
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
***
Sejak di dalam pesawat bersama dengan Zidan, Cika sudah tidak sabaran ingin bertemu dengan Zayden. Awalnya Zayyen berniat ingin ikut tetapi melihat Cika juga ikut Zayyen mengurungkan niatnya, ia tidak mau terjadi kesalahpahaman di antara hubungan mereka yang mulai menjaga jarak. Keduanya sama-sama seperti orang asing ketika bertemu, Cika yang tak ingin Zayden salah paham padahal kekasihnya itu tak ada di Indonesia dan Zayyen yang menghindar karena tak mau Delisha semakin membencinya. Alasan yang tidak masuk akal menurutnya tetapi apapun itu Zayyen tak ingin membuat Delisha semakin membencinya. Alasan lainnya yaitu tidak ingin meninggalkan Zevana di Indonesia, entah mengapa Zayyen selalu tidak tenang memikirkan sang adik.
Setelah menempuh perjalanan 15 jam 45 menit akhirnya Cika dan Zidan sudah sampai di Bandara Internasional Brandenburg Berlin. Lelah yang dirasakan Cika rasanya langsung terbayar karena ia sudah sangat dekat dengan Zayden.
"Kita langsung ke rumah sakit kan, Om?" tanya Cika dengan tak sabaran.
"Kamu pasti capek Cika. Kita ke apartemen Om dan tante dulu ya, nanti Om akan suruh tante pulang menemani kamu di Apartemen biar Om saja yang ke rumah sakit," ujar Zidan dengan pelan saat mereka sudah berada di Taxi.
"Gak Om! Cika mau ketemu Zayden sekarang juga!" ujar Cika dengan penuh harap yang membuat Zidan menghela napasnya dengan pelan.
"Kamu yakin?" tanya Zidan dengan pelan.
"Yakin, Om! Cika sudah sangat merindukan Zayden, Om!" sahut Cika yang membuat Zidan mengangguk karena ia tidak bisa memaksa Cika yang sangat ingin bertemu dengan anaknya.
"20 menit lagi kita akan sampai di rumah sakit di mana Zayden dirawat," ujar Zidan yang membuat Cika senang bukan main, gadis itu sudah tak sabar ingin bertemu dengan Zayden. Sungguh Cika sangat merindukan Zayden rasanya dadanya ingin meledak karena sebuah rasa rindu yang selama ini tertahan.
"Apapun yang terjadi dengan Zayden, Om harap kamu bisa bertahan dan tidak kecewa ya!" ujar Zidan dengan penuh makna.
"M-maksud Om Zidan apa?" tanya Cika dengan tercekat.
"Bukan apa-apa," jawab Zidan yang membuat Cika gusar dan akhirnya keduanya saling terdiam hingga sampai di rumah sakit di mana Zayden dirawat.
Hati Cika berdetak dengan cepat saat ia turun dari Taxi. Lalu ia tersenyum karena sebentar lagi Cika akan bertemu dengan Zayden. Cika sudah tidak sabar ingin memeluk Zayden walaupun Zayden belum sadarkan diri, mungkin dengan kedatangannya bisa membuat Zayden sadar. Cika tak berhenti untuk berharap jika setelah ini Zayden akan segera membuka matanya.
Cika memegang tas selempangnya dengan kuat karena kopernya sudah dibawa oleh orang yang di suruh Zidan menuju apartemen mereka.
"Tante!" panggil Cika dengan tersenyum saat Tiara ternyata sudah menunggunya.
Cika memeluk Tiara dengan erat begitu pun dengan Tiara. "Kamu sehat, Sayang?" tanya Tiara dengan mata yang berkaca-kaca menatap Cika yang tampak kurus dengan lingkar hitam di bawah matanya.
"Sehat, Tante! Tante gimana? Tante kurusan hiks.." ucap Cika dengan menangis karena ia terharu bisa bertemu dengan Tiara dan Zayden kembali.
"Tante juga sehat, Sayang! Kamu juga kurusan!" ujar Tiara dengan meneteskan air matanya saat melihat Cika menangis.
"Hiks... Aku sangat merindukan Zayden, Tan!" ujar Cika yang diangguki oleh Tiara.
"Masuklah, Sayang!" ujar Tiara yang langsung diangguki oleh Cika.
"Om, Tante, Cika masuk duluan ya!" ujar Cika yang diangguki oleh keduanya.
Zidan memeluk istrinya. "Gimana Zevana, Mas?" tanya Tiara dengan sendu.
__ADS_1
"Baik, Sayang. Zeva udah tinggal di apartemen Haidar. Kemarin waktu Mas telepon Zeva gak bisa antar Mas ke bandara. Mungkin karena mereka pengantin baru," ujar Zidan dengan tersenyum.
"Semoga pernikahan anak kita bahagia ya, Mas!" gumam Tiara dengan sendu.
"Aamiin, Sayang!"
***
Cika menutup mulutnya saat melihat kondisi pria yang sangat ia cintai terbaring lemah dengan banyaknya alat medis yang menempel di tubuh Zayden
"Zayden!"
"Ay... Hiks..."
Cika tak bisa menahan isak tangisnya lagi. Bahkan tubuhnya sangat lemas sekali, bahkan berjalan untuk mendekati Zayden pun ia hampir terjatuh.
"A-ay, hiks...hiks...Ayo bangun! Aku udah di sini, Ay!" gumam Cika dengan berlinang air mata.
Hatinya merasa sakit melihat kondisi Zayden yang seperti ini. "Kamu udah janji gak akan ninggalin aku, Ay!" gumam Cika dengan berlinang air mata.
