
...Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...📌bom like dan komentar ya karena aku akan double up hari ini....
...Happy reading...
***
Akbar dan Fiona duduk di hadapan dokter Ridwan setelah pemeriksaan Delisha selesai. Gadis itu sekarang masih berada di ruangannya seorang diri, yang membuat keduanya bisa bertemu dengan dokter sekarang.
"Bagaimana, Dok?" tanya Akbar dengan gusar.
Dokter Ridwan menatap hasil rontgen milik Delisha dengan ekspresi yang tidak bisa ditebak oleh Akbar maupun Fiona.
"Jantung dan paru-paru Delisha semakin memburuk. Kita harus mendapatkan donor untuk Delisha jika tidak keadaan Delisha semakin memburuk. Hasil pemeriksaan kami jika Delisha tidak mendapatkan pendonor dengan segera maka usia Delisha hanya tinggal 6 bulan saja. Namun, jika ada yang membuat hidup Delisha bahagia dan tersenyum seperti tadi mungkin semangat hidupnya akan jauh lebih tinggi bisa saja Delisha bertahan lebih lama. Saya sebagai dokter juga memasrahkan semua ini kepada Sang Pencipta lagi, semoga saja Delisha bisa bertahan dan segera mendapatkan donor jantung dan paru-paru yang cocok untuknya. Saya dan tim dokter lainnya segera berusaha untuk mencari donor jantung dan paru-paru yang cocok untuk Delisha," ujar dokter Ridwan yang membuat Akbar dan Fiona terdiam dengan air mata yang menetes membasahi keduanya.
"Sudah lama kami mencari pendonor yang cocok untuk Delisha, Dok. Tetapi entah mengapa sangat sulit sekali karena tak mungkin kami memaksa dan membayar seseorang untuk mendonorkan jantung dan paru-parunya untuk Delisha. Sampai sekarang belum membuahkan hasil apapun. Dok, tolong anak saya! Saya tidak mau kehilangan anak saya! Saya sudah menunggu puluhan tahun untuk mempunyai anak dan setelah mempunyai anak saya tidak ingin kehilangan Delisha!" ujar Akbar dengan memohon.
Baru kali ini dokter Ridwan melihat Akbar memohon seperti ini kepadanya. Ia juga iba dengan apa yang terjadi pada Delisha tetapi dirinya hanyalah seorang dokter bukan penentu kesembuhan atau kematian seseorang.
"Kami juga sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan pendonor yang cocok untuk Delisha, Pak. Tetapi saat ini belum ada seseorang yang mau mendonorkan jantung dan paru-parunya untuk Delisha. Selama waktu 6 bulan ini kita sama-sama berusaha untuk menyelamatkan nyawa Delisha," ujar Dokter Ridwan yang membuat hati Akbar dan Fiona terguncang.
"Mas, aku gak mau kehilangan Delisha!" ujar Fiona memeluk Akbar dengan menangis.
Tanpa diketahui oleh Akbar dan Fiona. Delisha mendengar semuanya. "6 bulan lagi ya?" tanya Delisha dengan tersenyum pedih lalu setelahnya gadis itu berjalan pergi dari ruangan dokter Ridwan agar kedua orang tuanya tidak tahu jika dirinya menguping.
Delisha menangis dengan wajah menunduk hingga ia tak sadar telah menabrak seseorang. "M-maaf, Delisha gak sengaja!" ujar Delisha dengan terbata dan menghapus aiir matanya dengan kasar.
Seseorang tersebut hanya diam memandang Delisha. Delisha yang merasa aneh dengan seseorang yang telah ia tabrak mencoba untuk melihat seseorang tersebut.
Deg....
Hati Delisha mencolos saat melihat Zayyen lah yang berada dihadapannya sekarang. Seseorang yang tak ingin ia lihat kembali wajahnya kenapa malah bertemu kembali?
Tanpa kata Delisha berjalan ingin meninggalkan Zayyen tetapi tangannya di cekal oleh Zayyen yang membuat Delisha memberontak.
"Lepaskan!" ujar Delisha dengan kesal.
Bukannya terlepas, genggaman tangan Zayyen semakin sangat erat di pergelangan tangan Delisha. Bahkan dengan berani Zayyen membawa Delisha ke dalam pelukannya. Tentu saja Delisha memberontak, masih ingat jelas bagaimana dulu Zayyen memperlakukan dirinya dengan kasar dan Delisha tak akan mengulang sesuatu yang sangat menyakitkan itu kembali. Sekarang ada Ikbal yang di hatinya, pria yang sangat baik kepada dirinya.
