
...Jangan lupa ramaikan part ini ya! ...
...Happy reading...
****
Zayden menyeringai menatap pantulan dirinya di cermin. Ia mengelus wajahnya dengan perlahan.
"Zayden, kamu itu terlalu bodoh untuk aku bohongi. Kamu tahu setelah aku mampu menguasai tubuh ini aku akan memiliki Cika seutuhnya bukan kamu," ujar Aiden dengan terkekeh sinis.
Aiden memakai kacamatanya yang berada di atas meja. "Karena aku ingin menguasai Cika seorang diri! Aku tidak rela berbagi dengan kamu, Zayden! Hahaha... Tidak ada yang boleh memiliki Cika selain Aiden," ujar Aiden tertawa sinis.
"Mulai hari ini dan seterusnya Aiden yang akan berada di tubuh ini untuk memiliki Cika seutuhnya!" gumam Zayden dengan menyeringai.
Aiden mengambil bingkai foto Cika dengan Zayden. "Sayang, kamu tidak cocok bersanding dengan lelaki lemah seperti, Zayden. Dia terlalu manja! Aku, aku dan aku yang hanya boleh memiliki kamu. Aku adalah Aiden yang akan memiliki kamu seutuhnya, tinggu sebentar lagi aku akan membuat lelaki bodoh yang berada di tubuh ini menghilang, setelah itu kita akan hidup bahagia, Sayang!" ujar Aiden dengan tertawa keras.
"Hahahaha... "
"Argghhh.."
Aiden yang menguasai tubuh Zayden memegang kepalanya dengan kesakitan. Zayden yang mulai sadar berusaha mengendalikan dirinya, ia mengambil obat yang berada di dalam laci dengan susah payah.
Tubuh Zayden terjatuh di lantai, dengan menyeret tubuhnya sendiri Zayden berusaha untuk mengambil obat miliknya.
"ARGHH... " Zayden berteriak kesakitan saat kepalanya terus berdenyut sakit.
Dengan tangan gemetar Zayden berusaha membuka laci lemari di samping tempat tidurnya. Setelah mendapatkan dengan tubuh yang berkeringat dingin Zayden mulai meminum obatnya.
Zayden benar-benar kesakitan sekarang walau obat itu berhasil ia telan tetapi tak membuat dirinya tenang.
"Arghhh..."
Zayden terus mengerang kesakitan hingga kesadarannya mulai menipis dan akhirnya Zayden pingsan seorang diri di kamar apartemennya.
***
Setelah mengantarkan Delisha ke sekolahnya, Zayyen belum berangkat ke rumah sakit tetapi di sinilah dirinya sekarang. Di kampus Cika dan sedang menunggu gadis itu keluar dari kampusnya.
Zayyen tersenyum saat melihat Cika sudah berjalan mendekat ke arahnya. Cika juga tersenyum ke arah Zayyen, akhirnya ia bisa bertemu dengan Zayyen lagi.
__ADS_1
"Hai!" sapa Cika dengan kikuk karena beberapa hari tak bertemu dengan Zayyen membuat dirinya canggung karena sebentar lagi ia akan bertunangan dengan Zayden.
"Hai. Ayo masuk!" ucap Zayyen mempersilahkan Cika masuk ke mobilnya.
Cika melihat ke kanan dan ke kiri setelah tak ada orang di parkiran yang mengenalnya akhirnya Cika masuk ke mobil Zayyen setelah lelaki itu membukakan pintu untuknya.
Zayyen berlari kecil mengitari mobil dan ia juga ikut masuk setelah memastikan Cika sudah duduk nyaman di kursinya.
Keduanya terdiam karena merasa canggung tetapi tak lama Zayyen mengambil sesuatu di kursi belakang.
"Ini untukmu!" ujar Zayyen memberikan buket bunga kepada Cika.
Gadis itu terdiam tak bisa bersuara, Cika terlalu syok saat Zayyen memberikan buket bunga untuk dirinya.
"I-ini untukku?" tanya Cika menunjuk dirinya sendiri.
Zayyen mengangguk dengan mantap. "Selamat untuk kelulusan sidang skripsinya dan sebentar lagi akan menjadi sarjana dan selamat juga untuk pertunangannya dengan Zayden. Maaf kemarin aku gak bisa datang," ujar Zayyen dengan pelan.
"Makasih, aku suka bunganya!" ucap Cika mengirim bunga mawar yang diberikan Zayyen untuknya.
"Sama-sama," ujar Zayyen dengan tersenyum tipis.
Sunyi!
Entah mengapa keduanya seperti tak biasanya yang bercerita panjang lebar seperti tak ada ujungnya, keduanya tampak canggung sekarang.
"Cika!" panggil Zayyen dengan pelan.
"Hmmm... " Cika berdehem dengan tersenyum ke arah Zayyen.
"Aku ingin berbicara penting sama kamu. Mungkin ini sangat terlambat dan emang sudah terlambat," ujar Zayyen yang pada akhirnya memberanikan diri mengungkapkan perasaannya kepada Cika.
"Apa itu?" tanya Cika penasaran.
"A-aku... "
"Aku apa, Zayyen?" tanya Cika penasaran.
