Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 132 (Operasi)


__ADS_3

...Jangan lupa ramaikan part ini ya....


...Happy reading...


****


Bahkan sampai aku berjuang hidup dan mati pun kamu seakan tak peduli dan tak menanyakan aku ini kenapa.


Seandainya nanti kehidupanku sangat singkat, aku hanya ingin kau tahu, aku mencintaimu.


~Delisha~


***


Delisha belum sadarkan diri sampai sekarang setelah berada di rumah sakit pun gadis masih setia memejamkan matanya dengan alat bantu pernapasan yang berada di hidungnya.


Akbar yang memang sangat menyayangi Delisha dengan setia menunggu anaknya. Tangan Akbar tak lepas dari tangan putri kecilnya.


"Anak Papi bangun dong! Katanya sayang sama Papi? Tapi kenapa masih sakit hmm?" tanya Akbar dengan serak.


Fiona juga kelelahan, wanita itu tidur dengan berbantalan paha Danish. Bahkan mata wanita itu sampai bengkak karena terus-terusan menangis memikirkan kesehatan Delisha.


"Selamat siang!" ujar dokter yang menangani Delisha masuk ke ruangan Delisha bersama dengan seorang suster.


"Siang, Dok! Bagaimana dengan keadaan anak saya, Dok?" tanya Akbar dengan tak sabaran.


"Siang, Dok!" jawab si kembar dengan kompak.


Sedangkan Fiona masih tertidur dengan Danish yang setia mengelus kepala maminya, Daniel yang memijat kaki maminya, dan Dareel yang memijat tangan maminya. Ketiganya takut jika maminya juga akan ikut jatuh sakit, kedua wanita kesayangan mereka tak boleh sakit semua.


Dokter tersebut melihat ke arah Akbar dan ia langsung meminta hasil rontgen kepada suster.


Dokter mengeluarkan hasil rontgen Delisha. "Seperti yang kita ketahui sebelumnya jika Delisha sudah pernah melakukan operasi jantung bocor beberapa kali. Dan hasilnya perlahan membaik tapi saya dan tim dokter lainnya menemukan kejanggalan pada jantung dan paru-parunya, kedua organ penting itu bermasalah, tidak hanya jantung Delisha yang bocor tetapi paru-paru Delisha juga bocor. Inilah yang menyebabkan sesak napas Delisha terlihat sangat parah," ujar dokter yang membuat Akbar, Fiona dan ketiga anaknya terdiam tidak bisa berkata-kata. Seakan pikiran mereka buntu tak tahu harus berbicara apa.


"Lakukan yang terbaik agar anak saya kembali sehat, Dok! Berapa pun biayanya akan saya bayar!" ujar Akbar dengan tegas.


Bagaimana mungkin seorang ayah bisa terlihat diam saja saat anaknya merasakan sakit. Akbar tidak akan membiarkan itu terjadi, apa yang dirasakan Fiona jangan sampai Delisha rasakan karena Akbar tahu rasanya sangat menyakitkan sekali ketika kedua orang tua istrinya dulu sama sekali tidak peduli.


"Kita bisa melakukan operasi kembali. Namun, jika operasi kali ini tidak berhasil dalam artian jantung dan paru-paru Delisha kembali bermasalah, Delisha harus mendapatkan donor jantung dan paru-paru secepatnya untuk menyabung kehidupannya," ujar dokter dengan tegas.


Fiona menghela napasnya dengan berat. "Jantung saya cocok, Dok! Ambil saja jantung saya!" ujar Fiona yang membuat Akbar dan ketiga anaknya terkejut.


"Jangan, Mi!" ucap Akbar, Danish, Daniel, dan Dareel secara bersamaan.


Akbar menggelengkan kepalanya memohon agar istrinya tidak melakukan itu. Ia tak ingin kehilangan Delisha dan juga Fiona.


"Adek gak mau operasi!" ujar Delisha dengan pelan saat ia membuka matanya dan Delisha mendengar penjelasan dokter. Apalagi jika maminya yang akan mendonorkan jantungnya, Delisha tidak akan mau, lebih baik ia mati saja.


