
...Jangan lupa ramaikan part ini ya....
...Happy reading...
****
Zevana diam-diam menatap Haidar, hatinya berbunga-bunga sangat melihat tawa Haidar bersama dengan Zayden. Kedua kakaknya sangat berbeda jika Zayyen memiliki sifat yang dingin dan tertutup berbeda dengan Zayden yang memiliki sikap hangat di keluarga dan teman-temannya.
Zidan, Zevana, dan Tiara tidak menyadari sama sekali tentang kepribadian ganda yang dimiliki Zayden karena pria itu sama sekali tidak memiliki perubahan yang membuat Zidan dan Tiara curiga. Jika dulu Zidan mampu menyadari alter ego Tiara, tidak dengan Zayden. Pria itu sangat pandai memanipulasi keadaan dan ekspresi wajahnya hingga keluarganya sama sekali tak menyadari kepribadian ganda yang dimiliki Zayden.
Trauma dan dendam yang Zayden alami sewaktu Tiara kecelakaan yang di sebabkan oleh Zayyen membuat Aiden hadir di dalam diri Zayden. Awalnya Zayden sama sekali tidak menyadari keberadaan Aiden namun setelah SMA ia menyadari keberadaan Aiden hingga mereka berteman dan sangat posesif dengan Cika. Saat Cika berbicara dengan Zayyen, amarah dan cemburunya langsung mencuat kepermukaan bumi.
Pernah Cika ingin mengatakan yang sejujurnya kepada om dan tantenya soal Zayden tetapi pria itu langsung mengamuk dan membanting barang-barang hingga melukai dirinya sendiri, dari situ Cika tidak pernah lagi memiliki niatan untuk mengatakan yang sejujurnya kepada orang tua Zayden. Cika lebih memilih memendam semuanya seorang diri.
"Ini minumnya, Kak!" ucap Zevana dengan senyuman manisnya.
"Makasih cantik!" ucap Haidar yang membuat Zevana semakin meleleh.
Zayden menoyor kepala sahabatnya. "Buaya lo!" umpat Zayden dengan sinis.
"Ya elah. Adek lo emang cantik kali jadi wajar lah!" ucap Haidar membela diri.
Zayden mendengus kesal. Zayden tahu Haidar adalah buaya darat, lelaki itu tak segan-segan menggoda gadis cantik termasuk adiknya. Dan Zayden tahu adiknya memiliki rasa untuk Haidar karena sikap Haidar yang selalu tebar pesona dan sangat bisa merayu gadis cantik hingga gadis itu terpikat.
Zevana menatap Haidar dengan tersenyum malu. Sungguh degup jantung Zevana menggila karena senyuman memikat Haidar. Hingga suasana menjadi mencekam saat Zayyen datang dengan Delisha yang berada di belakangnya.
"Heh bocil ngapain lo ke sini?" tanya Haidar dengan mengejek.
Delisha menatap tajam Haidar. "Delisha bukan bocil ih! Dasar tiang listrik berjalan!" sahut Delisha mengejek Haidar balik.
"Dih anak TK sok-sok'an pakai baju anak SMA. Belum cocok Cil! Baju TK lo kemana?" ejek Haidar. Pria itu tertawa riang saat melihat Delisha kesal dan mencibikkan bibirnya lucu.
Delisha berjalan mendekat ke arah Haidar dan tanpa aba-aba gadis itu menjambak rambut Haidar dengan kuat.
"Aduh Cil sakit woy!" teriak Haidar dengan kencang.
"Biarin! Biar kak Haidar botak! Tuyul tiang listrik wlee!" ejek Delisha yang merasa puas saat melihat Haidar kesakitan.
Zevana dan Zayden tertawa dengan senang saat Haidar selalu kena bully balik oleh Delisha.
"Dasar reog!" gumam Haidar dengan kesal.
__ADS_1
Sedangkan Zayyen menatap datar ke arah Delisha dan Haidar yang terlihat akrab walau keduanya saling berantem jika bertemu.
"Ayo!" ucap Zayyen menarik tangan Delisha menuju kamarnya.
Haidar menatap kepergian keduanya dengan pandangan yang sulit diartikan. "Tuh bocil lagi pms kali ya?! Galak bener! Gila rambut gue rontok," ujar Haidar dengan syok.
"Kenapa sih Kak Haidar selalu cari ribut sama Delisha? Udah tahu Delisha galak," ujar Zevana yang sedikit merasa cemburu.
"Lucu aja tuh bocah. Pendek, kecil, wajahnya ssma sekali gak mencerminkan anak SMA sekarang," sahut Haidar dengan terkekeh.
Zevana merasa hatinya memanas. Mendengar Haidar memuji Delisha di depannya membuat hati Zevana berdenyut sakit.
