
...Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
***
Cika sedang bermanja dengan mamanya, saat ini gadis itu tak berselera apapun. Ia hanya ingin bermanja dengan Tri bahkan Fathan tidak bisa menguasai istrinya malam ini. Cika lebih sering merebut istrinya yang membuat pria tua itu uring-uringan setiap malam.
"Papa lucu deh cuma ditinggal mama ke kamar kak Cika aja seperti ditinggal bertahun-tahun," ujar Nayla cekikikan.
Fathan mendengkus kesal melihat ke arah anak bungsunya yang asyik menertawakan dirinya. "Nanti kalau kamu udah nikah pasti bakal ngerasain!" sahut Fathan dengan kesal.
Nevan dan Nessa yang mendengarnya hanya tersenyum tipis. Sedangkan Nayla seakan acuh tak acuh bahkan gadis vitu seakan tak peduli.
Ting...tong...
"Ada tamu biar Nayla yang buka!" ujar Nayla dengan cepat untuk menghindari dari omelan papanya yang akan berkepanjangan.
Fathan mengangguk, ia lebih baik menatap televisi yang berada di depannya sekarang sedangkan kedua anak kembarnya sibuk mengerjakan tugas kuliah mereka.
"Siapa tamunya Nayla?" tanya Nessa yang merasa suara itu tak asing baginya.
"BUNDA NESSA!" teriak suara anak kecil yang membuat Fathan dan Nevan mematung dengan sempurna bahkan mata mereka hampir melotot melihat ke arah Nessa yang menelan ludah takut diinterogasi dengan papa dan kakaknya.
"A-ayuna..." gumam Nessa dengan tercekat saat gadis kecil berusia 3 tahun itu berlari ke arahnya.
Bruk...
"Ayunan kangen!" ujar Ayuna dengan memeluk leher Nessa dengan erat.
Sedangkan Andra, ayah dari Ayuna hanya bisa menghela napasnya dengan kasar. Niat hati bertamu ke rumah orang tua Cika hanya ingin bertemu dengan Cika tetapi anaknya malah lengket seperti perangko dengan Nessa.
"T-unggu-tunggu... Ini telinga Papa yang bermasalah atau bagaimana? Bunda? Anak kecil ini panggil kamu bunda?" tanya Fathan dengan bingung.
"Halo Kakek! Nama aku Ayuna! Ayuna mau bunda Nessa jadi bunda Ayuna. Boleh kan, Kek?" tanya Ayuna dengan tersenyum malu-malu ke arah Fathan.
Fathan menatap Ayuna, ia berdehem karena mengingat masa lalu di mana Cika sangat dekat dengan Tri. Apakah kisahnya juga akan terulang kepada anaknya? Tapi kenapa bisa?
"H-halo Ayuna..." ujar Fathan dengan tersenyum tipis.
Andra yang merasa tak enak mulai membuka suaranya. "Maafkan anak saya, Pak! Saya tidak tahu kenapa anak saya bisa sedekat ini dengan anak Bapak padahal mereka baru bertemu sekali sewaktu kelulusan Cika. Emmm... Kedatangan saya ke sini bermaksud ingin menjenguk Cika, katanya gadis itu sedang sakit tetapi maaf saya baru bisa menjenguknya sekarang," ujar Andra dengan tegas dan sopan.
Fathan mengangguk mengerti. "Silahkan duduk Pak Andra! Maaf Cika sekarang berada di kamarnya. Ada sesuatu yang terjadi sehingga anak saya sedang istirahat dengan mamanya sekarang," ujar Fathan dengan tegas.
"Oo maaf kalau begitu. Apakah saya menganggu waktu Bapak dan keluarga? Sebaiknya mungkin saya pul..."
__ADS_1
"Ayuna gak mau pulang! Baru bertemu dengan bunda Nessa masa sudah mau pulang sih?" ujar Ayuna dengan cemberut.
