Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 229 (Permohonan Haidar)


__ADS_3

...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


***


"Dok, lepas! Anda tidak berhak memeluk saya seperti ini!" ujar Zevana mencoba melepaskan pelukan Haidar yang sangat erat kepada dirinya.


"Lepaskan Mama!" ujar Raiden dengan dingin.


Haider menatap anaknya. "Raiden, ini Papa, Nak!" ujar Haidar dengan sendu.


"Dokter jangan seperti ini! Anak saya punya ayah dan itu bukan anda!" ujar Zevana menggendong anaknya.


"Maaf, Kak! Aku terpaksa melakukan ini karena tidak mau kamu tersiksa lagi jika aku mengakui semuanya!" batin Zevana tersiksa.


"Ayo Sayang kita pulang!" ujar Zevana dengan tenang.


Haidar dengan panik mencegah kepergian Zevana. "Kalau kamu memang melupakan aku kenapa nama Raiden ada nama aku di belakang namanya? Kamu gak bisa membohongi aku, Zeva!" ujar Haidar dengan tegas.


"Terserah Dokter mau mengatakan apa yang jelas ini pertama kalinya saya bertemu dengan anda. Mungkin saya mirip dengan kekasih atsu istri anda," ujar Zevana dengan tenang agsr Haidar tidak semakin curiga dan menahan dirinya lebih lama lagi di sini. Zevana tidak ingin mengemis cinta di hadapan Haidar lagi.


"Zeva, aku mohon sebentar saja! Aku mau berbicara dengan kamu," mohon Haidar dengan sendu.


"Maaf, Dok. Sekali lagi saya tegaskan kita tidak saling mengenal. Kalau Dokter tidak ingin memberikan resep obat untuk anak saya tidak apa-apa, saya bisa beli sendiri. Saya permisi!" ujar Zevana dengan tenang.


Zevana menggendong Raiden dengan cepat. Raiden menatap papanya dengan tatapan yang begitu dalam begitu pun dengan Haidar, ikatan keduanya tidak bisa dibohongi.


"Zeva, please kita harus bicara terlebih dahulu! Setelah itu kalau kamu mau pergi silahkan!" ujar Haidar dengan terus memohon yang membuat Zevana tidak mengubris ucapan Haidar. Zevana tetap harus pada pendiriannya sekarang, ia tidak ingin goyah.


"Zeva, aku yakin kamu sengaja berpura-pura tidak mengenalku. Dan Raiden, dia adalah anakku karena wajahnya bahkan sangat mirip denganku. Ikatan darah tidak bisa di bohongi Zevana!" ujar Haidar dengan memelas.


"Zevana! Tolong berhenti! Kita bicara semua ini baik-baik ya," ujar Haidar tak mau mengalah.


Sudah lama Haidar tidak bertemu dengan Zevana dan rasa rindunya ketika menatap Zevana tidak bisa ia bendung lagi apalagi sekarang Zevana berubah menjadi wanita yang sangat cantik sekali. Haidar tidak akan melepaskan Zevana begitu saja, mungkin kali ini dirinya di tolak mengingat perlakukan kasarnya dulu pada Zevana. Namun, kali ini Haidar tidak akan melepaskan Zevana, Haidar harus mendapatkan maaf dari Zevana.


"Raiden, ini Papa, Nak. Kamu mengenal Papa kan, Sayang?" ujar Haidar dengan sendu.


Raiden hanya bungkam menatap wajah papanya. Ia ingin sekali memeluk papanya tetapi Raiden tidak mau membuat mamanya bersedih bahkan Raiden tahu sejak tadi mamanya sedang menahan tangis. Tapi mengapa mamanya harus berbohong mengatakan tidak mengenal papanya padahal di mata mamanya masih ada cinta yang begitu besar untuk papanya.

__ADS_1


"Oke... Jika kamu hari ini tidak mau berbicara dengan Kakak. Kakak akan terus mengejar kamu sampai kamu mau berbicara dengan Kakak lagi. Kakak tahu kesalahan Kakak banyak, Zeva. Hari ini Kakak tidak akan menahan kamu lagi tapi mulai saat ini kamu tidak bisa lepas dari Kakak," ujar Haidar dengan tegas.


"Dokter gila!" gumam Zevana yang masih bisa di dengan oleh Haidar sampai Haidar tersenyum tipis.


"Ya Kakak gila. Gila karena kepergianmu!" ujar Haidar yang membuat jantung Zevana berdetak dengan kencang.


Haidar tidak peduli jika Zevana mengatakan jika wanita itu sudah mempunyai suami. Yang jelas suami sahnya adalah dirinya bukan orang lain karena selama ini Haidar tidak menandatangani surat perceraian yang Zevana tinggalkan untuknya.


