Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 265 (Mencoba Menerima)


__ADS_3

...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya....


...📌 Jangan lupa dukung cerita terbaru author juga ya....



...*...


...*...


...Happy reading...


***


Tak terasa hari berlalu begitu sangat cepat, pernikahan Zayyen dengan Anggun akan di gelar hari ini. Tampak senyum Anggun terlihat menawan tetapi berbeda dengan Zayyen yang terlihat tersenyum paksa, tetapi Zayyen ikhlas dengan pernikahannya. Ada rasa yang tidak bisa dijabarkan oleh Zayyen karena memang ia tidak mencintai Anggun, sampai saat ini hatinya hanya untuk Delisha.


Saat Zayyen mengirim undangan untuk Delisha, Zayyen tak berharap jika wanita itu akan datang. Bagaimanapun sakit hati yang ia toreh begitu besar, Zayyen tahu Delisha masih sangat membencinya sampai saat ini. Terbukti jika ada acara keluarga Delisha hanya diam jika ada dirinya. Padahal Zayyen sangat merindukan Delisha, mendengar suara Delisha untuk mengobati rasa rindunya juga tak apa.


Ijab kabul sudah dilakukan tadi pagi, malam ini adalah resepsi pernikahan Zayyen dan Anggun. Banyak tamu yang datang di acara pernikahan mereka, termasuk keluarga Fathan tetapi tidak dengan keluarga Akbar, semua tak ada yang datang bukan karena masih dendam tetapi mereka sibuk dengan pekerjaan mereka, terlebih Dareel yang memang jarang berada di rumah.


Zayyen menatap sekeliling gedung di mana acara resepsi pernikahan mereka diadakan, ia mencari seseorang yang sangat Zayyen harapkan kehadirannya. Tetapi sejak tadi matanya menyusuri gedung ini tidak ada sama sekali seseorang tersebut.


Zayyen menghela napasnya dengan pelan, seharusnya ia tahu Delisha tidak akan datang. Kenapa ia masih berharap kehadiran Delisha?


Anggun melihat ke arah Zayyen yang sekarang sudah menjadi suaminya, sejak tadi suaminya ini terlihat gelisah seakan mencari sesuatu? Apakah Zayyen mencari kehadiran Delisha yang tak ada di sini?


"Mas!" panggil Anggun dengan pelan.


Ya, sejak mereka sudah bertunangan Anggun mengubah panggilan Zayyen dari abang menjadi mas. Menurutnya beda saja karena keduanya bukan lagi kakak dan adik angkat melainkan pasangan suami istri.


"Mas Zayyen, mencari siapa?" tanya Anggun dengan lembut.


Zayyen tersentak dan akhirnya menatap Anggun yang sekarang menjadi istrinya. Zayyen tak menyangka jika takdir kehidupannya seperti ini, ternyata Delisha bukanlah jodohnya. Seandainya dulu ia berbuat baik dan tak menyakiti hati Delisha apakah mereka berjodoh?


Zayyen menghela napasnya dengan berat. "Tidak mencari siapa pun!" jawab Zayyen sekenanya.


"Mas mencari keberadaan Delisha ya?" tanya Anggun dengan pelan.


"Tidak!" jawab Zayyen dengan singkat namun terkesan datar.

__ADS_1


"Mata kamu gak bisa bohong, Mas!" ujar Anggun dengan tegas walaupun hatinya merasakan sakit.


Zayyen tersenyum tipis. "Iya. Aku berharap dia datang. Namun, rasanya tidak mungkin!" jawab Zayyen pada akhirnya dengan jujur.


"K-kenapa kamu masih mengharapkan dia datang, Mas?" tanya Anggun dengan lirih.


"Jika aku mengatakan aku rindu pada Delisha hati kamu sakit gak?" tanya Zayyen dengan sorot mata yang sama sekali tidak bisa ditebak oleh Anggun.


Anggun tersenyum kecut. "Walaupun sakit tapi aku menerimanya, Mas! Karena aku sudah berjanji kepada diriku sendiri dan kepada kamu!" ujar Anggun dengan lirih.


Zayyen hanya terdiam menatap Anggun. Angin baik, sangat baik malah. Tapi hatinya tidak bisa mencintai Anggun sama sekali.


Setelah itu keduanya saling terdiam dengan pikiran masing-masing, entah apa yang mereka pikirkan yang jelas terasa berat bagi keduanya.


Zayden dan Cika naik ke atas pelaminan dengan membawa dua buah kado. Anggun menepuk paha Zayyen dengan perlahan yang membuat lelaki itu berdiri.


"Selamat pengantin baru!" ujar Cika dengan tersenyum.


"Selamat ya kak Anggun dan Kak Zayyen! Semoga pernikahannya awet sampai maut memisahkan," ujar Cika dengan tulus.


"Aamiin! terima kasih ya, Cika!" jawab Anggun dengan tersenyum.


"Selamat, Kak!" ucap Zayden memeluk kembarannya.


