
...Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
****
"Dek, kamu dimana?" tanya Zayyen setelah sampai di rumahnya, ia benar-benar lelah hari ini apalagi setelah bertemu dengan Delisha dan juga Ikbal.
Zayyen masih tak menyangka jika Delisha sudah menjadi pacar Ikbal. Padahal ia dan Delisha baru putus, tetapi gadis itu sudah mampu membuka hatinya untuk pria lain. Zayyen memijat pelipisnya yang tiba-tiba saja pusing.
"Aku di sini, Kak! Mama telepon Kakak tapi gak aktif," ujar Zevana berjalan menghampiri sang kakak.
"Astaga Kakak lupa! Ponsel Kakak habis baterai," ujar Zayyen dengan pelan.
Zevana mengangguk mengerti. Zevana menatap kakaknya dengan sendu.
"Kamu nangis?" tanya Zayyen dengan gusar.
"Mama ngomong apa?" tanya Zayyen dengan gusar melihat wajah adiknya yang terlihat sangat sendu. Sepertinya ada yang tidak beres setelah mamanya menelpon.
"Kak Zayden kabur dari rumah sakit, Kak! Tapi di saat dikejar Kak Zayden tertabrak mobil, keadaannya kritis! M-mama bilang jangan katakan ini sama kak Cika!" ujar Zevana dengan menitikkan air mata.
"A-apa?" Zayyen tampak sangat lemas.
"Ini gak mungkin, Zeva!" ucap Zayyen dengan panik.
Zevana memeluk kakaknya. "A-aku takut kak Zayden kenapa-napa, Kak!" ucap Zevana dengan sendu.
Zayyen memeluk adiknya dengan erat. "Kita berdo'a saja untuk keselamatan Zayden, Dek! Kakak bisa saja menyusul mama dan papa ke sana tapi kamu lagi ujian," gumam Zayyen dengan cemas.
Ponsel Zevana kembali berdering. Nama mama mereka yang tertera di sana.
"Kak Zeva takut!" ujar Zevana dengan gusar.
__ADS_1
"Biar Kakak yang angkat!" ujar Zayyen dengan harap-harap cemas.
Zevana mengangguk, ia masih tetap memeluk kakaknya dengan sangat erat.
"Hallo, Ma!" sapa Zayyen dengan pelan.
"Hallo, Nak! Gimana kabar kalian di sana? Baik-baik saja, kan? Kamu pasti sudah tahu kabar tentang Zayden dari Zevana, kan?" tanya Tiara dengan suara yang amat lembut tapi Zayyen tahu mamanya sedang menahan tangis di sana.
"Kami baik-baik saja, Ma? Gimana Zayden, Ma? Apa Zayyen susul kalian ke sana aja?" tanya Zayyen dengan gusar.
Terdengar helaan napas berat yang Zayyen dengar di seberang sana.
"Ma..."
"Zayden sudah bisa melewati masa kritisnya, Nak! Kamu gak usah ke sini ya! Kasihan Zevana, sebentar lagi adik kamu ujian. Mama dan papa masih bisa menjaga Zayden di sini," ujar Tiara dengan suara bergetar.
"Ma, Mama gak bohong kan?" tanya Zayyen memastikan.
"Tidak, Sayang! Yang terpenting kamu maupun Zevana jangan mengatakan keadaan Zayden kepada Cika! Mama tidak mau dia kepikiran terus! Kemarin Mama video call dengan Cika, gadis itu terlihat sangat pucat sekali! Mama mohon sembunyikan ini semua dari Cika ya!" pinta Tiara dengan penuh harap.
"Zayden gak apa-apa! T-tapi saat ini Zayden benar-benar tidak terkontrol. Aiden terus menguasai tubuh Zayden yang membuat dokter sedikit kesulitan untuk melakukan terapi. Tapi kalian tenang saja ya! Setelah ini semuanya akan baik-baik saja! Maafkan papa dan mama jika di hari kelulusan kalian nanti kami tidak hadir," ujar Tiara dengan sendu.
"Zayyen dan Zevana memakluminya, Ma! Mama fokus saja pada Zayden biar Zayyen di sini yang menjaga Zeva! Tentang kelulusan kami nanti masih ada om Fathan dan tante Tri yang akan menemani," ucap Zayyen berusaha tersenyum.
