
...📌Part terpanjang di novel ini😚😚...
...📌Ramaikan part ini ya genges......
...📌Jangan lupa bom like dan komentannya ya....
...Happy reading...
****
Akbar menatap ketiga anaknya. Ia sengaja menyuruh ketiga anaknya pulang ke rumah dan tidak ke rumah sakit karena ia akan membahas suatu yang penting.
Delisha juga sudah dijaga oleh Fathan dan Tri juga Adrian dan istrinya di sana.
Tentu saja ini membuat Danish, Daniel, dan Dareel bingung karena tak seperti biasanya kedua orang tuanya pulang ke rumah dan tak menemani sang adik di sana.
"Pi, sebenarnya ada apa? Tumben sekali kita pulang ke rumah dan tidak menjaga Delisha," ujar Danish dengan bingung.
Akbar menatap ketiga anaknya dengan menghela napasnya dengan pelan. "Papi sudah berhasil mendapatkan pendonor untuk Delisha," ujar Akbar yang membuat ketiganya tersenyum bahagia.
"Alhamdulillah... Itu artinya Delisha tidak akan pernah merasakan sakit lagi, Pi! Tapi kenapa wajah Papi dan Mami terlihat bimbang? Uang untuk membayar keluarga pendonor sangat mahal ya, Pi?" tanya Daniel.
"Bukan masalah uangnya, Niel. Papi gak masalah mengeluarkan uang sebanyak apapun karena Papi ada. Tapi yang jadi masalah beliau mau salah satu dari kalian menikah dengan anaknya," ujar Akbar yang membuat ketiga anaknya Akbar itu terdiam saling menatap satu sama lain.
"Kalau syarat itu tidak dijalankan bagaimana, Pi?" tanya Dareel yang diangguki kedua kembarannya.
"Semua akan dibatalkan. Itu artinya Delisha tidak mendapatkan donor jantung dan paru-paru," ujar Akbar dengan pelan yang membuat ketiganya menelan ludah.
"Baiklah kami mau, Pi! Demi Delisha kami mau berkorban," ujar ketiganya dengan kompak.
"Harus salah satu di antara kalian, Nak. Daniel gak mungkin karena dia punya Naura. Bagaimanapun Daniel harus bisa menghargai perasaan Naura," ujar Fiona yang membuat Danish dan Dareel saling menatap satu sama lain.
"Danish, bagaimana kalau kamu? Karena kamu adalah anak pertama," ujar Akbar menatap Danish dengan dalam.
Semuanya menunggu jawaban Danish. Danish tampak menghela napasnya dengan perlahan. Haruskah ia menikah dengan gadis yang tak ia cintai? Sedang dirinya sedang menunggu seseorang datang kepadanya, Danish sedang menunggu Keisya. Ia ingin Keisya yang akan menjadi istrinya. Tapi demi sang adik ia rela menikah dengan anak yang akan mendonorkan jantung dan paru-parunya untuk Delisha.
"D-danish siap, Pi! Danish akan lakukan apapun agar Delisha kembali sehat," ujar Danish dengan tegas.
Daniel dan Dareel yang tahu kebimbangan Danish hanya menghela napasnya dengan perlahan. "Biar Dareel saja, Pi! Karena Kak Danish sebenarnya sedang menunggu seseorang. Kalau Dareel tidak dekat dengan siapapun sekarang," ujar Dareel dengan tegas.
"Benar begitu, Nish?" tanya Akbar kepada anak pertamanya.
"Sebenarnya Danish sedang suka dengan seseorang, Pi! Tapi gadis itu ada di Bali dan dia gak tahu kalau Danish suka sama dia. Gak apa-apa jika Danish yang menikah, Pi! Danish juga anak pertama, kan?" ujar Danish dengan tersenyum.
"Ingat Kak kita cuma beda beberapa menit aja. Jadi, gue yang akan menikah dengan gadis itu. Kalian berdua udah punya seseorang yang dicintai sedangkan gue belum. Jadi, biarin gue yang menikah dengan gadis itu," ujar Dareel dengan tegas.
"Kamu yakin, Reel? Sebentar lagi mungkin kamu akan sibuk menjadi pilot dan kamu akan jarang ketemu dengan istri kamu nantinya. Papi harap kamu tidak akan melukai gadis yang akan menjadi istri kamu nantinya karena kalian menikah tanpa cinta," ujar Akbar yang diangguki dengan tegas oleh Dareel.
"Kalau tidak dicoba tidak akan tahu Dareel bisa menyukai gadis itu atau tidak, Pi! Mungkin saja dia memang jodoh Dareel," ujar Dareel dengan santai.
Danish dan Daniel menepuk punggung kembarannya. "Lo harus bisa jadi suami yang baik," ujar Daniel dengan tegas.
"Pasti. Dan gue akan menikah duluan dari pada lo berdua," ujar Dareel dengan bangga yang membuat kedua kembarannya mendengkus sebal.
"Lihat gue. Tanpa mencari pun jodoh gue datang sendiri," ujar Dareel dengan sombong.