Walaupun Ayuna masih berusia 3 tahun kosa katanya sudah banyak sekali bahkan terlihat baku karena Andra selalu mengajarkan anaknya tersebut.
"Haha.. Tidak apa-apa, rumah ini terasa ramai jika ada anak kecil. Anak-anak saya sudah remaja semua jadi malam ini tidak apa-apa jika Ayuna bermain dengan Nessa," ujar Fathan dengan ramah.
"Kak!" bisik Nayla kepada Nevan.
"Hmmm..."
"Apa dosen itu pacarnya kak Nessa ya? Pacarnya duda anak satu dong!" ujar Nayla berbisik yang masih bisa didengar oleh Nessa. Nessa menyenggol lengan adiknya lalu ia mendelik menatap Nayla.
"Biarin aja!" ujar Nevan dengan cuek tetapi dalam hati ia tidak rela jika kembarannya sudah mendapatkan pria idamannya. Nevan masih tidak rela melepaskan kembarannya untuk menikah mengingat masa lalu orang tuanya juga seperti itu kan?
"Ganteng sih Kak," ujar Nayla cekikikan yang membuat Nessa semakin kesal karena merasa tak dihiraukan dengan kembaran dan adiknya.
"Kalian apaan sih?! Aku gak ada hubungan dengan dosen kak Cika ih!" bisik Nessa dengan pelan.
"Bunda kenapa bisik-bisik?" tanya Ayuna menatap ke arah Nessa.
"Yuna, emm panggil Kakak aja ya jangan bunda!" ujar Nessa dengan meringis.
"Gak boleh ya bunda?" tanya Ayuna dengan sedih.
"Silahkan di minum, Pak!" ujar bibi yang bekerja di rumah Fathan beberapa tahun ini karena bibi yang sebelumnya sudah meninggal beberapa tahun lalu.
"Terima kasih, Bi!" ucap Andra dengan canggung.
"Silahkan di minum, Pak!" ujar Fathan.
"Terima kasih, Pak!"
Nessa masih merasa bersalah dengan Ayuna yang sekarang tampak berkaca-kaca.
"Kak, kasihan ih anak orang! Boleh aja panggil bunda kenapa sih, Kak?" ujar Nayla yang kasihan dengan Ayuna.
Nessa bimbang, ia menatap papanya dengan dalam. Fathan mengangguk karena ia dulu juga merasakan bagaimana di posisi Andra.
"Ayuna boleh kok panggil kak Nessa bunda! Maaf ya tadi buat Ayuna sedih," ujar,Nessa dengan mengelus kepala Ayuna.
Ayuna kembali tersenyum dan memeluk Nessa dengan erat. Ayuna seperti perangko yang tak bisa lepas dari Nessa, entah apa yang dilihat Ayuna pada Nessa yang jelas itu membuat Andra tersenyum.
"Maaf kalau pertanyaan saya terlalu pribadi. Tapi, saya ingin bertanya apakah bunda dari Ayuna masih hidup atau sudah meninggal?" tanya Fathan dengan pelan.
"Tidak apa-apa, Pak. Istri saya sudah meninggal saat Ayuna berusia satu tahun karena sebuah kecelakaan tunggal. Waktu itu istri saya mengendarai mobilnya sendiri ke sekolah untuk mengajar, namun naas di perjalanan mobilnya masuk ke jurang dan istri saya tidak terselamatkan," ujar Andra dengan sesak saat mengingat kejadian di mana istrinya meninggal di dalam mobil meninggalkan dirinya dan Ayuna.
__ADS_1
"Innalillahi wa innalillahi rojiun," ucap Fathan, Nevan, Nessa, dan Nayla dalam waktu bersamaan. Mereka tak menyangka jika meninggalnya bunda Ayuna sangat tragis sekali.
"Maaf Kalau pertanyaan saya membuat kamu mengingat masa lalu yang menyakitkan itu," ujar Fathan yang diangguki maklum oleh Andra.
