
...📌Jangan lupa ramaikan part ini ya....
...📌Dukung terus novel terbaru author 'Suami Bayaran Nona Rania'...
Happy reading
***
Daniel memandang Naura yang sedang tertidur di temani oleh dirinya. Daniel tak mau meninggalkan Naura seorang diri karena Naura sangat takut akan sendirian, selama ini Naura sudah sendirian yang membuat Naura hampir depresi karena stres berlebihan.
Daniel menyingkirkan anak rambut Naura dengan pelan, damai sekali tidur Naura seperti tidak ada beban.
"Maafkan Kakak yang begitu egois waktu itu, Sayang. Kakak gak tahu kalau kamu begitu tersiksa dengan semuanya," gumam Daniel dengan sendu, memeluk Naura dengan pelan.
Daniel membiarkan lengannya menjadi bantal untuk Naura tertidur. Ya, setelah sekian lama berpisah akhirnya keduanya kembali bersama walau harus membuat Naura seperti ini dulu.
Daniel tersenyum saat Naura membalas pelukannya dan gadis itu kembali tertidur dengan nyenyak.
Cup...
"Tidur yang nyenyak sayangku!" gumam Daniel dengan pelan membuat Naura yang mendengarnya walau samar-samar tersenyum tipis, ia merasa sedang bermimpi indah. Rasanya bebannya sudah hilang ketika Daniel memaafkannya dan mereka kembali bersama.
Istilah 'jodoh tak akan kemana' ternyata benar adanya. Dan Daniel maupun Naura sangat bahagia akan hal itu karena ternyata mereka masih saling mencintai.
Daniel tak menyangka jika cincin yang ia buang waktu itu Naura cari sampai ketemu hingga Naura terkena hujan dan basah kuyup. Seharusnya dulu Daniel tak menyetujui permintaan Naura begitu saja. Namun, karena Daniel kecewa dan sakit hati ia menyetujui permintaan Naura dan meninggalkan Naura begitu saja di taman.
Naura menggeliat dalam tidurnya, ia membuka matanya dengan perlahan. Dan Naura langsung tersenyum ketika membuka mata hal yang pertama kali ia lihat adalah dada bidang Daniel yang sudah sangat ia rindukan sejak dulu. Naura tidak bermimpi, kan? Semua ini nyata, kan?
"Kenapa sudah bangun hmm?" tanya Daniel dengan suara lembutnya yang membuat Naura yakin jika dirinya tidak bermimpi.
Naura mendongakkan wajahnya hingga ia dan Daniel saling memandang dengan tersenyum dan tak lama keduanya terkekeh bersama merasa lucu dengan apa yang mereka lakukan barusan. Daniel menyetil hidung mancung Naura dengan gemas.
"Cepat sehat, Sayang. Terus kita nikah," ujar Daniel yang membuat Naura mematung.
"N-nikah?" tanya Naura terbata karena ia masih tidak percaya dengan apa yang diucapkan Daniel barusan.
__ADS_1
"Iya. Kenapa hmm? Gak mau menikah sama Kakak? Kita sudah sama-sama dewasa tinggal menunggu apa lagi selain menikah?" ujar Daniel dengan tenang.
Mata Naura berkaca-kaca. Ia mengelus rahang Daniel dengan lembut. "I-ini serius, Kak?" tanya Naura dengan terbata bahkan air matanya sampai jatuh membasahi kedua pipinya.
"Serius, Sayang! Kita akan menikah setelah kak Danish dan Keisya menikah ya!" ujar Daniel dengan serius.
Naura mengangguk dengan bahagia. "Iya, Kak. Hiks...hiksss... Naura bahagia banget," ujar Naura dengan menangis dan memeluk leher Daniel dengan erat.
"Sayang, Kakak tidak bisa napas ini!" ujar Daniel dengan terkekeh.
"M-maaf, Kak!" ujar Naura dengan menghapus air matanya dengan kasar.
Daniel mengusap kepala Naura dengan sayang. Dengan terkekeh Daniel menyeka air mata Naura yang masih saja keluar, Daniel tahu air mata Naura kali ini adalah air mata kebahagiaan.
Cup....
"Jangan nangis lagi ya dan jangan merasa sendirian sekarang karena Kakak akan selalu ada buat kamu," ujar Daniel dengan lembut.
"Hiks...hiks...air matanya gak mau berhenti bagaimana ini, Kak!" ujar Naura yang membuat Daniel bukannya kasihan tapi malah terkekeh gemas.
"Kakak!" rengek Naura dengan manja yang membuat Daniel lagi dan lagi terkekeh gemas dengan Naura.