Zayyen menghembuskan napasnya dengan perlahan. "Aku suka sama kamu dari dulu. Tapi aku sadar memiliki kamu adalah sesuatu yang tak mungkin. Kamu tak perlu menjawab rasa sukaku, aku hanya ingin mengungkapkan isi hatiku sebelum kamu menjadi istri dari adik kembarku sendiri," gumam Zayyen dengan pelan.
__ADS_1
"A-APA?"
Cika sangat syok sekarang, gadis itu masih tak percaya dengan apa yang dikatakan Zayyen kepadanya. Zayyen suka dengan dirinya?
***
Zidan memijat tangan istrinya dengan perlahan, semenjak kecelakaan itu terjadi Tiara sering mengeluh kebas dan ngilu pada tangannya dan Zidan selalu berinisiatif memijat tangan istrinya sebelum atau sesudah bangun tidur. Seperti pagi ini sebelum Zidan kerja ia akan memijat tangan istrinya dengan lembut untuk mengurangi rasa sakitnya.
"Mas!" panggil Tiara dengan pelan.
"Iya, Sayang. Mau apa hmm?" tanya Zidan dengan sigap.
"Aku merasakan ada sesuatu yang berbeda dengan Zayden, Mas. Matanya seakan menyembunyikan sesuatu dari kita," ujar Tiara yang membuat Zidan menghentikan pijatannya, ia membenarkan letak duduknya menjadi menghadap ke arah sang istri.
"Maksud kamu apa, Sayang? Berbeda? Berbeda gimana? Apa yang disembunyikan Zayden dari kita? " tanya Zidan dengan serius.
Tiara menghela napasnya dengan perlahan, ia merasa tak tenang memikirkan Zayden sampai sekarang.
"Entahlah, Mas! Aku terkadang melihat Zayden bukan seperti Zayden. Matanya gelap, seakan tersirat kearoganan Zayden tetapi selama ini kita kenal Zayden adalah anak yang ramah dan baik ke semua orang. Dan ketika dia menatap Cika kemarin seakan Zayden ingin memiliki Cika sepenuhnya," ujar Tiara dengan cemas.
"Zayden memang sangat mencintai Cika kan, Sayang? Dia memang ingin segera menikah dengan Cika," ujar Zidan dengan bingung karena selama ini ia tak melihat sesuatu yang aneh dari Zayden hingga dirinya tak merasa curiga sedikit pun.
"Zayden memang ingin menikah dengan Cika, Mas! Tapi aku merasa dia bukan Zayden! Mas apa mungkin anak kita mempunyai kepribadian ganda? Dan kepribadian ganda ingin mengusai Cika?" tanya Tiara dengan menatap suaminya sendu.
"K-kepribadian ganda?" ulang Zidan dengan tak percaya.
Zidan memegang tangan kiri Tiara dengan lembut. "Sayang gak mungkin itu terjadi pada Zayden. Gak mungkin kepribadian ganda itu penyakit keturunan," ujar Zidan berusaha untuk berpikir positif.
"Mas bukan karena penyakit keturunan atau tidak tapi mungkin karena sesuatu yang membuat Zayden bisa saja mempunyai kepribadian ganda. Kita harus menyelidiki semua ini Mas! Aku gak mau kejadian di masa lalu yang terjadi padaku juga terjadi pada anak kita," ucap Tiara dengan memohon.
"Cika juga keponakan kita, aku gak mau terjadi sesuatu dengan Cika bisa saja Zayden nekat melukai Cika, Mas. Ini masih kecurigaanku sebagai mamanya. Mudah-mudahan tidak terjadi pada Zayden," gumam Tiara dengan sendu.
Zidan menenangkan istrinya dengan memeluk Tiara dengan erat. Ia jadi berpikir dengan keras sekarang, Zidan mencoba mengingat perubahan Zayden yang tak ia sadari. Jika dulu Tiara langsung ia ketahui memiliki alter ego tetapi tidak dengan anaknya karena Zayden sama sekali tak memiliki tanda-tanda tersebut. Apa mungkin selama ini Zayden memanipulasi dirinya dan semua orang selama ini?
Zidan mengelus kepala Tiara dengan lembut dan mengecup kening istrinya dengan sayang. Rasa cemas yang Tiara rasakan seakan berpindah ke dirinya sekarang, benar kata Tiara bisa saja Zayden melukai dirinya sendiri atau Cika nantinya. Ia harus menyelidiki Zayden mulai sekarang.
"Tenang ya, Sayang. Mulai besok Mas mulai menyelidiki semuanya. Aku gak mau terlambat lagi," gumam Zidan dengan pelan.
Tiara menganggukkan kepalanya. "Iya, Mas. Semuanya harus cepat kita ketahui jangan sampai terlambat," sahut Tiara dengan lirih.
__ADS_1
"Zayden, Mama harap semua ini tidak benar ini hanya firasat Mama yang salah. Anak Mama tidak mungkin memiliki kepribadian ganda. Apa yang terjadi dengan Mama dulu jangan sampai terjadi padamu atau Zayyen bahkan juga Zevana! Mama tidak mau kamu menjadi jahat, Nak! Walau itu bukan dirimu sendiri," gumam Tiara di dalam hati.