"Hikss... Aku mau kita menikah, Ay! Kita akan hidup bahagia bersama. Bangun ya, Ay!" gumam Cika dengan sendu mencium pipi Zayden dengan lembut hingga air matanya menjatuhi mata Zayden yang juga di perban karena waktu kecelakaan itu, ada kaca yang manancap di kelopak matanya tetapi untung saja tidak mengenai kornea mata Zayden.
"Hiks..hiks..." Cika terus menangis duduk di kursi samping brankar Zayden. Perlahan ia memegang tangan Zayden. Cika terus terisak mencium tangan Zayden dengan lembut. Zayden tidak akan meninggalkan dirinya, kan? Zayden tidak akan pergi dari kehidupannya, kan? Cika tidak akan bisa kehilangan Zayden. Lebih baik ia juga pergi jika Zayden meninggalkan dirinya.
***
"Gadis pintar!" ujar Ikbal saat ia baru saja selesai menyuapi Delisha.
Delisha mengangguk. "Buah jeruk ya, Mas pacar!" ujar Delisha dengan tersenyum.
"Iya, Sayang!" sahut Ikbal dengan gemas.
Melihat Delisha sudah banyak makan seperti ini membuat Ikbal bahagia. Ikbal segera mengambil jeruk dan mengupasnya hingga serat-serat jeruk pun bersih di tangannya barulah ia berikan kepada Delisha.
"Makasih Mas pacar!" ucap Delisha dengan bahagia mengunyah jeruk yang diberikan oleh Ikbal kepada dirinya.
"Sama-sama, Sayang!" ucap Ikbal dengan tersenyum.
"Mas pacar, kalau Delisha hamil terus ngidam seperti ini seru kali ya?!" ujar Delisha dengan terkikik geli.
"Selesai dulu sekolahnya baru boleh hamil! Itu pun kalau kita udah nikah baru gas buat anak," jawab Ikbal yang membuat pipi Delisha bersemu merah.
"Kalau Delisha kuliah?" tanya Delisha dengan serius.
"Mas mendukung 100% pendidikan kamu, Sayang. Bukan karena kita sudah menikah kamu tidak bisa kuliah. Lanjutkan pendidikan kamu kalau perlu sampai S3 biar anak kita nanti bangga punya mama yang pintar dan cantik kayak kamu," jawab Ikbal dengan tegas.
"Tapi Delisha banyak ketinggalan pelajaran gara-gara sakit," gumam Delisha dengan sendu.
__ADS_1
"Kamu pintar. Kamu pasti bisa mengejar ketertinggalan itu, nanti Mas bantu," jawab Ikbal dengan tenang.
"Asyik...Nanti kuliah bisa di bantu suami buat tugas dong. Iya kan suamiku?" tanya Delisha hingga membuat Ikbal tersedak air liurnya sendiri.
Ikbal salah tingkah saat Delisha memanggil dirinya dengan sebutan 'suamiku'. Panggilan yang sangat terdengar manis di telinga Ikbal.
"Mas pacar gak apa-apa?" tanya Delisha dengan panik.
"Minum dulu, Sayang!" ujar Delisha memberikan minum untuk Ikbal.
"Coba panggil Mas dengan sebutan tadi!" perintah Ikbal.
"Yang mana nih?" tanya Delisha dengan jahil.
"Ayolah, Sayang!" rengek Ikbal yang membuat Delisha tertawa.
"Suamiku!" bisik Delisha di telinga Ikbal serta mencium pipi Ikbal dengan singkat.
Ikbal memegang pipinya yang dicium oleh Delisha. "Oohh istriku ternyata sangat nakal!" ujar Ikbal membalas dengan mencium seluruh wajah Delisha yang membuat gadis itu tertawa bahagia. Tawa yang membuat hati seseorang yang melihat adegan keduanya berdenyut sakit. Ya, siapa lagi jika bukan Zayyen.
"Seperti mengikhlaskan kamu adalah jalan yang tepat, Delisha. Karena kamu lebih bahagia bersama dengan Ikbal. Titik tertinggi dalam mencintai adalah mengikhlaskan dan Kakak akan berusaha mencobanya," gumam Zayyen.
"Tapi untuk menerima kehadiran orang baru Kakak rasa tidak mungkin. Biarkan Kakak seperti ini dengan rasa penyesalan karena telah melepaskan gadis sebaik kamu yang mencintai Kakak dengan tulus," lanjut Zayyen di dalam hati lalu berjalan pergi menjauh dari ruangan Delisha.
Tak lama Daniel datang membawa Naura. Gadis itu terlihat enggan untuk masuk karena Naura mendengar suara Ikbal di dalam.
"Kak, Naura takut!" gumam Naura dengan lirih.
"Gak apa-apa ada Kakak di sini!" ucap Daniel dengan tegas.
"T-tapi, Kak!"
"Ayo!!" ucap Daniel menggenggam tangan Naura dengan erat hingga mau tak mau Naura ikut masuk ke dalam ruangan Delisha.
"Selamat pagi adek Kakak yang cantik. Lihat Kakak bawa siapa?!" ujar Daniel dengan tersenyum yang membuat Delisha dan Ikbal langsung menatap Daniel dan Naura.
"Naura, Delisha kangen!" ujar Delisha dengan tersenyum tetapi rahang Ikbal langsung mengeras melihat Naura.
"Ngapain lo bawa anak pelakor ke sini?" tanya Ikbal dengan tajam.
"Keluar lo, Naura! Lo gak perlu ke sini!" teriak Ikbal dengan keras yang membuat Delisha menjadi cemas.
"Mas pacar tenang ya!"
"KELUAR!"
Naura yang hendak keluar namun tangannya di tahan oleh Daniel. "Naura cewek gue! Jadi, lo gak berhak usir Naura!" ucap Daniel dengan tajam.
__ADS_1
"Apa? Bisa-bisanya lo...."
"Arrghhh.."