
...Selamat hari raya idul adha semuanya....
...Jangan lupa ramaikan part ini ya...
...Happy reading...
****
"Bumilnya Zidan. Di mana kamu Sayang?" teriak Zidan saat baru saja pulang dari rumah sakit.
"Suttt.. Papa jangan ribut!" ucap Zayyen dengan suara yang amat kecil.
Zidan mencari keberadaan anaknya hingga ia tersenyum saat menemukan Zayyen dan istrinya di sana.
Dengan perlahan Zidan mendekat ke arah keduanya. Ia melihat Tiara yang sedang tidur di paha kecil anaknya, sedangkan Zayyen terlihat santai walau Zidan tahu jika anaknya keberatan dengan kepala mamanya yang ada di paha Zayyen.
"Udah dari tadi mama tidur?" tanya Zidan kepada anaknya.
"Baru 15 menit yang lalu, Pa. Zayyen temani mama menunggu Papa pulang," ujar Zayyen dengan pelan.
Zidan mengangguk mengerti. "Zayden kemana?" tanya Zidan yang tak melihat keberadaan anak keduanya di sini.
"Tuh!" tunjuk Zayyen kepada kembarannya yang sudah tertidur di bawah dengan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Astaga, Zayden kebiasaan banget," gumam Zidan dengan menggelengkan kepalanya.
"Papa gendong mama kamu ke kamar dulu ya," ucap Zidan yang di angguki oleh Zayyen.
Cup...
"Selamat tidur Mama!"
Cup...
"Selamat tidur adek gembul!"
__ADS_1
Zayyen berucap dengan sangat manis yang membuat Zidan terkekeh.
"Yakin banget kalau adeknya cewek?" tanya Zidan kepada Zayyen.
"Yakin. Adek selalu nendang kalau aku panggil dia princess," sahut Zayyen dengan tegas tak ada keraguan di sana.
"Sampai segitunya? Kenapa Papa tidak tahu?" kaget Zidan.
"Papa tidak bertanya!" jawab Zayyen dengan dingin.
Zidan hanya bisa menghela napasnya. Berlama-lama berbicara dengan Zayyen membuatnya selalu mati kutu, Zayyen lebih dingin dari pada dirinya.
Zidan mulai menggendong Tiara dengan perlahan. Semenjak hamil Tiara gampang sekali tertidur di mana pun tempatnya asal kepalanya sudah di rabahkan maka matanya tak lama langsung terpejam.
"Lucu banget perutnya!" kekeh Zidan yang sangat merasa gemas dengan perut buncit Tiara.
Seandainya dulu Zidan melihat dengan langsung saat Tiara hamil Zayyen dan Zayden mungkin akan terlihat lebih lucu lagi karena tubuh mungil itu membawa dua bayi sekaligus.
Zayyen membiarkan papanya membopong tubuh mamanya ke kamar. Ia merasa lega saat kepala mamanya tidak lagi menindih pahanya yang kecil, tetapi walaupun begitu Zayyen tidak tega menggeser pahanya yang menjadi bantal untuk mamanya. Bahkan anak kecil itu menahan kantuknya demi menjaga mamanya di saat papanya belum pulang.
"Gak mau nunggu Papa sebentar?" tanya Zidan memastikan.
"Enggak!" jawab Zayden dengan singkat dan sangat jelas.
"Hah...Ya sudah lah. Cepat tidur besok sekolah! Kalian kapan akurnya sih? Mama udah sembuh loh," ujar Zidan dengan pelan.
Zayyen hanya mengedikkan bahunya pertanda ia juga tidak tahu karena selama ini Zayden lah yang memusuhinya bukan dirinya yang mencari masalah, Zayyen hanya mengikuti apa kemauan Zayden. Zayden akan lebih sangat marah ketika ia dekat dengan Cika padahal Cika adalah kakak sepupu mereka walau usia mereka sama.
Zidan menatap kepergian anak sulungnya dengan tatapan nanar. Di balik sikap dinginnya Zidan tahu anaknya menyimpan sebuah luka, tak mau terus bersedih Zidan membawa Tiara ke kamarnya dan setelah itu ia menggendong Zayden ke kamar anaknya sendiri. Zayyen dan Zayden pisah kamar, Zayden tak ingin sekamar dengan Zayyen bahkan semua barang miliknya tak boleh di sentuh oleh Zayyen termasuk Cika.
