
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya...
...Happy reading...
***
Cika menunggu harap-harap cemas bersama dengan kedua orang tua Zayden. Hingga dokter keluar dari ruangan Zayden.
"Keluarga Zayden Alfahri?" tanya dokter (Menggunakan bahasa Inggris)
"Saya, Dok. Bagaimana keadaan anak saya?" tanya Zidan dengan cemas.
"Zayden sudah sadar. Tapi yang sudah saya katakan sebelumnya jika Zayden akan kehilangan memorinya, tetapi kalian tidak perlu khawatir karena hilang ingatan pada Zayden tidak permanen. Zayden akan mengingat kenangan bersama dengan kalian jika kalian sering memberikan foto atau sesuatu yang bisa membuat Zayden mengingat semuanya. Tapi, semua itu jangan dipaksakan," ujar dokter dengan tegas yang membuat Cika terkejut dan langsung lemas. Itu berarti Zayden tak mengingat dirinya dan kenangan mereka?
"Z-zayden hilang ingatan? K-kenapa Tante dan Om tidak memberitahu Cika?" tanya Cika dengan syok.
"Om dan Tante tidak mau membuat kamu bertambah sedih. Tapi, Om bahagia karena berkat kedatangan kamu Zayden bisa segera sadar, itu artinya di dalam dasar hati Zayden masih terikat dengan kamu," ujar Zidan dengan tegas.
"Zayden akan dipindahkan ke ruang perawatan setelah ini dan kalian bisa menjenguknya," ujar dokter dengan tegas.
"Dok, bagaimana dengan alter ego yang dimiliki anak saya?" tanya Tiara dengan cemas.
Dokter tersebut terdiam. "Saya belum bisa memastikannya tetapi dilihat dari sikapnya tadi alter ego yang ada di diri Zayden sudah tidak ada. Mungkin ini akibat kecelakaan itu terjadi atau bisa saja saat di alam sadar Zayden, lelaki itu berusaha untuk mengusai dirinya kembali. Untuk pemeriksaan lebih lanjut setelah keadaannya sudah pulih kita bisa melakukan terapi ulang agar mengetahui alter ego yang di derita Zayden benar-benar sembuh atau tidak," ujar dokter dengan tegas yang diangguki oleh Tiara dan Zidan.
Tiara adalah mantan dokter dan Zidan juga masih seorang dokter. Jadi, mereka sudah sedikit tenang untuk memberikan dukungan kepada Zayden nantinya.
Cika masih terdiam linglung dengan apa yang terjadi pada kondisi Zayden yang melupakan dirinya. Cika tidak akan siap. Apakah ia akan sanggup dengan perubahan sikap Zayden nantinya?
"Saya permisi. Jika ada yang ingin ditanyakan bisa ke ruangan saya!" ujar dokter tersebut dengan tegas.
__ADS_1
"Terima kasih, Dok!" ujar Zidan dan Tiara bersamaan.
Tak lama dari itu para suster yang mendorong brankar Zayden keluar. Lelaki itu masih tampak diam karena dirinya tidak tahu ini di mana, semua terasa asing baginya. Zayden tak mengingat dirinya sendiri maupun keluarga dekatnya, lelaki itu seperti baru pertama kali di lahirkan di bumi ini.
Zidan dan Tiara menatap anaknya yang tidak menatapnya. Begitu pun dengan Cika, langkah kaki gadis itu sangat berat, sesak hatinya dan tanpa sadar Cika meneteskan air matanya.
Zayden sudah diletakkan di ruang perawatan dan suster telah memberikan izin pada ketiganya untuk bertemu dengan pria itu yang terlihat masih lemah.
Zayden tampak bingung ketika ada dua orang yang mendekatinya dan satu orang lagi masih berada di dekat pintu.
"Kalian siapa?" tanya Zayden dengan dingin yang membuat Tiara, Zidan dan Cika yang mendengarnya mencolos.
"Zayden, Ini Mama sama Papa!" gumam Tiara dengan pelan karena ia tidak kuasa untuk menahan tangisnya sekarang karena sang anak melupakan dirinya.
"Zayden? Mama? Papa? Aku sama sekali tidak mengenal kalian! Dan siapa Zayden?" tanya Zayden dengan bingung.
Zayden berusaha untuk mengingatnya tetapi keadaannya yang belum pulih membuat Zayden meringis merasakan sakit pada kepalanya.
