
...📌Jangan lupa ramaikan part ini ya! Akan double up lagi nanti....
...📌Sabar ya yang menunggu 5 tahun kemudian karena gak segampang itu biar tetap nyambung wkwk....
...Happy reading...
***
Setelah kejadian di mana Zevana keguguran 4 bulan lalu tak ada yang merubah sikap Haidar kepada Zevana bahkan lelaki itu bertambah dingin kepadanya. Namun, ada sedikit yang berbeda dari Haidar, ia tak lagi memasuki Zevana seperti j*lang walau terkadang masih kasar tetapi umpatan yang terus merendahkan dan menghina Zevana tidak terlontar dari bibirnya. Saat menyatu pun Zevana merasa dirinya masih wanita panggilan untuk Haidar, entah bagaimana lagi Zevana merebut hati suaminya. Hampir setahun menikah Zevana seakan terbelenggu oleh rasa yang ia ciptakan sendiri. Rasa cinta dan sakit yang ia ciptakan untuk membuat batinnya terus terluka. Zevana akui dia adalah wanita yang sangat bodoh dalam mencintai, karena wanita seperti Zevana tidak mudah untuk membenci orang yang ia cintai walau sudah memberikan luka di hatinya. Seluas itu rasa sabarnya hingga tak mempedulikan rasa sakit batin dan fisiknya walau sudah di siksa dan kehilangan calon anak mereka.
Zevana menghampiri Haidar yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya, entah apa yang lelaki itu kerjakan. Mungkinkah Haidar sedang berbalas pesan dengan wanita lain?
"Kak!" panggil Zevana dengan lirih.
"Hmmm..." Haidar hanya berdehem dengan mata yang masih sibuk dengan ponselnya.
"Boleh Zevana bicara sebentar?" tanya Zevana dengan hati-hati takut Haidar akan marah seperti biasanya dan berakhir menyiksa tubuhnya.
"Jangan ganggu gue sibuk!" ujar Haidar dengan dingin.
"Sebentar saja, Kak! Zeva janji ini yang terakhir," ujar Zevana memberanikan diri padahal jantungnya berdegup dengan kencang sekarang dengan kedua tangannya yang saling menggenggam dan berkeringat dingin karena takut.
Haidar berdecak kesal meletakkan ponselnya di atas meja yang membuat Zevana sedikit terkejut karena Haidar terlalu kasar.
Haidar terpaku melihat ke arah Zevana. Haidar baru sadar jika Zevana bertambah kurus saat menikah dengannya, tetapi wanita itu hanya diam menutupi semua keburukannya di depan kedua orang tua Zevana dan juga Haidar. Zevana adalah istri yang baik tetapi entah mengapa Haidar belum bisa menerima kehadiran Zevana sebagai istrinya. Rasa kecewanya lebih besar dari rasa sayangnya dulu ke Zevana.
"Apa? Jangan lama gue sibuk!" ujar Haidar dengan dingin.
Zevana tersenyum manis, ia duduk di hadapan Haidar dengan mata berbinar. "Terima kasih, Kak!"
"Jangan bertele-tele, Zeva! Lo mau lihat gue marah?" ujar Haidar dengan dingin.
"M-maaf, Kak!"
"Seminggu lagi Zevana ulang tahun yang ke 18. Zeva cuma minta satu permintaan ke Kak Haidar. Boleh gak selama seminggu ini kita seperti selayaknya suami istri yang saling mencintai? Hanya satu minggu, Kak! Selama satu minggu kita saling menjalankan peran suami istri yang harmonis. Zeva cuma pengin rasain di sayang dan di cintai suami Zeva, sesudah satu minggu sikap Kak Haidar boleh kembali seperti biasa," pinta Zevana dengan penuh harap.
"Gue gak mau! Lo pikir gampang berpura-pura bahagia dengan seseorang yang gak kita cintai?" ujar Haidar dengan sarkas.
