Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 209 Kepulangan Zayden)


__ADS_3

...📌Jangan lupa ramaikan part ini ya...


...Happy reading...


***


Saat ini Cika tampak lebih pendiam karena mendapatkan kabar jika dirinya akan punya adik lagi. Cika kesal dengan papanya yang tidak ingat umur, dan satu hal yang mengganggu pikirannya sejak kabar itu datang kepadanya yaitu Cika takut kehilangan mamanya. Selama ini Cika sangat menyayangi Tri seperti mama kandungnya sendiri.


Zayden yang sejak tadi berada di samping Cika hanya memperhatikan Cika sejak tadi, lelaki itu malas untuk berbicara dengan Cika karena Cika akan cerewet sekali dan Zayden jadi sangat malas menanggapinya.


"Sayang, kamu kenapa diam saja? Apa ada masalah?" tanya Tiara kepada Cika.


Cika menatap Tiara dengan cemberut. "Mama, Tan! Mama dihamili papa lagi! Cika sebel sama papa, gak tahu umur banget!" ujar Cika dengan cemberut.


"Uhuk..uhuk..."


Zayden terbatuk setelah mendengar ucapan Cika. Pria yang sudah dinyatakan sehat itu menatap Cika dengan tidak percaya.


Begitu pun dengan Zidan dan Tiara. Pasangan suami istri itu terlihat terkejut dengan ucapan Cika.


"Mama kamu hamil lagi? Astaghfirullah... Fathan," ujar Zidan menggelengkan kepalanya.


"Iya, Om. Dengan bangganya papa memamerkan hasil USG mama ke Cika. Seharusnya kan Cika yang kasih cucu ke mereka tapi masa Cika di kasih adik lagi sih. Anak Cika sama anak mama bisa-bisa umurnya gak jauh nanti," ujar Cika dengan menghela napasnya dengan berat.


"Om saja yang ingin anak lagi tapi Tante kamu gak mau tuh," ujar Zidan yang membuat Tiara menatap tajam ke arah suaminya.


"Enak saja kamu, Mas! Minta sana sama Zayden kalau gak Zayyen. Zevana yang sudah menikah bisa memberikan ke kamu cucu, Mas," ujar Tiara.


"Kok saya? Saya gak punya istri, Ma!" ujar Zayden dengan tegas.


"Kamu gak anggap aku sebagai tunangan kamu? Kalau kamu gak sakit kita sudah menikah tahu!" ujar Cika dengan ketus.


Zayden menatap Cika dengan sinis. "Kamu bukan tipe saya!" ujar Zayden dengan datar.


"Tante, Zayden jahat hiks!" adu Cika yang membuat Zayden mendelik.


"Ya sudah kamu menikah saja dengan Zayyen kalau Zayden gak mau!" sahut Tiara dengan bercanda.


"TIDAK BOLEH!" teriak Zayden dengan keras yang membuat kedua orang tuanya kaget.


"Kenapa tidak boleh? Katanya Cika bukan tipe kamu?" tanya Zidan dengan jahil.


"Y-ya tidak boleh!" sahut Zayden tergagap.


Zayden tidak tahu kenapa dirinya bisa berkata seperti itu. Yang jelas hatinya tidak terima ketika kedua orang tuanya menyuruh Cika menikah dengan Zayyen yang kata mereka adalah kembarannya.


"Cie cemburu!!" ucap Cika dengan terkekeh yang semakin membuat Zayden kesal.


Zidan dan Tiara hanya terkekeh ketika melihat anaknya kesal. Mereka tahu jika Zayden hanya melupakan Cika tetapi tidak dengan perasaannya yang sangat dalam untuk Cika bahkan saat lupa ingatan pun Zayden masih sangat cemberu.


"Mama, Papa!" teriak Zayyen yang menjemput kepulangan keluarganya di bandara.


Zayden menatap tajam ke arah Zayyen entah mengapa ia jadi waspada dan dengan refleks memeluk pinggang Cika dari samping saat melihat Zayyen semakin mendekat ke arah mereka.

