
Jangan lupa ramaikan part ini ya!
Happy reading
****
Mengapa sulit, untukku bisa memiliki hatimu?
Bahkan selama ini hadirku tak berharga untukmu.
Dan mengapa aku masih sangat menginginkanmu? Harus sesabar apakah lagi aku?
~Delisha~
***
Delisha sangat senang sekali hari ini karena ia bisa berduaan dengan Zayden di sebuah taman yang sangat indah. Berbeda dengan Zayyen yang tampak bermalas-malasan ketika mereka berjalan di taman hingga duduk di sebuah kursi yang sudah tersedia meja.
"Kak beli bakso sama telur gulung!" rengek Delisha menarik lengan baju Zayyen dengan perlahan.
"Bisa gak sih mulut lo berhenti ngunyah?!" ujar Zayyen dengan tajam.
Dengan polosnya Delisha menggeleng. "Delisha mau menikmati hidup dengan mengunyah banyak makanan bersama Kak Zayyen," ujar Delisha dengan penuh makna tetapi Zayyen sama sekali tak peduli. Ia menganggap semua perkataan Delisha adalah bualan semata untuk menghabiskan uangnya dengan membelikan banyak makanan untuk Delisha.
"Duduk di sini!" ujar Zayyen dengan dingin.
Delisha menurut, ia menatap kepergian Zayyen dengan dalam. "Seandainya waktu Delisha gak banyak lagi. Ini adalah momen yang sangat indah bagi Delisha," gumam Delisha dengan tersenyum.
Delisha bertopang dagu menatap ke arah Zayyen yang sedang antri membeli bakso dan telur gulung. Di taman ini cukup banyak penjual jajanan dan itu membuat Delisha sangat senang.
"Gantengnya calon suami Delisha. Hihihi Delisha jadi bayangin kalau Delisha udah nikah sama kak Zayyen terus Delisha ngidam makanan seperti ini," gumam Delisha dengan berbinar.
Sedikit lama Delisha menunggu Zayyen kembali akhirnya lelaki itu kembali dengan membawa satu bungkus berisi telur gulung dan satu mangkuk berisi bakso yang Delisha pesan yang Delisha pesan.
"Habiskan!" ucap Zayyen dengan tajam.
Delisha mengangguk dengan semangat.
"Ini saus sama kecapnya, Neng! Ini ada juga sambal cabainya," ujar penjual bakso yang mengantarkan bahan pelengkap bakso.
"Terima kasih, Pak!" jawab Delisha dengan tersenyum ramah.
"Sama-sama, Neng!"
Zayyen memperhatikan Delisha makan. Ia menjauhkan sambal dari Delisha saat gadis itu ingin mengambil satu sendok sambal lagi.
"Kak, Delisha mau pakai sambal ini tadi kurang!" rengek Delisha dengan manja.
"Makan atau gue buang bakso lo!" ujar Zayyen dengan dingin.
Delisha cemberut tetapi ia menurut dengan Zayyen. "Kakak pesan baksonya kok satu sih? Kakak sengaja biar Delisha suapi ya?" tanya Delisha yang hampir membuat Zayyen tersedak air liurnya sendiri.
"Gue kenyang!" sahut Zayyen dengan datar.
"Kakak bohong! Ayo buka mulutnya biar Delisha suapi! Baksonya enak loh, Kak!" ucap Delisha dengan menyodorkan sendok berisi bakso ke mulut Zayyen.
"Gak usah!"
__ADS_1
"Ayo, Kak! Sekali aja!" rengek Delisha.
Zayyen melihat kanan dan kirinya, ia merasa malu jika dilihat banyak orang. Dengan cepat ia menerima suapan dari Delisha walau sebenarnya ia sangat enggan tetapi Zayyen tak ingin mendengar rengekan Delisha yang membuat telinganya sakit.
"Enak, kan?" tanya Delisha dengan tersenyum.
"Hmmm..."
"Aaa... lagi!"
"Udah!"
"Ayo lagi Kak! Suapan dari tangan Delisha enak loh!" ucap Delisha.
Zayyen menghela napasnya dan akhirnya ia kembali menerima suapan dari Delisha. Delisha sangat keras kepala, gadis ini cukup membuat emosinya naik turun.
"Cukup!" ujar Zayyen dengan dingin.
Delisha akhirnya memakan bakso dan telur gulungnya sendiri. Zayyen hanya memainkan ponselnya tanpa mempedulikan Delisha yang kepedasan.
"Kak Delisha mau minum dingin!" ujar Delisha kepedasan.
"Hmmm..."
"Kak Delisha haus!" ujar Delisha dengan mata yang berkaca-kaca.
"Lo bisa sehari aja gak ganggu gue? Bisa gak?" ujar Zayyen dengan tajam.
"Pertama, sejak lo ngajak gue pergi dan maksa gue terus-terusan sebenarnya gue muak. Kedua, lo tahukan gue itu sibuk dan ini adalah waktu istirahat gue! Tahu gak lo gue capek!" ujar Zayyen dengan dingin yang membuat Delisha tersentak. Baru kali ini Zayyen terlihat begitu marah dengannya. Apakah ia seburuk itu di mana Zayyen.
"Tapi Delisha haus!" ujar Delisha dengan lirih.
Nyutt...
Hati Delisha berdenyut sakit. Tetapi ia sangat pandai menyimpan kesakitannya seorang diri karena ada yang lebih sakit dari pada diperlakukan seperti ini oleh Zayyen. Delisha sudah kuat sejak dulu dan jangan sampai air matanya menetes di depan Zayyen, ia tidak ingin terlihat lemah di depan Zayyen.