"Sayang, Mami gak bisa lihat kamu sakit. Tolong izinin Maminya!" ujar Fiona.


"Gak, Mi. Kalau Mami mau donorin jantung Mami ke Adek lebih baik Adek mati!" ujar Delisha dengan tegas dan mata berkaca-kaca.


"S-sayang..."

__ADS_1


"Mau pulang!" ucap Delisha melepaskan alat bantu pernapasan dan infusnya begitu saja.


"Delisha!" ujar Akbar dengan tegas.


Delisha mencibik kesal. Ia turun dari brankar dan langsung berjalan ke luar ruangannya.


Akbar, Fiona, dan ketiga kakaknya mengejar Delisha yang terlihat marah dengan mereka sedangkan dokter dan suster sudah memaklumi sifat Delisha yang seperti ini. Karena Delisha pernah mengatakan jika dirinya tak mau merepotkan keluarganya apalagi membuat mereka sedih sampai ingin mendonorkan jantung untuknya tentu saja Delisha tak akan terima, kejadian seperti ini sudah terjadi beberapa tahun yang lalu dan kembali terulang sekarang.


Delisha berusaha menghindari keluarganya. Ia memasuki ruangan Fathan begitu saja saat keluarganya tak melihat dirinya. Fathan yang masih berada di ruangan dan ingin menjenguk Delisha menjadi terkejut saat melihat Delisha ada di ruangannya dalam keadaan wajah ditekuk.


"Ya Allah... Delisha kenapa kamu ke sini? Ayo balik ke ruangan kamu!" ujar Fathan dengan khawatir.


Bagaimana bisa keponakannya sedang sakit berapa di ruangannya sekarang. Pasti ada yang tidak beres!


"Pakde! Delisha gak mau di rumah sakit! Delisha gak mau operasi! Delisha gak mau menerima jantung Mami!" rengek Delisha dengan mata yang berkaca-kaca.


"Lebih baik Delisha mati!" ujar Delisha dengan sungguh-sungguh yang membuat Fathan terkejut.


"Jangan berbicara seperti itu. Pakde akan berusaha mencarikan jantung yang cocok untuk kamu. Sekarang ayo temui papi, mami, dan ketiga kakak kamu mereka pasti khawatir sekarang," ujar Fathan mengelus kepala keponakan dengan sayang.


"Gak mau! Delisha mau di sini! Pakde saja yang menemui mereka! Delisha mogok bicara sama mereka," ujar Delisha yang membuat Fathan menghela napasnya.


"Ya sudah. Kamu di sini saja jangan kemana-mana!" ujar Fathan dengan tegas.


Delisha mengangguk. Setelah kepergian Fathan tubuh Delisha merosot ke lantai dengan air mata yang mengalir di kedua pipinya.


"Delisha gak mau seperti ini hiks..."


****


"Kak, ada lihat Delisha? Delisha hilang, Kak!" ujar Fiona dengan panik.


"Jangan khawatir Delisha ada di ruangan, Kakak! Biarkan Delisha tenang dulu," ujar Fathan yang membuat Akbar, Fiona dan ketiga anak mereka merasa lega.


"K-kak Delisha..."


"Kakak tahu! Sebaiknya jangan buat Delisha tertekan dulu ya! Kakak masih berusaha mencari pendonor jantung untuk Delisha," ujar Fathan.


"Jantung aku cocok, Kak!" ujar Fiona frustasi.


Fathan menggeleng. "Delisha gak mau kehilangan kamu! Jangan memaksa kehendak kamu, takutnya Delisha akan memberontak," ujar Fathan.


Akbar memeluk istrinya. "Biarkan Delisha berpikir jernih dulu ya. Kita tunggu Delisha sampai mau bertemu dengan kita!" ujar Akbar dengan tegas.


"Iya, Mi. Jangan seperti ini ya, Mi! Kita berusaha bersama-sama agar Delisha kembali sehat!" ujar Daniel yang diangguki kedua kembarannya.


"Baiklah!" sahut Fiona mengalah.