"Terima kasih!" gumam Zayyen dengan tersenyum.


"Oo iya... Ini ada kado dari Delisha dan Ikbal! Mereka berdua menitipkan kado ini kepada kami tadi. Delisha sedang hamil jadi kondisinya kurang fit untuk berpergian," ujar Cika yang membuat senyum Zayyen langsung memudar karena Delisha benar-benar tidak datang.


"Delisha menitipkan salam juga dan mengatakan semoga pernikahan kalian bahagia," ujar Cika dengan pelan tetapi berhasil membuat wajah Zayyen berubah, entah mengapa hatinya sakit mendengar ucapan Delisha walaupun Cika yang memberitahunya.


"Katakan pada Delisha terima kasih kado dan ucapannya. Semoga lain kali aku bisa bertemu dengannya," ujar Anggun dengan tersenyum manis tak ada yang tahu senyuman itu sangat menyakitkan hanya Zayyen lah yang tahu tapi ini sudah mereka bicarakan dan Anggun menerimanya karena cinta tidak bisa dipaksa.


****


Acara pernikahan Zayyen dan Anggun sudah selesai. Anggun tampak bahagia begitupun dengan mertua dan kedua orang tua angkatnya, melihat senyuman mereka tadi membuat Anggun yakin pernikahan ini adalah hal yang terbaik, ia sudah menyiapkan mental bagaimana nanti Zayyen bersikap dengannya, yang jelas Zayyen pasti tidak akan melukai fisiknya namun hatinya lah yang pasti akan tersakiti karena sikap dingin suaminya.


"Aku mandi dulu!" ujar Zayyen dengan pelan saat mereka sudah sampai di hotel.


"Iya, Mas!" sahut Anggun dengan tersenyum.

__ADS_1


"Ini handuknya, Mas!" ucap Anggun memberikan handuk berwarna putih kepada Zayyen.


"Makasih," ucap Zayyen dengan tersenyum tipis.


"Sama-sama, Mas!"


Anggun menatap punggung Zayyen yang masuk ke dalam kamar mandi. Ia menghela napasnya dengan pelan, lalu duduk di pinggir ranjang sambil memainkan ponselnya, lalu menatap kado pemberian Delisha yang entah mengapa mereka bawa ke hotel.


Anggun bediri dari duduknya dan berjalan mengambil kado tersebut. Sesak yang menghimpit dadanya Anggun biarkan begitu saja, Apakah ia membukanya sekarang atau menunggu Zayyen keluar dari kamar mandi? Akhirnya Anggun memutuskan untuk menunggu Zayyen keluar dari kamar mandi barulah mereka akan membuka kado bersama yang dari Delisha.


Sebenarnya Anggun merasa deg-degan karena malam ini adalah malam pertama mereka. Ia takut tidak bisa melayani Zayyen dengan baik yang membuat Anggun sangat terlihat gugup sekarang.


Setelah 15 menit berlalu akhirnya Zayyen keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah lengkap.


"Kamu gak mandi?" tanya Zayyen dengan mengeringkan rambutnya memakai handuk kecil.


"Sebentar lagi, Mas. Aku penasaran dengan kado yang diberikan Delisha," ujar Anggun dengan jujur yang membuat Zayyen terdiam dan ikut duduk di samping Anggun.


"Bukalah!" ujar Zayyen yang juga penasaran.


Anggun menganggukkan kepalanya dan mulai membuka kado tersebut dengan perlahan. Anggun dan Zayyen saling menatap satu sama lain ketika keduanya sudah tahu apa yang diberikan Delisha, yaitu piyama tipis untuk Anggun. Kedua pipi Anggun memerah ketika membayangkan ia memakai piyama ini.


"A-aku mandi dulu," ujar Anggun dengan cepat karena ia sangat terasa malu dengan Zayyen.


Zayyen memegang piyama tersebut dan menggelengkan kepalanya. "Kenapa kamu memberikan ini kepada Anggun, Delisha? Andai saja kamu yang menjadi istri kakak maka dengan senang hati setiap malam kakak melihatmu memakai piyama seperti ini," gumam Zayyen dengan lirih.


***


Anggun dan Zayyen sudah merebahkan diri di kasur. Padahal Anggun sudah menunggu Zayyen akan meminta haknya tetapi lelaki itu hanya terdiam dengan tidur terlentang sama seperti dirinya.


"Mas!" panggil Anggun dengan pelan.


"Hmmm..."


"Mas gak meminta hak Mas malam ini?" tanya Anggun memberanikan diri.


Zayyen mengubah posisi tidurnya menjadi menghadap ke arah Anggun.


"Tidurlah Anggun! Ini sudah malam! Untuk itu besok saja ya," ujar Zayyen dengan tersenyum tipis lalu mengubah posisinya lagi menjadi memunggungi Anggun.

__ADS_1


"Baru seperti ini saja rasanya sangat sakit!" gumam Anggun dengan lirih.


__ADS_2