Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 257 (Harapan Naura)


__ADS_3

πŸ“Œ Jangan lupa ramaikan part ini ya.


πŸ“ŒDan jangan lupa mampir ke novel terbaru author yang berjudul 'Suami Bayaran Nona Rania' yang pastinya seru juga. Sudah update juga ya jangan lupa baca.



...Happy reading...


***


Jam sudah menunjukkan jam setengah 6 pagi Naura sudah siap untuk berangkat ke kantor, untuk mengurangi rasa lapar yang ia rasakan Naura banyak minum air putih bahkan ia membawa air putih juga di dalam botol dan ia letakkan di tasnya. Rencananya Naura akan berjalan kaki saja untuk menghemat uang yang tinggal 10 ribu saja. Niatnya akan membeli mie instan untuk makanan dirinya beberapa hari.


"Semangat Naura!" gumam Naura menyemangati dirinya sendiri.


Naura keluar dari rumahnya dan mengunci pintu rumahnya, semangatnya pagi ini patut di acungin jempol karena semalam Naura menangis karena mamanya tetapi pagi harinya ia bisa tersenyum kembali untuk menyambut hari yang Naura rasa tidak ada yang berubah indah, hidupnya sudah menderita dan Naura seakan sudah pasrah dengan semuanya.


Jika berjalan kaki dari rumah sampai ke kantor Daniel mungkin akan memakan waktu satu jam lebih maka dari itu Naura berangkat pagi sekali agar tidak telat, semua pekerjaan yang Daniel berikan kepadanya sudah ia kerjakan dengan semaksimal mungkin yang ia bisa tetapi Naura tidak yakin jika pekerjaan yang ia kerjakan ini benar atau tidak di mata Daniel karena Naura melihat kebencian di mata Daniel untuknya.


Naura tidak menyalahkan Daniel karena semua kesalahan ada padanya dan jika nanti pekerjaannya di mata Daniel tidak benar maka Naura akan menerimanya dengan lapang dada asal dirinya tidak dipecat maka Naura sudah beryukur untuk itu.


Dengan semangat Naura berjalan kaki menyusuri jalan sendirian. Terkadang Naura merasa lelah dengan hidupnya dan ingin mengakhiri hidupnya seperti apa yang pernah ia lakukan dulu tetapi Naura masih ingin hidup lebih lama lagi karena ia hanya ingin mendapatkan maaf dari Daniel dan memperbaiki hubungan mereka.


Siapa sih yang tidak ingin kehidupannya membaik seperti dulu. Naura sangat ingin kehidupannya seperti dulu lagi. Andai saja mamanya tidak menikah lagi dan andai saja rumah pemberian papa angkatnya tidak di jual oleh mamanya mungkin Naura masih memiliki tempat tinggal yang layak. Bahkan dari hasil penjualan tersebut Naura hanya diberikan 5 juta oleh mamanya, padahal dulu mamanya sangat menyayangi dirinya. Semuanya berubah setelah kedatangan lelaki yang membuat mamanya seakan lupa mempunyai dirinya. Dengan iming-iming kekayaan bahkan mamanya tega menelantarkan dirinya begitu saja.


"Ternyata capek juga," gumam Naura menyeka keringat yang berada di dahinya, baru setengah jalan perutnya sudah berbunyi dengan nyaring. Untuk mengganjal rasa laparnya Naura minum terlebih dahulu.


****


Akhirnya setelah berjalan kurang lebih sejam lamanya akhirnya Naura sampai di kantor Daniel dengan napas yang tersengal karena lelah yang ia rasakan, apalagi rasa pegal pada kakinya membuat Naura duduk di sofa terlebih dahulu sebelum ke atas di mana ruangan dirinya berada yang berdekatan dengan ruangan Daniel dan sekretaris Daniel.


Setelah di rasa keringatnya sudah menghilang barulah Naura berjalan ke arah lift untuk menuju ruangan kerjanya. Ia tak mau Daniel sudah datang sebelum dirinya, Naura sengaja berangkat pagi sekali untuk mengecek pekerjaannya yang mungkin saja masih ada yang kurang pas.

__ADS_1


"Lapar banget!" gumam Naura dengan lirih.


"Pagi Naura!" sapa sekretaris Daniel dengan ramah.


"Pagi, Mbak!" sahut Naura dengan ramah.


"Sudah sarapan? Ayo sarapan bareng! Saya tadi belum sempat makan di rumah jadi mama saya menyiapkan bekal sarapan," ujar Sekretaris Daniel dengan tersenyum.


"Makan saja, Mbak. Saya sudah makan tadi di rumah," ujar Naura dengan berbohong.


"Ooo ya sudah saya makan dulu ya takutnya Tuan Daniel sudah datang," ujar Rianti dengan tersenyum.


"Iya, Mbak!"


Naura menelan ludahnya dengan kasar saat melihat bekal sarapan Rianti yang terlihat sangat enak sekali.


'Naura ini sudah mama siapkan bekal untuk kamu sarapan di sekolah. Jangan lupa di makan ya, Sayang!'