__ADS_1


Zayyen langsung memeluk mamanya dengan erat dan beralih ke papa-nya.


"Sehat kan, Nak?" tanya Tiara dengan berkaca-kaca.


"Alhamdulillah sehat, Ma! Kalian gimana? Sehat juga, kan?" tanya Zayyen dengan tersenyum.


Zayyen menatap Zayden yang sangat posesif kepada Cika. Kembarannya itu tidak ada berubah walau sedang lupa ingatan.


"Lo sehat, kan?" tanya Zayyen dengan canggung karena keduanya hampir tidak pernah bertegur sapa apalagi Zayden harus dirawat di Jerman.


"Iya!" jawab Zayden dengan singkat.


Zayyen menatap ke arah Cika tetapi Zayden langsung waspada menarik wajah Cika agar menatapnya saja.


"Katanya aku bukan tipe kamu, Ay? Kok cemburu sih?" bisik Cika dengan cekikikan.


"Diam kamu! Dasar gadis genit!" ujar Zayden dengan dingin.


"Dih cemburuan!" ujar Cika dengan cekikikan.


Zayyen tidak mau mengganggu keduanya akhirnya mengajak mereka pulang tetapi di saat mereka berjalan Nevan sudah menjemput kakaknya.


Nevan memberikan salam untuk Tiara dan Zidan dan setelah itu ia langsung menarik kakaknya dan memeluknya dengan erat. Cika juga memeluk adiknya dengan erat melepas rasa rindunya kepada adik lelaki satu-satunya itu.


Jangan tanyakan bagaimana Zayden sekarang. Tangan lelaki itu terkepal dengan sangat erat. "Siapa lagi laki-laki ini? Berani sekali dia memeluk Cika!" ujar Zayden dengan kesal di dalam hati.


"Om, Tan, biar kak Cika pulang bersama Nevan ya," ujar Nevan dengan tegas.


"Iya, Tante!"


"Ayo, Kak!" ujar Nevan tetapi tangan Zayden memegang tangan Cika dengan erat.


"Kak bisa lepas tangannya," ujar Nevan dengan datar.


"Apa?" tanya Zayden dengan cuek.


"Itu tangannya bisa lepas gak?" ujar Nevan dengan kesal.


Nevan langsung menyingkirkan tangan Zayden yang menggenggam tangan kakaknya dan Nevan langsung membawa kakaknya pergi. Zayden yang hendak protes langsung mengurungkan niatnya saat kedua orang tuanya serta sang kembaran menatap dirinya dengan sangat aneh.


"Kalau cemburu bilang!" ujar Zayyen.


"E-enggak!" jawab Zayden dengan terbata yang membuat Zidan, Tiara, dan Zayyen terkekeh.


***


Zevana memegang perutnya yang terasa sakit akibat Haidar memasukinya dengan sangat kasar. Entah apalagi yang membuat pria itu marah yang jelas sekarang sakit perutnya tidak bisa ia tahan sama sekali.


"K-kak, bangun!" gumam Zevana dengan lirih.


Zevana berusaha membangunkan suaminya tetapi Haidar sepertinya enggan untuk membuka mata walaupun lelaki itu sebenarnya tidak tertidur.


"S-sekali saja tolong Zeva, Kak! Please... Perut Zeva sakit sekali," ujar Zevana dengan bulir keringat yang sebesar biji jagung berada di pelipisnya.

__ADS_1


Wajah Zevana sudah sangat pucat pasi, wanita itu terus memegang perutnya yang sangat terasa sakit.


Zevana berusaha membangunkan Haidar. "Apaan sih? Lo ganggu banget tahu gak? Gue sudah selesai pakai tubuh lo. Jadi, lo bisa kembali ke kamar lo sekarang!" ujar Haidar dengan sarkas.


