
...Warning : Part ini mengandung pemanis buatan yang membuat pembacanya terkena diabetes. Jadi, berhati-hatilah! ðĪŠðĪŠððð...
...Happy reading...
****
Ikbal menghentikan mobilnya setelah sampai di rumah kedua orang tua Delisha. Akbar, Fiona, dan ketiga kakak Delisha tidak pulang ke rumah mereka ingin melihat keadaan Cika dan juga Zayyen dan Zayden. Akbar diberikan amanah untuk menjaga Delisha selama mereka belum pulang dan dengan senang hati Ikbal menerimanya.
Ikbal tersenyum melihat ke arah Delisha yang sudah tertidur dengan wajah yang sangat cantik. Dinding es seorang Ikbal cair seketika jika sedang bersama dengan Delisha! Delisha adalah gadis kedua yang mampu membuat hatinya menghangat.
Ikbal menyingkirkan anak rambut Delisha yang menutupi wajah cantik Delisha, ia mengusap pipi Delisha dengan gemas.
"Cantik banget sumpah!" ujar Ikbal dengan pelan.
Tak mau membangunkan Delisha yang sudah tertidur pulas Ikbal keluar dari mobil dengan perlahan.
"Tuan..."
"Sssttt... Jangan berisik, Bi!" ujar Ikbal dengan pelan saat beberapa pelayan menghampiri dirinya.
refleks pelayan tersebut menutup mulutnya dan menganggukkan kepala saat tahu di dalam mobil milik Ikbal ada nona muda yang tak boleh diganggu tidurnya. Pelayan tersebut diam dengan patuh saat Ikbal menggendong Delisha memasuki rumah mewah milik Akbar.
"Apa tuan besar dan nyonya serta ketiga tuan muda tidak pulang, Tuan?" tanya pelayan dengan hati-hati.
"Ada sesuatu yang terjadi di rumah om Fathan yang mengakibatkan Cika di bawa ke rumah sakit. Dan saya disuruh untuk menjaga Delisha!" ujar Ikbal dengan tegas. Suara baritonnya terdengar sangat dingin ketika berbicara dengan pelayan.
Pelayan tersebut mengerti, tak mau bertanya lagi karena itu bukan urusan yang harus ia tanyakan. "Kami permisi, Tuan! Kimmy dan Jimmy juga sudah kami beri makan sesuai dengan yang Tuan perintahkan!" ujar pelayan tersebut yang diangguki oleh Ikbal.
"Pastikan mereka sehat!" ujar Ikbal dengan tegas.
Ikbal yang merasakan pergerakan Delisha mencoba diam dan membenarkan letak gendongan Delisha. Ikbal langsung menaiki tangga menuju kamar gadis yang ia cintai. Perlahan Ikbal membuka pintu, ia langsung diperlihatkan kamar Delisha yang begitu tertata rapih dengan banyaknya boneka kucing bahkan ada lemari khusus untuk boneka-boneka Delisha. Entah berapa banyak boneka milik Delisha yang jelas Ikbal hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Gadis pencinta kucing yang memikat hati," gumam Ikbal setelah menidurkan Delisha di kasur dengan nyaman.
Ikbal masih dapat melihat mata sembab Delisha tetapi Ikbal akan memastikan jika air mata untuk Zayyen akan berakhir setelah ini.
Gemuruh petir sudah terdengar, hujan satu persatu mulai turun yang membuat Delisha membuka matanya dengan perlahan karena gadis itu sangat takut dengan petir.
"Kak!" panggil Delisha dengan serak saat melihat Ikbal mulai menutup gorden dengan rapat agar Delisha tidak melihat kilatan petir.
"Kok bangun?" tanya Ikbal dengan pelan.
__ADS_1
"Takut! Papi, mami dan kakak-kakak Delisha gak pulang ya?" tanya Delisha dengan cemas.
"Mereka ke rumah sakit mungkin lama atau mungkin saja tidak pulang. Kamu takut tidur sendiri?" tanya Ikbal menghampiri Delisha.
Delisha mengangguk dengan jujur. Tidurnya selalu terganggu dengan begitu saja ketika ada suara petir.
"Kakak mau pulang?" tanya Delisha dengan pelan.
"Tadinya iya. Tapi kalau kamu takut kakak gak akan pulang, toh hujannya juga semakin deras," sahut Ikbal dengan tenang.
"Terus Kakak mau tidur di kamar kak Daniel?" tanya Delisha dengan cerewet.
"Iya. Kenapa? Mau ditemani?" tanya Ikbal dengan ekspresi yang masih tenang padahal di dalam hati ia sangat berharap Delisha meminta ditemani olehnya.
"Iya! Nanti Delisha ketakutan terus ngompol gimana?" ujar Delisha dengan polosnya yang membuat Ikbal tertawa.
"Masih ngompol juga? Haha... dasar bocil!" ujar Ikbal mengacak rambut Delisha dengan gemas.
"Y-ya tergantung situasi dan kondisi!" ujar Delisha dengan terbata.
Duar...
"Aaaaa...." Delisha berteriak dan refleks memeluk Ikbal dengan erat.
