Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 45 (Lemah)


__ADS_3

...Jangan lupa ramaikan part ini ya....


...Happy reading...


*****


Fathan tertidur dengan memunggungi Tri. Ia masih kesal dengan sang istri yang ingin bercerai dengannya, walaupun Fathan tahu itu tidak benar-benar dari hati istrinya yang paling dalam tapi tetap saja Fathan merasa ingin marah dan kesal.


Sedangkan Tri sama sekali tidak bisa tidur ia menatap punggung Fathan dengan sendu, Tri akui dirinya salah tetapi ucapan kejam mertuanya membuat Tri merasa tidak pantas menjadi istri dari Fathan.


Tri ingin menyentuh lengan Fathan tetapi ia urungkan karena tak mau mengganggu tidur sang suami. Tri mencoba memejamkan mata tetapi tidak bisa, sejak hamil tubuhnya mudah sekali lelah dan sampai sekarang Tri merasa tubuhnya seperti remuk. Tri mengusap perutnya dengan perlahan agar kedua anaknya nyaman, perlahan matanya terpejam walau tak sepenuhnya karena pikirannya masih berkelana memikirkan ucapan mama Yesha yang sangat menusuk hatinya. Kapan mertuanya itu bisa menerima dirinya tanpa menghina keadaannya yang hanya wanita kampung tak punya apa-apa, bahkan saat datang ke rumah ini pun Tri hanya membawa pakaian lusuh miliknya?


Fathan yang merasa tidak ada pergerakan lagi dari istrinya membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Tri. Fathan memandang wajah Tri dengan dalam, wajah wanita yang sudah membuatnya kembali merasakan cinta setelah sakitnya kehilangan dan Fathan tidak ingin merasakan kehilangan itulah lagi, ia tidak akan sanggup!


Fathan menyentuh pipi istrinya dan betapa terkejutnya Fathan saat tangannya seperti terbakar. Tubuh istrinya sangat panas sekali.


"Hanum!" panggil Fathan dengan panik.


Tri mencoba membuka matanya yang terasa berat, bahkan matanya memanas sekarang. "Mas dingin!" gumam Tri dengan lirih.


"Kamu demam, Hanum!" ujar Fathan dengan panik.


Fathan langsung bangun dari tidurnya, ia mencari obat penurunan panas untuk ibu hamil di lemari obatnya yang memang tersedia di rumah. Setelah dapat Fathan membawanya ke hadapan Tri, ia memeriksa tekanan darah Tri terlebih dahulu. Wajah Fathan sangat terlihat cemas melihat Tri yang pucat dan menggigil kedinginan.


"Sayang bangun. Minum obat dulu ya!" ujar Fathan dengan lembut.


Tri mengangguk dengan perlahan, dibantu dengan Fathan Tri bersandar di kepala ranjang. Ia menerima obat dari tangan Fathan yang sudah dibukakan oleh suaminya, Fathan membantu memegang gelas yang berisi air hangat untuk istrinya. Sejak Tri hamil Fathan meletakan dispenser di kamar mereka agar istrinya tidak bolak balik ke dapur.


Tri meminumnya dengan perlahan, setelah selesai ia kembali memejamkan matanya. Fathan membenarkan letak tidur istrinya, ia melepas piyama tidurnya hingga tubuh atasnya polos tanpa pakaian. Fathan ikut berbaring di samping istrinya, meletakkan kepala Tri di lengannya dan memeluk Tri dengan erat.


"Pusing Mas!" gumam Tri dengan lirih.


"Iya, Sayang!" ujar Fathan dengan cemas. saat kulit Fathan dan Tri bersentuhan Fathan merasakan kulitnya seakan terbakar.

__ADS_1


Fathan benar-benar takut kehilangan Tri karena kandungan istrinya lemah seperti Tika dulu saat mengandung Cika. Fathan terjaga sampai pagi hingga panas tubuh istrinya turun, ia tidak bisa melihat Tri sakit, mengingatkan Tri pada perjuangan Tika dulu saat hamil Cika.


"Jangan pernah meninggalkan Mas, Hanum! Mas gak akan sanggup kehilangan untuk kedua kalinya!" gumam Fathan dengan lirih.


Cup...


"Cepat sembuh Sayang. Mas akan berjuang untuk rumah tangga kita," ujar Fathan dengan lembut.


