
...📌Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
****
Seminggu sudah pernyataan Anggun untuk mengajak Zayyen menikah dan kini Anggun di bawa oleh Zayyen ke rumah kedua orang tuanya setelah orang tua angkat mereka mengetahui niat baik keduanya untuk menikah lebih tepatnya niat Anggun yang ingin menikah dengan Zayyen.
"Ma, Pa!" panggil Zayyen pada kedua orang tuanya.
Zidan ada di rumah karena Zidan sudah pensiun menjadi dokter. Tapi terkadang Zidan masih ada pertemuan dengan para dokter di luar yang menyebabkan Zidan sering bepergian bersama dengan Fathan dan istri-istri mereka masing-masing untuk menikmati waktu tua mereka bersama.
"Iya Zayyen. Mama ada di dapur, sebentar ya!" ujar Tiara dengan sedikit berteriak.
Zayyen melihat ke arah Anggun yang tampak gugup. Bahkan gadis itu memegang lengannya dengan kuat, lelaki itu hanya menatap Anggun dengan biasa. Seharusnya setelah ini Anggun bisa menempatkan diri bersama dengan kedua orang tuanya.
"Zayyen, siapa dia?" tanya Zidan saat keluar dari ruang kerjanya.
"Ini Anggun, Pa. Adek angkat Zayyen," ujar Zayyen dengan tenang tetapi membuat Anggun menatap Zayyen dengan pandangan sedihnya. Ia dikenalkan bukan sebagai calon istri tetapi adik angkat. Kenapa rasanya sangat sakit sekali.
"Wah ada gadis cantik rupanya di sini," ujar Tiara dengan ramah dan tersenyum ke arah Anggun.
Anggun menyalami Zidan dan Tiara bergantian. "Halo Tante, halo Om. Nama saya Anggun," sapa Anggun dengan ramah.
"Anggun? Cantik sekali namanya seperti orangnya. Sini duduk dulu! Anggun mau minum apa, Sayang?" tanya Tiara menggandeng Anggun untuk duduk di sofa.
"Tidak usah repot-repot, Tante!" tolak Anggun dengan halus.
"Tante gak repot. Nanti biar bibi yang bawakan ke sini," ujar Tiara dengan tersenyum.
"Jus jeruk saja kalau ada Tante," ujar Anggun dengan tak enak hati.
"Ada dong. Sebentar ya!"
"Bi!"
"Iya Bu!"
"Bawakan jus jeruk ke sini ya sama makanan ringan," ujar Tiara dengan tersenyum.
"Baik Bu sebentar," ujar Bibi dengan sopan.
"Zayyen, langsung saja pada intinya Mama penasaran!" ujar Tiara dengan tersenyum yang membuat Zayyen tersenyum kecut, mamanya ini terlihat tidak sabaran sekali.
"Zayyen akan menikah dengan Anggun, Ma Pa! Apakah kalian merestui?" tanya Zayyen dengan menatap kedua orang tuanya.
"Papa dan Mama tentunya setuju. Tapi Papa mau bertanya dengan Anggun dulu, boleh?" ujar Zidan menatap Anggun yang membuat Anggun gugup seketika.
__ADS_1
"I-iya Om, boleh!" ujar Anggun dengan terbata.
"Apa yang membuat kamu mau dengan anak, Om? Anak Om adalah lelaki yang sangat dingin dan mungkin kamu sudah tahu bagaimana masa lalu Zayyen selama ini. Om takut kamu akan terluka karena Zayyen. Apakah kamu sanggup dengan sikap dingin Zayyen?" tanya Zidan yang sangat tahu watak anaknya apalagi selama Zayyen merasa bersalah dengan Delisha.
"Anggun siap, Om. Anggun yakin Bang Zayyen gak akan menyakiti Anggun," ujar Anggun dengan tegas.
"Kalian saling mencintai, kan?" tanya Tiara dengan menatap Zayyen dan Anggun dengan mata berbinar.
"Iya Tante!" jawab Anggun dengan cepat sebelum Zayyen yang menjawab Pertanyaan mamanya. Anggun takut Zayyen menjawab tidak mencintai dirinya walaupun kenyataannya adalah begitu tapi Anggun tak mau kedua orang tua Zayyen mengetahui jika pernikahan mereka terjadi karena Anggun yang memintanya, istilah pernikahan mereka bisa dikatakan pernikahan tanpa cinta.
"Alhamdulillah kalau begitu. Mama bahagia sekali kalau Zayyen dan Anggun akan menikah, Mama takut Zayyen tidak akan menikah sampai tua. Tapi sekarang ketakutan Mama sirna akhirnya semua anak Mama bahagia," ujar Tiara dengan mata berkaca-kaca.
"Kan sudah Zayyen katakan kalau Zayyen akan menikah, Ma. Mama gak usah sedih lagi karena impian Mama akan terwujud setelah ini," ujar Zayyen dengan tegas yang membuat Tiara tersenyum.
"Jangan nangis, Sayang. Zayyen akan menikah kamu gak perlu bersedih lagi," ujar Zidan kepada istrinya.
"Iya Mama bahagia sekali! Anggun mulai sekarang kamu panggil Tante dengan sebutan Mama ya!" ujar Tiara dengan terharu.
"I-iya, Mama!" ujar Anggun dengan tersenyum bahagia karena selama ini ia hanya mempunyai mama angkat yaitu mama Rose karena kedua orang tuanya sudah meninggal.