Tetapi wajah Haidar langsung menegang saat melihat wajah Zevana yang sangat pucat. "Lo kalau mau mati jangan di kamar gue! Sana ke kamar lo!" ujar Haidar yang membuat hati Zevana teriris.


Zevana tidak bisa mengharapkan Haidar. Dengan bersusah payah Zevana bangun untuk berdiri tetapi betapa terkejutnya Zevana saat darah banyak mengalir dari sela pahanya dan sudah berada di atas seprai milik Haidar.


"Lo..." Haidar tercekat saat melihat darah yang begitu banyak dan itu darah Zevana.


"Arghhh...."


Zevana tidak mampu berdiri wanita itu langsung jatuh terduduk dengan terus mengerang kesakitan.


"L-lo kenapa Zeva?" tanya Haidar dengan cemas.


Lelaki itu langsung menghampiri Zevana bagaimanapun hati kecilnya merasa bersalah dengan Zevana.


"Hiks.. S-sakit, Kak!" gumam Zevana dengan lirih.


Zevana menatap Haidar dengan wajah pucat. "M-maafkan Zeva ya, Kak!" gumam Zevana dengan lirih.


"Lo jangan mati dulu! Gue belum puas siksa tubuh lo!" ujar Haidar dengan tak terkontrol. Namun, setelah itu ia merutuki ucapannya sendiri saat melihat Zevana semakin kesakitan.


Zevana merasa ia sudah tidak sanggup membuka mata. Matanya terasa sangat berat sekali. Apakah mungkin ini hari terakhirnya hidup di dunia? Zevana sangat merindukan keluarganya! Rasa bersalah kepada orang tua serta Haidar membuat air mata Zevana terus mengalir.


"Zeva, lo dengar suara gue, kan?" tanya Haidar dengan khawatir.


"Zeva buka mata lo!" ujar Haidar dengan penepuk pipi Zevana dengan pelan.


Rasa bersalah Haidar langsung menyapa hatinya dengan rasa sesak. Andai saja Haidar tidak menyetub*hi Zevana dengan kasar mungkin Zevana tidak akan seperti ini. Dengan panik Haidar memakaikan pakaian untuk Zevana dan setelah itu membawa sang istri ke rumah sakit.


Haidar terlihat sangat panik kali ini. Rasa benci dan muaknya terhadap Zevana sudah tertutupi dengan rasa khawatirnya. Haidar tidak pernah sepanik ini memikirkan Zevana.


"Lo gak boleh mati Zeva!" gumam Haidar dengan lirih.


Egonya untuk terus menyiksa Zevana merasa belum puas dengan semuanya. Namun, hati nuraninya sangat tidak tega melihat Zevana yang seperti ini. Apalagi saat melihat darah Zevana yang cukup banyak keluar dari tubuh Zevana yang membuat jantung Haidar seakan berhenti berdetak saat itu juga.


"Bangun Zeva!" ucap Haidar saat ia berhasil membawa Zevana menuju mobil dan akan ke rumah sakit.


Haidar kalut? Tentu saja! Pikirannya sangat berkecamuk sekarang! Antara sedih, khawatir, dan juga puas telah menyakiti Zevana tetapi rasa puas itu bukan dari hatinya melainkan ego yang ingin terus menyiksa batin dan tubuh Zevana. Namun, apakah setelah kejadian ini Haidar akan berubah atau semakin buruk memperlakukan Zevana?


***


📌 Gimana perasaan kalian setelah baca part Zayden Cika?


📌 Gimana perasaan kalian setelah baca part Haidar Zevana


📌Beberapa part lagi author akan langsung buat 5 tahun kemudian. Biar jiwa dewasa semua tokoh kelihatan. Tentunya setelah Delisha menikah. Tenang novel ini masih lumayan panjang. Dan setelah ini tamat akan ada cerita baru yang tentunya sangat menarik.


📌 Thor kenapa gak di publish sekarang?


Jawabannya gak deh, takut gak bisa konsisten 🤭 Satu novel saja selesaikan dulu baru novel baru.

__ADS_1


__ADS_2