pelan agar tidak terdengar Nessa.

__ADS_1


Fathan mengangguk. Sekali lagi ia mencuri ciuman di pipi kiri Tri dan bergantian dengan Nevan sedangkan Nessa, Fathan tak berani menganggu anaknya lagi. Takut Tri mengamuk karena Nessa ingin ikut dengannya jika Fathan masih memperlihatkan diri di depan Nessa.


Ternyata seribet ini mempunyai anak tetapi walaupun begitu Fathan dan Tri sangat bahagia dan menikmati masa-masa menjadi orang tua dari anak-anak yang masih kecil.


__ADS_2