Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 164 (Bertahan atau Melepaskan?)


__ADS_3

...Jangan lupa ramaikan part ini ya....


...Happy reading...


***


Delisha membuka matanya saat ia merasa ada yang mencium keningnya. Ikbal tersenyum saat melihat Delisha membuka matanya.


"Akhir-akhir ini kenapa Kak Ikbal suka cium Delisha?" tanya Delisha dengan pelan.


"Hmmm kenapa ya? Gak ada alasan sih tapi yang ini karena mau cium putri tidur biar cepat bangun," sahut Ikbal yang membuat Delisha terkekeh.


"Delisha bukan putri tidur!" ujar Delisha dengan tersenyum.


"Kalau bukan putri tidur kenapa akhir-akhir ini suka tidur? Di rumah sakit lagi tidurnya," ujar Ikbal dengan mengelus pipi Delisha dengan lembut.


Delisha menggelengkan kepalanya. "Delisha gak tahu!" ujar Delisha dengan pelan karena tubuhnya masih terasa lemas.


Akbar dan Fiona masuk ke ruangan anaknya setelah bertemu dengan dokter yang menangani Delisha. Sedangkan ketiga kakak Delisha ada di kantin rumah sakit untuk membeli makanan mengisi perut mereka yang kosong. Mereka tak pernah merasa lelah ketika kuliah dan harus menjaga Delisha kembali, karena kebahagiaan Delisha lah yang mereka utamakan mungkin inilah penyebab ketiganya tidak mempunyai pacar, takut pasangan mereka terabaikan.


"Papi sama Mami dari mana?" tanya Delisha dengan pelan.


"Dari ketemu dokter, Sayang! Gimana keadaan kamu hmm?" tanya Akbar dengan lembut.


"Lemes banget, Pi!" rengek Delisha dengan manja.


"Jangan sakit-sakit lagi ya!" ujar Fiona dengan lirih.


Delisha tak menjawab tetapi ia menatap kedua orang tuanya dengan lekat. "Delisha gak mau ketemu kak Zayyen lagi! Delisha benci kak Zayyen!" ujar Delisha dengan dingin.


Perubahan Delisha membuat Akbar, Fiona, dan Ikbal saling menatap satu sama lain. Rasa sakit yang Delisha rasakan membuat Delisha bisa bersikap dingin tak seperti sifat gadis itu biasanya.


"Iya, adek gak akan ketemu lagi sama Zayyen!" ucap Akbar dengan lembut.


"Bal, kamu gak kuliah?" tanya Fiona kepada Ikbal yang sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri.


"Ikbal masuk sore, Mi! Ikbal mau di sini dulu!" jawab Ikbal.


"Ya sudah kamu istirahat dulu kalau gitu. Sebentar lagi kembar pasti bawa makanan ke sini," ujar Fiona dengan lembut.

__ADS_1


Akbar menepuk punggung Ikbal. "Ayo duduk! Papi mau ngomong bisnis sama kamu," ucap Akbar yang diangguki oleh Ikbal.


Ikbal sangat menghargai kedua orang tua Delisha karena dari mereka lah Ikbal tidak kekurangan kasih sayang.


****


Cika ditemani oleh mamanya untuk bertemu dengan Zayden yang berada di ruangan rumah sakit jiwa. Lumayan lama mereka sampai di sini, tetapi Cika sangat kepikiran dengan Zayden karena pria itu harus dirawat di rumah sakit jiwa untuk menyembuhkan penyakit mentalnya.


Nyuttt...


Hati Cika berdenyut sakit saat melihat kekasihnya terduduk di sudut ruangan dengan pandangan kosongnya. Cika benar-benar kasihan dengan Zayden saat ini.


Tri menguatkan anaknya yang masih belum menyapa Zayden. Saat suster membukakan pintu ruangan Zayden, pria itu belum menoleh ke arah Cika dan Tri.


"Ma, Zayden..." tenggorokan Cika tercekat melihat Zayden yang seperti itu.


"Mama tahu, Sayang! Tapi ini bukan keinginannya! Temui dia ya bicara baik-baik," ucap Tri dengan lembut.


Cika mengangguk dengan pelan dan mata yang berkaca-kaca. Cika menarik napasnya untuk menguatkan hatinya berbicara dengan Zayden.


"Ay!" panggil Cika dengan perlahan.


Zayden menatap Cika dengan pandangan yang sulit di mengerti oleh Cika.


"Aku juga gak sadar sudah menyakiti kamu! Rasanya jika aku tahu itu, aku ingin membunuh diriku sendiri!" ujar Zayden yang terus didengarkan oleh Cika.


Cika menatap Zayden dengan sendu, perlahan Cika ingin memegang tangan Zayden tetapi pria itu menghindar dari Cika dengan cepat yang membuat Cika tercekat.


"Ayy..."


Zayden menutup matanya dengan perlahan dan menghembuskan napas beratnya. "Pergi, Ay! Sebelum Aiden menyakiti kamu! Papa dan mama benar aku harus sembuh dulu baru bisa menikahi kamu! Mulai sekarang kita break dulu ya," ujar Zayden dengan bibir gemetar menahan tangis dan mata yang berkaca-kaca.