"Gue mau ketemu Cika. Lo di sini aja jagain adek gue ya! Papa sama mama gue lagi pacaran di hotel," ujar Zayden yang membuat Zevana tersenyum senang.
"Lo pikir gue penitipan anak? Ya udah sana lo pergi!" ujar Haidar dengan kesal.
Tanpa menjawab ucapan Haidar. Zayden melangkah dengan bersiul senang.
"Jaga diri baik-baik ya, Dek! Kalau Haidar macam-macam bilang sama gue!" ucap Zayden kepada adiknya.
"Iya, Kak!" jawab Zevana dengan tersenyum.
Suasana menjadi canggung saat Haidar dan Zevana tinggal berdua. "Dek, lo bisa masak gak? Gue tiba-tiba ngidam masakan lo!" ujar Haidar.
"Masakin ya!" ucap Haidar dengan memainkan alisnya yang membuat Zevana tertawa.
"Oke... Zevana ke dapur dulu!" ucap Zevana dengan tersenyum.
****
Delisha menatap kamar Zayyen yang sangat luas. Ia duduk bersila di karpet bulu dengan memakan telur gulung yang Zayyen beli untuk dirinya.
"Lo suka telur gulung?" tanya Zayyen dengan tiba-tiba.
Delisha mengangguk dengan semangat. "Iya, Kak! Kata Mami, Delisha sama seperti Mami yang suka telur gulung! Tapi dari pada telur gulung Delisha lebih suka kak Zayyen," ujar Delisha dengan gamblangnya yang membuat Zayyen terbatuk.
"Kakak gak apa-apa?" tanya Delisha dengan panik.
Zayyen menggelengkan kepalanya. "Lanjutin makannya!" ujar Zayyen dengan datar.
"Kak!"
__ADS_1
"Hmmm..."
"Tahu gak..."
"Gak tahulah!"
"Ihhh Delisha belum selesai bicara!" ucap Delisha dengan kesal.
"Apa?"
"Delisha bahagia sekali Kak Zayyen sekarang jadi pacar Delisha. Delisha punya semangat hidup deh," ujar Delisha dengan berbinar.
"Semangat hidup? Maksud lo?" tanya Zayyen dengan tajam
"M-maksud Delisha. Delisha lebih semangat belajar dan pengin cepat lulus biar nikah sama kak Zayyen. Delisha udah punya list kehidupan bersama kak Zayyen loh!" ucap Delisha dengan tersenyum.
Zayyen memicingkan matanya seperti ada yang disembunyikan oleh gadis polos di depannya ini. Tetapi Delisha kembali sibuk memakan telur gulungnya tanpa mempedulikan keberadaannya.
"Kenapa lo pilih gue? Keluarga gue gak lebih kaya dari keluarga lo! Apa yang lo inginkan akan segera terwujud saat itu juga. Saat gue jadi pacar lo belum tentu gue bisa belikan yang lo mau!" ujar Zayyen yang merasa penasaran kenapa Delisha selalu mengejarnya.
"Kakak bisa belikan yang Delisha mau kok. Ini buktinya!" ujar Delisha dengan memperlihatkan telur gulung di hadapan Zayyen.
"Bukan itu yang gue maksud! Ya udah lah!" ucap Zayyen menyerah. Berbicara dengan Delisha sama saja membuat dirinya kesal bukan main lebih baik ia diam dengan memainkan ponselnya hingga Zayyen melupakan keberadaan Delisha di hadapannya sangking sibuk dengan ponselnya sendiri.
Delisha menatap wajah Zayyen dengan dalam. "Kak!" rengek Delisha.
"Hmmm.."
"Kak Zayyen ih!" rengek Delisha.
"Apa sih?" tanya Zayyen dengan kesal.
"Lo ganggu banget!" ujar Zayyen dengan tajam.
Delisha cemberut. Ia merebut ponsel Zayyen begitu saja dan membuangnya ke kasur. "Pacar Kakak itu Delisha bukan ponsel! Seharusnya Kakak ketawa lihat Delisha bukan ponsel! Delisha iri sama ponsel Kak Zayyen!" ungkap Delisha dengan kesal.
Zayyen menghela napasnya dengan kasar. Ia hanya bisa pasrah saat Delisha merebahkan kepala gadis itu di pahanya.
"Delisha mau tidur! Puk-puk punggung Delisha!" ucap Delisha dengan manja.
"Males!"
__ADS_1
"Kak Zayyen ayo puk-puk Delisha!" rengek Delisha yang membuat Zayyen frustasi. Bagaimana mungkin ia mempunyai pacar seperti anak-anak begini? Jika bukan karena ingin melupakan perasaannya terhadap Cika, Zayyen tidak akan mau menjadi pacar Delisha.