Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 98 (Perkara Vespa Tua)


__ADS_3

...Jangan lupa ramaikan part ini ya....


...Happy reading...


****


Melihat kedua anak kembar Fathan dan Tri yang sangat menggemaskan membuat Akbar tiba-tiba ingin Fiona segera hamil anaknya. Tiga bulan menikah dan Akbar selalu menanam benihnya di rahim Fiona setiap malam tetapi Fiona tak kunjung hamil karena ia tahu di sini permasalahan ada pada dirinya.


Akbar mengajak Fathan berbicara berdua ketika sang istri masih di kamar Fathan dan Tri bermain dengan kedua anak kembar Fathan yang belum mengerti apa-apa, di dalam kamar pasangan suami itu juga ada mama Yesha dan papa Handoko yang keadaannya mulai membaik serta ibu Harni dan pak Bagus.


"Ada yang mau dibicarakan?" tanya Fathan saat melihat Akbar seperti orang yang banyak pikiran. Mungkin pria itu bingung mau mulai berbicara dari mana pada Fathan sebab ia merasa malu untuk mengungkapkannya pada kakak iparnya sendiri yang usianya lebih muda darinya.


"Katakan saja, Bar!" ujar Fathan.


"Saya ingin melakukan program bayi tabung. Apa bisa?" tanya Akbar dengan ragu tetapi tatapannya sangat serius. Ia ingin memiliki anak dari Fiona.


Fathan tampak menaikkan kedua alisnya setelah itu mengangguk. "Bisa. Tapi biayanya sangat mahal sekali suntik saja bisa jutaan," ujar Fathan.


"Gak masalah. Berapa pun biayanya akan saya bayar yang terpenting Fiona bisa hamil anak saya. kamu tahu kan jika saya divonis oleh dokter saya tidak bisa mempunyai anak, hingga pernikahan saya dengan mantan istri saya yang pertama berjalan 15 tahun kami tidak mempunyai anak. Dan akhirnya kami bercerai," jelas Akbar yang diangguki oleh Fathan.


"Mumpung keluarga saya sedang berkumpul dan menjaga istri dan anak saya. Kita langsung ke rumah sakit saja untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut," ucap Fathan yang membuat Akbar langsung semangat.


"Kalau begitu saya panggil Fiona dulu," ujar Akbar dengan bahagia. Namun, ketika Akbar hendak memanggik Fiona, wanita itu sudah datang dengan sedikit berlari ke arahnya.


"Mas Suami. Fio boleh gak culik Nevan sama Nessa? Mereka lucu banget Fio mau punya kayak gitu," ucap Fiona merengek yang membuat Fathan langsung menyentil dahi adiknya.


"Itu anak kakak! Enak saja mau diculik, kamu tahu gak itu hasil keringat kakak sama mbak kamu setiap malam," sewot Fathan yang membuat Fiona cemberut.


"Pelit banget. Tiap malam juga Fio sama mas Akbar berkeringat, kasur sampai berantakan," ujar Fiona yang membuat Akbar mendelik dan membekap mulit istrinya agar tidak berbicara lagi dengan Fathan tentang urusan ranjang keduanya.


Fathan menatap keduanya dengan pandangan yang sulit diartikan pantas saja banyak perubahan yang terjadi di dalam diri Fiona. Dada yang semakin membesar, pinggulnya juga terlibat berbeda, adiknya sangat berisi terlihat dari lekuk tubuh Fiona yang banyak perubahan dua bulan terakhir ini. Apa jangan-jangan...? Ahh Fathan tidak ingin berpikir terlalu jauh dulu karena semuanya belum terbukti.


"Kita ke rumah sakit dulu ya. Kakak Kamu mau periksa kita," ucap Akbar dengan lembut.


"Kita gak sakit kenapa diperiksa?" ucap Fiona dengan polosnya.


"Kakak kamu kan dokter kandungan, Sayang. Yang periksa ibu hamil, katanya Fio mau punya anak kayak Nevan sama Nessa. Kalau bisa buat kenapa kita harus curi keponakan kita sendiri hmm," jelas Akbar agar samg istri mengerti.


"Ooo iya ya Fio lupa," ucap Fiona menepuk dahinya sendiri.