"Kok nyesel sih? Nanti Kakak nangis kalau Delisha gak ada," ujar Delisha dengan terkekeh.
"Kak minum!" rengek Delisha.
"Arghh...tunggu di sini dan jangan kemana-mana sebelum gue balik!" ujar Zayyen yang diangguki oleh Delisha.
"Delisha hanya ingin menciptakan kebahagiaan Delisha bersama Kakak. Apa permintaan sederhana Delisha itu salah?" gumam Delisha di dalam hati.
Zayyen meninggalkan Delisha seorang diri dengan perasaan berkecamuk. Gadis itu menahan air matanya sejak tadi.
"Jangan nangis Delisha! Masa segini aja kamu nyerah padahal kamu mampu menahan semua kesakitan yang kamu rasakan sejak dulu, baru di marahi Kak Zayyen aja kamu sudah seperti ini!" gumam Delisha dengan tersenyum walau matanya sudah berkaca-kaca.
***
Delisha sudah merasa bosan menunggu Zayyen yang tak kunjung datang. Akhirnya gadis itu memutuskan untuk mencari keberadaan Zayyen, mungkin saja lelaki itu tersesat di taman ini.
Delisha terus melangkah dengan pandangan yang terus mengedar mencari keberadaan Zayyen. Hingga tubuhnya mematung saat melihat Zayyen dengan Cika yang sangat terlihat akrab bahkan lelaki itu tersenyum untuk kakak sepupunya. Senyuman itu terlihat tulus sekali, rasa haus yang Delisha rasakan sudah hilang digantikan dengan sebuah kenyataan jika dirinya memang tak se-berharga itu untuk Zayyen.
"Miris!" gumam Delisha dengan terkekeh saat Zayyen tanpa disuruh membukakan minuman yang Delisha mau untuk Cika.
Tanpa di sadari keduanya Delisha melihat semuanya. Tangan gadis itu terkepal dengan erat, mata Delisha sudah berkaca-kaca tetapi Delisha berpura-pura tidak mengetahui apapun. Se-berusaha apa Delisha untuk berpikir positif tetap saja hatinya terluka saat tatapan Zayyen begitu lembut kepada kakak sepupunya.
__ADS_1
Delisha merasakan tangan kekar menutup kedua matanya.
"Jangan melihat sesuatu yang membuat hati kamu sakit!" gumam seseorang yang sangat Delisha kenali.
"Kak Ikbal!" gumam Delisha dengan lirih.
Delisha membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Ikbal. Tanpa berkata pun Ikbal tahu jika adik sahabatnya ini sedang menahan tangis.
Tanpa kata Ikbal menggenggam tangan Delisha hangat, ia membawa gadis itu pergi dari pandangan yang sama sekali tak enak untuk dilihat gadis cerewet ini.
Delisha menurut, walau langkahnya terasa berat. Namun, sepertinya pergi dari sini adalah ide yang baik untuk menenangkan hatinya.
"Mau kemana Kak?" tanya Delisha dengan lirih.
Ikbal tak menjawab tetapi ia membawa Delisha masuk ke mobilnya. Gadis cerewet itu terlihat pendiam sekarang.
"Mau nangis?" tanya Ikbal tiba-tiba saat lelaki itu sudah masuk ke dalam mobil.
"E-enggak!" jawab Delisha dengan terbata.
"Butuh pundak?" tanya Ikbal dengan singkat.
"E-enggak!" ujar Delisha mengelak.
Tanpa aba-aba Ikbal memeluk Delisha dengan erat.
"Nangis kalau kamu mau nangis!" gumam Ikbal.
Akhirnya Delisha menangis di pelukan Ikbal dengan kencang. Ia membalas pelukan Ikbal tak kalah eratnya, tubuhnya bergetar dengan kencang.
"Dada kamu bisa sesak! Kalau Kakak suruh kamu berhenti menangis bisa?"
"Hiks...hiks...B-bisa! T-tapi air mata Delisha gak mau berhenti! D-delisha gak tahu cara berhentiinnya!" ujar Delisha sesugukan.
Ikbal mengurai pelukannya ia menatap manik mata Delisha dengan dalam. "Ingat jantung kamu! Berhenti sekarang!" ujar Ikbal tak tega.
"I-iya hiks..."
"Masih nangis?!" ucap Ikbal dengan dingin.
"Ih dibilang Delisha gak tau cara berhentiinnya!" ujar Delisha dengan sebal.
Ikbal tersenyum. Senyuman yang sangat tipis bahkan tidak di sadari oleh Delisha.
"Tuh kan ingus Delisha sampai keluar!" ujar Delisha masih sesugukan.
Ikbal mengambil tisu dan ia mengelap ingus Delisha tanpa rasa jijik sedikit pun. "Beli es krim?"
Delisha langsung berhenti sesugukan. "Iya mau!" ujar Delisha yang membuat Ikbal menggelengkan kepalanya.
"Bocil!" gumam Ikbal mengusap kepala Delisha.
"Delisha bukan bocil ih!" rengek Delisha.
"Kak Ikbal!"
"Hmmm..."
__ADS_1
"Terima kasih udah jadi pahlawan Delisha!" ujar Delisha dengan tulus.
Ikbal sama sekali tak menjawab, ia mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Melihat Delisha sudah ceria lagi membuat Ikbal lega.