"Lupa ingatan? Ssttt...Kenapa aku tidak bisa mengingat apapun? Aku ini siapa?" tanya Zayden dengan bingung.
"Kamu kecelakaan yang menyebabkan kamu tidak bisa mengingat semuanya, Nak. Tapi, Mama percaya ikatan batin di antara kita pasti sangat kuat. Kamu pasti merasakan jika Mama dan Papa ini adalah kedua orang tua kamu, kan?" tanya Tiara dengan sendu.
Zayden melihat ke arah kedua orang tuanya. Dalam hatinya ia sedikit mempercayai ucapan Tiara karena dirinya dan pria yang di samping Tiara terlihat mirip dengannya. Zayden sudah melihat dirinya di cermin dan benar dirinya memang mirip dengan Zayden.
"Dan siapa perempuan itu?" tanya Zayden dengan dingin.
Semuanya terasa asing bagi Zayden. Cika membekap mulutnya agar tidak terisak di hadapan Zayden sekarang.
Dengan berat Cika mulai mendekati Zayden yang menatap dirinya dengan sangat dingin. Tatapan yang sangat berbeda dari Zayden-nya dulu.
__ADS_1
"Dia Cika, tunangan kamu!" ujar Zidan dengan tegas.
Zidan tidak akan menceritakan jika Zayden dan Cika pernah putus hubungan sewaktu anaknya dirawat di rumah sakit.
"Tunangan? Aku tidak punya tunangan! Aku tidak mengenal dia dan kalian!" ujar Zayden dengan datar.
Bingung? Tentu saja Zayden bingung dengan ketiga orang yang berada di hadapannya sekarang. Orang tua? Tunangan? aahh... Zayden sama sekali tidak bisa mengingat semuanya.
"A-ay, kamu janji gak akan tinggalin aku. Tapi sekarang kenapa kamu melupakan aku? A-aku takut kamu meninggalkan aku dan..." Cika tidak bisa melanjutkan kata-katanya, ini terlalu sesak baginya.
"Aku sama sekali tidak mengenalmu. Jadi, tolong jangan menyudutkanku seperti itu," sahut Zayden dengan dingin.
Nyut...
Hati Zayden berdenyut sakit saat melihat Cika menatapnya dengan berurai air mata kekecewaan. Zayden sama sekali tidak tahu perasaan apa ini tetapi sungguh ia tidak mengenal gadis yang ada di hadapannya ini.
Cika yang tak sanggup bertatapan dengan Zayden lebih memilih keluar untuk memenangkan hatinya yang terluka karena Zayden melupakan dirinya.
Tiara dan Zidan tidak bisa mencegah kepergian Cika, mereka memberikan waktu untuk Cika menenangkan diri sebentar asal gadis itu tidak pergi terlalu jauh karena ini adalah negara orang.
Tiara mendekati Zayden yang terlihat memandang kepergian Cika dengan ekspresi yang tidak bisa terbaca.
"Nak, ini bukan kesalahan kamu. Tapi Mama mohon bersikaplah baik dengan Cika. Kalian saling mencintai bahkan kamu begitu posesif dengan Cika," ujar Tiara dengan pelan.
"Cukup! Aku tidak mengenal kalian! Tolong jangan menyudutkan aku seperti ini! Aku ingin sendiri kalian silahkan keluar!" ujar Zayden meringis karena kepalanya berdenyut sakit memaksa untuk mengingat sesuatu yang tidak bisa ia ingat sedikit pun.
"Biarkan Zayden sendiri dulu, Sayang! Ayo kita keluar!" ujar Zidan yang tak mau Zayden berpikir keras dan mengakibatkan anaknya kembali sakit.
"Percaya sama kami, Nak! Kami ini adalah kedua orang tua kamu dan Cika adalah tunangan kamu," gumam Tiara tetapi Zayden sama sekali tidak menyahut. Zayden malah membuang mukanya ke samping enggan menatap Tiara dan Zidan yang kata mereka adalah kedua orang tua kandungnya.
__ADS_1
Setelah kepergian kedua orang tuanya. Zayden berusaha untuk mengingat semuanya tetapi apa yang ia dapat hanya kesakitan pada kepalanya.
"Argghhh...sakit!" teriak Zayden dengan tak tertahan.