
...📌Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
***
Seminggu ini Zayden masih harus mengambil hati kekasihnya yang masih merajuk karena dirinya bahkan Cika belum mau kembali ke kantor yang membuat Zayden tidak fokus bekerja karena memikirkan Cika.
Hari ini Zayden memutuskan untuk ke rumah kedua orang tua Cika dari pada dirinya gila karena terus memikirkan kekasihnya. Semua meeting sudah Zayden ahlikan pada orang kepercayaannya, hari ini Zayden ingin mengambil hati Cika kembali.
Zayden mengemudikan mobilnya dengan tak sabaran. Membayangkan wajah Cika yang ngambek membuat Zayden terkekeh gemas.
"Jadi pengin hamilin Cika secepatnya," monolog Zayden dengan terkekeh.
"Ay, mantra apa yang kamu baca sampai aku tergila-gila dengan kamu sejak kecil? Ini gila, perasaan aku ke kamu semakin besar setiap harinya," gumam Zayden dengan tersenyum bahagia seperti orang gila karena Zayden seorang diri di mobil miliknya.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 20 menit akhirnya Zayden sampai di rumah kedua orang tua kekasihnya yaitu calon mertuanya.
Dengan tak sabaran Zayden keluar dari mobil dan langsung berjalan menuju pintu utama rumah milik Fathan. Tetapi Zayden bingung ketika rumah besar ini terlihat tampak sepi tidak seperti biasanya.
"Eh Tuan Zayden!" ucap pembantu Fathan saat kaget melihat kedatangan Zayden bertamu ke rumah majikannya.
"Bi, rumah kok sepi? Yang lain pada kemana?" tanya Zayden dengan bingung sekaligus khawatir jika Cika dan sekeluarga pindah.
"Itu, Tuan. Semalam tiba-tiba badan non Nadine panas banget. Bapak takut non Nadine kena step jadi langsung di bawa ke rumah sakit. Semua orang di rumah sakit dan belum ada pulang ke rumah, Tuan." jelas Bibi yang membuat Zayden menggangguk.
"Kasihan gemoy. Ya sudah Bi saya langsung ke rumah sakit saja," ujar Zayden yang di angguki oleh bibi.
"Iya, Tuan."
Zayden langsung kembali ke mobilnya, ia berpikir ingin membelikan sesuatu untuk Nadine. Khawatir jelas Zayden rasakan karena Nadine adalah adiknya juga.
****
Suara tangisan anak kecil di ruang VVIP membuat siapa saja yang mendengarnya pasti akan kasihan. Pasalnya Nadine terus menerus menangis sejak tadi karena sakit yang ia rasakan pada kepalanya, panasnya sudah agak menurun dari pada semalam tetapi Fathan dan yang lainnya harus menjaga Nadine dengan baik.
"Huaaaa...hiks..hikss..sakit!" tangis Nadine dengan tangan yang di infus dan dengan kompres penurun panas yang ada di keningnya.
Nevan sejak tadi menggendong sang adik yang tak mau dengan siapa pun selain dirinya, mamanya dan juga papanya tetapi Nadine lebih nyaman di gendong dengannya bahkan mereka sejak semalam tidak tertidur karena harus menjaga Nadine yang terus menerus rewel.
Nevan mengecup puncak kepala adiknya yang masih terasa panas.
"Sayang, Kakak capek gantian ya Mama gendong kamu," ujar Tri dengan sendu.
"Huaaa... Gak mau," ujar Nadine yang membuat Tri menatap sendu ke arah anaknya.
"Gak apa-apa, Ma. Mama istirahat saja," ujar Nevan dengan pelan.
"Kalau sama Papa mau enggak? Kasihan Kakak, Sayang!" ujar Fathan membujuk anaknya.
"Hiks..hiks..enggak mau!" ujar Nadine yang memeluk Nevan dengan kencang.
__ADS_1
"Gak apa-apa biar Nevan yang gendong Nadine. Biar dia tidur dulu sejak semalam Nadine gak ada tidur kan, Pa!" ujar Nevan yang membuat Fathan menghela napasnya dengan pelan. Rasanya Fathan gagal menjadi dokter karena anaknya bisa terkena demam seperti ini.
Cika, Nessa, dan Nayla hanya bisa menunggu di sofa karena Nadine sama sekali tidak mau di gendong oleh mereka.
"Moy, kamu kalau sakit buat kami khawatir," gumam Nayla yang di angguki oleh kedua kakaknya.
"Padahal kita gak ada tidur ya Kak tapi mata aku gak bisa merem," ujar Nayla.
"Mana bisa tidur di saat Nadine sakit dan rewel seperti ini," ujar Cika yang memang sudah lemas sejak semalam.
Tok..tok...
Fathan melihat ke arah pintu, ia berjalan ke arah pintu dan membukanya ternyata Zayden lah yang datang.
"Pa, gimana keadaan Nadine?" tanya Zayden dengan pelan.
"Masih demam tapi tidak sepanas semalam," jawab Fathan.
"Masuk! Cari Cika, kan?" tanya Fathan yang di angguki oleh Zayden.
Zayden masuk ke ruang Nadine dengan perlahan, ia mendekat ke arah Nadine yang di gendong dengan Nevan.