Cika menggelengkan kepalanya. "A-aku gak mau, Ay! Please... jangan minta itu ya!" ujar Cika dengan lirih.


Zayden tersenyum dengan pedih. "Kamu gak akan bahagia dengan aku yang seperti ini, Ay! Atau kamu bisa menikah dengan Zayyen! Dia suka sama kamu, kan? Bahkan kamu juga sering bertemu sama dia di belakang aku. Aku sadar mungkin perlakuanku yang seperti ini membuat kamu mencari pelarian bersama Zayyen. Kita break ya! Kamu bisa mendapatkan lelaki yang lebih baik dari aku," ujar Zayden dengan pedih.


"E-enggak, Ay! Aku gak mau!" ujar Cika dengan menangis.


Zayden memegang tengkuknya yang terasa berat. "Pergi, Ay! Ayo pergi!" teriak Zayden dengan mengerang kesakitan.

__ADS_1


"Ay..."


"PERGI!!!" teriak Zayden dengan tajam.


"AARGHHH..."


"PERGI!!!"


Cika menatap Zayden dengan panik, ia ingin menenangkan Zayden tetapi ia juga takut jika Aiden muncul dan menyakiti dirinya seperti kemarin.


Tri yang menemani anaknya dan menunggu di luar langsung masuk bersama dengan suster.


"Mbak dan ibu segera keluar sekarang!" ujar Suster dengan tegas.


"T-tapi..."


"PERGI!!!"


Tri mengajak anaknya keluar dari ruangan Zayden. "Ayo, Sayang. Besok kalau keadaan Zayden sudah membaik kamu bisa ke sini lagi," ujar Tri dengan lembut.


Awalnya Cika menolak namun ia berhasil dibujuk oleh mamanya. Cika menatap Zayden yang terus mengerang kesakitan di lantai, Cika tak tega melihat Zayden seperti ini. Rasanya Cika ingin berlari memeluk Zayden sekarang namun keadaan yang tak memungkinkan kembali.


"ZAYDEN BRENGSEK!!! KENAPA LO LEPASIN CIKA! SEBENTAR LAGI KITA BISA MILIKI CIKA! GUE GAK AKAN LEPASIN CIKA GITU AJA!"


Cika dan Tri saling memandang saat mendengar teriakan Zayden tepatnya Aiden yang berada di tubuh Zayden sekarang.


"Ma... Hiks...hiks!!" Cika memeluk mamanya dengan menangis sedangkan Tri mencoba menenangkan Cika yang menangis histeris saat mendengar Zayden terus mengamuk di ruangannya.


"Biarkan Zayden sembuh dulu, Sayang! Kamu memang ingin bertahan tapi Zayden ingin melepaskan karena tak ingin kamu tersakiti oleh dirinya. Percayalah ini yang terbaik untuk hubungan kalian kedepannya," ujar Tri dengan bijak.


"Aku sayang Zayden, Ma! Aku cinta sama dia! A-aku emang salah karena diam-diam bertemu dengan Zayyen! Dia bisa diajak cerita soal Zayden yang membuat aku nyaman tapi bukan berarti aku cinta sama Zayyen, Ma!" ujar Cika dengan menangis hingga datang Tiara dan Zidan.


"Tante, hikss..." Cika memeluk Tiara dengan erat.


"Sabar, Sayang! Zayden butuh suport dari kita semua. Apa yang terjadi sekarang mohon ikhlaskan. Tante dan om sengaja menyuruh Zayden melepaskan kamu untuk sementara karena bisa berakibat fatal jika kalian masih bersama. Bukan Tante gak sayang kamu tapi ini lebih kepada kebaikan untuk diri kamu sendiri. Tante gak mau Zayden bersikap kasar lagi sama kamu! Tante gak mau Zayden menyesal nantinya. Gak apa-apa kan pisah sementara dari Zayden demi kesembuhan Zayden?" ujar Tiara dengan lirih.


"Hikss... Gak apa-apa Tante tapi jangan suruh Cika mencari orang lain! Cika gak sanggup hiks..." sahut Cika dengan pelan.


Tiara tersenyum dengan meneteskan air matanya. Kisah cinta kedua anaknya akhirnya harus berakhir di sini. Tapi tak mengapa, jika mereka berjodoh pasti mereka akan disatukan kembali. Tiara berharap kedua anaknya bisa tulus mencintai tanpa harus ada yang menyakiti.

__ADS_1


"Zayden, maafkan Mama yang harus memasukkanmu ke sini. Bukan Mama tak sayang, Nak! Ini semua demi kesembuhan kamu," ujar Tiara dengan sendu.


"Zayden, Papa merasa gagal menjadi seorang ayah. Papa pikir semua yang Papa lakukan selama ini sudah benar ternyata Papa salah. Maafkan Papa, Nak! Papa janji kamu akan sembuh setelah ini dan bisa bersama Cika kembali. Papa tahu cinta kamu tulus untuk Cika," gumam Zidan di dalam hati.


__ADS_2