***


"Naura ke ruangan saya sekarang!" ujar Daniel dengan dingin yang membuat Naura sedikit tersentak karena tenyata ia sudah lama bekerja sampai-sampai ia tidak sadar dengan kedatangan Daniel.


"B-baik, Tuan!" ujar Naura dengan terbata.


Naura bangun dari duduknya dan membawa semua pekerjaan yang sudah selesai ia kerjakan masuk ke dalam ruangan Daniel.


"Semua pekerjaan yang saya berikan kemarin mana?" tanya Daniel dengan datar.


"I-ini, Tuan!" ujar Naura memberikan beberapa dokumen kepada Naura.


Daniel mengambilnya dan memeriksanya satu persatu. "Apa-apaan ini? Kamu baru pertama kali bekerja sudah membuat kesalahan seperti ini, perbaiki semuanya. Dan ini saya sama sekali tidak suka dengan desain ruangan yang kamu buat! Ganti desainnya dan hari ini harus siap sebelum jam istirahat!" ujar Daniel dengan tajam.

__ADS_1


"T-tapi, Tuan. Saya sudah mengerjakan semuanya seperti yang anda mau," ujar Naura dengan mata berkaca-kaca.


"Ini masih salah Naura! Kamu tidak lihat?! Semua yang kamu kerjakan masih banyak kekurangannya! Kerjakan ini kembali sebelum jam istirahat saya tidak mau tahu! Atau gaji kamu akan saya potong!" ujar Daniel dengan dingin.


"I-iya, Tuan! T-tapi jangan potong gaji saya," ujar Naura dengan terbata.


Naura kembali membereskan map-map yang ada di meja Daniel dengan menahan tangisannya. Naura sudah tidak sanggup, ia berlari memeluk Daniel yang membuat Daniel tersentak.


"Kak..." ucapan Naura tercekat.


"Maaf! Please maafkan Naura! Hiks...hiks..."


Daniel memejamkan matanya dengan cepat. Ia melepaskan pelukan Naura pada dirinya dengan kuat hingga gadis itu hampir terjatuh. "Ini di kantor dan saya tidak suka ada wanita yang memeluk saya. Kita tidak mempunyai hubungan apapun Naura! Sekarang kamu karyawan saya dan saya adalah bos kamu jadi jangan berani macam-macam dengan saya! Kerjakan semua ini, setelah saya kembali semua sudah harus selesai!" ujar Daniel dengan tajam tak mempedulikan Naura yang sudah menangis di hadapannya walau sebenarnya hatinya sakit melihat Naura menangis seperti ini.


"Cengeng!" ujar Daniel dengan kesal meninggalkan Naura yang entah mengapa semakin terisak.


"Kak aku butuh kamu! Aku butuh tempat curhat rasanya sesak banget dada Naura, Kak!" gumam Naura di dalam hati.


Naura keluar dari ruangan Daniel dengan langkah pelan. Ia memperhatikan kedekatan Daniel dengan Rianti. Apakah mereka memiliki hubungan spesial? Naura tersenyum miris ternyata tidak ada artinya ia memperbaiki semuanya, Naura juga sudah tidak pantas untuk Daniel. Jadi, tujuan hidupnya sekarang apa?


"Naura saya dan Tuan Daniel akan berangkat meeting di luar. Tuan Daniel berpesan agar semua pekerjaan yang ada di kamu harus selesai sebelum jam makan siang," ujar Rianti dengan tegas.


"Iya, Mbak," jawab Naura dengan tersenyum paksa.


"Pa, boleh gak Naura ikut papa di surga. Pasti di sana lebih indah kan, Pa? Kapan nih mau jemput Naura-nya? Naura sudah capek, Pa!" gumam Naura dengan lirih.


Naura menghela napasnya dengan perlahan untuk menghilangkan rasa sesak yang menghimpit dadanya, ia minum kembali untuk menghilangkan rasa lapar dan perih pada perutnya karena belum makan.


"Kak Daniel, Naura kangen banget!" gumam Naura menggenggam cincin pemberian Daniel yang dulu sempat Daniel buang dan sekarang menjadi liontin di kalungnya.


"Harapan Naura cuma Kakak. Tapi kalau Kakak sudah melupakan Naura, Naura bisa apa? Sekarang Naura sendirian gak tahu lagi harus apa! Naura cuma berharap kak Daniel mau memaafkan Naura. Jika hubungan kita tidak bisa diperbaiki tidak apa-apa karena Naura sadar semua kesalahan ada di Naura dan juga Naura sudah tidak pantas untuk kak Daniel. Kak Daniel dan mbak Rianti kelihatan cocok," gumam Naura dengan miris.

__ADS_1


Naura kembali bekerja dengan mengabaikan rasa sakit pada perutnya. "Please... Jangan sakit! Kita kerjasama ya, nanti saja sepulang kerja kita makan. Uang Naura cuma tinggal 10 ribu. Nanti ya beli mie instan kalau beli makanan di luar uangnya gak cukup, Naura gagal pinjam ke mama," gumam Naura merem*s perutnya yang sakit.


__ADS_2