Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 49 (Amukan Fathan)


__ADS_3

...Jangan lupa ramaikan part ini ya....


...Kasih semangat dong....


...Kasih emot ❤ ini dulu sebelum lanjut membaca biar author semangat....


...Happy reading...


******


Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam dan Fathan baru saja pulang dari rumah sakit, ia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Cika dan Tri yang sudah sangat ia rindukan. Fathan juga sudah mengirimkan pesan untuk istrinya tetapi tidak ada balasan sejak tadi bahkan whatsapp sang istri masih centang satu sejak pagi tadi, hal itu membuat Fathan khawatir dengan keadaan Tri. Apakah kedua anaknya kembali rewel di dalam perut Tri yang menyebabkan sang istri tidak bisa memegang ponselnya walau hanya sebentar.


Saat Fathan membuka pintu rumahnya hal yang pertama yang ia dapati adalah bi Sumi yang sedang bersama dengan Cika sedang duduk di sofa dengan Cika yang menangis dan bi Sumi yang menenangkan anaknya. Hal itu mengundang kecurigaan Fathan yang tidak mendapati istrinya di sana, biasanya jika Fathan belum pulang Tri akan menunggu dirinya di sofa dan ketiduran di sana jika tidak pun sang istri berada di kamar Cika dan setelah mendengar suara mobilnya Tri langsung menghampirinya tetapi kali ini benar-benar mencurigakan.


Bi Sumi terlihat panik menenangkan sang anak yang terus menangis hingga tak sadar jika dirinya sudah pulang.


"Bi, kenapa Cika? Dimana Hanum?" tanya Fathan dengan hati yang sama sekali tidak tenang.


"Papa hiks...hiks.." Cika berhambur ke pelukan Fathan yang membuat Fathan semakin bingung.


"Ada apa ini, Bi? Kenapa Cika menangis?" tanya Fathan dengan cemas.


"A-anu, Pak. Ibu belum pulang sejak pagi, tadi ibu berpamitan beli susu hamil dan menitipkan Cika ke saya tapi sampai sekarang belum pulang dan ponselnya tidak bisa dihubungi," ucap Bi Sumi terbata.


"KENAPA KAMU TIDAK MENGHUBUNGI SAYA, HAH?" ucap Fathan dengan keras karena ia takut terjadi sesuatu dengan Tri.


Cemas! Tentu saja Fathan sangat cemas dengan keadaan sang istri sekarang. Dimana Tri berada? Kenapa belum pulang sampai sekarang?


"S-saya sudah menelepon Bapak tapi Bapak tidak mengangkat telepon dari saya," ujar Bi Sumi dengan terbata karena ia takut dengan kemarahan majikannya sekarang.


"Hiks... Pa, Mama sudah janji akan membelikan Cika es krim. Tapi kenapa mama belum pulang, Pa? Cika sudah menunggu mama dari tadi! Hiks... Mama kemana, Pa?" tanya Cika dengan menangis tersedu.

__ADS_1


Gadis kecil itu sudah menunggu kepulangan mamanya sejak tadi tetapi sang mama tak kunjung datang.


Fathan berjongkok di hadapan Cika untuk mensejajarkan tingginya dengan sang anak. "Cika tenang ya. Papa akan membawa mama pulang. Sekarang Cika tidur dulu sama bi Sumi, Papa akan pergi mencari mama!" ujar Fathan dengan lembut walau sejujurnya sekarang ia sangat panik sekali. Fathan tidak bisa berpikir dengan jernih karena Tri yang menghilang secara tiba-tiba.


"Hiks...Cika ikut, Pa! Kalau Mama sama adek kembar terluka gimana, Pa? Cika ikut Papa!" rengek Cika yang semakin membuat Fathan kalut.


"Cika dengar, Papa! Cika di rumah sama bi Sumi! Ini sudah malam, Sayang. Papa janji akan membawa mama kamu pulang!" ucap Fathan dengan tegas.


Dengan tetap menangis Cika akhirnya mengangguk setuju walau rasanya ia enggan ditinggalkan sang papa. Cika benar-benar merindukan mamanya yang tak kunjung pulang.


"Bi, kalau ada apa-apa telepon saya. Tadi ponsel saya, saya silent jadi saya tidak mengangkat telepon Bibi. Jika Hanum pulang tolong telepon saya langsung!" ujar Fathan dengan dingin.


"I-iya, Pak!"


Fathan langsung pergi dari rumah lagi, ia mengendarai mobilnya dengan cepat dan ponsel ada di tangan kanannya, ia menghubungi Tri berulang kali namun nomor istrinya sama sekali tidak aktif.


