Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 201 (Permohonan Maaf Ikbal)


__ADS_3

...📌 Jangan lupa ramaikan ppart ini. Double up lagi nih!...


...Happy reading...


***


"Bang, mau kemana?" tanya Rose khawatir saat melihat anak angkatnya keluar dari rumah.


"Pulang, Ma! Zayyen ke sini mau mencari ketenangan tapi Papa malah menambah beban pikiran Zayyen! Papa Zidan saja tidak pernah menjodohkan Zayyen seperti ini," ujar Zayyen dengan kesal.


Baru kali ini Barra dan Rose melihat Zayyen marah lagi setelah kejadian masa lalu mereka. Keduanya tampak khawatir saat Zayyen tak mau lagi berkunjung ke sini.


"Bang, Papa minta maaf. Bukan maksud Papa seperti itu. Tapi Papa sedang berusaha agar kamu bisa melupakan Delisha," ujar Barra merasa bersalah.


"Kamu tahu sendiri kan Anggun itu anak yang baik," ujar Barra.


"Karena dia baik seperti Delisha, Zayyen menolaknya! Zayyen gak mau membuat hati perempuan sakit lagi! Zayyen hanya ingin sendiri untuk sekarang," ujar Zayyen dengan tegas dan langsung meninggalkan kedua orang tua angkatnya begitu saja.


"Mas, seharusnya tidak seperti itu. Aku takut Zayyen semakin menjauh dari kita," gumam Rose dengan sendu.


"Maaf, Sayang. Mas hanya tidak ingin Zayyen terus terpuruk dengan perasaan bersalahnya kepada Delisha. Mungkin dengan kehadiran Anggun bisa membuat Zayyen berubah dan mencintai Anggun," ujar Barra dengan pelan.


"Biarkan Zayyen mau apa, Mas. Kita hanya orang tua angkatnya, kita tidak berhak atas kehidupannya," ujar Rose yang membuat Barra menghela napasnya dengan perlahan.


"Ya Mas salah, Sayang!" ujar Barra dengan sendu.


****


Zevana membuka matanya dengan perlahan, rasa pusing menghantam kepalanya. Gadis itu mengerang dengan perlahan, pandangannya yang buram mulai terang kembali. Zevana baru ingat sekarang jika dirinya pingsan setelah dirinya dan Haidar berhubungan.


Zevana menatap sekelilingnya. Ia masih di tempat yang sama, Haidar sama sekali tidak membawanya ke rumah sakit. Zevana terkekeh lirih dengan air mata yang mengalir di kedua pipinya, mana mungkin Haidar berbaik hati kepadanya. Zevana terlalu tinggi berharap kepada suaminya.


Zevana berusaha bangun dari tidurnya. Di kamar sempit ini tidak ada kasur seperti di kamarnya dulu atau kamar Haidar. Zevana hanya tidur dengan beralasan karpet tipis yang dinginnya lantai menembus kulitnya.


"Kamu kuat, Zeva! Kamu kan yang menginginkan semua ini. Dan sekarang kamu harus berjuang untuk membuat suami kamu mencintai kamu," ujar Zevana dengan tersenyum. Senyum keterpura-puraan untuk menutup lukanya sekarang.


Zevana keluar dari kamarnya, ia sudah tidak melihat Haidar di apartemen ini. Ponselnya berdering dan ternyata mamanya yang menelepon.

__ADS_1


Zevana dengan tangan gemetar mengangkat telepon mamanya. "H-halo, Ma!" sapa Zevana dengan air mata yang keluar menjatuhi pipinya. Zevana langsung menyeka air matanya dengan kasar.


"Halo, Sayang. Kamu sehat, kan?" tanya Tiara dengan lembut.


"Alhamdulillah Zevana sehat banget, Ma!" sahut Zevana dengan berpura-pura bahagia.


"Mama sama papa gimana di sana? Kak Zayden sudah sadar belum, Ma?" tanya Zevana dengan pelan.


"Alhamdulillah sehat, Sayang. Kakak kamu juga sudah sadar tapi dia melupakan kita semua," gumam Tiara dengan sendu.


"M-maksud Mama kak Zayden lupa ingatan?" tanya Zevana dengan terbata.


"I-iya, Sayang. Tapi kamu gak perlu khawatir ya kakak kamu akan mengingat semuanya," ucap Tiara dengan tersenyum walau Zevana tak melihatnya.


"Haidar gimana, Sayang? Maksud Mama dia baik kan sama kamu?" tanya Tiara dengan gusar.


pertanyaan Tiara membuat air mata Zevana kembali mengalir tetapi cepat-cepat ia seka dengan tangannya dan tanpa Zevana sadari Haidar mendengar semua percakapan Zevana dengan Tiara karena pria itu tak jauh dari Zevana sekarang.


"Kak Haidar baik banget sama Zevana, Ma. Walaupun pernikahan kami terjadi karena insiden tapi kak Haidar memperlakukan Zevana selayaknya istri. Kak Haidar gak pernah kasar dan bentak Zevana, Ma! Dia baik banget, Ma! Zevana makin cinta sama kak Haidar," ujar Zevana dengan berlinang air mata karena telah membohongi mamanya.


