
...Jangan lupa ramaikan partai ini ya...
...Happy reading...
***
Kurang lebih 4 jam operasi Delisha dilakukan dan operasi berjalan dengan lancar. Saat ini Delisha sudah dipindahkan di ruang ICU untuk memulihkan keadaannya, setelah dinyatakan semua kondisinya baik maka Delisha akan langsung dipindahkan di ruang perawatan.
Setelah Akbar dan Fiona masuk serta ketiga kakak kembarnya maka kini giliran Ikbal yang masuk. Zayyen hanya bisa menelan kekesalannya seorang diri karena Akbar maupun yang lainnya sangat melarang dirinya untuk masuk, bahkan mereka dengan mudahnya mengizinkan Ikbal masuk menemui Delisha. Padahal Zayyen adalah pacar Delisha sampai sekarang mereka belum putus walau keluarga Delisha sangat mengharapkan ia dan Delisha putus. Tentu saja itu membuat kemarahan Zayyen untuk Ikbal semakin kuat.
Di sinilah Ikbal sekarang, duduk di kursi di samping brankar Delisha. Dengan perlahan Ikbal mengambil tangan Delisha lembut.
"Kakak sayang sama kamu, Delisha! Bisa kan kamu bertahan untuk Kakak? Maaf Kakak terlambat mengetahui kondisi kamu. Seandainya Kakak yang menjemput kamu maka kamu tidak akan terbaring dengan keadaan yang seperti ini," gumam Ikbal dengan sendu.
"Dua wanita kesayangan Kakak masuk rumah sakit dan Kakak merasa sedih akan hal itu. Bangun ya, Sayang! Kakak dan kedua anak kita menunggu kamu," Ikbal terus mengajak Delisha berbicara tak peduli jika Delisha tak mendengar suaranya.
Tes...
Air mata Ikbal menjatuhi tangan Delisha. Ini kedua kalinya Ikbal menangis karena dua orang gadis yang sama-sama berarti untuk hidupnya.
Ikbal menyeka air matanya dengan perlahan, ia merasakan tangan Delisha menggenggam tangannya walau hanya pelan.
"Hei, kenapa nangis?" tanya Ikbal dengan pelan saat melihat Delisha mengeluarkan air matanya dengan mata yang masih terpejam.
Sepertinya Delisha merasakan jika dirinya menangis hingga gadis itu pun ikut menangis. "Kakak udah gak nangis, Sayang! Boleh kan Kakak panggil kamu dengan sebutan Sayang?" gumam Ikbal dengan lembut.
Ikbal berdiri dengan perlahan, ia mendekatkan bibirnya ke kening Delisha.
Cup...
Ikbal mengecup kening Delisha dengan penuh penghayatan bahkan terkesan lama karena ia sangat menyayangi Delisha.
__ADS_1
"Cepat sembuh, Sayang! Semua sayang Delisha!" gumam Ikbal berbisik di telinga Delisha setelah mencium kening Delisha dengan sangat lama.
"Kakak keluar dulu ya! Mama juga sakit jadi Kakak harus ke jaga mama nanti Kakak kembali lagi jenguk Delisha," ujar Ikbal dengan pelan.
"I love you!"
Cup...
Akhirnya tiga kata itu keluar dari mulut Ikbal, pria yang terdengar sangat dingin ke semua orang iitu akhirnya meleleh juga dengan gadis polos dan cantik seperti Delisha.
Ikbal keluar meninggalkan Delisha seorang diri di sana. Dengan perasaan lega karena ia sudah mengungkapkan perasaannya terhadap Delisha walau gadis itu tak mendengar bahkan melihat dirinya, biarlah begini saja dulu sebelum waktunya tiba maka saat itu Ikbal akan menyatakan perasaannya secara terang-terangan kepada Delisha.
****
Zevana mengobati luka lebam yang berada di sudut bibir Haidar. Gadis itu memang berada bersama dengan Haidar bahkan mengobati pria itu tetapi pikirannya berkelana entah kemana, hatinya masih saja sakit mendengar pengakuan Haidar yang mencintai Delisha bukan dirinya.
"Zeva, lo kenapa sih? Luka gue di sudut bibir bukan di mata!" ujar Haidar dengan kesal.
Haidar berdecak kesal saat adik dari sahabatnya ini melamun. Zevana berniat mengobatinya atau tidak sih?
"Aww... Sakit!" ujar Haidar dengan meringis.
Sedangkan Zevana melihat ke arah Haidar lalu gadis itu merasa bersalah kepada Haidar yang terlihat kesakitan.
"M-maaf, Kak! Zeva gak sengaja!" ujar Zevana merasa bersalah.
"Lo mau obatin gue atau mau melamun sih? Lama-lama gue kesal sama lo!" ujar Haidar dengan jujur.