"Kamu yang lama di sini ya. Kita ngobrol bareng!"
"I-iya, Ma!"
***
Zayyen memijat pelipisnya dengan pelan karena kepalanya terasa pusing. Setelah mengantarkan Anggun ke rumah kedua orang tua angkatnya Zayyen langsung pulang ke rumah orang tuanya kembali. Pernikahan mereka sudah ditetapkan dan itu tidak lama hanya jangka dua bulan lagi ia akan menikah dengan Anggun tetapi mengapa Zayyen merasa tidak bahagia. Apakah pernikahan ini terjadi tidak akan menyakiti Anggun nantinya? Zayyen tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama di mana ia menyakiti Delisha yang membuat gadis itu akhirnya memilih pergi dan menikah dengan pria lain.
Zayyen mendengar keramaian di luar kamarnya memutuskan untuk keluar dari kamarnya dan benar saja ternyata Zevana dan suaminya datang bersama dengan Zayden dan istrinya.
"Om Zayyen!" teriak Raiden dengan antusias.
"Hai jagoan. Ada apa nih kelihatan senang banget?" tanya Zayyen menggendong Raiden.
"Tahu gak Om sebentar lagi Raiden punya adik loh!" ujar Raiden dengan bahagia.
"Wah selamat ya. Sebentar lagi Raiden akan jadi Kakak!" ujar Zayyen dengan terkekeh.
"Iya, Om! Om senang juga gak?"
"Senang dong!"
"Kemana Mama?" tanya Zayyen pada Raiden.
"Tuh lagi duduk sama papa!" ujar Raiden menunjuk ke arah kedua orang tuanya berada ternyata mereka sudah berkumpul dengan canda tawa.
"Benar kamu hamil, Dek?" tanya Zayyen yang ikut bergabung.
__ADS_1
"Iya, Kak! Ini baru dari rumah sakit periksa terus langsung ke sini," ujar Zevana dengan tersenyum.
"Suami kamu sudah sadar, kan? Dia gak main tangan lagi sama kamu?" tanya Zayyen yang membuat Haidar menghela napasnya dengan pelan.
"Gue sudah berubah! Gue gak mau kehilangan Zevana lagi, kalau gue gak berubah mana mau Zevana balik sama gue," ujar Haidar dengan sabar saat Zayyen dan Zayden selalu menyinggung kekerasan yang pernah ia lakukan pada Zevana.
"Bagus deh!" ujar Zayyen dengan entengnya.
"Ngomong-ngomong lo mau nikah kata mama ya, Kak?" tanya Zayden dengan memeluk Cika dengan erat, ia juga ingin Cika segera hamil tetapi pernikahan mereka baru saja berjalan sebulan masih terbilang sangat muda sekali biarlah mereka menikmati rasa pengantin baru.
"Hmmm... Dua bulan lagi," jawab Zayyen dengan sangat malas.
"Siapa orangnya yang bisa buat kamu akhirnya mau menikah?" tanya Cika dengan penasaran.
"Namanya Anggun. Adek angkat gue sendiri, dia baik, dia ceria, makanya gue mau menikah sama dia," jawab Zayyen tak sepenuhnya berbohong.
"Lo gak menjadikan dia pelampiasan, kan? Gue tahu lo mencintai Delisha," ujar Haidar.
"Lo juga mencintai Delisha dulu!"
"Itu dulu sekarang gue mencintai Zevana. Jangan mengungkit masa lalu gue lah, ibu hamil sangat sensitif bisa-bisa gue tidur di luar gara-gara omongan lo ini," ujar Haidar dengan tak suka.
"Takut lo?" ejek Zayyen yang membuat Zayden terkekeh.
"Takutlah jelas orang sekarang dia bucin," ujar Zayden dengan terkekeh.
"Kayak lo gak aja!" sewot Haidar.
"Ada apa ini hmm? Kenapa kalian berdebat?" tanya Tiara dengan bahagia ketika anak dan menantunya berkumpul di rumahnya. Rumah yang tadinya sepi menjadi ramai kembali karena ada mereka dan juga Raiden.
"Ini pesanan ibu hamil. Nasi goreng buatan Mama," ujar Tiara dengan bahagia. Walaupun memakai tangan kiri untuk melakukan aktivasi tetapi tak membuat apa yang di pekerjakan Tiara terhambat, Tiara sudah terbiasa menggunakan satu tangan untuk melakukan aktivasi apapun kecuali mengangkat sesuatu yang berat.
Di belakang Tiara ada Zidan yang mengekori istrinya melihat dengan bahagia saat anak-anaknya berkumpul seperti ini.
"Ini Ma, Haidar takut tidur di luar," ujar Zayden dengan tertawa.
"Tidur di luar gara-gara apa?"
"Aa tahu ah aku kesel" ucap Zevana yang membuat Haidar kelagapan.
"Tuh kan benar. Sayang, jangan marah ya. Kan bukan Mas yang mengingat masa lalu tapi Zayyen," ujar Haidar memohon.
"Mas masih cinta kan sama Delisha. Ayo ngaku?" tanya Zevana dengan cemberut.
"Enggak, suwerr deh!"
"Yang masih cinta sama Delisha itu Zayyen!" ujar Haidar yang membuat Zayyen mematung.
__ADS_1
"Jangan bahas itu bisa?"
"Oke. Sorry!"