Zevana menangkup kedua tangannya memohon. "Zeva mohon, Kak! Setelah itu Zeva janji gak akan membuat kak Haidar marah lagi. Apapun permintaan Kak Haidar akan Zeva turuti," ujar Zevana dengan mata berkaca-kaca.
"Termasuk pergi dari hidup gue? Termasuk mati? Berani lo?" tanya Haidar dengan menyeringai karena ia yakin Zevana tidak berani melakukan itu.
Zevana mengangguk dengan mantap. "Kalau itu yang buat Kakak bahagia Zeva akan lakukan termasuk mati," ujar Zevana dengan tersenyum.
__ADS_1
Senyum Zevana yang membuat hati Haidar sakit. Entah apa maksud senyuman itu yang jelas membuat dada Haidar sesak.
"Termasuk mengakui di depan keluarga lo dan keluarga gue kalau selama ini lo yang menjebak gue! Lo yang selama ini menjadi wanita murahan demi mendapatkan gue," ujar Haidar dengan tajam.
Zevana menelan ludahnya dengan kasar, ia sangat ragu karena takut dibenci oleh keluarganya dan juga kedua orang tua Haidar yang selama ini menyayanginya. Tapi ia harus bertanggungjawab mengembalikan kebahagiaan Haidar.
"Kenapa lo diam? Lo gak bisa, kan? Jangan harap gue bisa melakukan sesuatu yang lo minta," ujar Haidar dengan menyeringai sinis.
"Ya Zeva akan mengakui semuanya, Kak. Tepat di hari ulang tahun Zeva nanti, Zeva akan mengakui semuanya. Zeva siap dibenci semua orang," ujar Zevana dengan tersenyum.
Haidar terpaku ternyata Zevana mempunyai keberanian yang sangat besar untuk mengakui semuanya. "Oke gue setuju!" ujar Haidar dengan hampa entah mengapa sebagian hatinya tidak ingin menyetujui permintaan Zevana.
Zevana tersenyum bahagia. "Di mulai dari malam ini ya, Kak!" ujar Zevana dengan tersenyum.
"Terserah lo! Lebih cepat lebih baik biar gue bisa terbebas dari lo!" ujar Haidar dengan tajam.
"Tunggu ya Kak! Zeva mau masak sebentar!" ujar Zevana yang tak menggubris ucapan Haidar yang menusuk hatinya.
Haidar melihat kepergian Zevana menuju dapur. Ia menghela napasnya dengan berat saat menatap tubuh Zevana yang sangat kurus. Apakah Zevana tidak pernah makan?
Cukup Haidar! Jangan pedulikan Zevana, dia yang sudah membuat hidup lo menderita! batin Haidar dengan datar.
****
Setelah 20 menit Zevana selesai membuat makanan sederhana yang Haidar sukai. Nasi goreng dengan ayam goreng dan telur mata sapi sebagai lauknya. Perut Haidar langsung berbunyi ketika wangi nasi goreng menusuk hidungnya, tetapi gengsinya membuat Haidar seakan tak menginginkan masakan Zevana.
"Harus?" tanya Haidar dengan rasa enggan.
Zevana mengangguk. "Iya, Kak! Selama 7 hari Kak Haidar harus menyuapi Zeva. Kita berbagi makanan di piring yang sama!" ujar Zevana dengan berbinar.
"Kakak gak boleh nolak karena Kakak sudah setuju!" ujar Zevana saat melihat Haidar hendak protes.
Zevana duduk di samping Haidar, mereka sekarang duduk bersila di karpet.
Hening...
Selama beberapa detik mereka terdiam hingga akhirnya Zevana kembali membuka suara.
"Suapi, Kak!" pinta Zevana dengan penuh harap.
Haidar berdecak dengan kesal tetapi lelaki itu tetap melakukan apa yang Zevana inginkan dan dengan senang hati Zevana menerima suapan dari suaminya. Saat nasi goreng itu masuk ke mulutnya ada rasa sesak yang tak bisa Zevana jabarkan.