****


"Pagi!" sapa Fathan dengan membawa nampan berisi bubur di dalam mangkuk dan segelas susu hamil untuk istrinya.


"Pagi, Mas!" sahut Tri dengan tersenyum lirih. Tubuhnya masih sangat lemah, bahkan ia tahu semalaman Fathan tidak tidur demi menjaga dirinya yang sedang sakit.


"Gimana sudah enakkan, Sayang?" tanya Fathan dengan lembut mengecup kening Tri dengan sayang.


Tri mengangguk. "Sudah, Mas. Terima kasih sudah merawatku semalam walaupun Mas sedang marah kepadaku," ucap Tri dengan tulus.


"Iya, Mas. Maaf!" ucap Tri dengan pelan.


"Mama!" teriak Cika berlari ke arah Tri dan Fathan.


"Jangan lari-lari, Cika. Gak boleh teriak juga, Mama sedang sakit!" tegur Fathan dengan lembut.


Cika menutup mulutnya dengan kedua tangannya, ia merasa bersalah karena telah menganggu istirahat mamanya padahal sang papa sudah mengatakan jika mamanya sedang sakit. Tetapi Cika mengkhawatirkan kesehatan mamanya.


"Maaf, Ma, Pa! Cika gak akan mengulangi lagi!" ujar Cika dengan tegas.


"Iya, Sayang! Cika jangan dekat-dekat Mama dulu ya nanti Mama takut Cika ketularan!" ujar Tri dengan lembut.


"Yah, padahal Cika mau peluk Mama!" jawab Cika dengan sendu.


"Naik ke kasur!" ujar Fathan dengan tersenyum.

__ADS_1


"Mas aku takut Cika ketularan demam!" ujar Tri dengan cemas.


"InsyaAllah gak kalau imun Cika kuat," jawab Fathan yang tidak tega melihat anaknya berwajah sendu.


"Cika duduk di situ! Papa mau periksa Mama dulu," ujar Fathan dengan tegas.


Cika mengangguk, ia memperhatikan papanya yang sedang memeriksa mamanya dengan berpangku tangan.


"Cika mau juga jadi dokter, Pa. Biar nanti kalau Mama, Papa, adek, kakek, nenek dan Zayden sakit Cika bisa periksa," ujar Cika dengan serius.


Fathan menatap anaknya. Kenapa harus Zayden lagi yang anaknya sebut, benar-benar bocah satu itu merusak otak anaknya yang polos.


"Zayden gak nakal kan sama Cika?" tanya Fathan kepada Cika setelah selesai memeriksa istrinya.


Cika menggelengkan kepadanya. "Zayden baik, Pa. Di sekolah Zayden menjaga Cika bahkan teman cowok Cika gak berani mendekati Cika karena Zayden kalau marah serem, Pa. Kata Zayden, Cika hanya boleh main dengan teman perempuan dan lakinya hanya Zayden," ucap Cika dengan polosnya.


"Apa lagi ini? Posesif sejak dini?" gumam Fathan yang masih bisa dengar oleh Tri dan Cika.


"Posesif itu apa, Pa?" tanya Cika penasaran.


Fathan gelagapan sendiri mendengar pertanyaan anaknya. Dan Tri yang menjadi pendengar yang baik hanya bisa menertawakan suami dan anaknya walaupun tawa itu hanya pelan.


"Cika pijatin Mama ya. Kasihan Mama, adek kembar sedikit rewel karena Mama sakit," ujar Fathan mengalihkan pembicaraan.


Jika ada Zayden di sini Fathan ingin menjitak kepala anak kecil itu. Benar-benar posesif seperti ayahnya, awas saja jika dewasa bodoh seperti ayahnya yang menyakiti wanita Fathan akan langsung memisahkan keduanya jika kedua masih bersama.


"Adek kembar jangan nakal ya. Mama kasihan tahu," ujar Cika mengelus perut Tri dengan gerakan lembut.


"Iya Kak Cika," jawab Tri dengan menirukan suara anak kecil.


Pagi ini Tri merasa terhibur dengan percakapan Cika dengan suaminya.


"Ya Tuhan apa aku sanggup kehilangan Mas Fathan dan Cika?"

__ADS_1


__ADS_2