Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 54 (Awal Kehancuran)


__ADS_3

...Jangan lupa ramaikan part ini ya....


...Happy reading...


****


Papa Handoko menatap nyalang kepada sekretarisnya, ia melempar dokumen yang diberikan sang sekretaris dengan tatapan penuh amarah.


"Apa maksudnya semua ini, Sari?" tanya Papa Handoko dengan tajam saat ia membaca isi dokumen yang Sari berian kepadanya.


"Mahendra Grup dan Brawijaya Grup membatalkan kontrak kerja sama dengan perusahaan kita, Pak! Tak hanya itu Tuan Akbar Mahendra juga tidak ingin menangani pembangunan proyek yang sedang berjalan saat ini. Dan perusahaan kita rugi 3 Triliun karena mereka membatalkan kerja sama yang sedang berjalan juga proyek tersebut terpaksa diberhentikan Pak karena tak ada yang mau menanganinya," ucap sekretaris Papa Handoko dengan wajah tak enak karena ia harus menyampaikan berita yang sama sekali tidak memgenakan untuk atasannya itu.


"APA? Kenapa bisa mereka membatalkan kerja sama dengan kita? Seluruh saham yang mereka berikan di perusahaan ini juga mereka tarik?" tanya Papa Handoko dengan wajah syok sekaligus menahan amarahnya.


"Iya, Pak! Saya tidak tahu alasannya tetapi sekretaris masing-masing dari Mahendra Grup dan Brawijaya Grup memberitahukan kepada saya tentang pembatalan kerjasama serta menarik semua saham yang ada di perusahan ini, Pak!" ujar Sari dengan sopan. Hatinya juga ketar-ketir karena perusahaan Handoko akan bangkrut karena dua perusahaan raksasa itu membatalkan kerjasama mereka.


"Hubungi CEO Mahendra Grup dan Brawijaya Grup sekarang! Katakan saya ingin bertemu dengan mereka!" ujar Papa Handoko dengan panik, ia tidak ingin perusahaan yang keluarganya bangun bangkrut seketika. Papa Handoko tidak siap untuk jatuh miskin.


"Sudah, Pak! Tetapi mereka sama sekali tidak mau bertemu dalam waktu dekat!" ujar Sari dengan meringis.


Brakk....


Papa Handoko menggebrak meja dengan kuat, emosinya sudah memuncak saat ini. Pikirannya bertanya kenapa kedua perusahaan raksasa yang menjadi pemegang saham tertinggi di perusahaannya tiba-tiba saja membatalkan kerjasama mereka? Hatinya dipenuhi rasa takut akan kebangkrutan yang sudah ada di depan mata.

__ADS_1


Papa Handoko memegang dadanya yang tiba-tiba saja terasa sakit membuat sang sekretaris menatap panik ke arah atasannya.


"B-bapak kenapa?" tanya Sari dengan panik.


"Arghhh....d-dada s-saya s-sesak! T-tolong!" ucap Papa Handoko dengan napas yang tersengal-sengal.


Bruk...


"PAK HANDOKO!" teriak Sari dengan panik saat melihat atasannya terjatuh dalam keadaan pingsan di depan matanya.


****


"Gimana dengan Hk Corp?" tanya Alan pada Elang. Keduanya sedang berbicara serius tentang perusahaan papa Handoko.


Alan mengangguk dengan tersenyum. "Jangan buat bundamu marah, Elang! Hk Corp harus bangkrut biar bundamu senang!" ujar Alan dengan terkekeh.


"Tenang saja, Yah! Besok Ayah dan bunda tinggal melihat media memberitakan soal kebangkrutan HK Corp," ujar Elang dengan tersenyum.


"Bagus! Bawa istrimu ke dalam kamar Elang. Kasihan Mentari harus tidur di sofa, Ayah juga mau menemui bunda," ucap Alan dengan tegas.


"Iya, Yah!" ucap Elang dengan tersenyum karena merasakan kebahagiaan akan kelahiran buah hatinya sebentar lagi.


Tak lama setelah kepergian ayahnya perlahan Elang menggendong Mentari yang tampak nyenyak sekali tidur setelah menganggu dirinya yang sedang bekerja.

__ADS_1


****


Tri melamun menatap lurus ke depan. Pikirannya hanya tertuju pada satu dua ora yaitu Fathan dan Cika, entah mengapa Tri bisa bermimpi buruk tentang keduanya. Apakah terjadi sesuatu dengan suami dan anaknya? Memikirkan itu membuat dada Tri terasa sangat sesak sekali.


"Tidak usah terlalu dipikirkan kasihan anak-anakmu. Saya yakin sebentar lagi kamu dan Fathan akan segera bersama!" ujar sebuah suara yang membuat Tri sedikit terkejut. Lalu Tri tersenyum canggung saat melihat Akbar lah yang sedang berbicara dengannya.


"Pak Akbar sejak kapan ada di sini?" tanya Tri dengan canggung.


"Barusan saja! Oo iya saya sdah menghubungi kedua orang tuamu agar mereka tak merasa khawatir," ujar Akbar dengan tenang.


"Terima kasih," jawab Tri dengan tersenyum tipis.


Akbar mengangguk. "Saya mau tanya. Pembalasan apa yang kamu inginkan agar kedua mertuamu sadar?" tanya Akbar menatap lurus ke depan. Mengingat Tri hamil ada rasa iri di hati Akbar karena ia tidak mempunyai anak dari pernikahannya dengan mantan istrinya dulu. Sebagai lelaki yang sudah berumur Akbar ingin sekali menimang bayi. Tetapi apakah itu mungkin terjadi di dalam hidupnya?


"Saya tidak tahu, Pak! Seharusnya dari awal saya sadar jika saya tidak pantas untuk mas Fathan," ujar Tri dengan sendu.


"Bukan masalah pantas atau tidak pantas. Tapi ini masalah harga diri di hadapan mertuamu. Saya sudah memutuskan tidak ingin menangani pembangunan proyek yang dilakukan oleh HK Corp," ujar Akbar dengan tenang.


Tri yang mendengar syok. Ia menatap Akbar dengan menelan ludahnya dengan kasar. "K-kenapa, Pak?" tanya Tri dengan terbta karena Tri tahu Akbar adalah arsitek profesional. Bangunan yang dirancang oleh Akbar pasti selalu mendapatkan pujian.


"Saya tidak suka orang sombong. Yang jelas mertuamu segera bangkrut. Saya hanya ingin mengatakan itu, Tri. Saya permisi karena saya masih ada pekerjaan," ujar Akbar dengan tenang.


"T-tunggu, Pak. S-saya tahu Bapak melakukan itu pasti karena bu Ulan yang menyuruhnya, kan? Sungguh Pak saya tidak apa-apa jangan melakukan itu kepada kedua orang tua mas Fathan!" ujar Tri dengan memohon.

__ADS_1


"Karma harus dibayar dengan kontan, Tri! Mereka harus sadar dengan kesalahan yang mereka perbuat! Kamu tidak perlu memohon kepada saya tapi saya yakin kamu akan berterimakasih kepada kami nantinya," ujar Akbar dengan tegas dan tersenyum misterius kepada Tri. Entahlah perasaannya sedang senang saat ini tak ingin membuat moodnya kembali buruk Akbar melenggang pergi meninggalkan Tri yang sedang mematung dengan wajah yang amat pucat.


__ADS_2