Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 185 (Patah Hati)


__ADS_3

...📌Bom like dan komentar ya supaya author semangat untuk update....


...Happy reading...


***


Haidar baru mendapatkan kabar dari Zevana jika Delisha sudah bertunangan dengan Ikbal. Haidar yang merasa tidak percaya akhirnya mendatangi Delisha yang masih dirawat di rumah sakit, pria itu memberanikan diri menemui Delisha, ia harus mengungkapkan perasaannya kepada Delisha dan pria itu belum seratus persen percaya jika Delisha sudah bertunangan dengan Ikbal.


"Kakak tiang listrik kemana aja baru kelihatan batang hidungnya?" tanya Delisha dengan mengejek Haidar karena setiap mereka bertemu pasti akan seperti anjing dan kucing.


"Habis dari goa untuk bertapa," jawab Haidar dengan asal.


"Mau cari illmu hitam ya?" tanya Delisha terkikik geli.


"Bukan! Gue begitu biar seseorang yang gue suka, suka juga ke gue!" ujar Haidar dengan ketus padahal dalam hati ia sangat merindukan mereka yang seperti ini.


"Mana orang tua dan ketiga antek-antek lo?" tanya Haidar yang tidak melihat kedua orang tua dan ketiga kakak Delisha.


"Enak saja antek-antek Delisha. Itu kakak Delisha yang Paling tampan ya bahkan Kak Haidar kalah tampan sama ketiga kakak Delisha," protes Delisha tak terima tetapi diam-diam Haidar tersenyum tipis.


"Papi sama Mami lagi ambil obat Delisha. Kalau Kakak-kakak Delisha lagi kuliah," jawab Delisha yang diangguki oleh Haidar.


Haidar langsung menarik kursi yang berada di samping brankar Delisha. Lelaki itu tampak lebih pendiam dari biasanya, dalam hati Haidar sedang menyiapkan kata-kata yang tepat kepada Delisha.


"Kakak kenapa sih? Mendadak sariawan ya?" tanya Delisha dengan bingung melihat keterdiaman Haidar yang berada di sampingnya.


Haidar yang tadinya tidak menatap Delisha kini menatap gadis itu dengan dalam."Gue mau jujur sesuatu ke lo! Tapi gue harap lo gak akan kaget," ujar Haidar dengan pelan.


"Dan gue harap lo terima perasaan gue!" lanjut Haidar di dalam hati.


"Jujur apa, Kak? Kok jadi tegang gini ya?" tanya Delisha dengan mengusap tengkuknya sendiri.


"S-sebenarnya gue..."


"Sebenarnya apa, Kak? Kok lama banget sih buat Delisha penasaran aja!" ujar Delisha yang sudah sangat cerewet sekali bahkan membuat Haidar gemas ingin menarik bibir Delisha.


"Ihhh gemes banget gue!" ujar Haidar menarik bibir Delisha dengan pelan. "Sabar dulu gue lagi mencari kata-kata yang tepat!" ujar Haidar dengan kesal.


"Ya lagian kenapa Kakak mau ngomong sama Delisha aja lama banget. Biasanya langsung nyerocos," ucap Delisha yang merasa aneh dengan Haidar yang ada di sampingnya sekarang.


Haidar menghela napasnya dengan perlahan. "Sebenarnya gue udah suka sama lo dari lama," ujar Haidar dengan tegas.


Delisha terdiam. Lalu gadis itu tertawa memegangi perutnya merasa lucu dengan candaan Haidar sekarang. "Haha masih mau bercanda aja sama Delisha, Kak! Ayo yang serius dong!" ujar Delisha dengan terkekeh.


"Gue serius! Gue suka sama lo! Gue cinta sama lo! Gue sayang sama lo, Delisha!" ujar Haidar dengan tegas.


Tawa Delisha langsung terhenti melihat tatapan serius dan perkataan yang amat tegas dari Haidar sekarang.


"Kakak serius?" tanya Delisha tak percaya.


"Serius banget! gue harap lo mempunyai rasa yang sama seperti yang gue rasain ke lo!" ujar Haidar yang membuat Delisha menggigit bibir bawahnya.


"Maaf, Kak. Delisha gak ada perasaan apapun ke Kak Haidar!" ujar Delisha dengan lirih karena merasa bersalah pada Haidar yang sangat ini terlihat kecewa kepadanya.


"Delisha, gue harap gue masih mempunyai kesempatan untuk bisa mendapatkan hati lo!" ujar Haidar dengan penuh harap walau ia sedang kecewa dengan jawaban Delisha kepada dirinya.


Delisha mengangkat tangan kirinya di mana cincin pertunangannya tersemat di jari manisnya yang membuat Haidar terkekeh dengan wajah kecewa, ternyata benar yang dikatakan Zevana jika Delisha sudah bertunangan dengan Ikbal.

__ADS_1


Haidar patah hati bahkan rasanya sangat menyakitkan sekali. "Lo udah tunangan sama Ikbal?" tanya Haidar dengan senyum yang sangat aneh.