****
Zidan kembali ke kamarnya setelah menidurkan anaknya kembali di kamar. Ia memandang Tiara dengan penuh cinta, bahkan tatapannya sangat dalam. Entahlah Zidan masih merasakan jika ini mimpi, tetapi setiap ia membuka mata dan melihat keberadaan Tiara di sampingnya membuat Zidan percaya jika Tiara-nya nyata bahkan sekarang sedang mengandung anaknya. Usia kandungan Tiara sudah memasuki bulan ke-5 dan membuat Zidan sangat posesif dengan Tiara.
Tangan Zidan masuk ke piyama Tiara dengan perlahan. Ia mengelus perut buncit Tiara dengan lembut.
__ADS_1
"Cantiknya bumil Zidan!" gumam Zidan dengan terkekeh.
Zidan meletakan kepala Tiara di atas lengannya dengan pelan. Setelah di rasa istrinya kembali nyaman Zidan kembali mengelus perut Tiara dengan lembut bahkan sangat lembut.
"Kakak kamu sangat yakin kalau kamu perempuan, Nak. Papa yakin kamu akan menjadi princess untuk kedua kakak kamu yang memiliki sikap keras kepala namun sayang keluarga. Papa tahu mereka saling menyayangi namun rasa amarah itu menutupi hati mereka. Suatu saat kalau adek udah besar, adek harus bisa buat kedua kakakmu berdamai ya," gumam Zidan dengan lembut seakan anaknya ada di depan matanya.
Tiara menggeliat. Ia memeluk Zidan dengan erat. "Jam berapa Mas pulang?" tanya Tiara dengan serak.
"Jam 10 malam, Ay. Mas ganggu tidur kamu ya?" tanya Zidan dengan lembut.
Tiara menggelengkan kepalanya. "Aku mimpi makan kelapa muda. Rasanya enak banget, besok beliin ya?!" ucap Tiara dengan manja.
"Besok? Kenapa gak sekarang aja? Jarang loh kamu ngidam gini, Ay!" ujar Zidan antusias.
"Aku ngantuk nanti gak menikmati makan kelapa mudanya! Besok aja, Mas. Sekarang aku mau tidur di peluk kamu," ujar Tiara dengan manja.
Zidan menjadi lesu karena Tiara tak jadi mengidam sekarang. Tetapi ia tersenyum saat mendengar rengekan Tiara yang menyuruhnya untuk segera memeluk Tiara.
Cup....
"Gemes banget bumil. Seharian tadi ngapain aja?"
"Nunggu Zayyen dan Zayden pulang terus nunggu kamu pulang juga. Aku kan sekarang jadi ibu hamil pengangguran," ucap Tiara dengan cemberut.
"Kok pengangguran sih? Kan kamu sudah jadi istri aku ya pekerjaan kamu melayani aku, Ay. Terutama urusan ranjang kalau pekerjaan dapur biar bibi aja. Kamu gak boleh capek-capek," ujar Zidan dengan tegas.
"Bukan karena aku gak punya tangan lagi? Toh sekarang aku cacat! Aku gak bisa melayani kamu dengan sempur..."
Zidan meletakan jari telunjuknya di bibir Tiara. "Kamu sempurna di mata, Mas! Jangan insecure lagi Mas gak suka! Di mata Mas kamu yang paling sempurna," ujar Zidan dengan tegas.
"Iya-iya... Aku ngantuk mau dielus perutnya kayak tadi," rengek Tiara yang mengalihkan pembicaraan agar tidak tegang seperti tadi karena Tiara tahu dari mata Zidan menyimpan rasa bersalah dan luka yang ditunjukkan untuk dirinya.
"Manja banget sih!" kekeh Zidan tetapi tetap melakukan apa yang di inginkan istrinya. Zidan meletakkan dagunya di atas kepala Tiara. Ia menghela napasnya dengan perlahan.
"Seandainya bisa digantikan biar Mas saja yang cacat, Ay!" gumam Zidan di dalam hati.
__ADS_1