Kebahagiaan sedang menghampiri keduanya, setelah berdamai dengan masa malu yang sangat menyakitkan akhirnya mereka menemukan kebahagiaan untuk bersama.
****
Jesica menatap suaminya dengan pandangan cemasnya.
"Ada apa Mas? Kenapa wajah kamu pulang-pulang seperti itu?" tanya Jesica dengan pelan.
"Aku rugi milyaran Jesica! Aku kalah tender dan ternyata uang perusahaan di gelapkan oleh salah satu karyawan yang sangat aku percaya!" ujar Iwan, suami Jesica dengan memijat pelipisnya.
"B-bagaimana bisa, Mas? I-itu artinya Mas jatuh miskin? A-aku gak mau kita jadi miskin, Mas" tanya Jesica dengan terkejut.
Iwan menatap Jesica dengan nyalang. "Aku juga gak mau jatuh miskin! Bukannya memberikan solusi malah membuat aku marah!" ujar Iwan dengan sarkas.
"Kok kamu salahin aku? Aku cuma gak mau kita hidup kekurangan Mas!" ujar Jesica dengan ketus.
__ADS_1
"Berani melawan saya kamu Jesica? Ini juga salah kamu yang dengan gampangnya menghambur-hamburkan uang! Shopping, shopping, dan shopping yang ada di otak kamu!" ujar Iwan dengan marah.
"Mas kok marah sih? Aku shopping juga gak setiap hari!" ujar Jesica tak mau di salahkan.
"Tidak setiap hari kamu bilang? Tapi dalam seminggu kamu bisa menghabiskan 200 juta hanya untuk membeli tas, sepatu, dan pakaian! Mulai sekarang saya batasi pengeluaran kamu!" ujar Iwan dengan marah meninggalkan Jesica yang tampak kesal.
"Mas tunggu! Aku belum selesai berbicara!" teriak Jesica.
"MAU APA LAGI? JANGAN MEMBUAT SAYA TAMBAH PUSING JESICA!" ucap Iwan dengan keras yang membuat Jesica mematung ketakutan saat melihat wajah suaminya yang sangat mengerikan.
"Semua kartu kredit yang kamu pegang akan aku tarik! Belajar hemat dari sekarang!" ujar Iwan dengan tajam.
"Mas gak bisa gitu dong!" Protes Jesica.
"Kalau kamu tidak terima silahkan keluar dari rumah saya! Kamu di sini tidak membawa harta sedikitpun Jesica! Semua uang yang kamu pakai itu milik saya! Jadi, jangan buat saya menjadi pria kasar sekarang," ujar Iwan dengan tajam.
Iwan meninggalkan istrinya begitu saja dan tentu saja membuat Jesica sangat kesal apalagi semua kartu kreditnya diambil oleh suaminya.
Kedua anak Iwan menatap papanya dengan bingung. Sebenarnya apa yang terjadi dengan papa dan mama tirinya? Biasanya mereka akur-akur saja.
"Papa kenapa?" tanya anak sulung Iwan dengan bingung.
"Perusahaan terancam bangkrut, Sayang! Kalian jangan foya-foya dulu ya! Papa lagi berusaha buat perusahaan kita kembali seperti dulu," ujar Iwan dengan pelan.
"Yah, kita jatuh miskin ya, Pa? Papa jangan terlalu memanjakan mama kalau begitu," ujar anak kedua Iwan dengan cemberut.
"Ini semua gara-gara mama juga! Sudah jangan pedulikan dia! Semua kartu kredit mama sudah Papa ambil dan bekukan!" ujar Iwan dengan tajam.
"Iya, Pa! Dari dulu juga kami kurang suka sama, Mama! Tapi karena Papa ingin menikah dengannya kami berpura-pura menerima kehadirannya!" ujar anak sulung Iwan dengan jujur.
"Usir saja, Pa! Ceraikan mama! Atau kita jadikan pembantu saja setelah ini," ujar anak bungsu Iwan dengan kesal.
"Sudah-sudah jangan buat Papa pusing kalian bantu Papa di perusahaan sebentar. Mama tidak bisa menggunakan harta Papa lagi setelah ini! Menikah dengan Jesica ternyata banyak masalah untung saja anaknya tidak di bawa ke rumah ini," ujar Iwan dengan kesal.
"Aku juga gak mau anak mama di bawa ke sini! Bisa-bisa uang Papa diambil anaknya juga."
"Wanita itu benar-benar merepotkan. Sakarang kami tidak perlu berpura-pura baik di depan dia! Gara-gara dia kita menjadi bangkrut!"
__ADS_1