"ZEVANA SATU YANG HARUS KAMU TAHU JIKA KAKAK SAMPAI SEKARANG MASIH MENJADI SUAMI KAMU. JADI, JIKA KAMU SUDAH MENIKAH DENGAN LELAKI LAIN PERNIKAHAN KALIAN TIDAK SAH!" teriak Haidar saat Zevana semakin menjauh dan memasuki Taxi.


Deg...


Zevana melihat ke arah Haidar dengan sekilas. Rasanya Zevana ingin percaya dengan ucapan Haidar saat ini. Namun, logikanya berkata jika itu tidak mungkin mengingat dulu Haidar sangat ingin berpisah dengan dirinya sesudah lelaki itu puas menyiksa batin dan fisiknya.


"Haruskah aku percaya, Kak?"


****


"Loh, kaki Raiden kenapa?" tanya Tiara dengan panik.


"Jatuh dari ayunan, Ma" sahut Zevana dengan pelan.


"Gak, Nek! Ini cuma luka sedikit tapi Mama yang nangis," jawab Raiden yang membuat Tiara menatap Zevana.


"Aku gak mau Raiden terluka, Ma!" ucap Zevana dengan lirih.


"Ya sudah kalian istirahat dulu ya. Nanti Mama bangunin kalau makan siang sudah siap," ujar Tiara dengan lembut.


"Raiden mau sama Kakek!" ujar Raiden sast melihat kakeknya juga pulang ke rumah untuk makan siang.


"Uhhh... Cucu Kakek ternyata sudah berat. Ini kenapa kakinya hmm?" tanya Zidan dengan pelan.


"Hanya lecet sedikit, Kek!" jawab Raiden.


"Jagoan Kakek harus kuat," ujar Zidan yang diangguki oleh Raiden.


"Zevana istirahat sebentar ya!" ujar Zevana yang diangguki papa dan mamanya.


Ketiganya melihat kepergian Zevana ke kamar dengan perasaan yang berbeda-beda.

__ADS_1


"Raiden, ada apa dengan mama kamu? Kenapa wajahnya tidak seceria tadi?" tanya Zidan dengan penasaran.


"Mama dan Raiden bertemu papa di rumah sakit. Tapi mama malah berbohong mengatakan jika mama tidak mengenal papa. Padahal papa sudah memohon ingin berbicara dengan mama, Kek! Raiden tidak berani memeluk papa karena Raiden takut mengecewakan mama," ujar Raiden yang membuat Tiara dan Zidan langsung paham dengan perubahan anaknya tadi.


"Mungkin mama butuh waktu untuk bisa berbicara dengan papa. Sekarang Raiden gak usah memikirkan itu ya, jangan ganggu mama dulu biarkan mama menenangkan hatinya dulu," ujar Tiara dengan lembut yang diangguki oleh Raiden.


"Kakinya benar tidak sakit?" tanya Zidan dengan pelan.


"Enggak, Kek. Papa sudah mengobatinya tapi mama tidak menebus obat karena mama sama papa sibuk berdebat sejak di rumah sakit," ucap Raiden.


"Nanti Kakek ambilkan obat ya!" ujar Zidan dengan tersenyum.


"Iya, Kek!"


***


"Mama!"


"Papa!"


Haidar berteriak memasuki rumah kedua orang tuanya, lelaki itu terlihat tak sabaran sekali.


"Ada apa? Kenapa pulang-pulang langsung berteriak seperti itu Haidar? Papa kamu belum pulang!" tanya Diana dengan bingung.


"A-aku sudah menemukan Zevana, Ma. Tadi dia membawa anak kecil yang sedang terluka ke rumah sakit dan aku yakin itu anakku, Ma!" ujar Haidar dengan sendu.


"Yang benar? Kamu yakin itu Zevana dan anak kalian?" tanya Diana dengan mata berbinar dan juga terharu karena pada akhirnya Haidar bisa bertemu dengan Zevana setelah 5 tahun lamanya sang anak di hantui oleh rasa bersalah dan penyesalan yang sangat mendalam karena telah melukai Zevana dan membuat wanita itu pergi dari apartemen Haidar dalam keadaan mengandung.


"Iya, Ma. Aku yakin dia anakku. Namanya Raiden Erlangga, Ma! Tapi saat kami bertemu tadi Zevana berpura-pura tidak mengenaliku, Ma. Tapi aku gak akan lepasin dia kali ini, Ma!" ujar Haidar dengan mata berkaca-kaca.


"Hiks..hikss...istri dan anak Haidar kembali, Ma! Mereka sudah kembali," ucap Haidar dengan menangis memeluk mamanya yang juga ikut menangis.


"Haidar gak akan melepaskan Zevana, Ma. Haidar sadar Haidar butuh Zevana! H-haidar cinta sama Zeva, Ma!"


Akhirnya kata cinta terucap di bibir Haidar untuk Zevana. Kata yang Zevana sangat inginkan sejak dulu.


***


📌Next mau part siapa lagi? Komen di sini ya!

__ADS_1


__ADS_2