"Cepat sembuh gemoy!" ujar Zayden dengan pelan saat ternyata Nadine sudah mulai tertidur di gendongan Nevan.
Zayden melihat ke arah Cika, tetapi sebelum itu ia menyalami mertuanya terlebih dahulu. "Kamu tahu dari siapa kalau Nadine masuk rumah sakit, Zayden?" tanya Tri.
"Zayden ke rumah tadi, Ma. Tapi sepi banget dan bibi bilang gemoy masuk rumah sakit. Jadi, Zayden langsung ke sini saja," sahut Zayden dengan pelan.
"Makasih ya Zayden sudah repot-repot bawa makanan," ujar Tri dengan tersenyum.
"Kak uang jajan Nayla mana!"
"Aduh! Sakit, Kak!" ujar Nayla meringis saat Cika mencubit pahanya dengan gemas.
"Kebiasaan kamu gak hilang-hilang dari dulu. Gak sopan minta uang ke orang lain," tegur Cika dengan tajam.
"Kak Zayden bukan orang lain, Kak. Itu calon suami Kakak masa Kakak lupa sih? Kemarin kak Zayden yang lupa sekarang Kak Cika kapan kalian nikahnya sih? Kak Nessa saja sebentar lagi nikah sama duda," ujar Nayla yang membuat Cika menatap adiknya dengan tajam karena Nayla tidak bisa mengerem ucapannya.
"Kakak kasih uang yang banyak kalau kamu bisa buat calon istri Kakak ini tidak merajuk lagi. Bagaimana?" ujar Zayden yang membuat Nayla tersenyum senang.
"Gampang itu, Mah. Silahkan duduk di sini, Kak. Nayla dan kak Nessa akan menyingkir dari sofa ini," ujar Nayla yang membuat Zayden terkekeh pelan karena ia tidak mau menganggu tidur Nadine.
Cika tampak kesal ketika kedua adiknya menyingkir, ia ingin bersuara tetapi sang mama sudah memberikan peringatan untuk tidak membuka suara karena takut Nadine terganggu. Ahh... mamanya ini pilih kasih dengan Zayden.
Zayden duduk di sebelah Cika. Namun, gadis itu ingin menghindar tetapi dengan cepat Zayden menarik tangan Cika agar dekat dengannya kembali.
"Sudah ya marahnya. Aku mau kita nikah secepatnya usia kita tak lagi muda, Ay!" gumam Zayden dengan membujuk Cika yang terlihat diam sejak kedatangannya.
"Please jangan marah lagi. Aku mau merengek di sini tapi malu sama calon mertua dan adik ipar," ujar Zayden dengan memelas yang membuat Cika hampir saja tertawa dengan ucapan Zayden kepadanya.
"Apa yang membuat kamu yakin mau menikah dengan aku? Kamu saja gak bertanggungjawab gitu," ujar Cika dengan ketus.
__ADS_1
"Kemarin kan aku lupa ingatan, Ayang! Sumpah aku gak ingat apapun, maaf kalau selama ini perlakuan aku ke kamu buat kamu sedih tapi itu di luar kendaliku, Ay! Please jangan ngambek lagi ya!" rengek Zayden dengan pelan.
"Ada syaratnya!" ujar Cika.
"Apa, Ay? Aku pasti lakuin!" ujar Zayden dengan tak sabaran.
"Aku mau..."
"Mau apa?"
"Mau tidur dulu sebentar. Ngantuk banget, awas tangan kamu," ujar Cika menyingkir tangan Zayden yang ada di paha pria itu.
Zayden tersenyum saat gadis itu menjadikan pahanya bantal untuk kepala Cika.
"Dih Sudah gak ngambek lagi itu," gumam Nayla dengan sinis.
"Sudah jangan ribut. Nadine nanti ke bangun! Kalian kalau mau tidur, sana tidur!" ujar Fathan dengan tegas.
"Iya, Pa. Nessa sama Nayla juga sudah ngantuk banget," ujar Nessa dengan lirih.
"Ay..."
"Berisik ih! Kalau mau aku maafin jangan ganggu tidur aku terus usap-usap rambut aku," gumam Cika dengan pelan karena dia juga sudah sangat mengantuk.
"Jadi, kita baikan nih?"
"Jangan berisik!"
"Iya-iya, Ay! galak banget calon istriku!" ujar Zayden yang membuat Cika tersenyum dengan memejamkan matanya.
Zayden mulai mengusap kepala Cika dengan lembut membiarkan Cika tertidur nyaman dengan pahanya yang sebagai bantal.
Sedangkan Nevan yang mulai meletakkan adiknya di brankar setelah memastikan Nadine sudah tertidur dengan nyenyak.
"Gimana panasnya?" tanya Tri dengan cemas.
"Sudah turun, Ma!" ujar Nevan dengan lega.
"Alhamdulillah!"
"Zayden!"
"Iya, Pa!"
"Papa tunggu kamu ke rumah untuk menentukan tanggal pernikahan kalian!" ujar Fathan yang membuat Zayden langsung tersenyum bahagia.
"Siap, Pa! Zayden akan ke rumah setelah Nadine bisa pulang, Pa!"
"Oke. Papa tunggu!"
"Ay, kita nikah!" pekik Zayden dengan tertahan.
__ADS_1