"Terima kasih, Sayang! Kalau begitu Mama tutup teleponnya!" ujar Tiara.
"Iya, Ma!"
Zayyen meletakkan ponsel adiknya setelah panggilan diakhiri oleh mamanya. Zayyen menatap adiknya dan ia mengusap air mata Zevana yang menjatuhi pipi sang adik.
"Jangan nangis! Semuanya akan baik-baik saja, Dek!" ucap Zayyen dengan lembut.
Zevana mengangguk. "Apa kita akan lama bertemu dengan kak Zayden, mama, dan papa?" tanya Zevana dengan lirih.
__ADS_1
Zayyen tersenyum. "Setelah kamu lulus dan kakak lulus, kita akan terbang ke Jerman!" ucap Zayyen.
"Zevana kangen mereka, Kak! Zevana berharap kak Zayden akan sembuh secepatnya!" gumam Zevana dengan lirih.
"Aamiin!" Zayyen mengusap punggung adiknya dengan lembut. Zayyen tahu ini adalah masa sulit untuk Zevana karena ia dipaksa untuk mandiri saat kedua orang tua mereka sedang berjuang untuk kesembuhan Zayden.
Zayyen dan Zevana sama-sama terdiam dengan pikiran mereka masing-masing. Keduanya tampak menghembuskan napasnya dengan berat.
"Kak, Zeva lapar!" gumam Zevana dengan pelan.
"Mau makan di luar? Atau kita menginap di rumah mama Rose?" tanya Zayyen dengan pelan.
"Aku gak mau ke sana! Please... kita tetap di rumah ini aja ya!" ucap Zevana dengan penuh harap.
Zayyen tahu adiknya tidak nyaman berada di rumah kedua orang tua angkatnya. "Ya sudah kita makan di luar ya! Sebentar Kakak ganti pakaian dulu!" ucap Zayyen dengan lembut.
Zevana mengangguk, ia menatap kepergian kakaknya dengan menghela napasnya kasar. "Kalau kak Zayyen terus mengawasi aku seperti ini gimana aku melakukan rencana agar kak Haidar bisa menjadi milikku? Ini kesempatanku karena papa dan mama tidak ada di rumah! Ya, aku harus secepatnya menjadikan kak Haidar milikku!" gumam Zevana dengan penuh tekat.
****
"Ma, Tante Tiara kenapa belum mengabariku lagi?" tanya Cika dengan gusar. Hatinya sama sekali tak tenang memikirkan Zayden.
Tri mengelus kepala anaknya dengan lembut. "Mungkin tante Tiara sedang sibuk, Sayang! Kamu tahu sendiri kan jika Zayden perlu penanganan khusus?" ujar Tri menenangkan anaknya yang sejak tadi gelisah.
"T-tapi, Ma... Aku sama sekali tidak tenang! Entah kenapa aku memikirkan Zayden terus! A-aku takut dia kenapa-napa!" ucap Cika dengan sendu bahkan gadis itu hampir menangis karena sesak yang menghimpit dadanya sejak memikirkan Zayden.
"Jangan terlalu dipikirkan, Sayang! Kamu harus fokus! Mama yakin kalian akan dipertemukan dalam keadaan baik," ucap Tri dengan lembut.
"T-tapi, Ma! A-aku merasa ada sesuatu yang terjadi dengan Zayden, Ma! A-aku takut!" gumam Cika dengan berkaca-kaca.
"Sayang, Mama gak mau kamu jatuh sakit lagi! Kamu baru aja pulang dari rumah sakit! Pikiran kamu harus tenang," ujar Tri dengan lembut.
Cika yang melihat kekhawatiran di mata mamanya langsung memeluk sang mama dengan erat. "Maafin Cika ya, Ma! Cika hanya terlalu khawatir dengan keadaan Zayden," gumam Cika dengan sendu.
__ADS_1
"Mama mengerti, Sayang!" gumam Tri dengan lembut.
"Aku harus bangkit! Aku tidak bisa seperti ini terus! Aku yakin suatu saat kami akan bertemu dalam versi yang lebih baik dari sebelumnya! Saat itu tiba mungkin aku akan menjadi orang yang sangat bahagia! Ay, bagaimanapun keadaan kamu di sana, di sini aku akan tetap menunggu kamu!" gumam Cika di dalam hati.