"Hiks...takut!" rengek Delisha yang membuat Ikbal terkekeh.
"Kalau kamu peluk gini terus Kakak tidurnya gimana hmmm? Berdiri?" tanya Ikbal membalas pelukan Delisha dengan gemas.
"Y-ya enggak! Kakak tidur sama Delisha titik! Tapi jangan macam-macam sama Delisha ya!" ujar Delisha yang membuat Ikbal geli.
"Emang mau di macam-macam'in?" tanya Ikbal dengan menautkan kedua alisnya.
"Y-ya enggak! Ihhh Kakak jangan jahil sama Delisha! Delisha ngantuk!" rengek Delisha yang membuat Ikbal tersenyum.
"Iya ayo tidur bocil Kakak!" ujar Ikbal dengan lembut.
Delisha memberikan ruang agar Ikbal tidur di sebelahnya. Jujur saja ketika hujan datang Delisha selalu tidur dengan kedua orang tuanya atau bahkan ketiga kakaknya, oleh sebab itu ketika mereka tidak ada di rumah dan hanya ada Ikbal maka mau tak mau Delisha menyuruh Ikbal untuk menemaninya.
Tiba-tiba rasa canggung menghinggapi hati Ikbal saat mulai merebahkan tubuhnya di kasur Delisha. "Shitt...rasanya kayak malam pengantin baru! Deg-degan!" ujar Ikbal di dalam hati merutuki dirinya yang tiba-tiba saja gugup tidur bersama dengan Delisha.
Delisha telentang dengan mengerjapkan kedua matanya, begitupun dengan Ikbal. Kedua manusia tersebut tiba-tiba tidak mengantuk sama sekali.
__ADS_1
"Kak, Delisha jadi gak bisa tidur!" ungkap Delisha dengan jujur.
"Kenapa?" tanya Ikbal menoleh ke arah Delisha.
"Jantung Delisha lompat-lompat, Kak! Delisha takut jantung Delisha keluar!" sahut Delisha dengan memelas dan polosnya.
Ikbal tak bisa menahan senyumannya, ia memiringkan tubuhnya menjadi menghadap ke arah Delisha. "Anggap aja ini latihan!" ujar Ikbal memandang wajah cantik Delisha.
"Latihan apa, Kak?" tanya Delisha dengan bingung.
"Latihan tidur sama suami!" jawab Ikbal yang membuat kedua pipi Delisha memerah.
"Iihhh... Delisha masih SMA!" ujar Delisha dengan malu-malu..
"Kak petirnya masih ada!" ujar Delisha dengan takut.
"Peluk Kakak kalau takut!" ucap Ikbal dengan tenang.
Dan benar saja Delisha memeluk pinggang Ikbal dengan erat. Kedua wajah mereka sangat dekat bahkan jarak keduanya hampir terkikis yang membuat Ikbal menahan napasnya.
"Cantik!" gumam Ikbal.
"Delisha emang cantik dari dulu! Kemana aja Kak Ikbal selama ini baru lihat kecantikan Delisha?" ujar Delisha dengan cerewetnya.
"Hmmm mungkin Kakak belum lihat kecantikan kamu dulu! Kan kamu masih ingusan dulu," ujar Ikbal yang membuat Delisha kesal dan mencubit pinggang Ikbal dengan gemas. Keduanya seperti suami istri sungguhan bukan?
"Aaww..sakit!" ujar Ikbal berpura-pura yang berhasil membuat Delisha panik.
"Sakit ya, Kak? Delisha minta maaf habisnya Kakak ngeselin sih," ujar Delisha dengan mengusap pinggang Ikbal yang terkena cubitannya.
Ikbal menahan tangan Delisha hingga gadis itu menatap Ikbal. Mata Delisha seakan terkunci dengan tatapan Ikbal yang sangat dalam kepadanya, dan entah apa yang membuat Delisha memejamkan mata saat Ikbal mendekatkan bibirnya ke bibir Delisha.
Melihat respon Delisha yang biasa saja. Ikbal mulai menggerakkan bibirnya dengan perlahan, Delisha meresapi ciuman Ikbal kepadanya. Ciuman tanpa n*fsu yang Ikbal berikan kepadanya membuat Delisha seakan terlindungi. Ciuman kasih sayang yang Delisha belum rasakan dari Zayyen.
Tak mau ciuman mereka semakin dalam Ikbal melepaskan tautan bibir mereka dan mencium kening Delisha dengan lembut.
"Ciuman tadi adalah ciuman kasih sayang dari Kakak untuk Delisha! Sekarang tidurnya! Sudah dicium pasti nyenyak tidurnya!" ujar Ikbal mengusap pipi Delisha.
Delisha yang malu menyembunyikan wajahnya di dada bidang Ikbal. "Tadi kenapa Delisha diam aja? Aaaa...Delisha jadi malu!" teriak Delisha di dalam hati.
"Ciuman tadi gak buat dosa Delisha bertambah kan ya? Delisha gak sadar Ya Allah! Delisha dihipnotis sama Kak Ikbal!"
__ADS_1
"Tapi kok ciuman kasih sayang di bibir ya? Eh emang iya?"