****


"Kenapa lo ada di sini?" tanya Zayyen dengan dingin saat melihat Delisha duduk di taman rumah sakit.


Delisha terkejut karena sejak tadi ia asyik melamun seorang diri bahkan orang tua dan ketiga kakaknya ia usir begitu saja. Delisha masih marah dengan mereka.

__ADS_1


"Lihat pacar Delisha dong!" jawab Delisha dengan tersenyum.


Zayyen melihat ke arah Delisha dengan seksama. Ia duduk di samping Delisha. "Lo sakit?" tanya Zayyen dengan serius.


"Menurut Kakak?" ujar Delisha dengan tersenyum.


"Soal di taman kemarin, g-gue minta maaf," gumam Zayyen.


"Hahaha... Seharusnya Delisha yang minta maaf karena Delisha pergi gitu aja," ujar Delisha tertawa gamang.


"Lisha, gue..."


"Kenapa, Kak?" tanya Delisha memandang Zayyen.


"G-gue..."


"Nah ini tuh bocil! heh bocil biasanya orang sakit istirahat di ruangannya ini malah ke taman! Ayo balik sekarang!" ujar Sandy dengan kesal.


"Ih Kak Sandy ganggu aja orang pacaran!" ucap Delisha dengan kesal.


"Masih bocil gak boleh pacar-pacaran!" ujar Angga.


Ikbal menatap Delisha dengan intens. Tanpa kata dan tidak mempedulikan Zayyen yang berada di sana bahkan pria itu tidak terlihat khawatir sama sekali dengan keadaan Delisha yang terlihat pucat Ikbal menarik Delisha begitu saja.


"Kak lepas ih!" ujar Delisha dengan kesal.


"Nurut!" ujar Ikbal dengan tegas.


Delisha tampak bingung sekarang. Padahal ia ingin berlama-lama dengan Zayyen. Nyatanya saat Ikbal menarik tangannya, Zayyen tak bereaksi apapun.


"Ternyata ekspetasiku terhadapmu yang terlalu tinggi. Hanya bertanya dengan ekspresi biasa aku tahu sekarang bagaimana kamu anggap diriku mungkin sampai aku mati kamu tak akan peduli. Tapi, aku tetap saja bodoh, aku masih mencintaimu hingga aku lelah sendiri nantinya, aku gak akan menyerah untuk mendapatkan cintamu sebelum kata lelah itu datang!" ujar Delisha di dalam hati.


Delisha menatap Zayyen yang terlihat diam saja saat Ikbal menariknya dengan perlahan. Bahkan lelaki itu terkesan tak peduli, namun Delisha dibuat terkejut saat Zayyen ikut menahan tangannya.


"Gue pacarnya dan gue yang berhak atas Delisha!" ujar Zayyen kepada Ikbal.


Delisha menelan ludahnya dengan kasar saat kedua pria di sampingnya ini saling menatap dengan tajam.


"Ikut gue!" ujar Zayyen menarik Delisha. Ikbal yang tak mau Delisha kesakitan, ia mengalah dsn melepaskan tangan Delisha begitu saja.


"Ahhh...gak asyik ngalah terus!" ujar Sandy dengan kecewa.


Ikbal tak menjawab lelaki itu berlalu meninggalkan sahabatnya begitu saja. "Tuh anak kalau cemburu serem uy! Lihat aja nanti pasti ngamuk!" ujar Angga berbisik pada Sandy.


"Wajahnya sih datar kayak gak cemburu tapi dalam hati api membara," ujar Sandy yang masih didengar oleh Ikbal.


"Udah?" tanya Ikbal dengan dingin.


"U-udah, Bos! Serem amat tuh muka!" ujar Sandy dengan gugup.


"Oke!"


"Ya Allah...emak bapaknya ngidam kulkas berapa pintu sih?"

__ADS_1


"Se pabrik kulkas lah. Kan bapaknya yang punya perusahaan produksi kulkas," sahut Angga dengan santai.


"Lo bener juga. Pantes anaknya dingin banget! Ck...untung kaya!" ujar Sandy menggelengkan kepalanya.


__ADS_2