"Terserah lo deh!" ujar Danish yang bangga dengan kembarannya. Dirinya pun bisa menikah dengan gadis itu tetapi Dareel mengorbankan dirinya agar Danish bisa bertemu dengan Keisya dan Delisha akan sehat kembali.
"Baiklah Kalau ini sudah keputusan kalian. Dareel nanti ikut Papi dan Mami bertemu dengan orang tersebut," ujar Akbar dengan tegas.
"Baik, Pi!" sahut Dareel tak kalah tegas.
__ADS_1
Fiona menatap ketiga anaknya. "Mami harap kalian tidak akan menyakiti pasangan kalian nantinya. Kalian punya Mami dan Delisha. Pasti kalian tahu rasa sakit ketika kita menyakiti pasangan kita," ujar Fiona yang diangguki oleh ketiganya.
"Iya, Mi. Kami janji!" ujar ketiganya dengan pelan.
"Dareel, sebentar lagi kamu akan mengemban tanggungjawab yang sangat besar. Kamu harus bertanggungjawab menafkahi istri kamu tanpa memakai uang Papi. Kamu bisa sambil bekerja di perusahaan Papi seperti kedua kembaran kamu," ujar Akbar dengan tegas.
"Baik, Pi!" ujar Dareel dengan tegas karena selama ini Dareel fokus dengan sekolah pilotnya tanpa bekerja di perusahaan papinya tapi tanpa Akbar ketahui Dareel memiliki bengkel motor sendiri hasil dari tabungannya.
"Dareel gak mau kerja di perusahaan, Pi. Dareel punya bengkel motor Dareel sendiri. Dari sana Dareel akan menghidupi istri Dareel sebelum Dareel resmi menjadi pilot," ujar Dareel dengan tegas.
"Ya, Papi sudah tahu walapun kamu menyembunyikan semuanya dari Papi. Kalian mempunyai usaha kalian sendiri. Papi bangga dengan kalian bertiga akhirnya kalian jujur juga," ujar Akbar yang membuat ketiganya terkejut.
"Papi tidak marah, kan?" tanya ketiganya.
"Apa yang membuat Papi harus marah? Kalian bertiga anak-anak kebanggaan Papi. Dan untuk Dareel terima kasih sudah mau berkorban," ujar Akbar yang membuat ketiganya tersenyum lega.
****
Haidar berada di bar setelah hatinya merasa sakit akibat Delisha yang ternyata tidak bisa membalas perasaannya. Ini bukan pertama kalinya Haidar ke bar untuk sekedar mencari hiburan akibat penatnya kuliah di kedokteran. Haidar sama sekali tidak minum tapi karena sakit hatinya kali ini Haidar mencoba minum segelas dan Haidar ketagihan, pria itu meminta beberapa gelas lagi kepada bartender yang ada di hadapannya hingga Haidar mulai kehilangan kesadarannya.
"Hik..Haha ternyata jatuh cinta se-menyakitkan ini," ujar Haidar dengan cegukan.
"Satu gelas lagi, Mas!" ujar Haidar yang mulai merasa pusing.
"Anda sudah mabuk," ujar bartender dengan menggelengkan kepalanya. Patah hati membuat seseorang pria menjadi seperti ini ternyata.
"Berikan satu gelas lagi kepadaku cepat!" ujar Haidar dengan marah.
Bartender tersebut kembali menuangkan minuman yang Haidar minta. Suara musik yang sangat keras membuat Haidar tak lagi peduli dengan suara ponselnya yang terus berdering.
Bartender tersebut yang merasa kasihan langsung mengangkat telepon tersebut. "Tolong jemput pemilik ponsel ini di Bar XX. Dia sedang mabuk!" ujar Bartender tersebut yang membuat seseorang di seberang sana panik.
"Delisha, Hahaha ternyata dia sudah bertunangan dengan Ikbal! Gue pikir bisa memilki dia setelah dia putus dari Zayyen tapi ternyata enggak hahaha," racau Haidar dengan tidak jelas yang membuat wanita penggoda di bar tersebut mencoba mendekati Haidar tetapi entah mengapa lelaki itu menolak dengan amarah yang membuat para wanita itu pergi dengan kesal.
"Sok jual mahal!" ujar wanita itu dengan kesal pergi meninggalkan Haidar yang terus meracau tidak jelas.
***
Zevana memasuki bar tersebut dengan rasa tidak nyaman karena ia baru pertama kalinya datang ke tempat seperti ini. Bunyi musik yang sangat keras sangat memekakkan telinga Zevana tetapi ia harus mencari keberadaan Haidar sekarang, ia takut Haidar kenapa-napa di sini.
Zevana langsung lega saat melihat Haidar duduk di kursi depan bartender. Gadis itu langsung menemui Haidar.
"Kak, kenapa Kakak di sini?" tanya Zevana sedikit keras karena musik menghalau suaranya.
"Ayo kita pulang, Kak!" ujar Zevana menarik Haidar dengan pelan supaya bangun.
"Delisha, kamu di sini?" tanya Haidar dengan melantur. Di matanya Zevana adalah Delisha sekarang mungkin akibat mabuk yang ia alami saat ini.
