Gairah Sang Dokter Duda

Gairah Sang Dokter Duda
Bab 35 (Ajaran Zidan)


__ADS_3

...Jangan lupa ramaikan part ini ya.Bom like dan komentarnya aku tunggu guys....


...Happy reading...


*****


Pagi ini Fathan kembali bisa sarapan dengan keluarganya setelah kemarin subuh-subuh ia harus ke rumah sakit. Fathan di suapi oleh Tri, entah mengapa ia ingin bermanja-manja dengan sang istri.


"Papa manja!" ejek Cika yang sedang makan sendiri.


Fathan menatap Tri dengan tersenyum geli setelah itu ia menatap Cika dengan gemas. "Papa buru-buru, Sayang. Makanya minta disuapin Mama!" ujar Fathan beralibi padahal Fathan yang ingin bermanja dengan Tri saat ini, suapan dari tangan Tri terasa lebih nikmat dari apapun.


"Gimana kemarin main di tamannya? Seru gak?" tanya Fathan kepada anaknya.


"Seru, Pa! Ada Zayden yang ikut main sama Cika. Terus Zayden bilang kalau Cika ini pacarnya Zayden," ujar Cika dengan polosnya.


"Uhuk...uhukkk..."


"Pelan-pelan, Mas!" ucap Tri memberikan minum kepada Fathan. Fathan langsung meminumnya dengan cepat hingga gelas itu kosong.


"Hanum kenapa kamu gak bilang sama Mas semalam?" tanya Fathan dengan syok.


"Aku juga gak tahu Mas. Cika gak ada cerita sama aku," ujar Tri yang juga merasa syok dengan apa yang anaknya katakan. Bisa-bisanya Zayden mengatakan jika Cika adalah pacarnya. Sebenarnya Zayden anak usia berapa sih?


Cika nyengir kuda di hadapan kedua orang tuanya. "Cika lupa, Pa, Ma. Cika baru ingat tadi. Emang benar ya Pa pacaran itu artinya Cika milik Zayden dan Zayden milik Cika?" tanya Cika dengan polosnya.


Fathan mengusap wajahnya dengan kasar. Ajaran Zidan benar-benar membuat anaknya yang polos jadi seperti ini. Zayden awas saja jika dewasa nanti menyakiti anaknya!


"Cika gak boleh pacaran dulu, Sayang. Cika itu masih kecil," ujar Tri dengan lembut.


"Kenapa, Ma? Zayden kan sayang sama Cika, Cika juga sayang Zayden. Zayden baik sama Cika," ujar Cika dengan mata bulat dan pipi tembemnya.


"Cika harus sekolah dulu. Jangan pikirin kata-kata Zayden ya, Sayang!" ujar Fathan menahan kekesalannya.


"Iya deh, Pa!" jawab Cika dengan lesu.


"Hanum, Mas masih bingung makanan apa yang Zidan berikan kepada Zayden? Kenapa anaknya dewasa sebelum waktunya? Anak kita yang polos jadi seperti ini gara-gara Zayden! Kecil-kecil sudah bucin, kencing aja belum lurus tuh burung mininya! Astaghfirullah... Mas bisa darah tinggi gara-gara Zayden! Kalau sudah dewasa dia menyakiti Cika, Mas sunat dia!" bisik Fathan kepada istrinya agar tidak terdengar oleh Cika.


"Sabar, Mas. Zayden sama Cika masih kecil. Mungkin ini hanya ucapan anak kecil saja dan ketika dewasa nanti bisa saja mereka sudah lupa seperti apa yang Mas katakan kemarin," ujar Tri dengan lembut.


"Tapi tetap saja jantung Mas rasanya mau copot. Anak kita diajak pacaran sama Zayden!" ujar Fathan dengan memijat pelipisnya. Zidan harus tahu kelakuan anaknya itu!