"Diam Delisha! Biarkan kita seperti ini dulu!" ujar Zayyen dengan lirih.
"Lepas, Kak! Kita gak punya hubungan apapun lagi!" ujar Delisha dengan kesal.
Delisha memukul dada Zayyen dengan berulang kali tapi tetap saja pria itu semakin mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
"Kakak rindu kamu, Delisha!" gumam Zayyen yang membuat Delisha terdiam bahkan tubuh gadis itu mematung dengan hebat.
"Kakak tahu perbuatan Kakak tidak bisa dimaafkan tapi Kakak yakin kamu masih sangat mencintai Kakak. Kamu bersama dengan Ikbal hanya sebuah pelarian, kan? Ayo kita kembali seperti dulu dan Kakak janji akan baik sama kamu," ujar Zayyen dengan lirih dengan sebuah rasa penyesalan dan juga rindu yang sangat mendalam pada gadis yang sekarang berada di pelukannya.
Zayyen sadar rasa yang ada untuk Cika hanya sebuah rasa kagum bukan rasa cinta. Dan sekarang ia kehilangan gadis sebaik Delisha. Tapi Zayyen tidak akan menyerah untuk mendapatkan cinta Delisha kembali karena ia yakin Delisha masih mencintainya. Terlalu percaya diri sekali dirinya, bukan?
Delisha menyeringai. Ia mendorong tubuh Zayyen sekuat tenaganya saat ini hingga pelukan itu terlepas. Delisha tertawa sumbang yang membuat Zayyen merasa sakit mendengar tawa itu.
"Sekali kita berpisah maka tak ada kesempatan untuk kembali bersama mengulang rasa sakit yang sangat menyiksa batin. Kakak kemana saja saat Delisha mengemis sebuah rasa cinta sedikit saja di hati Kakak untuk Delisha? Kemana Kak? Puluhan kali Dalisha ditolak tetapi masih bisa sabar, berharap Kakak akan membalas cinta Delisha dengan tulus. Tapi, apa yang Delisha dapat? Hanya dapat sebuah kesakitan yang menambah sakit fisik Delisha," ujar Delisha dengan menggebu-gebu menyampaikan rasa sakit yang selama ini Zayyen tidak ketahui. Atau pria itu pura-pura tuli dan buta untuk melihat kesakitannya?
"Delisha..."
"Kita tidak akan pernah kembali, Kak! Sampai mati pun kita tidak akan pernah kembali!" ujar Delisha dengan meneteskan air matanya.
"Delisha please... Kakak tahu Kakak salah!" ujar Zayyen dengan memohon.
Delisha menggelengkan kepalanya. Ia berlari meninggalkan Zayyen yang masih mematung dengan penolakan dirinya. Delisha tak mempedulikan rasa sesak di dadanya akibat berlari ingin menjauhi Zayyen. Delisha tak mau hatinya goyah karena sebuah janji manis yang Zayyen ucapkan kepadanya, hidupnya tinggal sebentar lagi dan Delisha tak mau menyia-nyiakan lelaki sebaik Ikbal.
Zayyen tertawa miris. "Apa ini artinya gue sudah kehilangan Delisha sepenuhnya?! Tapi, tidak-tidak! Delisha pasti akan kembali ke pelukan gue!" ujar Zayyen dengan lirih.
***
Sejak kepulangannya dari rumah sakit. Delisha terus berada di kamarnya memikirkan hidupnya yang sudah tak lama lagi serta pertemuannya dengan Zayyen yang meminta dirinya kembali.
Bahkan Delisha yang biasa ceria bermain bersama dua kucing kesayangannya kini tampak membiarkan kedua kucingnya bermain tanpa dirinya.
Delisha tak menyadari ada seseorang yang membuka pintu kamarnya karena ia asyik melamun.
"Sayang!" gumam Ikbal memanggil kekasihnya dengan lembut.
Ikbal memegang pundak Delisha hingga membuat gadis itu tersentak. Senyum Delisha langsung terbit kala melihat Ikbal ada di hadapannya.
"Kata Mami, kamu belum ada keluar dari tadi. Kenapa? Mami sampai telepon Mas suruh bujuk kamu keluar kamar," ujar Ikbal dengan lembut.