"Enak banget, Kak! Coba Kakak cobain ya!" ujar Zevana yang mulai menyuapi Haidar dan dengan ragu Haidar menerima suapan Zevana.
__ADS_1
Enak!
Ya, masakan Zevana selalu enak untuk dirinya! Tetapi gengsinya yang sangat besar membuat Haidar dengan tega membuang makanan yang Zevana buat untuk dirinya.
"Zeva lupa kapan terakhir Zeva makan seenak ini," ujar Zevana dengan tersenyum, senyum yang mengandung kesakitan hingga tanpa sadar air mata Zevana menetes di hadapan Haidar.
Nyuttt...
Haidar hanya diam dengan rasa sakit yang ia rasakan saat Zevana tersenyum sambil menangis di hadapan Haidar. Mereka makan malam berdua dengan perasaan masing-masing yang tidak bisa dijabarkan, Zevana dengan rasa sakit dan bersalahnya sedangkan Haidar dengan rasa gusar dan kekecewaannya.
***
Setelah makan malam selesai. Zevana ingin masuk ke kamarnya tetapi tangan Haidar menahannya.
"Tidur di kamar gue! Gue mau lo malam ini," ujar Haidar dengan dingin.
Zevana mengangguk. "Tapi Kakak harus janji jangan main kasar ya, Kak!" ujar Zevana dengan penuh harap.
"Hmmm..."
Haidar hanya berdehem saja. Ia merasa sedang ada yang Zevana sembunyikan darinya tapi apa?
Haidar masuk ke dalam kamarnya duluan hingga di susul oleh Zevana yang sedang menatap perut ratanya dan lalu memegangnya dengan gerakan perlahan.
"Lepas semua pakaian lo!" ujar Haidar dengan dingin.
Zevana mengangguk, terbiasa diperintah seperti itu saat hendak berhubungan membuat Zevana seakan tidak mempunyai rasa malu lagi di hadapan suaminya. Kini, Zevana sudah polos tanpa sehelai kain pun yang menutupi tubuhnya.
Haidar meneliti tubuh Zevana, ia meringis saat banyak bekas luka dan lebam yang disebabkan oleh dirinya.
"Pelan ya, Kak!" ujar Zevana dengan takut. Entah apa yang ia takutkan yang jelas Zevana terus mengingatkan Haidar agar tidak kasar kepadanya malam ini.
Haidar tak menjawab, pria itu mulai mendorong Zevana dengan perlahan hingga wanita itu tertidur di kasur. Keduanya sudah sama-sama polos karena saat Haidar menyuruh Zevana membuka baju Haidar juga sudah membuka pakaiannya.
Haidar menahan dirinya untuk tidak berlaku kasar terhadap Zevana, ia mulai bisa mengontrol emosinya hingga Haidar mendengar suara lenguhan Zevana malam ini karena Haidar biasanya mendengar isak lirih dari bibir Zevana, isak kesakitan saat ia memasuki Zevana dengan kasar.
Kedua mata keduanya saling memandang dengan dalam. Zevana mengelus rahang Haidar dengan lembut.
"Aahhhh..."
Zevana mendes*h saat milik Haidar sudah masuk dengan sempurna. Tatapan Haidar kali ini berbeda, ada debaran yang tidak Haidar jelaskan saat menatap Zevana dalam jarak yang sedekat ini.
Malam ini Haidar benar-benar melakukannya dengan sangat lembut bahkan Zevana sampai mendapatkan pelepasannya berulang kali. Dengan napas yang terengah-engah Zevana tersenyum ke arah Haidar.
__ADS_1
"Maaf karena cintaku yang terlalu besar kepada Kakak hingga aku merusak kebahagianmu, Kak! Aku akan memperbaiki semuanya agar kamu bisa memaafkan aku. Agar nanti aku bisa pergi dengan tenang."
Haidar hanya diam, lelaki itu tidak begitu mencerna ucapan Zevana karena terlalu menikmati penyatuan mereka. Haidar baru merasakan puas yang teramat puas malam ini, entah apa penyebabnya yang jelas Haidar merasa senang.