Tri juga tak habis pikir dengan Zayden anak yang umurnya sedikit lebih muda dari Cika itu bahkan mereka masih TK sudah berpacaran. Anak zaman sekarang itu kepintaran atau bagaimana sih?


"Gak usah diambil pusing, Mas. Mas mau tambah?" tanya Tri dengan lembut.

__ADS_1


Fathan menggeleng. "Gak usah, Sayang. Mas Sudah kenyang. Mas berangkat dulu ya. Ayo Cika Papa antar. Jangan lupa diminum vitaminnya Hanum," ujar Fathan dengan lembut.


"Iya Mas ini mau aku minum!" ujar Tri dengan tersenyum.


"Minum sekarang Mas tunggu!" ujar Fathan dengan tegas.


Tri mengangguk pasrah, ia mengambil vitamin yang Fathan berikan. Tri sama sekali tidak mengerti tetapi vitamin itu banyak sekali ada 5 butir vitamin yang harus Tri minum atas pemberian sang suami. Dan Tri meminumnya di depan Fathan yang membuat Fathan tersenyum.


Fathan berjongkok di hadapan Tri dan mengecup perut Tri dengan lembut. "Dek, cepat hadir di sini ya. Papa, Mama dan kak Cika menanti kamu," ucap Fathan dengan lembut yang membuat Tri terharu.


"Pa, Cika juga mau ngomong sama adek dong!" ucap Cika dengan senang.


"Ya sudah sini. Cika mau ngomong apa sama adek?" tanya Fathan dengan lembut.


"Ada deh!"


Cika mengelus perut Tri dengan sayang. "Dedek bayi cepat tumbuh ya. Kak Cika mau main sama dedek bayi kalau sudah lahir kak Cika bakal kenalin kamu sama Zayden, pacarnya kak Cika. Dadah dedek, kakak mau sekolah dulu," ujar Cika yang membuat Fathan dan Tri saling menatap satu sama lain.


"Zayden bocah bucinnn!" geram Fathan di dalam hati.


****


Tiara menghampiri mama Yesha yang sudah menunggunya di cafe dekat rumah sakit. Tiara duduk dengan elegan di depan calon mertuanya tersebut.


"Ada yang ingin kamu bicarakan ke Tante?" tanya Mama Yesha.


Mama Yesha menghela napasnya dengan kasar. "Apa buktinya?" tanya Mama Yesha dengan kasar.


"Tante tahu kan kalau aku kuliah di Paris dan kami sudah putus. Zidan sudah menikah dengan perempuan lain dan anak itu hasil dari pernikahan mereka," ujar Tiara meyakinkan mama Yesha yang terlihat bimbang.


"Sebenarnya Tante percaya sama kamu. Tapi Fathan terlihat tidak menyukai perjodohan ini, tapi kamu tenang saja Tante akan mencari cara agar Fathan mau menikah dengan kamu. Untuk sekarang biarkan Fathan merasa menang terlebih dahulu. Tante yakin kamu akan bisa menjadi ibu dan istri yang baik untuk Cika dan Fathan. Terlebih kamu adalah adik kandung Tika," ujar Mama Yesha dengan tersenyum.


"Terima kasih Tante sudah mau percaya sama saya padahal mama dan papa saya tidak percaya dengan saya," ujar Tiara dengan sendu.


Mama Yesha menjadi simpati dengan kehidupan Tiara. Ia memegang tangan Tiara dengan lembut. "Panggil Tante ini Mama. Kamu sejak dulu sudah saya anggap sebagai anak saya sendiri, untuk masalah kedua orang tuamu biarkan mama dan papa yang mengatur," ujar Mama Yesha dengan tulus.


sorot mata Tiara penuh akan damba sosok mama seperti Yesha. "Tan..emm maksudnya Mama tidak perlu repot-repot untuk membujuk mama dan papaku karena mereka memang tidak menyayangiku dari dulu hanya mama Yesha yang aku punya saat ini," ujar Tiara dengan tersenyum.