Akhirnya mereka mengobrol bersama tetapi tidak ada Cika maupun Tri karena Cika tak ingin ditinggalkan mamanya barang sedetik pun untuk melihat siapa yang datang bertamu di rumah mereka. Sepertinya Cika sudah hapal suara Andra sehingga gadis itu malas untuk bertemu dengan dosennya, bukannya tidak sopan hanya saja Cika tak ingin membuka hatinya untuk siapa pun. Ia ingin menunggu Zayden sampai pulang ke pelukannya.
Sudah hampir satu jam Andra dan Ayuna bertamu. Fathan dan Andra asyik mengobrol membahas pekerjaan sedangkan Ayuna sibuk bermain dengan Nessa.
"Ayuna sudah malam ayo kita pulang!" ujar Andra dengan lembut.
Ayuna malah memeluk Nessa. "Ayuna mau sama bunda Nessa aja! Ayah kalau mau pulang, pulang sendiri aja," ujar Ayuna dengan pelan.
"Ayuna ini sudah malam. Bunda Nessa juga mau istirahat. Ayuna harus pulang sama Ayah! Kita akan menginap di rumah nenek," ujar Andra merayu anaknya.
"Gak mau! Ayuna mau di sini aja!" ujar Ayuna dengan cemberut.
Andra tampak tak menyerah untuk membujuk anaknya supaya mau pulang tetapi Ayuna tetap saja tidak mau pulang bersamanya. Bahkan Nessa juga sudah turun tangan untuk membujuk gadis kecil itu untuk pulang tetapi tetap saja tidak membuahkan hasil apapun.
"Maaf, Pak. Kalau Bapak mengizinkan biar malam ini Ayuna menginap di sini. Besok pagi Pak Andra bisa menjemputnya. Kasihan kalau dipaksa pulang nanti malah menangis," ujar Nessa pada akhirnya.
Andra seperti tak rela meninggalkan anaknya karena selama ini ia tidak pernah meninggalkan Ayuna selain di rumah kedua orang tuanya.
"Tapi..."
"Ayuna mau tidur sama bunda Nessa, Ayah! Hiks...Ayuna mau tidur di sini," ujar Ayuna yang membuat Andra mengusap wajahnya dengan frustasi.
"Nanti bunda Nessa repot, Sayang!" ujar Andra dengan pelan.
"Ayuna gak mau pulang!!" teriak Ayuna yang membuat Andra meringis.
"Ya sudah Ayuna boleh menginap di sini asal besok pagi Ayuna mau pulang sama Ayah!" ujar Andra pada akhirnya.
"Iya, Ayah!" sahut Ayuna yang membuat semuanya merasa lega.
"Ayah pulang dulu!" ujar Andra dengan pelan.
"Pak, Nessa, Nevan, Nayla, saya pulang dulu ya. Saya minta maaf jika kedatangan saya dan Ayuna malam ini malah berakhir seperti ini," ujar Andra tak enak hati.
"Tidak apa-apa, Pak! Ayuna pasti tidak akan menangis bersama dengan Nessa. Bapak tenang saja!" ujar Fathan dengan tegas.
"Ya, terima kasih. Sebentar saya ambilkan pakaian Ayuna dan susunya yang ada di mobil. Tengah malam Ayuna sering kali meminta susu," ujar Andra dengan cepat berjalan ke mobilnya.
Ayuna sudah seperti anak Nessa bahkan anak kecil itu tak mau diturunkan dalam gendongan Nessa padahal Ayuna sudah mulai tampak mengantuk sekarang.
Setelah selesai memberikan pakaian Ayuna yang seharusnya untuk menginap di rumah neneknya. Andra mulai memasuki mobil dan meninggalkan Ayuna di rumah milik Fathan bersama dengan Nessa. Gagal sudah bertemu dengan Cika malam ini malah berakhir dirinya pulang sendiri, Andra berharap Ayuna akan dekat dengan Cika tetapi kenapa malah sebaliknya? Ahh... entahlah harus bagaimana Andra kedepannya jika bertemu dengan Nessa?
__ADS_1