Fiona lalu menatap kakaknya dengan pandangan yang amat serius. "Kak Fathan pakai gaya apa bisa anaknya kembar? Kalau Fio sama mak Akbar sering pakai gaya Fio di atas terus di dalam kamar mandi. Gaya itu bisa buat Fio hamil anak kembar kan ya? Atau Mas Akbar bohong? Tapi Fio suka gaya itu itu sih mana mungkin mas Akbar bohong," ucap Fiona dengan polosnya yang membuat kedua lelaki itu menelan ludahnya dengan kasar.


Fathan yang mengumpat kepada adiknya karena setelah kelahiran si kembar maka Fathan akan berpuasa selama 40 hari. Sedangkan Akbar ingin sekali membawa istrinya pulang dan mengurung Fiona di kamar, dan meragakan apa yang baru saja istrinya katakan.


"Jangan buat darah kakak mendidih Fio!" ucap Fathan memijat pelipisnya.

__ADS_1


"Fio gak rebus darah Kakak kenapa bisa mendidih? Tadi kan Fio cuma tanya sama Kakak pakai gaya apa saat bercin...mmmta.."


Akbar kembali membekap mulut istrinya yang tak ber filter kalau sedang berbicara. "Diam kamu Fio! Ucapan kamu itu buat kepala kami pusing atas bawah. Sekarang ayo ke rumah sakit!" ucap Akbar dengan kesal.


"Fio gak melakukan apa-apa kok di bilang buat sakit kepala sih. Kepala atas bawah lagi kan kepala cuma satu ada di atas, mas suami sekolahnya di mana sih?" gumam Fio bersungut sebal.


Akbar tak mempedulikan ucapan istrinya yang ngedumel tidak jelas. Ia menggandeng tangan Fiona untuk keluar sedangkan Fathan kembali ke kamarnya untuk berpamitan kepada istri dan anak-anaknya serta para orang tuanya.


****


Saat ini Akbar dan Fiona sedang di perjalanan menuju rumah sakit sedangkan Fathan menggunakan mobilnya sendiri tanpa ingin menumpang pada adik iparnya tersebut, Fiona asyik menatap ke luar jendela matanya berbinar menatap bapak-bapak yang sedang menaiki vespa tua berwarna kuning yang menarik bagi Fiona saat ini.


"Mas suami mau naik itu!" rengek Fiona seperti anak kecil kepada Akbar.


Akbar menaikan satu alisnya melihat apa yang telah di tunjuk istrinya.


"Naik apa, Sayang? Kita mau ke rumah sakit ini," ucap Akbar dengan lembut.


"Pokoknya Fio mau naik itu! Mau pinjam itu sama bapaknya! Kita naik itu ke rumah sakit," rengek Fiona.


"Naik itu apa?Coba jelaskan ke Mas? Mas gak ngerti," ucap Akbar berusaha sesabar mungkin menghadapi Fiona jika sudah dalam mood yang seperti ini.


Saat ini mereka sedang berhenti di lampu merah. Akbar menatap ke arah yang di tunjuk istrinya, tidak mungkinkan Fiona meminta naik vespa tua berwana kuning dalam keadaan cuaca yang sangat panas? Akbar tidak akan membiarkan kulit mulus istrinya terbakar.


"Vespa kuning itu, Mas Suami! Fio mau naik itu! Ayo pinjam ke bapaknya!" rengek Fiona dengan menarik lengan Akbar.


"Gimana kita beli telur gulung aja di tempat biasanya sebelum ke rumah sakit!" bujuk Akbar yang membuat Fiona terdiam.


Akbar menunggu reaksi Fiona karena ia tahu bagaimana sukanya Fiona dengan telur gulung dan pasti istrinya itu tidak akan menolak.


Tetapi tebakan Akbar salah, istrinya itu menggeleng dengan keras dengan wajah yang terlihat sangat muak.


"Fio gak suka telur gulung lagi. Bayangin tulur gulung yang kecil gak sama kayak punya Mas buat perut Fio eneg," ujar Fiona menahan rasa mual yang tiba-tiba saja datang.


"M-maksud kamu apa bayangin telur gulung sama burungnya Mas? Jelas beda lah, Sayang. Kamu ini ada-ada aja!" ucap Akbar dengan sewot.


Mata Fiona berkaca-kaca, saat ini ia ingin merasakan naik vespa tua berwarna kuning itu. "Naik vespa itu ayo hiks...Mas suami ayo naik vespa itu," rengek Fiona yang membuat Akbar mengusap wajahnya dengan kasar. Akhir-akhir ini Fiona selalu meminta hal yang aneh kepadanya.