Delisha mengangguk dengan tak enak hati. "Memang Delisha tak bisa menahan perasaan seseorang untuk mencintai Delisha. Delisha gak akan marah kalau Kakak mencintai Delisha tapi maaf Delisha gak bisa membalas perasaan Kakak karena saat ini dan sampai kapanpun Delisha sudah menjadi milik kak Ikbal," ujar Delisha dengan tegas.


"Tapi gue sayang sama lo, Sha! Gue gak bisa menghapus perasaan ini begitu aja!" ujar Haidar yang ingin menggenggam tangan Delisha tetapi dengan sigap gadis itu menarik tangannya yang membuat Haidar lagi dan lagi tersenyum dengan rasa kecewa.


"Delisha milik gue! Sampai kapanpun akan menjadi milik gue! Lo gak bisa maksa Delisha buat suka sama lo karena dia cintanya sama gue," ujar Ikbal dengan kedua tangan yang terkepal dengan erat.


Sejak kedatangan Haidar, Ikbal sudah menguping pembicaraan lelaki ini dengan tunangannya yang membuat dada Ikbal memanas dan akhirnya tak tahan terus berada di luar, ia juga takut Haidar akan berbuat nekat yang akan membuat Delisha tak nyaman.


"Siapa lo yang bisa mengatur perasaan gue? Bahkan gue sendiri pun gak bisa mengatur perasaan gue sendiri," ujar Haidar dengan tegas.


Haidar menatap Delisha. Sungguh ia sangat lega bisa mengungkapkan perasaannya kepada Delisha. "Tapi kalau Delisha gak menyukai gue, gue bisa apa? Gue bukan lelaki pengecut atau brengsek yang rela melakukan sesuatu agar Delisha menjadi milik gue. Kalau Delisha bahagia sama lo, gue juga bahagia. Titik mencintai dengan tulus adalah melihat orang yang kita cintai bahagia walau bukan sama gue," ujar Haidar mencoba untuk ikhlas melepaskan Delisha.


"Gue pamit. Semoga kalian bahagia. Delisha, ingat perkataan gue, kalau Ikbal menyakiti lo, lo bisa ngomong ke gue biar gue hajar dia!" ujar Haidar yang membuat Delisha terdiam. Namun, setelahnya ia mengangguk dengan pelan.


"Maaf ya, Kak! Semoga Kakak bisa mendapatkan perempuan yang lebih baik dari Delisha. Delisha aja bisa move on dari kak Zayyen seharusnya Kak Haidar juga bisa move on dari Delisha," ujar Delisha dengan pelan.


Haidar tersenyum miris. "Ya akan gue coba walau gue tahu rasanya itu sulit," ujar Haidar dengan pelan.


Haidar berlalu pergi meninggalkan Ikbal dan Delisha yang terdiam menatap kepergiannya.


"Loh kapan Haidar datang, Sayang? Kok udah pulang aja?" tanya Fiona saat masuk bersama dengan suaminya dan berpapasan dengan Haidar di depan ruangan Delisha.


"Belum lama banget, Mi!" jawab Delisha dengan pelan karena ia masih merasa bersalah dengan Haidar.


"Muka kalian berdua kenapa tegang banget? Gak lagi berantem lagi, kan? Baru baikan masa berantem lagi sih!" ujar Fiona yang diangguki oleh Akbar.


"Delisha gak berantem kok sama Mas pacar!" jawab Delisha dengan cepat.


"Baguslah kalau begitu. Ikbal bisa jaga Delisha sebentar? Papi minta ditemani makan sekalian beli makanan buat Delisha sama kamu," ujar Fiona.


"Bisa banget, Mi!" ujar Ikbal dengan cepat.


"Haha dasar kamu!"


"Ayo, Pi!"


"Sebentar, Mi. Ponsel Papi bunyi," ujar Akbar dengan tersenyum.


Fiona mengangguk dengan patuh ia menunggu suaminya mengangkat telepon dari seseorang.


"Halo Tuan!"


"Ya ada apa Heri? Apa sudah ada perkembangan dengan pengumuman yang saya buat?" tanya Akbar yang membuat Fiona, Ikbal dan Delisha mendengarnya dengan serius.


"Sudah Tuan. Beliau ingin bertemu dengan anda besok untuk membahas berapa uang yang beliau minta untuk mendonorkan jantung dan paru-paru untuk nona muda Delisha," jawab Heri salah satu orang kepercayaan Akbar di seberang sana untuk menyebarkan pengumuman siapa yang mau mendonorkan jantung dan paru-parunya untuk anak gadis kesayangannya.


Akbar tersenyum yang membuat Fiona curiga.


"Berapa yang dia minta?" tanya Akbar dengan serius.


"Satu milyar untuk satu organ Tuan! T-tapi beliau juga mengajukan syarat," ujar Heri yang membuat Akbar mengerutkan dahinya.


"Apa syaratnya?" tanya Akbar dengan tegas.


"Salah satu dari anak Tuan harus menikahi putrinya yang masih seusia nona muda Delisha," jawab Heri yang membuat Akbar terdiam.