Delisha menggeleng. Ia menatap Ikbal dengan dalam.
"Delisha mau jujur tapi Mas pacar jangan marah!" ujar Delisha dengan pelan dan wajah menunduk karena bimbang.
"Marah kenapa hmm?" tanya Ikbal dengan menyelipkan anak rambut yang menutupi wajah cantik Delisha.
"Coba kalau mau ngomong sama pacarnya itu tatap matanya jangan malah menunduk seperti ini. Cantiknya hilang loh nanti," bujuk Ikbal dengan lembut.
Ikbal menarik dagu Delisha dengan perlahan. Ia melihat mata Delisha berkaca-kaca. "Loh kok nangis? Mas kan gak marah, Sayang! Ayo mau ngomong apa cantik?" tanya Ikbal menghapus air mata yang sudah menggenang di pelupuk mata Delisha.
"T-tadi di rumah sakit..."
__ADS_1
"Hmmm..."
Ikbal menunggu Delisha berkata dengan sabar bahkan tatapan Ikbal begitu membuat Delisha merasa bersalah.
"Di rumah sakit kenapa cantik?" tanya Ikbal dengan sabar.
"Hiks...Tadi di rumah sakit kak Zayyen peluk Delisha! Kak Zayyen minta Delisha balikan sama dia! Mas pacar jangan marah! Delisha gak mau balikan!" ujar Delisha dengan mata terpejam yang membuat Ikbal terdiam dengan tangan yang terkepal dengan erat.
Delisha mencoba membuka matanya dengan perlahan, melihat keterdiaman Ikbal membuat hatinya begitu takut akan kemarahan Ikbal. Delisha tahu seberapa mengerikannya seorang Ikbal ketika marah.
"Mas pacar marah? Mas pacar kalau diam aja serem banget Delisha jadi takut!" gumam Delisha dengan pelan.
"Hmmmm...."
Ikbal hanya di merespon Delisha dengan sebuah deheman yang membuat hati Delisha semakin tak karuan.
"Tuh kan Mas pacar marah! Delisha gak balas pelukannya kok! Delisha gak mau balikan juga, Delisha cintanya sekarang sama Mas pacar kok," ujar Delisha dengan mata yang berkaca-kaca.
Saat Ikbal mengangkat tangannya refleks Delisha memejamkan matanya. Takut Ikbal akan memukul dirinya tetapi apa yang terjadi malah mambuat Delisha tak menyangka karena Ikbal memeluknya dengan sangat erat.
"Aku lagi marah sama kamu, Sayang! Kamu diam aja! Dengan memeluk kamu amarahku akan hilang!" ujar Ikbal dengan pelan yang membuat Delisha menyunggingkan senyumannya.
Delisha membalas pelukan Ikbal tak kalah eratnya.
"Bekas pelukan Zayyen harus hilang sekarang!" gumam Ikbal dengan pelan.
"Nanti Delisha mandi pakai bunga tujuh rupa!" ujar Delisha yang membuat bibir Ikbal berkedut.
"Jangan mau dipeluk lelaki lain lagi cantik!" ujar Ikbal tak rela.
"Iya gantengku! Sekarang marahnya sudah hilang belum?" tanya Delisha dengan lembut.
"Sudah, Sayang."
Cup...
"Mas bawa gaun yang cantik untuk kamu. Dandan yaang cantik ya malam ini!" ujar Ikbal menjawil hidung mancung Delisha dengan gemas.
"Wah cantiknya! Ini pasti mahal!" ujar Delisha berdecak kagum dengan gaun pemberian Ikbal.
"Ini tidak seberapa cantik. Nanti malam Mas mau kamu terlihat memukau di acara pertunangan kita!" ujar Ikbal dengan lembut.
"30 menit Mas temani kamu tidur siang ya. Setelah itu Mas harus pulang," ujar Ikbal dengan pelan.
"Mau beli cincin untuk calon istriku!" bisik Ikbal yang membuat Delisha tersenyum malu dengan pipi yang memanas. Definisi di ratukan oleh orang yang tepat seperti ini, kan?
__ADS_1
"Selama 6 bulan Delisha akan buat list kebersamaan kita sebagai suami istri. 6 bulan Mas pacar setelah itu kamu harus ikhlas melepaskan kepergian Delisha!" gumam Delisha di dalam hati.