Walaupun kesal Zevana tetap tersenyum. "Iya Kak, Delisha jemput Kakak di sini. Ayo kita pulang!" ujar Zevana dengan lembut.
Haidar langsung mengangguk dengan bahagia. Ia di papah dengan Zevana keluar dari bar setelah membayar semuanya.
"Delisha gue cinta sama lo!" racau Haidar saat mereka menuju parkiran.
"Aku juga, Kak!" ujar Zevana dengan pelan.
"Dimana mobil Kakak?" tanya Zevana yang sudah kesusahan dengan tubuh Haidar yang sempoyongan.
"Di sana! Hahaha kamu mencintai aku? Bukannya kamu sudah bertunangan dengan Ikbal?"
"Aku sadar kalau aku mencintai Kakak. Maka dari itu ayo pulang," ujar Zevana dengan pelan.
__ADS_1
"Hik... Ke apartemen Kakak ya!" ujar Haidar yang diangguki oleh Zevana.
Setelah menemukan mobil Haidar. Zevana mulai mendudukkan Haidar di kursi penumpang dengan perlahan. Setelah itu Zevana yang mengemudi mobil pria itu menuju apartemen. Senyum menyeringai terbit di bibir Zevana, akhirnya sebentar lagi ia bisa memiliki Haidar.
Zevana menatap Haidar dengan tersenyum, ia mengelus rahang Haidar dengan lembut. Sebentar lagi kamu akan jadi milikku, Kak!" gumam Zevana dengan pelan.
Akal licik Zevana mengalahkan akal sehatnya. Zevana tidak sadar jika apa yang akan ia lakukan menghancurkan kehidupannya yang begitu indah, ia tak akan tahu jika setelah ini Haidar akan sangat membenci dirinya.
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh bagi Zevana akhirnya Zevana tiba di apartemen milik Haidar.
"Kita sudah sampai, Kak!" ucap Zevana dengan berbisik karena Haidar memejamkan matanya.
Haidar tersenyum memandang wajah cantik Zevana yang ia lihat sebagai Delisha. "Kamu milik Kakak Delisha!" gumam Haidar mencium bibir Zevana dengan ganas.
"Kita masuk ke apartemen Kakak dulu ya!" ujar Zevana dengan tersenyum licik.
Haidar menganguk, lelaki itu mencoba keluar dari mobil dan di bantu dengan Zevana.
"Kamar 317," gumam Haidar setelah mereka menaiki litf.
Zevana memencet tombol yang akan mereka tuju. Hati Zevana deg-degan tetapi semua harus terjadi sesuai dengan rencananya.
"1701," gumam Haidar saat Zevana kebingungan dengan pasword apartemen Haidar.
Zevana menekan angka yang Haidar ucapkan. Dan pintu apartemen Haidar langsung terbuka.
Haidar memandang Zevana dengan dalam. "Kamu milik Kakak Delisha!" ujar Haidar mencium bibir Zevana dengan tak sabaran.
Zevana membalas ciuman Haidar bahkan gadis itu pasrah saat Haidar menyentuh tubuhnya.
"Eughh... aku milik Kakak sore ini," ujar Zevana dengan melenguh nikmat dengan setiap sentuhan Haidar.
Dengan tak sabaran Haidar membuka seluruh pakaian Zevana dan pakaiannya, ia mengiring gadis itu hingga masuk ke kamarnya. Sebenarnya Zevana sangat takut, tetapi rencananya untuk menjadikan Haidar miliknya harus terjadi hari ini juga.
Haidar melebarkan paha Zevana dan mengarahkan miliknya kepada milik Zevana yang sudah pasrah. Zevana menahan napasnya, ini adalah keinginannya dan Zevana harus menahan rasa sakitnya.
"Kamu sungguh cantik Delisha!" ujar Haidar dengan tersenyum.
Zevana tersenyum miris saat seperti ini yang Haidar ingat hanyalah Delisha tetapi tak apa yang terpenting Haidar akan menjadi miliknya.
"Akhhh..."
Zevana memegang bantal saat rasa sakit pada intinya yang terasa robek karena Haidar. Akhirnya keduanya melakukan sesuatu kesalahan yang akan mengubah hidup mereka. Haidar yang baik mungkin akan berubah membenci Zevana.
Zevana telah dibutakan oleh cinta hingga gadis itu mengorbankan harga dirinya untuk menjebak Haidar agar menjadi miliknya. Hidupnya yang penuh kebahagiaan setelah ini akan berubah 360° karena kesalahannya.
Kesalahan satu malam yang ajan mengubah hidup Zevana. Kebahagiaan yang biasanya menghampiri dirinya akan berubah menjadi sebuah neraka yang membuat Zevana menyesal, menyesal telah melakukan kesalahan yang membuat Haidar membencinya.
****
Setelah membaca cerita ini. Komen di setiap pin ya!
📌Apa yang ingin kalian sampaikan ke Zevana?
📌Apa yang akan kalian sampaikan ke Haidar?
📌Apa yang akan kalian sampaikan ke Dareel?
📌Apa yang akan kalian sampaikan ke author?😚😚
Babang Haidar jangan benci Zeva ya hiks
__ADS_1