"Maaf, Kak!" gumam Zevana dengan pelan.
Haidar hanya berdecak dengan kesal. Jika Zevana bukan adik sahabatnya mungkin Haidar sudah mengusir Zevana dari ruangannya. Lama-lama Haidar merasa risih dengan Zevana yang seperti ini. Ada apa dengan Zevana? Gadis itu tidak kesurupan kan? Kenapa Zevana sangat menjadi perhatian kepada dirinya seperti gadis yang telah menyukai lelaki? Tak mungkin kan Zevana menyukai dirinya? Lagi pula Zevana bukanlah tipenya. Haidar menyukai gadis seperti Delisha bukan Zevana!
__ADS_1
"Lo bisa keluar dari ruangan gue gak? Gue mau istirahat!" ujar Haidar yang berusaha untuk mengusir Zevana dengan halus.
Zevana menatap Haidar, ia memaksakan senyumannya kepada lelaki yang diam-diam ia cintai tersebut.
"Iya, Kak. Maaf kalau Zevana menganggu istirahat Kakak!" ucap Zevana dengan memaksakan senyumannya.
Haidar mengangguk. Ia memejamkan matanya dengan cepat saat Zevana belum sepenuhnya keluar dari ruangannya.
Zevana menghela napasnya dengan perlahan untuk menghalau rasa sesak yang menghimpit dadanya.
"Sampai kapan Zeva memendam perasaan ini Ya Tuhan? Jika kenyataannya kak Haidar tidak mencintai Zeva dan mencintai Delisha. Satu fakta ini membuat Zevana sudah sangat lelah," gumam Zevana dengan sendu.
Zevana keluar dari ruangan Haidar, ia sedikit terkejut dengan kakaknya yang berada di depan pintu. "K-kakak kenapa ada di sini?" tanya Zevana berusaha baik-baik saja di depan Zayyen yang terlihat kacau.
"Mau bertemu dengan Haidar!" ujar Zayyen berusaha tersenyum kepada adiknya.
Zevana menggelengkan kepalanya. "Sebaiknya besok saja, Kak! Kak Haidar sudah mendapatkan banyak pukulan dari orang-orang. Zeva tidak tega melihatnya apalagi tangannya sampai retak karena injakan kak Danish," ujar Zevana dengan jujur.
"Kamu jangan menghalangi Kakak, Zeva!" ujar Zayyen dengan dingin.
"Kak, Zeva mohon! Apa Kakak gak kasihan dengan kak Haidar? Dia begini juga karena Kakak! Coba kalau Kakak tidak lupa menjemput Delisha pasti semua ini tidak akan terjadi! Delisha gak akan operasi! Kak Haidar gak akan dihajar oleh keluarga Delisha begitu pun dengan Kakak! Jangan pikir Zeva gak tahu kalau Kakak menyukai kak Cika! Kakak menjadikan Delisha sebagai pelampiasan agar bisa melupakan kak Cika, kan? Kakak jahat tahu gak!" ujar Zevana dengan menggebu-gebu yang membuat Zayyen terdiam.
"Zeva..."
"Kenapa sih Kakak jahat banget? Apa ini alasan kak Zayden sangat membenci Kakak? Kalau gitu juga Zeva benci sama Kakak! Kakak gak bisa menghargai perasaan orang lain! Zeva cinta kak Haidar tapi dia cinta sama Delisha dan kakak memberikan peluang untuk kak Haidar mendekati Delisha! Zeva benci sama Kakak!" ujar Zevana dengan menangis.
"Dek!" Zayyen memeluk adiknya yang menangis, ia tidak tahu jika Zevana mencintai sahabatnya pantas saja perlakuan Zevana ke Haidar sangat berbeda. Jadi, ini alasannya?
"Hiks... Kenapa Kakak memberikan peluang untuk kak Haidar mendekati Delisha? Kak Zayyen pacar Delisha seharusnya Kakak tidak membiarkan itu terjadi! Biarkan kak Zayden bersama dengan kak Cika! Zevana juga ingin bersama dengan kak Haidar! Cepat atau lambat Kakak pasti bisa mencintai Delisha!" ujar Zevana dengan menangis.
Zayyen terdiam. Haruskah ia bertahan dengan Delisha demi Zevana dan semua orang agar bahagia? Haruskah Zayyen mengobarkan dirinya?
__ADS_1
"Kakak gak akan lepaskan Delisha jika kamu takut Haidar mendekati Delisha! Jangan nangis lagi ya!" ujar Zayyen.
Zevana mendongak menatap wajah Kakaknya. "Kakak udah janji dengan Zeva hari ini! Jangan pernah lepaskan Delisha karena Zeva takut kak Haidar mendekati Delisha! Zeva juga ingin bahagia," gumam Zevana yang tak sadar jika dirinya sangat egois agar Haidar bisa menjadi miliknya.