"Kamu di mana, Sayang? Jangan buat Mas khawatir," ujar Fathan dengan lirih.


"Argghh... Kamu di mana, Hanum? Jika terjadi sesuatu dengan kamu dan anak kita Mas tidak akan memaafkan diri Mas!" ujar Fathan dengan frustasi.


Suara gemuruh menandakan hujan akan turun tak membuat Fathan menghentikan pencarian Tri.


Jeder....


Petir menyapa bersamaan dengan hujan yang turun semakin deras.


"Argghh..." Fathan memukul stir mobilnya dengan kencang, hampir satu jam ia mencari keberadaan sang istri yang tak kunjung ia temui.


Fathan mengacak rambutnya frustasi, dadanya seperti di hantam batu besar hingga membuat dadanya sesak. Kemana istrinya pergi? Kenapa sangat mencurigakan sekali?


Mengingat sesuatu Fathan kembali mengambil ponselnya untuk mengecek CCTV di rumahnya, siapa tahu ada petunjuk tentang kepergian Tri yang sangat misterius dan aneh bagi Fathan.

__ADS_1


Fathan mengamati gerak-gerik istrinya, wajah Tri tampak berbeda ketika melihat ke arah ponsel dan tak lama Cika datang. Tri berpamitan untuk pergi membeli susu hamil.


Fathan tidak mendapatkan penunjukan apapun selain wajah Tri yang berubah menjadi tegang ketika melihat ponselnya. Mungkinkah Tri mendapatkan pesan yang telah membuat sang istri ketakutan?


Fathan kembali mengendarai mobilnya walau di tengah derasnya hujan membasahi bumi. Fathan akan bertekat menemukan istrinya malam ini juga, setelah bertemu Fathan akan menghukum istrinya di ranjang karena telah membuat dirinya sangat khawatir.


"Hanum, dimana kamu?" ucap Fathan dengan cemas.


Fathan terus mengendarai mobilnya, tak peduli hari menjelang pagi, wajah lelahnya tidak membuat Fathan berhenti untuk mencari istrinya. Tri adalah belahan jiwanya, kehilangan Tri sama saja kehilangan separuh jiwanya. Fathan tidak tahu jika kehidupannya tanpa Tri akam seperti apa, yang jelas Fathan tidak ingin kehilangan untuk kedua kalinya.


"HANUM!" teriak Fathan frustasi. Fathan menghentikan mobilnya dan keluar mencari Tri tanpa menggunakan payung. Tubuhnya langsung basah kuyup, dinginnya malam sudah tidak Fathan rasakan sama sekali. Yang ada di pikiran Fathan hanya Tri, Tri dan Tri.


"Hanum, dimana kamu Sayang?" teriak Fathan dengan keras. Suaranya tetap kalah dengan air hujan yang turun sangat deras.


Nyut....


Hati Fathan berdenyut sakit, air matanya langsung mengalir begitu saja. Istrinya telah pergi meninggalkan dirinya! Sanggupkah Fathan menjalani hidupnya?


"Hiks... Kenapa kamu pergi tanpa pamit, Hanum? Apa kamu sudah bosan hidup dengan Mas?" teriak Fathan frustasi.


"HANUM! MAS MOHON PULANG, SAYANG! MAS GAK BISA HIDUP TANPA KAMU," teriak Fathan.


Bruk....


Tubuh Fathan terjatuh di jalan dengan lututnya sebagai topangan dirinya yang semakin lemah tanpa Tri. "ARGGHH...HANUM! SETIDAKNYA KATAKAN PADA MAS MENGAPA KAMU PERGI?! JANGAN BEGINI HANUM, KAMU SEDANG HAMIL! KANDUNGAN KAMU LEMAH SAYANG, MAS HARUS MEMANTAU KANDUNGANMU SETIAP SAAT!" teriak Fathan benar-benar frustasi.


"HANUM KEMBALI!" teriak Fathan lagi. Dadanya sangat sesak dan entah mengapa dalam keadaan seperti ini Fathan mengingat mamanya.


Tangan Fathan terkepal dengan sangat kuat, rahangnya mengeras dengan kilat mata yang memendam emosi.


"MAMA, JIKA KEPERGIAN ISTRI FATHAN KARENA MAMA, FATHAN TIDAK AKAN PERNAH MEMAAFKAN MAMA!"

__ADS_1


Setelah ini hidup Fathan akan benar-benar hampa tanpa seorang Tri di kehidupannya. Fathan sudah kehilangan semangat hidupnya.


__ADS_2