"Mama pastikan kamu yang akan menjadi menantu Mama, Tiara. Ya sudah Mama mau ke kantor dulu Papa sudah menunggu di sana, pertemuan kita kali ini jangan sampai ketahuan oleh Fathan ya," ujar Mama Yesha dengan lembut.


Tiara mengangguk mengerti. "Hati-hati, Ma!" ujar Tiara yang diangguki oleh mama Yesha.


"Tidak dicintai oleh Fathan juga tidak masalah yang terpenting kita sudah mendapatkan simpati dari tante Yesha dan om Handoko. Kerja bagus Tiara, aku suka kamu yang seperti ini," ujar Alter ego Tiara dengan bangga.


"Ya semua ini demi kebahagiaan kita sendiri dan membalaskan dendam pada mama dan papa," ujar Tiara dengan datar.

__ADS_1


"Hahaha kamu benar! Kita harus membuat mereka merasakan sakit apa yang kita rasakan selama ini," ujar Tika, alter ego Tiara.


****


"Mama!" teriak Zayden saat melihat Tiara jalan tak jauh darinya.


Tiara menatap kesal pada anak yang mengaku-ngaku sebagai anaknya. Sedangkan Zidan hanya diam menatap anaknya yang mendekat ke arah Tiara.


"Mama!" ulang Zayden sekali lagi.


"Saya bukan Mamamu!" ucap Tiara menahan kekesalannya.


"Tapi akan jadi mama Zayden!" ucap Zayden dengan tegas.


"Kamu.... Siapa yang mengajarimu seperti ini? Kamu punya mama kandung kenapa memanggil saya Mama? Saya tidak suka!" ujar Tuara dengan kesal.


"Papa yang mengajari Zayden!" ucap Zayden dengan polosnya yang membuat Zidan hanya bisa meringis mendapatkan tatapan tajam dari Tiara.


"Dokter Zidan tolong ajarkan anak anda sopan santun. Saya bukan mama Zayden!" geram Tiara pada Zidan.


"Anakku suka memanggilmu dengan sebutan mama. Lalu aku bisa apa?" tanya Zidan dengan enteng.


Tiara menatap Zayden dengan datar. "Dimana mamamu? Siapa namanya?" tanya Tiara yang membuat Zidan menjadi panik.


"Mama Zayden berada di Singapura, Mama! Nama mama Zayden itu Sabrina. Tapi bagi Zayden mama Tiara yang paling cantik kok," ucap Zayden dengan tegas.


" S-sabrina?" ulang Tiara.


"Ya, Mama!"


"Ay, aku bisa jelaskan semuanya. Semua yang kamu pikirkan salah Ay!" ujar Zidan dengan panik.


"Apa yang harus dokter jelaskan? Emang apa yang saya pikirkan sampai dokter menjadi panik seperti ini?" tanya Tiara dengan tajam.


"Ay, a-aku dan Sabrina tidak saling mencin..."


"Sabrina mencintaimu!" ucap Tiara dengan tajam. "Saya permisi!"


"Ay... aku mohon dengarkan penjelasan Mas dulu!" ucap Zidan dengan cemas tetapi Tiara tetap berlalu pergi.


"Papa, kenapa mama terlihat begitu marah?" tanya Zayden dengan polosnya.


Zidan mengusap wajahnya dengan kasar. Jika sudah begini semakin sulit ia mendapatkan Tiara. Mulut anaknya benar-benar, Ahhhh Zidan jadi kesal sendiri sekarang.


"Kenapa Zayden bilang ke mama Tiara kalau mama kandung Zayden itu Sabrina? Mama tidak suka, Sayang!" ujar Zidan dengan frustasi.

__ADS_1


"Zayden mana tahu, Pa! Yang Zayden tahu Zayden suka Cika!" ujar Zayden dengan entengnya.


"Arrgghhh...Zaydennnn!"


__ADS_2