__ADS_1


"Kamu serius Heri?" tanya Akbar dengan dingin.


"Serius Tuan! Kalau tidak beliau tidak mau memberikan jantung dan paru-paru itu untuk nona muda Delisha," jawab Heri dengan tegas.


Akbar mengusap wajahnya dengan kasar. "Baiklah persiapkan pertemuan saya dengannya besok!" ujar Akbar dengan tegas.


"Baik Tuan. Kalau begitu saya tutup," ujar Heri dengan sopan yang diangguki oleh Akbar walau orang kepercayaannya itu tidak melihat dirinya.


Bagaikan mendapat angin segar dada Akbar terasa ringan sekarang. Tetapi tentang syarat itu apa ketiga anaknya akan mau?


"Ada apa, Pi?" tanya Fiona dengan penasaran.


"Kita bicarakan di luar ya, Sayang!" ujar Akbar dengan lembut.


"Princess Papi istirahat sebentar ya, Sayang! Papi mau keluar sebentar sama Mami. Gak lama kok," ujar Akbar mengecup kening Delisha.


"Iya, Papi!" sahut Delisha dengan tersenyum.


Setelah kepergian kedua orang tua Delisha. Ikbal mendekati Delisha dan menggenggam tangan Delisha dengan erat.


"Cemburu? Mukanya lucu banget," ujar Delisha mengelus pipi Ikbal.


Ikbal mengangguk. "Berani sekali Haidar mengatakan cinta sama kamu, Sayang!" ujar Ikbal dengan kesal.


"Tapi kan Delisha cintanya sama Mas pacar. Coba nih kalau Mas pacar jadi donorin jantung dan paru-paru Mas pacar buat Delisha. Mas pacar meninggal terus Delisha hidup dan menikah dengan kak Haidar atau orang lain bagaimana? Rela emang?" tanya Delisha dengan jahil yang membuat Ikbal mendengkus kesal.


"Sayang jangan gitu!" rengek Ikbal yang membayangkan jika Delisha menikah dengan yang lain dan dirinya sudah meninggal.


Delisha terkekeh. "Makanya jangan lakuin itu!" ujar Delisha dengan pelan.


"Iya gak, Cantik. Kan kita udah ketemu dokter Ridwan. Gimana setelah ini mau ketemu Zayyen? Tapi Mas gak rela," ujar Ikbal dengan kesal.


Ya keduanya sudah mengetahui orang yang mendaftarkan diri untuk mendonorkan jantung dan paru-parunya untuk Delisha adalah Zayyen, Akibat Delisha yang terus mendesak dokter Ridwan. Tentu saja Delisha tidak akan mau menerimanya, se-kecewa apapun Delisha kepada Zayyen, ia tidak akan tega membuat keluarga Zayyen kehilangan pria itu karena Delisha tahu bagaimana kisah Tiara yang harus rela berpisah dengan kedua anaknya demi Zayyen dan Zayden tidak dicelakai oleh mama dan papanya sendiri. Mengingat cerita Tiara, hati Delisha juga ikut menjadi sakit.


"Mas pacar temani Delisha ya besok. Bagaimanapun kak Zayyen gak boleh mendonorkan jantung dan paru-parunya, Delisha gak mau buat tante Tiara dan om Zidan sedih. Apalagi sekarang kak Zayyen harus jaga kak Zevana karena tante Tiara dan om Zidan lagi ada di Jerman untuk menemani kak Zayden berobat," ujar Delisha dengan sendu.


"Perhatian sekali dengan mantan," cibir Ikbal dengan kesal.


"Uluh-uluh kesayangan Delisha. Sini peluk Delisha," ujar Delisha dengan lembut.


Ikbal naik ke atas brankar Delisha dan keduanya saling memeluk satu sama lain.


"Delisha bukan perhatian sama mantan. Tapi Delisha kasihan sama tante Tiara. Kak Zayyen gak boleh egois," ujar Delisha dengan pelan.


"Iya tahu, cantiknya aku! Janji harus kuat ya!" ujar Ikbal dengan penuh harap.


"Janji!" ujar Delisha dengan tersenyum yang menular ke Ikbal.


Ikbal menyentuh bibir Delisha dengan pelan ia mendekatkan wajahnya hingga kedua bibir mereka menyatu. Ikbal bergerak dengan lembut dan Delisha membalas ciuman calon suaminya dengan pelan. Bunyi decapan bibir keduanya terdengar sangat indah, Ikbal yang tak mau Delisha sesak napas akhirnya menyudahi kegiatan favoritnya sekarang.


Napas keduanya menderu. Ikbal dan Delisha terkekeh. "Gak sabar nikahin kamu!" ujar Ikbal dengan gemas.


"Biar bisa jadi guling setiap malam. Di peluk kayak gini nih!" ujar Ikbal memeluk Delisha dengan gemas yang membuat Delisha terkekeh.


"Delisha sayangggg banget sama Mas pacar!" ujar Delisha dengan tulus.


"Mas juga sayang bangettttttt sama kamu, Cantik!" ujar Ikbal dengan lembut.

__ADS_1


__ADS_2