"Emmm... G-gimana ya, Ma. Zeva lagi masak buat kak Haidar. Kak Haidar sangat suka masakan Zevana. Mama tahu sendiri, kan? B-besok saja ya Ma video call-nya Mama gak marah, kan?" tanya Zevana merasa bersalah pada mamanya.


"Baiklah kalau begitu Sayang. Mama tutup teleponnya ya!" ujar Tiara dengan kecewa.


"Iya, Ma. I miss you!" ujar Zevana dengan lirih.


"Miss you too, Sayang!"


Setelah sambungan telepon terputus Zevana langsung menggigit jarinya menahan isak tangis yang hendak pecah. "Hiks...hiks...maafkan Zeva, Ma! Zeva gak mau mama khawatir dan membenci kak Haidar," ujar Zevana dengan terisak.


"Bahkan saat gue jahat pun dia selalu memuji gue di depan orang tuanya," gumam Haidar yang merasa bersalah tetapi dendam di hatinya tak mampu meluluhkan hatinya saat ini mungkin setelah kehilangan Zevana barulah Haidar akan sadar betapa cinta Zevana sangat besar kepadanya.


****


Naura mengelus kepala Daniel dengan lembut seketika rasa bersalah karena telah membuat kekasihnya mengkhawatirkan dirinya menyusup di hatinya.


Daniel yang merasakan elusan tangan Naura langsung mencoba terbangun. Ia tersenyum melihat Naura juga tersenyum kepada dirinya

__ADS_1


Daniel menggenggam tangan Naura dengan lembut dan meletakkan di tangannya. "Jangan lakuin itu lagi ya! Kamu hampir buat Kakak mati berdiri Naura," ujar Daniel dengan lirih.


"Maaf!" gumam Naura dengan tersenyum.


"Ini kenapa?" tanya Naura khawatir saat melihat perban di lipatan lengan Daniel.


"Ini buat menyelamatkan calon istri Kakak yang hampir meninggal," ujar Daniel yang langsung membuat Naura langsung tercenung.


"Hiks... Maaf!" gumam Naura yang membuat Daniel mengelus kepala Naura dengan sayang.


"Gak apa-apa, Sayang. Janji ya jangan seperti ini lagi," gumam Daniel yang diangguki oleh Naura.


"Maaf selalu merepotkan Kakak! Naura belum bisa menjadi pacar yang baik," ujar Naura dengan sendu.


"It's oke, Sayang. Kamu gak pernah merepotkan Kakak!" ujar Daniel dengan lembut.


Tubuh Naura langsung menegang saat Ikbal masuk ke ruangannya. Naura menggenggam tangan Daniel dengan erat, ia sangat takut bertemu dengan Ikbal.


"Naura bukan adik tiri, Kakak! Naura juga bukan anak Papa! Naura bukan anak pelakor. Jadi, jangan tatap Naura seperti itu! Kak Ikbal pergi saja!" ujar Naura dengan takut.


"Naura tenang! Ikbal ke sini mau minta maaf sama kamu," ujar Daniel dengan tegas.


"Jangan tinggalin Naura, Kak!" gumam Naura dengan takut.


Ikbal memejamkan matanya dan menghela napasnya dengan berat. "Maaf! Gue salah! Gue gak tahu kalau lo bukan anak papa gue! Jujur gue kecewa dengan apa yang di lakukan papa gue dan mama lo tapi di sini gue coba mengerti karena papa gak mau lo kehilangan sosok papa dalam hidup lo," ujar Ikbal dengan tulus yang membuat Naura dengan tercenung.


Naura terkekeh dengan air mata yang keluar membuat Daniel langsung mengusap air mata kekasih. "Naura selalu merasa bersalah sama, Kak Ikbal! Tapi ternyata di sini Naura yang paling menyedihkan. Naura sudah berharap akan mempunyai kakak lelaki dan itu kak Ikbal tapi ternyata semua itu di luar ekspetasi Naura. Sekarang Kak Ikbal bahagia kan karena kedua orang tua Kak Ikbal kembali bersama?" ucap Naura dengan tersenyum.


"Maaf!" gumam Ikbal yang tak lagi bisa berkata-kata.


"Seharusnya Naura yang minta maaf! Maaf telah merebut papa Kak Ikbal! Maaf karena masih berharap papa Tomi tetap menjadi papa Naura! Maaf telah membuat kebahagiaan keluarga kak Ikbal menghilang bertahun-tahun. Tapi, saat ini Naura akan kembalikan kebahagiaan itu! Naura janji tidak akan mengganggu keluarga Kak Ikbal lagi," ucap Naura dengan sendu.


Ikbal hanya diam menatap Naura. Sedangkan Daniel berusaha memenangkan Naura saat ini.


"Lo bisa anggap gue sebagai Kakak lo!" ujar Ikbal sebelum lelaki itu pergi begitu saja tanpa pamit dengan Naura maupun Daniel.


Naura semakin terisak memeluk Daniel. "Hiks...Bukankah yang diucapkan kak Ikbal tadi sudah terlambat, Kak?" gumam Naura dengan lirih.

__ADS_1


__ADS_2