"Ini udah mau lampu hijau, Sayang. Besok aja ya nanti Mas belikan yang jauh lebih bagus dari itu," ucap Akbar berusaha untuk sabar.


"Gak mau! Mau punya bapak itu! pinjam bentar aja Mas! Panggil bapaknya suruh minggir sebentar, Fio mau vespa itu hiks..."


Akbar menghela napasnya. "Iya sebentar!" ucap Akbar akhinya mengalah.


"Pak!" panggil Akbar dengan sedikit keras.

__ADS_1


"Iya kenapa, Pak?" tanya pengendara vespa itu dengan bingung karena ia tak berbuat salah sedikit pun.


"Anaknya kenapa, Pak?" tanya pengendara vespa tersebut yang membuat darah Akbar mendidih. Apa bapak itu bilang? Anak? Astaga jika bukan dijalan raya sudah Akbar marahi sejak tadi.


"Boleh berhenti di depan sebentar? ISTRI SAYA MAU VESPA YANG BAPAK PUNYA! BERAPA PUN HARGANYA AKAN SAYA BELI!" ujar Akbar dengan kesal dan penuh penekanan hampir di setiap kata yang ia ucapkan. Enak saja dia dikatakan ayah dari Fiona, jelas Akbar tidak terima.


Wajah si pengendra itu terlihat berbeda seperti tak percaya jika Fiona adalah istri dari Akbar karena wajahnya yang masih sangat muda sekali.


Akhirnya si pengendra vespa itu menuruti apa mau Akbar karena ia kasihan melihat gadis yang di samping Akbar telihat menangis dan sangat menginginkan vespa miliknya.


Setelah lampu hijau menyala Akbar menjalankan mobilnya ke pinggir jalan di mana si pemilik vespa itu juga berhenti. Akbar keluar dari dalam mobil bersama dengan Fiona.


"Vespa-nya di jual gak, Pak?" tanya Akbar dengan dingin karena ia masih kesal dengan ucapan si pemilik vespa tersebut.


"Waduh, Pak. Ini motor saya satu-satunya saya gak bisa menjualnya," ucap si pemilik vespa tersebut dengan tak enak hati.


"25 juta bagaimana?"


"30 juta?"


"40 juta?"


"50 juta?"


Akbar terus menawar saat pemilik vespa tersebut seperti enggan menjual vespa miliknya. Akbar tidak mungkin meminjam vespa tersebut lebih baik langsung membelinya demi Fiona.


"T-tapi, Pak.. S-sa..."


"80 juta?"


"Baik, Pak! Saya akan menjualnya!" ucap si pemilik vespa tersebut dengan wajah berbinar. Kapan lagi ia bisa mendapatkan uang sebanyak itu dari hasil menjual vespa tua miliknya. Ya walaupun jika dimodifikasi harganya akan sangat mahal tetapi ia tidak mempunyai cukup uang untuk memperbaiki vespa miliknya.


Akbar terlihat menyeringai puas setelah berhasil membeli vespa yang Fiona inginkan. Wajah Fiona yang tadinya murung tampak berseri-seri setelah mendapatkan apa yang ia mau.


"Bapak punya rekening bank? Saya akan transfer uangnya sekarang juga," ucap Akbar dengan puas.


"Ada Pak. Sebentar!" ucap si pemilik vespa itu dengan bahagia.


"Ini, Pak!"


Akbar mengangguk, ia langsung mengambil ponselnya dan langsung membuka aplikasi pengirim uang.


"Sudah saya kirim 85 juta. 5 juta bonus untuk bapak karena sudah menjual vespa ini dan mengembalikan mood istri saya," ucap Akbar dengan puas.


"T-terima kasih, Pak. Ini surat-suratnya masih lengkap semua, silahkan di bawa vespa saya!" ujarnya dengan bahagia.

__ADS_1


"Yeee naik vespa ke rumah sakit sama Mas Suami!" teriak Fiona dengan meloncat bahagia.


Akbar tampak menggelengkan kepalanya dengan tersenyum tipis. Sebanyak apa pun uang yang ia keluarkan asal istrinya selalu tersenyum bahagia Akbar tak mempermasalahkannya karena uang bisa dicari tetapi untuk kebahagiaan istrinya susah untuk didapatkan kalau kita tidak mempunyai keinginan untuk membahagiakan istri.


__ADS_2